BAB 1: Surga yang Terenggut

1028 Words
Maria Vance Christie mengerjap, lalu membuka matanya perlahan saat cahaya matahari tipis mulai menembus tirai kamar. Hal pertama yang ia rasakan adalah kekosongan di sisi ranjangnya, disusul oleh rasa nyeri yang berdenyut nikmat di sekujur otot tubuhnya. Ia meraba bantal di sampingnya; masih hangat. David baru saja pergi. Perlahan, Maria bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Selimut kusut yang menutupi tubuhnya merosot, menyingkap kulit bahu dan dadanya yang dipenuhi jejak-jejak kemerahan—tanda kepemilikan yang ditinggalkan David dengan ganas semalam. Maria menunduk, menatap pantulan dirinya di cermin besar di depan ranjang. Leher, tulang selangka, hingga puncak dadanya dipenuhi hickey yang mencolok. Semalam seharusnya menjadi perayaan hari jadi mereka yang keempat. Namun, David—dengan gairah yang tak terbendung—langsung menyerangnya dengan ciuman lapar dan sentuhan yang menuntut, begitu pria itu menginjakkan kaki di apartemen. David seolah tak memberinya napas, menyesap setiap inci kulitnya dengan intensitas yang membakar, hingga Maria tak sempat mengucapkan sepatah kata pun, apalagi memberikan kado yang sudah ia siapkan. Dengan gerakan hati-hati karena rasa perih di antara pangkal pahanya, Maria turun dari tempat tidur dalam keadaan tanpa busana. Ia melangkah menuju nakas, membuka laci, dan mengambil sebuah benda kecil yang telah ia hiasi dengan pita merah mungil. Sebuah test pack. Dengan dua garis merah. Maria mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut. Baru kemarin ia mengetahui kehidupan baru sedang tumbuh di sana. Ia sudah membayangkan bagaimana wajah David akan berseri sepulang kerja kemarin. Lalu bagaimana pria itu akan menciuminya dengan lebih lembut, atau mungkin lebih posesif lagi, saat tahu bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Namun terlambat, David sudah berangkat kerja bahkan sebelum ia membuka mata. "Baiklah. Aku tinggal mengejutkannya saat ia pulang nanti," bisik Maria pelan. Sambil terus tersenyum, Maria menyimpan kembali benda itu, bersiap mandi untuk berangkat kerja dengan sisa aroma maskulin David yang masih tertinggal di kulitnya. Sore harinya, London terasa lebih hangat bagi Maria. Dengan senyum yang sulit disembunyikan, ia hampir berlari keluar dari gedung kantornya. Tujuannya hanya satu: gedung asuransi besar di seberang jalan tempat David Sterling, kekasihnya, bekerja. Sambil melangkah cepat, ia berkali-kali memeriksa ponselnya. Sepanjang hari, nomor David tidak aktif, dan suara operator yang sama, terus terdengar. “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif...” Maria mendesah pelan, namun rasa kesalnya terkalahkan oleh debar jantung penuh harap. Mungkinkah... David sedang sibuk menyiapkan kejutan untuknya?! Kejutan untuk perayaan hari jadi mereka? Maria akhirnya tiba di trotoar, berdiri di antara kerumunan orang yang menunggu lampu penyeberangan. Matanya menyapu lobi gedung di seberang sana yang mulai lengang. Ia mencoba menelepon sekali lagi. Bip. Terhubung! Detak jantung Maria melonjak. Namun, sedetik kemudian panggilan itu terputus sepihak. Tepat saat Maria hendak mengumpat kecil, sosok semampai yang sangat ia kenali berlari keluar dari lobi. Itu David! Wajah pria itu berseri-seri, tampak terburu-buru sambil mendekap sebuket besar mawar merah yang tampak mewah dan berlebihan. Maria tertawa kecil. Dasar David, selalu ingin terlihat dominan bahkan dalam memilih bunga, pikir Maria, gemas. Lampu lalu lintas untuk pejalan kaki mulai menghitung mundur. 37... 36... 35... Maria menatap David dengan tatapan memuja. Ia sudah tidak sabar ingin menyeberang, membenamkan wajahnya di d**a bidang pria itu, dan membisikkan rahasia tentang janin di perutnya. 31... 30... Tepat tiga puluh detik sebelum lampu penyeberangan berubah hijau, David bisa melihat tawa bahagia di wajah Maria. Ia melambaikan buket bunga mawar di tangannya dengan semangat. Di dalam saku jasnya, David meraba sebuah kotak kecil berisi liontin hati yang ia siapkan untuk melamar Maria malam ini. Ia ingin mengikat Maria seutuhnya, menjadikannya miliknya secara sah setelah empat tahun ini berkencan. Tidak akan lama lagi... Semua rasa bahagia yang telah mengepungnya seharian ini, telah menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan David terhadap apa pun di sekelilingnya. Ia tidak lagi memperhatikan hitungan mundur lampu lalu lintas. Matanya terpaku pada Maria. Hanya Maria. Tidak dipedulikannya hal lain. David mulai menyeberang. Tidak dirasakannya sesuatu datang. Tidak juga Maria yang masih menatap David dengan tawa bahagianya. Tidak dirasakannya sesuatu bergerak semakin dekat... Sebuah mobil, yang sedang melaju, memanfaatkan kelengangan jalan dengan langsung menambah kecepatan. Sang pengemudi, sama sekali tidak menduga, bahwa seseorang, dengan buket besar di tangannya akan muncul begitu saja dari deretan mobil–mobil yang terparkir di pinggir jalan tanpa menoleh ke kiri-kanan. Terlebih ia menyeberang sebelum lampu hijau menyala, yang tinggal beberapa detik lagi akan berganti. Hingga tiba-tiba... SCREEEECH!!! Raungan rem mobil membelah udara, meninggalkan bau karet ban yang terbakar menyengat. Lalu, sebuah bunyi hantaman yang mengerikan terdengar. Suara logam berat yang menghancurkan kerapuhan tulang manusia! BRUK!!!! Hanya beberapa detik. Kerumunan di trotoar tersentak, membeku, mata mereka terbelalak menyaksikan dengan penuh kengerian saat satu tubuh terangkat setinggi beberapa meter ke udara seolah tanpa bobot, lalu terempas ke bawah tak berdaya, tanpa sempat sedikit pun mengeluarkan rintihan. Ketika akhirnya tubuh itu rebah, darah mulai mengalir. Menodai aspal dengan warna kontras. Buket bunga itu, saksi bisu niat tulus David, terlempar begitu saja dari tangannya. Menghantam aspal jalan dengan keras. Rebah... Dan, patah... Sepasang mata Maria yang menatap David lurus-lurus tiba-tiba diliputi kengerian terbesar dalam hidupnya. Maria menjerit, suaranya pecah membelah keramaian. Ia berlari seperti kesetanan, menerobos mobil-mobil yang berhenti mendadak. Berharap dapat menangkap tubuh itu sebelum menghantam kerasnya aspal jalan. Tetapi apa daya... Saat Maria sampai, tubuh itu telah terhempas ke kerasnya aspal tanpa ampun. Dipeluknya kuat-kuat tubuh bersimbah darah, yang kini mulai terasa dingin dan asing. Rintihan pilu yang keluar dari dadanya perlahan berubah menjadi ratapan. Namun, sekuat apa pun pelukan itu, tubuh yang mulai mengaku itu tak mungkin lagi bergerak. Sekeras apa pun rintihan itu, takkan bisa menghalangi kematian. Sepasang mata yang beberapa saat lalu berbinar bahagia menatapnya, kini telah tertutup. Tubuh yang beberapa detik lalu bernapas dan hidup, kini teronggok seperti boneka kayu. Maria mulai menjerit histeris. Berharap ini semua hanya mimpi. Air mata yang tumpah dari matanya terasa seperti sungai asam yang membakar kulitnya, mengalir bersama surganya yang baru saja terenggut secara paksa. Maria membenamkan wajah di d**a David, masih meraung di atas detak jantung yang tak akan pernah berbunyi lagi. Setiap tarikan napasnya adalah usaha sia-sia untuk menarik kembali roh David yang sudah jauh... Kini, kado Tuhan berupa dua garis itu, seketika terasa seperti hukuman untuknya. Kado garis dua itu.. Adalah kado terindah yang tak sempat, dan tak akan bisa ia ucapkan. ...........................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD