BAB 2: Ciuman dari Pria Asing

1599 Words
Empat Bulan Kemudian Langkah kaki Maria terasa berat, seolah setiap inci aspal yang dipijaknya adalah lumpur hisap yang siap menelannya. Ia berdiri mematung di hadapan kemegahan The Blackwood Library. Tempatnya bekerja, sekaligus perpustakaan tertua dan terbesar di London. Perpustakaan itu biasanya menjadi tempat perlindungan paling damai baginya. Bau kertas tua dan keheningan di antara rak-rak tinggi biasanya mampu sedikit mengobati badainya. Namun pagi ini, di matanya, gedung itu tampak seperti makam raksasa dengan pintu masuk yang menganga lebar. Sudah empat bulan sejak kecelakaan itu merenggut David. Empat bulan yang penuh siksaan, di mana Maria harus dipaksa bernapas dalam kekosongan. Setiap sudut kota London seolah berteriak memanggil nama David, mengingatkannya pada tawa pria itu, sentuhan kasarnya yang memuja, dan aroma maskulin yang selalu tertinggal di bantal mereka. Maria mendengus sinis, air mata yang sudah lama kering, kini terasa membakar kelopak matanya. Ia menatap kosong ke pantulan deretan mobil yang melintas di pintu kaca perpustakaan. Pikirannya terseret kembali ke dua bulan lalu, saat sebuah percakapan dengan Hannah, sahabat setianya, mengubah sisa harapan hidupnya menjadi abu. Saat itu, Maria yang bahkan tak sanggup bangkit dari tempat tidur, meminta tolong Hannah menghadiri persidangan terakhir atas kasus kecelakaan David yang tak pernah berani ia hadiri. “Bagaimana hasil persidangannya?” Maria ingat betul suaranya saat itu terdengar serak dan lemah, seolah pita suaranya pun sudah menyerah untuk berfungsi, namun langsung menodong Hannah yang baru pulang dari persidangan, dengan pertanyaan. Hannah yang baru saja masuk ke kamar Maria langsung melemparkan tasnya ke kursi dengan kasar. “Tidak berjalan baik, Maria.” Hannah memijat pelan pelipisnya, wajahnya menunjukkan rasa frustrasi yang luar biasa. “Karena tersangka juga ikut terluka parah—bahkan sekarang kabarnya masih dalam kondisi koma—hakim seolah memberikan simpati padanya. Ditambah lagi, jaksa sialan itu menekankan bahwa David menyeberang sebelum lampu hijau menyala, jadi...” Hannah tidak sanggup melanjutkan. Ia mengumpat pelan. “Sangat memuakkan! Sidang itu berlangsung selama tiga jam penuh, dan jaksa sama sekali tak bisa memenjarakan b*****h itu. Sudah jelas ada keterangan dari saksi mata, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di tengah kota. Aku yakin dia pasti mabuk, Maria!” Maria hanya bisa tersenyum pahit, sebuah senyum yang lebih mirip ringisan kesakitan. Sudah ia duga. Dunia memang tidak pernah adil. Tersangka yang menabrak kekasihnya, terlindungi oleh status "kritis"-nya. Terlebih, Hannah sempat membisikkan bahwa pengemudi itu bukan orang sembarangan, melainkan salah satu orang terkenal yang memiliki pengaruh besar. “Ah.. Siapa namanya, ya?" Bisik Hannah sambil mengingat-ingat. "Siapa ya, nama orang kaya yang membeli hukum itu?...” bisik Hannah saat itu dengan emosi yang meledak. Namun Maria langsung menggeleng. “Sudahlah, Hannah. Aku tidak ingin mendengar namanya. Aku tidak peduli siapa dia.” Maria mengatupkan bibirnya kuat-kuat saat ingatan itu berhenti berputar di kepalanya. Benar, baik saat itu, maupun kini, ia tidak butuh nama untuk dibenci. Karena jauh di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, di antara keinginan untuk melempar kesalahan kematian David pada orang lain, Maria tahu siapa yang paling bersalah. Jika ada satu orang yang harus dihukum mati atas kematian David, itu adalah dirinya sendiri. David buru-buru menyeberangi jalan itu bukan tanpa alasan. David menyeberang karena dirinya. Karena ingin bertemu dengannya! Kenyataan itu menusuk dadanya lebih tajam dari sembilu. Maria meremas bagian dadanya yang berdenyut sakit, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa mengecil. Dan seolah penderitaannya belum cukup, guncangan hebat sore itu merenggut janin di rahimnya. Maria kehilangan segalanya dalam waktu singkat—kekasihnya, calon anaknya, dan masa depannya. Maria telah kehilangan peninggalan terakhir David. Surga telah sepenuhnya terenggut darinya. Kini, Maria benar-benar sendirian. Di dunia yang terasa seperti neraka dingin ini. Di dunia yang terasa terlalu bising untuk jiwanya yang telah mati. Maria menghembuskan napas panjang, penuh tekad, lalu melangkah masuk ke perpustakaan. Mengabaikan papan tulisan "Lift Sedang Rusak", Maria menaiki tangga darurat, lantai demi lantai, dengan kakinya yang terasa gemetar. Napasnya terengah, namun tekadnya sudah bulat. Ia mendorong pintu besi tua di lantai teratas. Saat sampai di atap gedung, udara dingin musim dingin menyambutnya dengan kasar. Maria melangkah menuju tepian gedung yang tingginya mencapai 70 meter dari permukaan tanah. Ia menaiki bibir gedung, membiarkan ujung sepatunya berada di ambang kekosongan. Cukup satu dorongan kecil, batinnya. Cukup satu dorongan kecil, dan semua rasa sakit ini akan berakhir! Maria menatap aspal di bawah sana yang tampak seperti hamparan kegelapan yang menenangkan. Ia membayangkan tubuhnya hancur dalam sekejap, mengakhiri siksaan napas yang setiap detiknya terasa seperti belati yang mengiris d**a. Ia harus melakukannya sekarang! Jika tidak, ia akan terbangun besok pagi, melihat cahaya matahari yang ia benci, dan menghadapi rasa sepi yang mencekik itu lagi. “Cepat, bodoh...” bisik Maria dengan bibir bergetar hebat. Ia takut. Ia takut mati, tapi ia lebih takut untuk terus hidup! Air mata yang sudah lama kering kini mulai mengalir perlahan, mengaburkan pandangannya. Namun di sela-sela kabut bening itu, wajah David muncul—tersenyum padanya. David seolah memanggilnya dari bawah sana. Maria menarik napas panjang, memejamkan mata, dan mulai mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia siap meluncur menuju kedamaian abadi. Namun, tepat saat gravitasi mulai menariknya, sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya dengan sentakan kasar. Tubuh Maria terpelanting ke belakang, menghantam satu d**a bidang yang keras seperti batu karang. "Lepaskan aku! Biarkan aku mati!" Maria menjerit histeris. Ia meronta, memukul, dan mencakar d**a pria asing itu. Ia tidak butuh pahlawan. Ia hanya butuh kegelapan abadi! "Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!" Maria terus memberontak, berusaha lari kembali ke bibir gedung yang saat ini terasa seperti satu-satunya solusi terbaik untuk penderitaannya saat ini. “Aku mohon!! Biarkan aku mati! Kenapa kau ikut campur?! Pergi!” Maria meraung. Penderitaannya sudah mencapai batas. Ia tidak mau bernapas lagi! "Hei! Tenanglah!" suara pria itu membentak, berat dan serak. Namun Maria tidak peduli. Ia terus meronta seperti orang kesetanan. Hingga tiba-tiba, pria itu menangkup wajahnya dengan kedua tangan besar yang terasa panas. Sebelum Maria sempat menarik napas untuk menjerit lagi, pria itu membungkam mulutnya. Bukan dengan tangan, melainkan dengan ciuman. Maria mematung. Matanya terbelalak lebar. Tubuhnya yang tadi bergetar hebat karena histeria kini membeku dalam keterkejutan total. Ciuman itu tidak lembut, sama sekali tidak. Itu adalah ciuman yang kasar, penuh tuntutan, dan seolah bertujuan untuk menyedot habis seluruh amarah dari paru-paru Maria. Bibir pria itu terasa dingin namun membakar di saat yang sama. Maria bisa merasakan aroma maskulin yang tajam bercampur wangi kopi pahit dari napas pria itu. Ciuman itu adalah sebuah kebrutalan yang bertujuan untuk mematikan paksa teriakan Maria. Namun, efeknya terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tulang belakang Maria. Selama beberapa detik yang terasa abadi, Maria kehilangan kemampuan untuk berpikir. Saat pria itu akhirnya menjauhkan wajahnya, seulas saliva tipis masih bertaut di antara bibir mereka yang basah dan memerah di bawah temaram matahari pagi. Maria terengah, matanya yang basah menatap pria di hadapannya dengan pandangan kabur. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Dan saat itulah, ia melihatnya. Sepasang mata cokelat yang dalam, tajam, dan begitu ia rindukan. “David...?” bisik Maria tak sadar. Untuk sepersekian detik, ia melihat bayangan kekasihnya di sana. Namun, saat kesadarannya kembali, ia sadar pria ini bukan David. Wajahnya lebih keras, lebih dingin, dan penuh dengan kemarahan yang tertahan. Maria seketika menggigil dalam ketakutan. “Siapa kau?! Beraninya kau—” Kalimat Maria terputus saat pria itu tiba-tiba bergerak cepat. Tanpa sepatah kata pun, pria asing itu menyambar tubuh Maria. Dalam satu gerakan dominan, ia mengangkat Maria dan menyampirkan tubuh mungil itu di atas bahunya seperti karung beras. “TURUNKAN AKU! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?! KAU GILA!” Maria berteriak, memukul-mukul punggung keras pria itu dengan tinjunya. Namun pria itu seolah terbuat dari baja; ia tidak bergeming sedikit pun. Pria itu melangkah lebar menuju pintu tangga darurat. Maria bisa merasakan otot bahu pria itu bergerak di bawah perutnya. Setiap langkah pria itu menuruni tangga terasa seperti hentakan yang mengguncang kesadarannya. Maria terus meronta, kakinya menendang udara, mencoba melepaskan diri dari penguasaan fisik pria asing yang tak sopan ini. Mereka menuruni lantai demi lantai dalam keheningan yang mencekam, hanya diiringi suara napas pria itu yang memburu dan makian Maria yang mulai melemah karena kelelahan. Pria itu tidak peduli pada protes Maria, ia terus membawanya turun hingga sampai di lantai dasar. Tepat di dua anak tangga terbawah, pria itu menurunkan Maria dengan sentakan yang hampir membuatnya jatuh tersungkur jika ia tidak segera berpegangan pada pagar tangga. “Dengar!” pria itu membentak, suaranya menggelegar di ruangan sempit tempat tangga darurat itu berada. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa inci. Maria bisa merasakan napas panas pria itu menyentuh kulitnya. “Awas kalau kau berani melakukan tindakan bodoh itu lagi! Kau paham?” Matanya berkilat, penuh dengan rasa frustrasi yang tak Maria mengerti. “Tindakanmu tadi itu pengecut! Apa kau tidak memikirkan perasaan orang-orang yang menyayangimu?!” Maria tertegun, bibirnya gemetar karena emosi yang campur aduk. Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa tidak ada lagi orang yang menyayanginya, tapi lidahnya kelu. Pria itu menatap bibir Maria yang bengkak akibat ulahnya tadi selama satu detik, sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah panjang yang penuh kemarahan. Ia menghilang di balik pintu besi tangga darurat yang terhubung dengan bagian dalam lobi perpustakaan, tanpa menoleh lagi. Maria terpaku di anak tangga itu, merosot duduk sambil menyentuh bibirnya yang terasa panas dan berdenyut. Aroma pria itu—kopi dan dinginnya musim gugur—masih tertinggal di indranya, memberikan sensasi aneh sekaligus mengganggu di tengah kepiluannya. Maria selamat, tapi ia merasa lebih hancur dari sebelumnya. Siapa pria asing itu? Dan mengapa mata itu terasa begitu akrab? Waktu seolah berlalu dengan lambat. Setelah mulai bisa mencerna semua yang baru saja terjadi, Maria tiba-tiba berteriak kesal. "Beraninya laki-laki itu menciumku?! Dasar b******k!!!" ...............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD