Bab 1

1482 Words
Hari itu seorang teman mengenalkannya padaku. Tentu saja sebagai pacarnya yang baru. Saat itu baru aku sadari, cinta pandangan pertama memang benar adanya. Bagaimana bisa hati bodoh ini menyukai wanita yang dikenalkan temanku sebagai pacarnya. Sungguh hati yang bodoh. Setelah bertahun-tahun tak mau menerima cinta. Kenapa harus dengan pacar temanku kau jatuh cinta. “Dinda,” ucapnya sambil mengulurkan tangan padaku. “Pio,” jawabku sambil menjabat tangannya. Lembut, tipikal wanita yang jarang melakukan pekerjaan rumah, batinku. Hari itu, dia terlihat begitu manis. Dengan balutan tunik biru berlengan pendek, dan menggantung selutut. Rambutnya panjang sesiku. Bisa aku pastikan bahwa rambutnya selalu terawat dengan baik. Lembut dan wangi. Bukan hal sulit buat aku untuk mengetahui itu. Karena adikku pun melakukannya, rutin setiap dua minggu sekali. Wajahnya bulat dan berpipi chubby, tapi dia kurus. Apakah setiap makanannya mengendap dipipi bukan perutnya? Aku mengamatinya dengan cermat. Mata bulatnya, hidung setengahnya, maksudku setengah mancung, hahaha  tak tega aku mengatakannya pesek, tapi itu membuat wajahnya terlihat menggemaskan. Dasar wanita, sudah tahu akan diajak jalan-jalan, malah menggunakan sepatu hak tinggi. Batinku, saat sebelum kami berjalan berkeliling mall untuk mencari setelan jas. Bulan depan ada acara kantor. Sungguh sungkan rasanya, kalau tak memakai setelan baru. Karena disana pasti para petinggi alias bos besar pasti hadir. Walaupun aku hanya seorang karyawan biasa. Tapi, aku yakin lebih ganteng dari mereka. Hahaha. Sayangnya, nasib lebih berpihak pada mereka. Belum lama kami berjalan. Baru juga masuk ke tiga toko, untuk meliha- lihat, dia sudah merengek. “Sayang, kakiku lecet deh kayaknya,” ucapnya sambil melepas sepatu hak tinggi miliknya. “Kamu juga, tumbenan sih pakai high heel? Kan sakit jadinya. Kita beli sepatu saja disana nanti. Tahan dulu ya,” ucap Jefri, temanku. Aku hanya melihat adegan itu. Sepertinya, Dinda kesal karena disuruh mengenakan sepatunya lagi. Aku mengerti, kenapa Jefri menyuruhnya memakai sepatu itu lagi. Siapa juga yang akan berjalan nyeker di mall? Pasti akan menjadi perhatian buat semua orang. Tapi aku jadi kasihan padanya. “Gendong saja dia, kasihan,” ucapku pada Jefri. “Halah, kita saja belum nemu setelan yang pas kok.” Jefri membuat alasan. Padahal menurutku dia tidak akan berat. Dia kan kurus. Kalau aku yang jadi pacarmu. Aku pasti sudah menggendongmu Din. Aku enggak akan membuatmu terluka, sekecil apapun itu. Tentunya hanya dalam hati aku mengucapkannya. Bisa-bisa Jefri menjadi hulk kalau aku berbicara seperti itu pada Dinda. Hahaha. Dasar hati bodoh, kenapa juga kau membayangkan yang aneh-aneh. Aku melihat Dinda berjalan terseok. Pasti sakit sekali kakinya. Lalu aku berlari meninggalkan mereka. Aku pergi ke toko di seberang sana. Aku melihat disana ada beberapa pasang sandal. Aku lalu membeli sepasang  sandal jepit berwarna biru, aku samakan dengan tunik yang dia pakai. Kalian tahu harga sandal jepit itu? Seratus lima puluh ribu rupiah. Bukannya mau perhitungan atau apa. Hanya saja aku merasa aneh, kenapa sandal jepit bisa semahal itu. Padahal sandalku di rumah, harganya hanya lima belas ribu. Kalian tahulah yang mana, yang ada low-low nya itu loh. Hehehe. Aku kemudian menghampiri mereka yang sedang nyender di dinding sebuah toko. “Kemana saja kamu yo?” tanya Jefri padaku. “Nih, pakai ini Din. Sepatumu masukkan kesini saja,” ucapku pada Dinda, sambil memberikan kantong kresek yang berisi sandal jepit. Dia langsung menerima dan memakainya. “Terima kasih,” ucapnya pelan sambil malu-malu. “Makasih ya Jef. Tuh lihat sayang, kakimu lecet kan. Lain kali enggak usah pakai high heel lagi,” ucap Jefri padanya. Jefri memang selalu begitu. Tak bisa memposisikan wanitanya. Berlaku seenaknya, giliran ditinggal, curhatnya tujuh hari tujuh malam padaku. Sampai jariku keriting meladeninya chatingan. Herannya juga, kenapa wanita-wanita cantik itu mau padanya. Apa coba yang dia lakukan pada wanita itu sampai mereka mau menjadi pacarnya. “Masih sakit?” tanyaku padanya. “Sakit sih. Tapi sudah lumayan, sandalnya nanti aku titipin ke Jefri ya?” “Enggak usah. Buat kamu saja.” Ucapku sok menjadi pahlawan. Aku melihat sembur merah pada pipinya. Oh makin cantik saja dia. Kami berjalan ke beberapa toko. Kami baru menemukan yang pas dengan selera dan isi saldo kami tentunya. Kami segera menuju food court. Karena cacing perut sudah meronta - ronta meminta jatah. Semoga Dinda tak mendengar teriakan para cacing di perutku. Kami duduk bertiga disebuah meja. Aku sengaja memilih meja dekat dengan dinding kaca. Karena itu adalah tempat yang kusuka. Bisa lihat pemandangan seluruh kota Surabaya dari sana. Jefri sedang memesan makanan. Entah kenapa aku malah berharap dia tidak cepat - cepat kembali. Hatiku memang terkadang menjadi sangat bodoh saat menyukai wanita. Bisa - bisanya dia berharap, Dinda pacar temanku menjadi pacarnya juga. “Kakimu masih sakit Din?” tanyaku. “Masih. Tapi sudah baikan kok. Kamu biasanya main kesini ya, sama Jefri?” “Enggak. Haha palingan kami main PS di rumah dia.” “Oooh. Kamu satu tempat kerja ya sama dia?” “Iya, kami dari SMA sudah kenal. Lalu waktu kuliah kita beda kampus. Tapi pas kerja bisa satu tempat. Satu bagian pula. Jodoh kayaknya aku sama dia,” candaku. Tapi dia malah memasang wajah aneh. “Aku normal kok. Aku lebih suka cewek cantik kayak kamu. Bukan batangan seperti Jefri. Kalaupun aku suka batangan, juga enggak bakal mau sama Jefri. Tidurnya ngorok, bikin telinga budeg,” jelasku padanya. Dia pun tersenyum. Gusti dia cantik sekali. Boleh enggak sih aku saja yang jadi pacarnya? Sayangnya Jefri datang lebih cepat dari harapanku. “Sudah aku pesankan makanan favoritmu. Bebek goreng sambel pencit. Rame banget tahu disana Yo,” ucap Jefri sambil menyeret kursi disebelah Dinda. “Sekali-sekali biar kamu tahu, seberapa besar aku berjuang setiap memesan makanan untuk kita makan. Hehe,” jawabku dengan nyengir. Dinda malah senyum mendengarnya. Ampun, meleleh rasanya aku. “Pio suka makan bebek juga? Aku kira cuma aku sama Jefri saja yang suka,” ucap Dinda lembut. “Kamu juga suka bebek goreng? Wah jangan-jangan kita jodoh,” jawabku pada Dinda. “Jodoh palamu pitak cok.” Sela Jefri sambil memukul lenganku. “Permisi, tiga bebek goreng dengan sambil pencit ya?” tanya seorang pelayanan mengantarkan makanan kami. “Iya mbak. Es nya mana?” jawabku. “Sebentar lagi akan saya antar kak,” jawabnya sambil meletakkan tiga piring nasi bebek sambel pencit. “Mbak, nambah sambel pencitnya dong. Ini uangnya,” kataku sambil menghampiri pelayan yang sudah aenggak jauh berjalan. “Baik kak.” Aku segera pergi mencuci tangan. Hari itu cukup lengang, karena hari masih siang. Coba sorean dikit. Malem minggu tentunya mall akan rame. Aku mengamati Jefri dan Dinda dari jauh. Entah hati bodohku malah merasa cemburu melihatnya. Melihat kemesraan mereka. Ingin rasanya aku berlari dan duduk diantara mereka. Aku masih bertahan ditempatku mencuci tangan. Setelah melihat pelayan mengantarkan minuman. Baru aku kembali ke meja. Hatiku terasa sesak melihat mereka. Kenapa pula hati ini enggak bisa diajak kompromi dikit. Sudah tahu itu pacar temanku, malah cemburu. Wajarlah mereka mesra-mesraan, kan mereka pacaran. Ayolah hati ikhlaskan saja. Mereka itu pacaran, kamu enggak ada hak buat cemburu. Aku duduk tepat dihadapan mereka. Tapi mereka seperti tak menganggapku ada. Teman semprul memang, awas kalau kamu curhat lagi. Bakalan aku cuekin. Aku berdehem pun mereka juga enggak menggubris. Aku langsung saja melahap habis makananku. Kuhabiskan semua ekstra sambel yang ku pesan. Biasanya aku menghabiskannya berdua sama Jefri. Sepertinya Dinda lebih segalanya daripada aku sekarang. Tapi Dinda memang cantik sih. Dan bisa mengalahkan apapun memang. “Kamu suka enggak yang sama bebek disini? Disini tempat favoritku sama Pio loh,” ucap Jefri pada Dinda, yang membuatku menirukan gerak bibirnya. “Iya enak banget bebeknya. Pedesnya juga top markotop,” jawab Dinda. “Yo, bulan depan katanya kan disuruh bawa pasangan. Kamu dateng sama siapa?” ucap Jefri membuatku bingung. Dia enak sudah ada Dinda. Nah aku? “Sama Emak ajalah. Ribet nyari pasangan. Acaranya juga acara tahunan. Kenapa mesti bawa pasangan coba.” “Kayanya biar para karyawannya enggak jomblo terus kayak kamu. Hahaha.” “Sudah berapa lama jomlo Yo?” tanya Dinda padaku. Aku langsung tersedak es jeruk. Untung enggak nyembur. Belum juga aku jawab, eh si resek Jefri malah bilang “Udah bertahun-tahun sayang. Hahaha. Jomblo lapuk dia,” ucap Jefri. “Biar deh jadi jomblo lapuk. Dari pada jadi bucin. Tiap putus ngerengek berhari-hari,” sindirku padanya. Dinda langsung tersenyum mendengar jawabannku. “Aku ada temen yang jomlo juga. Mau ku kenalin?” ucap Dinda. “Enggak usah Din. Gampang itu mah.” Aku menolak tawarannya, aku kan sukanya sama dia. “Beneran enggak mau? Cantik loh anaknya.” Dia  mencoba meyakinkanku. Tapi aku tetap tidak mau. Aku menggelengkan kepalaku. “Enggak nyari yang cantik Din. Nyari yang mau sama aku. Hahaha,” jawabku sekenanya. Tapi ternyata malah membuat mereka berdua tertawa. “Yo, nanti pulangnya mau barengan aja?” tanya Jefri. “Bonceng tiga gitu?” tanyaku kaget. “Aku bawa mobil. Gila apa gonceng tiga, enak dikamu dong.” Jefri melirikku dengan tatapan sinis. “Hahahaha. Kalian saja deh. Aku naik motor kok kesini. Kalau bareng kalian, motorku gimana nasibnya?” jawabku padanya. “Ya sudah deh. Makannya sudah sayang?” tanya Jefri pada Dinda. “Sudah.” Dinda meminum es jeruknya. “Hayuk cuci tangan bareng. Yo, aku langsung balik ya,” ucapnya sambil berjalan menuju tempat cuci tangan. Aku hanya mengangguk. Baru saja aku selesai menyedot es jeruk di gelasku. Perutku tiba-tiba mules dan ngajak berantem. Aku harus berlari secepat mungkin, jika tak ingin kalah darinya. Ini pasti gara-gara ekstra sambel yang aku makan sendiri. Aku berusaha secepat mungkin berlari. Tapi belum juga sampai di toilet. Tiba-tiba “Bruooooooooooot.” Oh tidaaaaaaaaaaak aku kalah.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD