Bab 2

1266 Words
Aku berlari menuju bilik kamar mandi. Segera aku kunci pintunya dan melepaskan celanaku yang sudah ternoda. Langsung aku hempaskan pantatku ke atas water closet (wc) duduk. Ku keluarkan segala hal yang membuat perutku tak nyaman. Sekali, dua kali, entah sudah berapa kali kentut keluar bersamaan dengan, ya kalian taulah apa yang sedang ku keluarkan. Setelah beres urusan dengan perut. Kini aku dibingungkan dengan urusan celana. Celanaku sudah kotor. Bagaimana mungkin aku memakainya kembali. Kemudian aku teringat dengan setelan yang baru ku beli. “Pakai enggak yah?” ucapku pada diri sendiri. “Kalau dipakai sekarang. Berarti mesti di laundry nantinya. Tapi kalau enggak makai ini, masa harus makai celana kotor sih?” ucapku lirih. Aku bimbang harus memilih yang mana. Tapi pada akhirnya aku lebih memilih untuk memakai saja setelan baruku. Ku guyur celanaku yang sudah ternoda itu. Hingga semua nodanya bersih. Kuperas dan ku lipat. Kumasukkan ke dalam kantong kresek tempat setelan baru tadi. Aku keluar dari kamar mandi. Mencuci tangan lalu mengeringkannya di alat pengering tangan.   Aku berjalan dengan percaya diri. Banyak pasang mata yang melihat ke arahku. Aku menjadi lebih percaya diri lagi. “Wah aku ganteng banget kayanya, sampai-sampai mereka melihatku seperti itu.” ucapku pelan. “Permisi, acara pernikahannya dibawah Mas. Ayo ikut saya,” ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan menggandengku turun. “Eh acara pernikahan siapa?” tanyaku pada mereka. Tapi mereka tetap menggiringku turun ke lantai bawah. Aku tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Aku menoleh ek sana ke mari. Mencari jawaban atas kejadian aneh itu. “Sudahlah Mas jangan pura-pura. Kami sudah menaruh pelacak di setelan yang kamu pakai,” ucapnya padaku. Mereka tetap saja menyeretku dengan kasar. “Hah? Setelan ini baru saja ku beli. Bagaimana bisa ada pelacaknya. Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam,” ocehku, tapi tetap saja mereka tak bergeming. Aku dituntun mereka menuju hall pernikahan. Antara senang dan sedih. Aku senang dikira sebagai mempelai pria, tapi aku sedih karena itu hanya kesalahpahaman. Bukan kenyataan. Seandainya saja bisa, kunikahi saja sekalian mempelai wanitanya. Hall pernikahan itu begitu mewah. Dengan dekorasi berwarna putih dan emas. Banyak bunga-bunga yang dihias dari ujung hingga ke ujung satunya. Sudah banyak undangan yang datang. Tapi terlihat begitu runyam acaranya. Ketika aku sampai disana. Mempelai wanita langsung memelukku, tanpa melihat wajahku.  “Duh, nikah beneran nih aku?” batinku. Setelah puas dia menangis dipelukanku. Barulah dia mengangkat wajahnya dan menatap wajahku dengan seksama. Dia mengusap-usap matanya berkali-kali. Sepertinya, dia sedang memastikan siapa yang sedang dia lihat di depannya. “Loh kok bukan?” ucapnya kaget.  “Dari tadi kek neng dilihat dulu siapa, main peluk aja,” ucapku kesal. Tapi sebenarnya aku juga menikmati pelukan itu. Dadanya montok, nempel-nempel empuk gitu. “Lalu Devan mana? Kamu siapa?” tanya dia bingung. Dia bingung, apalagi aku? “Meneketempe. Aku lagi enak-enak jalan malah digandeng sama mereka,” ucapku sambil menunjuk ke dua orang yang menyeretku turun secara paksa. Aku melirik sinis pada mereka. Mereka menundukkan kepalanya. Sepertinya, mereka mulai menyadari kesalahannya. “Maaf Mas, sepertinya kami salah orang,” ucap pria berbaju hitam sambil membungkuk. “Sekarang baru minta maaf. Tadi sudah dibilang bukan, malah enggak percaya. Huuuu,” ucapku sambil mengayunkan tinju ke arahnya. Tapi jelas tak sampai padanya. Mana berani aku mendaratkan tinju ke orang yang badannya tiga kali lebih besar dariku. “Iya maaf Mas,” ucap Pria satunya lagi. Mereka masih menunduk, entah karena takut atau malu padaku. “Jadi Devan di mana?” ucap mempelai wanita histeris. Dia menangis lagi. Menangis lebih kencang dari sebelumnya saat dia memelukku. Aku jadi enggak tega. Apa aku tawarkan diri saja ya jadi suaminya? Ah mana mungkin mau dia sama aku. Aku bergelut dengan pikiranku yang kacau. Setelah pacar temanku, sekarang malah pengantin random mau dinikahi. Sepertinya aku harus cepat pulang. Sebelum ada kejadian aneh lagi. Aku memutuskan untuk menelpon Jefri. Siapa tahu dia bisa membantuku keluar dari masalah ini. Dia satu-satunya yang bisa menolongku saat ini. Satu-satunya harapanku, semoga dia belum keluar dari mall ini. “Jef, kamu dimana?” ucapku padanya, saat dia sudah mengangkat teleponku. “Masih di mall. Ini lagi on the way ke parkiran. Kenapa Yo? Mau bareng?” jawab Jefri. “Kamu kesini deh Jef, aku butuh bantuanmu. Aku di Hall pernikahan. Lantai satu. Cepet ya,” ucapku padanya. “Ngapain kamu disana?” tanya Jefri, sepertinya dia bingung dengan apa yang barusan aku katakan padanya. “Sudahlah cepat kesini,” pintaku padanya.  Aku tidka bisa menjelaskan lebih detail lagi, kondisi di hall pernikahan ini kembali runyam. Kasak-kusuk terdengar dari mulut-mulut para tamu undangan. Aku menjadi sangat kasihan dengan pengantin wanita ini. Cantik, tapi malah disia-siakan. Tak lama setelah aku menutup telepon. Jefri dan Dinda datang. Aku lega melihat mereka ada disini. Belum juga aku menjelaskan pada mereka. Tiba-tiba Dinda berbicara, “Clara?” ucapnya pada mempelai wanita itu. Mempelai wanita itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Dinda. “Dinda?” wanita itu balik bertanya. Mereka saling bertatapan cukup lama. “Kamu kenapa?” tanya Dinda padanya. “Devan Din,” ucapnya sambil menangis. Dia tidak melanjutkan ucapannya. Entah, ada apa sebenarnya diantara mereka. Sepertinya mereka saling mempunyai hubungan di masa lalu. “Devan kenapa? Bukannya kalian mau nikah?” tanya Dinda lagi. Dia menciba memperjelas duduk permasalahan yang sedang terjadi. “Devan kabur Din,” jawabnya lirih, kemudian dia menangis lagi. “Oh, sudah sadar rupanya dia,” ucap Dinda ketus. Dinda tersenyum sinis, aku melihatnya. Dinda senang, dengan kondisi kacau yang sedang dialami oleh pengantin wanita itu. “Maksud kamu apa Din?” ucap pengantin wanita itu sambil terus menangis. Dia memandang wajah Dinda dengan sendu. “Kamu nanya maksud aku? Maksudku, karma sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Makan tuh karma,” ucap Dinda, sambil menarik tanganku juga tangan Jefri. Kami menurut saja ditariknya dengan paksa. Kami mengikuti langkahnya yang terlihat jelas sedang menahan marah. Setelah sampai di parkiran, aku memberanikan diri untuk bertanya. “Kamu kenapa Din?” Dia langsung berhambur memelukku. Menangis dipelukanku. Padahal pacarnya disampingku. Apa dia salah peluk ya? Ah bodo amat. Nikmati saja dulu. Keliru apa enggak urusan belakangan. Aku menepuk-nepuk punggungnya agar dia lebih tenang. Sementara Jefri terlihat kesal melihat pacarnya malah memelukku. Setelah agak tenang, barulah Dinda bercerita “Dia... dulu ngerebut Devan dari aku,” ucapnya sambil terisak. Kemudian Jefri menarik tangannya dan memeluknya. “Sudahlah. Kan semuanya sudah berlalu. Dan dia sudah menerima ganjarannya sekarang,” ucapnya sambil menepuk punggung Dinda. Dia juga menciumi kepala Dinda. Membuatku kesal saja melihat mereka. “Makasih ya sayang,” ucap Dinda sambil menyeka air matanya. “Iya, sekarang kan sudah ada aku,” ucapnya lagi. Membuatku ingin muntah saja mendengarnya. “Makasih ya sudah nolongin aku. Duh deg deg-an tahu. Tiba-tiba digiring ke area hall pernikahan. Enggak lucu kalau pulang-pulang bawa mantu. Emak bisa syok, semua harta jadi milikku kayaknya kalau aku nikah dadakan kayak tadi,” ucapku menghibur Dinda. Tapi, Dinda masih saja tidak tertawa. Apa karena leluconku garing ya? “Dari pada nikah sama tuh cewek, mendingan jomlo aja seumur hidup,” ucap Dinda padaku. “Loh kamu nyumpahin aku Din?” tanyaku kesal. “Enggak. Aku cuma ngingetin kamu aja. Tuh cewek busuk. Jadi cari yang lain sajalah,” jawabnya, yang kini sudah lebih tenang. “Hemmm. Yaudahlah aku pulang dulu deh,” jawabku sambil meninggalkan mereka. Baru selangkah aku berjalan, si kutu kupret malah nanya. “Kok setelanmu langsung dipakai Yo?” tanya Jefri. “Ya pengen aja. Kenapa? Ganteng ya?” ucapku ngeles. Enggak mungkin aku jawab jujur. Mau ditaruh mana mukaku di hadapan Dinda. “Halah, ganteng darimananya? Buktinya jomlo, kalau ganteng ya punya pacar dong. Kayak aku gini,” ucap Jefri, menyebalkan sekali dia. “Jomblo itu pilihan. Ganteng mah takdir,” jawabku membela diri. “Terserah kamu deh. Hati-hati pulangnya. Awas digiring lagi. Hahaha,” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. Asem emang punya temen enggak ada akhlak. “Iya, makasih ya,” ucapku sambil dadah dadah ke mereka. Aku pulang dengan segala perasaan yang campur aduk. Setelah sekian lama, perasaanku tumbuh lagi. Dia hari yang sama, aku dikira pengantin pria. Hal yang sangat aneh memang. Tapi, ya sudahlah. Setidaknya, aku bisa merasakan perasaan ini. Perasaan yang sudah lama mati. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD