Part 5: Sisa Rasa

1631 Words
Tidak seperti beberapa jam sebelumnya yang begitu terik, sore ini langit mendung seperti menahan tangis yang enggan tumpah. Aliza duduk di taman belakang bersama Tika yang baru saja datang. Tidak ada obrolan serius, mereka hanya berbincang perihal butik. Dibalik obrolan yang terdengar normal, kedua wanita itu sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Aliza tidak sabar ingin menyaksikan pertemuan Ethan dan Tika, sedangkan Tika sendiri tak sabar ingin cepat pulang, tepatnya ingin menghindar. “Mbak, saya mau belanja dulu ke depan,” kata Nenden, asisten rumah tangga di sana. “Oh, iya, Bik.” Aliza mengangguk tandanya memberi izin. “Mbak mau titip belanjaan baru?” Nenden ingin memastikan sebelum pergi. “Kayaknya gak ada. Beli yang udah saya tulis aja, ya.” Aliza rasa belum memerlukan barang lain. “Baik, Mbak. Saya permisi.” Nenden mengangguk sopan, lalu pergi setelah melihat wajah Tika sekilas. Nenden sudah bekerja di rumah itu sejak kedua orangtua Ethan masih hidup, tentu ia tahu siapa-siapa saja orang yang pernah memiliki hubungan dengan Ethan, termasuk Tika. Kehadiran Gio yang sangat mirip dengan tuannya, lalu kedatangan Tika yang tiba-tiba, sudah cukup membuat Nenden berspekulasi. “Ayah di mana?” tanya Aliza ketika Gio datang sendirian. “Di sana.” Gio menunjuk pintu kaca. Ethan memang terlihat sedang berdiri di sana sambil berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Aliza tidak merasa aneh, suaminya itu kadang-kadang lebih sibuk dengan ponselnya untuk kepentingan bisnis. “Gio udah sholatnya?” tanya Aliza lembut. “Udah.” Gio mengangguk. “Duduk sini. Kita ngemil dulu. Ibu bikin pasta, loh.” Aliza menepuk kursi kosong di sampingnya, isyarat agar Gio duduk di sana. “Gio mau main lagi.” Gio menolak bergabung, lebih tertarik dengan mainan di tangannya. “Kita langsung pulang aja, yuk?” ajak Tika tak ingin berlama-lama di sana. Namun, anak itu pura-pura tak mendengar, dan malah mencari tempat nyaman untuknya bermain. “Gio?” panggilnya kesal. “Santai dulu, Tika. Biarin dia main bentar. Udah diniatin mau main lagi kalo udah beres sholat.” Aliza sengaja mengulur kepulangan wanita itu karena Ethan belum juga muncul. “Udah mendung, Mbak.” Tika tampak tak nyaman, lebih tepatnya, tak tenang. “Rumah kontrakannya gak jauh dari sini. Nanti saya minta sopir buat antar kamu pulang.” Aliza sedikit memaksa dengan kesan baik. “Oh iya, kenapa Gio di bawa ke Jakarta? Emang gak ada yang jagain di kampung?” tanyanya kemudian. “Ibu saya sakit-sakitan. Bibi saya yang rawat. Saya gak tega ngerepotin bibi lagi kalo saya titip Gio,” jawab Tika jujur. Memang itu alasannya dia membawa Gio ke kota ini. “Gak ada kakak atau adik, gitu? Kamu tulang punggung?” Aliza hanya menebak-nebak. “Saya anak tunggal. Ayah saya udah meninggal, dan ya, saya bisa dibilang tulang punggung.” Tika mengkonfirmasi dugaan Aliza. “Oh.” Aliza manggut-manggut, paham kondisi Tika. "Andini kenapa langsung pulang, sih? Padahal biasanya dia mau nongkrong dulu di sini.” “Katanya mau langsung nyuci, Mbak. Tadi dia cuma nganter sampai gerbang aja.” Tika menjawab bohong, padahal Andini tidak mengantarnya karena sudah jelas ia tahu di mana rumah Ethan. Ekor mata Aliza menangkap pergerakan Tika yang mendadak cemas. Tangannya tak ingin diam, menggesek apapun dengan asal. Aliza melirik ke belakangnya, ternyata Ethan sedang berjalan mendekati. Seperti biasa, wajah pria itu memang selalu datar. Tapi Aliza tahu, dari mana kecemasan Tika berasal. “Bikin apa?” tanya Ethan, duduk di samping Aliza. “Kesukaan kamu.” Aliza memperlihatkan hasil tangannya di dapur, yaitu pasta. “Makan bareng Gio, gih. Dia gak mau duduk di sini, malah langsung main di sana,” adunya, mengarahkan pandangannya ke Gio yang bermain di dekat kolam renang. Tatapan Ethan tidak sedikitpun menoleh ke arah Tika seolah wanita itu tidak ada di sana. Sementara Tika, terus berusaha menjaga pandangannya agar tidak melihat Ethan dan Aliza. Suara mereka yang penuh cinta dan keharmonisan rumah tangga sudah cukup membuat hatinya terbakar. Aliza dapat merasakan ketidaknyamanan dan kecanggungan antara Ethan dan Tika meski mereka sudah berusaha menutup-nutupinya. Namun, lagi-lagi ia bisa apa? Tidak mungkin ia langsung menuduh tanpa bukti kuat. Tapi, pertemuan ini cukup untuk meyakinkan diri bahwa ada sesuatu di masa lalu mereka. “Udah mendung. Kayaknya bentar lagi hujan. Saya mau pulang aja, Mbak.” Tika buru-buru berdiri sebelum Ethan menghampiri putranya. “Ayok pulang,” ajaknya pada Gio. “Mau di sini.” Gio malah menatap cemberut, asyik memainkan mobil mainan. “Ayok. Bentar lagi hujan, loh.” Tika mencoba membujuk, tapi dia tidak berani melangkah karena harus melewati pasangan suami istri itu. “Gio, ayok,” ajaknya lagi, tapi anak itu seolah tak mendengarnya. “Besok main ke sini lagi, ya. Sekarang pulang dulu.” Aliza ikut membujuk lembut. “Gak mau.” Gio bergeming. Nampaknya dia enggan untuk sekadar bergeser saja. “Gio.” Tika menatap Gio galak, berharap anak itu mau beranjak sebelum ia membawanya paksa. “Dia masih betah di sini, Tika.” Aliza terkekeh kecil melihat tingkah Gio. Lucu bagi Aliza, tapi tidak bagi Tika. Ia malah menatap putranya semakin tajam hingga anak itu terlihat ketakutan. Tak perlu memaksanya dengan kata-kata, Gio bangkit dari duduknya dan menghampiri sang ibu. “Saya permisi, Mbak. Assalamu'alaikum.” Tika tak sudi berlama-lama lagi, bergegas menyambar tangan Gio untuk ia bawa. “Wa'alaikumsalam.” Aliza mengangguk pelan, sedangkan suaminya yang memang irit bicara hanya menatapnya tanpa kata. “Dadah Gio.” “Dadah Ibu.” Gio turut melambaikan tangannya. “Dadah Ayah.” Tika melangkah lebih cepat, tak peduli pada putranya yang kesulitan menyeimbangkan langkah hingga berjalan terseok-seok. Ia hanya ingin cepat keluar dari rumah ini, dan mungkin ... ia juga ingin keluar dari situasi yang membuatnya terjebak di ruang sempit. Hujan turun sangat deras saat Tika hendak keluar dari rumah besar itu. Tika tidak ingin tetap di sana untuk menunggu hujan reda, jadi ia terpaksa menggendong Gio dan berlari menuju gerbang. Tapi baru sampai anak tangga saja, wanita itu terpeleset hingga terjungkal. “Aw!” Tika berteriak keras dengan posisi telentang. Gio langsung menjerit karena tertindih tubuh sang ibu. Tika berusaha bangkit, tapi kakinya terasa kram. Aliza dan Ethan datang dengan langkah terburu-buru, penasaran apa yang terjadi. Tidak langsung bertindak, mereka sempat terdiam melihat kondisi Tika dan Gio. “Kamu gendong Tika aja, aku yang bawa Gio.” Aliza sigap memangku Gio dan membawanya ke dalam rumah. Ethan malah memalingkan wajah ke arah lain. Namun sedetik kemudian, ia menggendong Tika dengan gerakan kasar. Tika hanya diam, tapi jantungnya langsung berirama di dalam sana. Matanya tak teralih dari wajah Ethan, wajah yang selama ini sangat ia rindukan. Wajah itu masih sama seperti enam tahun yang lalu, tampan dan mempesona. Hampir tidak ada perubahan kecuali keriput halus yang muncul di bawah matanya. Untuk sesaat Tika merasa terbang, hanyut dalam suasana. Sampai tiba-tiba, pria itu meletakkan tubuhnya di atas sofa. “Ada yang sakit?” Aliza berjongkok di dekat Gio, berusaha menenangkan anak itu yang masih menangis. “Mana yang sakit?” “Ini.” Gio menunjuk lengan kirinya. “Ibu obatin, ya.” Aliza lantas berdiri. “Aku aja yang obatin Gio. Kamu urus dia,” kata Ethan, lalu pergi sebelum Aliza sempat melangkah. “Kamu jatuh kenapa?” tanya Aliza khawatir. “Lantainya licin.” Tika menundukkan kepala, merasa canggung bertatapan dengannya. “Kaki kamu gak apa-apa?” Aliza membungkuk, menyentuh kaki Tika untuk memeriksa. “Kayaknya terkilir, Mbak.” Tika tidak bohong, kakinya terasa sangat linu saat digerakkan. “Saya kompres, ya.” Aliza menegakkan tubuhnya kembali, lalu mengusap kepala Gio yang duduk di samping ibunya. “Tunggu Ayah, ya. Jangan nangis, Sayang,” ucapnya sebelum pergi. Tak menunggu lama, Ethan datang dengan membawa beberapa obat di tangannya. Tentu untuk Gio, mustahil untuk ibu dari bocah itu. Tika hanya bisa memperhatikan perlakuan Ethan yang terlalu manis di matanya, terlalu lembut di hatinya, terlalu nyata untuk sekadar khayalan. Andai saja Tika adalah istri Ethan, momen ini akan ia anggap keharmonisan rumah tangga yang sesungguhnya. Lihatlah pria itu, begitu sabar dan penuh kasih sayang, begitu lembut dan perhatian. Ini adalah sisi lain dari Ethan yang tidak diketahui banyak orang. Tapi dibalik itu, ada rasa cemburu yang sulit Tika kendalikan. Ia juga ingin mendapatkan perlakuan manis seperti Gio, ia juga ingin mendapat perhatian dari pria itu. Jika Gio membutuhkan sosok ayah, bagaimana dengannya yang juga membutuhkan cinta? Cinta ... Tika akui perasaannya terhadap Ethan tak pernah benar-benar padam, bahkan setelah laki-laki itu menyakitinya sangat dalam. Kelahiran Gio adalah bukti seberapa besar cintanya bertahan. Setidaknya ia memiliki sebagian kecil dari Ethan, yaitu Gio. “Jagoan Ayah. Jangan nangis, dong.” Ethan begitu telaten mengurusi Gio. “Sakit.” Gio masih saja merengek manja. “Nggak. Itu perasaan kamu aja. Ayah obatin biar cepet sembuh, ya.” Ethan dengan sangat hati-hati mengoleskan obat pada siku-siku lengan Gio. “Jangan pulang dulu. Tunggu hujan reda, ya. Tunggu Nenden sama sopir juga, biar kamu dianterin pulang.” Aliza berjongkok di depan Tika, mulai mengompres kakinya dan memberikan pijatan halus. Tubuh Tika gemetar. Bukan karena kedinginan, tapi karena perasaan yang berkecamuk tak beraturan. Lihatlah wanita cantik yang selalu berpakaian tertutup itu, begitu baik dan tulus. Tika tidak ingin menjadikan Aliza saingan, karena sudah jelas Aliza pemenangnya. Tika takut perasaannya kepada Ethan kembali mencuat dan membuatnya kehilangan akal sehat seperti dulu. Tika tidak ingin hancur oleh ulahnya sendiri untuk kedua kalinya, di jurang yang sama pula. Tapi, Tika bisa apa? Sepertinya ia benar-benar harus segera pergi. Tak lama setelah Tika dan Gio selesai diobati dengan obat-obatan seadanya, hujan pun reda seolah memberi tanda bahwa sudah waktunya Tika meninggalkan rumah itu. Tika yang sudah muak ada di sana, tentu segera pamit. Aliza apalagi Ethan tidak memiliki alasan untuk tetap menahannya. “Tunggu!” Langkah Tika terhenti, tepat di teras rumah. Suara itu, tak asing di telinganya. Ia menoleh ke asal suara. Benar saja, pria itu yang berhasil menghentikan langkahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD