bc

Berawal dari Kesalahan 2

book_age18+
14
FOLLOW
1K
READ
HE
escape while being pregnant
fated
boss
tragedy
bxg
city
affair
like
intro-logo
Blurb

Rumah tangga Aliza bersama Ethan nyaris sempurna tanpa cela. Meskipun mereka belum diberikan kesempatan untuk menjadi orangtua, hubungan keduanya tetap penuh cinta.

Namun, tanpa diundang, seseorang dari masa lalu Ethan hadir di tengah-tengah keharmonisan rumah tangga. Keberadaannya murni ketidaksengajaan, tapi cukup untuk mengguncang semuanya.

Tawa dalam rumah menjadi curiga, setiap sentuhan menjadi pernyataan, dan cinta ... perlahan jadi ketakutan.

Aliza mulai mempertanyakan segalanya. Cinta, kesetiaan, bahkan dirinya sendiri. Sementara Ethan dihadapkan pada kenyataan bahwa masa lalu yang tak diselesaikan akan selalu menemukan jalan pulang.

Kadang, cinta saja tak cukup untuk bertahan.

chap-preview
Free preview
Part 1: Wajah yang Tak Asing
“Mbak Aliza,” sapa Tika, berjalan menghampiri pemilik butik yang baru saja tiba. “Maaf, hari ini saya terpaksa bawa anak. Dia lagi agak rewel, gak mau ditinggal sendirian di kontrakan,” ungkapnya ragu-ragu. Aliza—wanita berusia 23 tahun itu mengedarkan pandangan. Belum ada pengunjung yang datang, hanya beberapa karyawan yang terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sementara di sofa ruang tengah, ia memang melihat adanya anak kecil yang duduk di sana. “Gak apa-apa, Tika. Lagian butik masih sepi gini,” jawab Aliza pada akhirnya. “Tapi kalo Mbak keberatan, saya anterin dia pulang pas jam istirahat.” Tika merasa belum yakin, takut-takut Aliza terpaksa mengizinkannya. “Nggak usah. Asal gak ganggu kerja kamu dan gak berantakin tempat ini, kamu bisa bawa anak tiap hari.” Aliza menegaskan sekali lagi. “Terima kasih banyak, Mbak.” Tika lega mendengarnya. “Gimana fitting klien kemarin?” tanya Aliza sembari memeriksa gaun yang terpajang di manekin. “Lancar, Mbak. Bu Ecca bilang cutting-nya pas banget,” jawab Tika dengan bangga. “Bagus.” Aliza mengangguk puas. “Nanti bantu cek stok renda baru ya, yang dari Bandung.” “Baik, Mbak.” Tika paham tugasnya. “Mbak mau saya bikinin teh?” Ia pun menawarkan minuman. “Boleh. Terima kasih, ya, Tika.” Aliza tersenyum lembut. Tika berlalu dari pandangan, sementara Aliza berjalan menuju meja kerja dan mulai menyibukkan diri dengan laptopnya. Tapi baru beberapa menit ia duduk, anak laki-laki yang belum diketahui namanya itu mulai berjalan secara mengendap-endap, lalu berlari dan bersembunyi di balik rak. Mulanya Aliza tidak peduli, tapi lama-lama ia merasa risih. Tepat ketika anak itu berlari di hadapannya, Aliza mendongakkan kepala dengan cepat. Niatnya ingin menegur karena mengganggu konsentrasi, tapi dahinya mengkerut saat menyadari sesuatu. Wajah anak itu ... terlalu familiar. Mata Aliza menyipit, mencoba melihat lebih jelas. Tatapannya, garis dagunya, senyumnya, cara dia memiringkan kepala, juga ... matanya berwarna biru! Semuanya seperti fotokopi seseorang yang selama dua tahun ini selalu tidur di sampingnya. Apa mungkin anak itu .... Tidak! Aliza menggelengkan kepalanya, berusaha menepis prasangka yang muncul tiba-tiba. Tidak mungkin anak itu darah daging suaminya tercinta, Ethan Immanuel. Namun, ternyata rasa keingintahuannya perihal asal-usul anak itu terlalu kuat dan sulit untuk diabaikan begitu saja. “Tika,” panggil Aliza pura-pura santai. “Boleh saya tanya sesuatu?” “Iya, Mbak?” Tika buru-buru menghampiri. “Ayahnya orang mana? Kayaknya bule, ya?” Aliza menatapnya cukup intens. Tak hanya langkah Tika yang langsung memelan, tapi ekspresinya juga mendadak muram. Aliza melihat perubahan itu, dan ia merasa tak enak hati. Baru kali ini ia bertanya di luar persoalan butik, terlebih yang menjadi pertanyaan bersifat pribadi yang tak seharusnya dipertanyakan seperti ini. “Saya gak tau, Mbak.” Tika menggeleng, malas menanggapi. “Maksudnya?” Aliza mengernyit tak mengerti. Namun, tampaknya Tika tidak ingin menyahuti lagi. “Gak perlu dijawab kalo kamu gak mau jawab,” tambahnya buru-buru. “Dia gak peduli anaknya mau hidup atau mati. Dia gak mau tanggungjawab.” Tika menundukkan kepala, malu sekaligus kecewa mengingat hal itu. “Jadi ... maksudnya kamu gak dinikahin?” tanya Aliza hati-hati, khawatir menyinggungnya. Tika mengangguk tanpa bicara. Suaranya hilang, mungkin diseret oleh kenangan yang terlalu menyakitkan untuk diceritakan. Wajahnya yang tertunduk, terdapat luka yang mendalam. Sebagai sesama wanita, Aliza tentu mengerti perasaan Tika. Tidak dinikahi, dua kata itu sudah cukup menggambarkan situasi sulit yang sudah Tika lalui selama kehamilan dan membesarkan anaknya seorang diri. Aliza tidak akan menilai wanita itu rendah hanya karena hamil di luar nikah, tapi ... siapa pria b******k yang telah menghamilinya? “Kamu hebat, Tika. Gak semua perempuan sekuat kamu, gak semua anak bisa terlahir ke dunia dengan selamat.” Aliza memberi semangat meski dadanya terasa cukup sesak. “Mbak udah punya anak?” Tika hanya berbasa-basi, tak terhibur sedikitpun atas pujian bosnya. “Saya udah punya dua anak, tapi ... Allah lebih sayang mereka.” Aliza tersenyum pedih. “Oh, maaf, Mbak.” Tika jadi merasa tak enak. “Nggak apa-apa. Alhamdulillah saya punya banyak anak angkat, karena kebetulan suami saya punya panti asuhan.” Aliza tersenyum manis mengingat anak-anak panti yang sudah dia anggap anak sendiri. “Gio, jangan ke sana!” Tika berteriak saat putranya berlari ke arah gudang. “Mbak, saya permisi.” Tika pergi tanpa menunggu jawaban Aliza. Kesempatan bagus untuk mengakhiri perbincangan yang begitu memuakan. Ia tak sudi mendengar pertanyaan perihal ayah dari anaknya lagi, karena hanya mengingatnya saja, hatinya selalu hancur seolah peristiwa tersebut baru ia alami hari ini. Di meja kerja, Aliza termenung mengetahui kisah Tika yang menyedihkan. Entah mengapa cerita yang disampaikan wanita itu membuatnya semakin menduga-duga. Ia memang tidak tahu masa lalu suaminya, karena mereka memang tidak mengenal satu sama lain lebih dalam sebelum pernikahan. Tapi setelah menikah, Aliza merasa dicintai sepenuh hati, dihargai dengan sangat, dan kehadirannya selalu diharapkan. Ia yakin suaminya pria yang sangat baik, sedikitpun tak pernah membuatnya kecewa atau sekadar rasa curiga. Namun... kini hatinya goyah hanya karena kehadiran bocah itu, Gio. “Assalamu'alaikum,” sapa Aliza ketika menerima panggilan dari Ethan. “Wa'alaikumsalam. Sayang, makan di luar, yuk?” ajak Ethan langsung ke inti. “Bukannya kamu ada acara makan siang?” Aliza berusaha mengingat jadwal suaminya hari ini. “Aku gak jadi ikut. Mau makan siang bareng kamu,” sahut Ethan malas. “Maunya, sih, makan masakan kamu, tapi kamunya sibuk di butik.” “Uh... Kasian banget suami aku.” Aliza malah menggodanya. “Lagian kamu yang bilang ada acara makan siang. Bukan salah aku yang nggak ngirim makanan ke kantor,” gerutunya tak ingin disalahkan. “Ya udah, kita makan siang di luar aja.” Ethan malas mendengar omelan sang istri. “Sesuai perintahmu, Tuanku.” Aliza menggerakkan kepalanya dengan anggun meski Ethan tidak bisa melihatnya. “Jangan lama, ya, Nyonya Immanuel.” Ethan membalas sanjungan, lalu tertawa sebelum panggilan berakhir. Aliza pun berdiri dan merapikan pakaian terutama hijabnya yang sedikit berantakan. Melihat Gio duduk di pojok butik, entah kenapa hatinya terasa ditarik. Seperti ada magnet aneh yang membuatnya ingin mengenal Gio lebih dekat. Bukan karena iba, tapi ada perasaan yang sulit ia jelaskan. “Gio.” Aliza berjalan mendekati anak itu. “Ikut Ibu, yuk? Kita nyari makan di luar,” ajaknya lembut. “Gak usah, Mbak. Nanti Gio ngerepotin.” Tika menyahuti dari belakang. “Nggak, kok. Daripada di sini, dia cuma lihatin kalian mondar-mandir aja.” Aliza menyinggung para karyawannya yang tengah sibuk. “Saya bawa, ya.” “Gio aktif banget, loh, anaknya.” Tika sedikit khawatir anaknya berulah dan membuat Aliza kewalahan. “Gak apa-apa, Tika.” Aliza berusaha meyakinkan. “Kamu mau ikut sama Ibu Aliza?” tanya Tika pada putranya. Anak itu hanya diam, tapi tatapannya sudah memberikan jawaban 'iya'. “Jangan nakal, ya,” pesannya. “Yuk.” Aliza mengulurkan tangan dan anak itu langsung meraihnya dengan girang. Mobil berwarna merah itu mulai membelah jalanan Kota Jakarta di bawah teriknya matahari. Aliza yang duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke sampingnya tempat Gio berada. Anak itu terlihat sangat menikmati perjalanan, bernyanyi tidak jelas sembari memperhatikan pengendara lain. Ternyata Gio anak yang periang, cerewet, mudah akrab, tidak manja—tidak harus selalu bersama ibunya, dan tentu sangat tampan. Aliza yakin, Ethan pasti menyukai Gio karena dia memang menyukai anak-anak. Tapi yang membuat Aliza penasaran, adalah reaksi suaminya ketika melihat anak itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.9K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook