Dari kejauhan, Ethan terlihat sudah sampai di restoran lebih dulu. Pria berusia 35 tahun itu sudah menunggu di meja, membolak-balik buku menu dengan ekspresi lelah. Aliza melangkah dengan debaran tak biasa. Ada rasa penasaran juga takut di hatinya. Entah atas dasar apa, ia pun tak bisa menjelaskan.
“Assalamu’alaikum,” salam Aliza ketika hampir sampai.
“Wa’alaikumsalam.” Ethan menyahuti sembari mengangkat wajahnya.
Hanya beberapa detik menatap Aliza, tatapan Ethan beralih pada Gio. Aliza melihat matanya sedikit membesar, lalu ... melembut. Tidak ada ekspresi mencurigakan dari wajah Ethan, hanya ada ketertarikan seperti halnya saat pria itu bertemu anak lain. Melihat itu, Aliza merasa cukup lega, sedikit.
“Sun tangan dulu, gih,” titah Aliza pada Gio.
Gio melangkah lebih dekat, lalu mencium punggung tangan Ethan yang memang reflek Ethan ulurkan.
“Hai.” Ethan tersenyum menyapa. “Siapa ini?” tanyanya, melirik ke arah Aliza.
“Dia anak karyawan butik.” Aliza memberitahu seraya meluncurkan bokongnya di samping Ethan.
“Siapa nama kamu?” tanya Ethan, masih dengan senyumnya yang mengembang.
“Gio.” Gio menjawabnya tanpa ragu, duduk di hadapan Aliza dan Ethan.
“Kok bisa ikut kamu?” Ethan kembali menatap sang istri dengan wajah bingung.
“Kata ibunya, dia gak mau ditinggal sendirian, jadi dibawa ke butik. Tapi di butik juga gak ada temen, makanya aku bawa ke sini.” Aliza menjelaskan sesuai keadaan.
“Ya udah. Kamu yang pesan, nih.” Ethan menyodorkan buku menu pada Aliza. Tampaknya sosok Gio lebih menarik untuknya daripada melihat-lihat buku menu. “Gio udah sekolah?” tanyanya pada Gio.
“Belum.” Gio menggelengkan kepalanya.
“Kenapa belum? Emangnya umur kamu berapa?” Ethan yakin anak itu sudah cukup untuk mulai bersekolah.
“Lima.” Gio mengangkat telapak tangannya di udara.
“Harusnya udah masuk TK, dong.” Ethan menegur secara halus.
“Dia baru aja pindah ke sini. Ibunya, 'kan, baru kerja tiga minggu.” Aliza menimpali sembari membolak-balikkan buku menu.
“Ayahnya ikut ke sini?” tanya Ethan ingin tahu. Tapi karena Aliza tidak segera menjawab, ia memutuskan bertanya langsung pada anak itu, “Ayah kamu di mana?”
“Udah meninggal,” jawab Gio dengan entengnya.
Aliza cukup tercekat mendengarnya. Pernyataan anak itu berbeda dengan yang dikatakan ibunya. Mungkin Tika tak ingin Gio bertanya tentang sang ayah hingga dia mengatakan ayahnya sudah meninggal? Kalaupun benar, Aliza merasa masuk akal mengingat Tika tak ingin membahas pria itu.
Hening.
Ethan terdiam seakan jawaban Gio adalah tanda berakhirnya percakapan yang baru dimulai.
“Om, namanya siapa?” Gio berhasil memecah kecanggungan, bertanya dengan nada sok akrab.
“Ethan.” Ethan menjawabnya singkat.
“Baju Om bagus. Om kerja apa?” Gio menelisik penampilan Ethan yang menurutnya sangat berwibawa dengan pakaian kantornya.
“Kerjaan Om cuma duduk.” Ethan tersenyum tanpa menjelaskan pekerjaannya sebagai CEO di perusahaan ternama.
Sepanjang makan siang, Aliza nyaris tak bicara. Ia hanya menyaksikan dua orang yang tidak saling kenal bercanda seperti sahabat lama. Lihatlah, laki-laki yang kata orang dingin dan sulit berbaur kini malah asyik berbincang banyak hal bersama anak kecil yang baru ditemuinya hari ini.
Dalam diam, Aliza meneliti wajah Ethan dan Gio silih berganti seolah-olah mencari perbedaan di antara mereka. Tapi wajah keduanya memang benar-benar sangat mirip. Ia yakin, siapapun yang melihat kebersamaan mereka, pasti mengira Ethan dan Gio adalah ayah dan anak yang terlihat manis.
Pemandangan ini pernah Aliza mimpikan dulu, pemandangan ayah dan anak yang tak sempat terwujud. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, Aliza melihat Ethan tertawa lepas. Tawa yang bukan sekadar basa-basi, tapi tawa dari hatinya, tawa yang sudah lama tidak terlihat.
Jujur saja hati Aliza terasa tercubit. Bukan karena cemburu, tapi karena ia menyadari satu hal. Ada sisi dari suaminya yang sudah lama mati, dan kini hidup kembali hanya karena kehadiran anak kecil yang bahkan bukan siapa-siapa bagi kami.
Aliza pikir ia dan Ethan sudah berdamai dengan kenyataan, dengan dua kuburan kecil yang tak sempat memanggil mereka ‘Ayah dan Ibu’. Tapi siang ini, ia sadar bahwa ada luka yang sama-sama mereka simpan terlalu lama. Luka yang bernama kehilangan.
“Sayang?” Ethan baru sadar istrinya melamun sedari tadi. “Kenapa?”
“Aku yakin kamu bisa baca pikiran aku, Mas.” Aliza menunduk, tak ingin ditatapnya.
“Apa?” Ethan menggidikkan bahunya.
“Seandainya anak-anak kita masih ada, mereka yang akan duduk di sini.” Aliza tersenyum getir. “Kayak Gio sekarang ini,” tambahnya.
“Hm.” Ethan manggut-manggut tanpa minat.
“Aku juga yakin, anak-anak kita pasti mirip banget sama Gio. Mungkin kalo mereka duduk bertiga, orang lain bakal ngira mereka adik kakak.” Aliza sedikit menyinggung sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikiran.
“Kenapa sama Gio? Anak-anak, 'kan, mirip aku.” Ethan memprotes, tak terima karena kedua putranya memang mewarisi wajahnya.
“Kamu gak ngerasa Gio mirip banget sama kamu, Mas?” Aliza tak percaya Ethan tidak merasa adanya kemiripan dengan wajah Gio.
“Ya ....” Ethan menggantung ucapannya sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Emang semirip itu?”
“Menurut kamu?” Aliza malas mengabsen apa saja bagian-bagian Gio yang mirip Ethan, karena sudah jelas anak itu seperti fotocopy-nya versi kecil.
“Orangtuanya dari luar negeri?” Ethan mencoba menebak-nebak.
“Ibu, ini susah.” Gio tiba-tiba menyela obrolan, padahal jawaban Aliza sudah di ujung bibir.
Anak itu menunjukkan steak yang menurutnya sulit dipotong menggunakan pisau ataupun garpu.
“Sini.” Ethan segera membantu dengan senang hati.
“Om, aku mau lihat mainan punya anak Om, boleh?” celoteh Gio sembari memperhatikan cara Ethan memotong steak.
“Boleh, dong.” Ethan mengangguk tidak keberatan. “Oh iya, kalo kamu manggil Ibu Liza dengan sebutan Ibu, berarti kamu juga harus manggil Om dengan sebutan ayah,” pintanya.
“Gio gak punya ayah.” Gio tampak ragu, belum pernah memanggil seorang pria dengan sebutan itu.
“Ya gak apa-apa. Anggap Om ini ayah kamu.” Ethan menegaskan. Sedetik kemudian, tatapannya beralih pada sang istri seperti meminta persetujuan. “Iya, 'kan, Sayang?”
“Gio mau, 'kan, manggilnya ayah?” tanya Aliza pada Gio. Mustahil tidak setuju, Ethan memang dipanggil ayah oleh anak-anak panti.
“Mau.” Gio manggut-manggut, terlihat sangat lucu. “Kalo Mama kasih izin,” tambahnya.
“Ya udah, nanti izin dulu sama mama kamu.” Ethan melebarkan senyumnya seolah yakin ibu dari anak itu akan setuju memanggilnya dengan sebutan ayah. “Gio mau sekolah?”
“Mama belum punya uang.” Gio menggelengkan kepalanya tanpa beban.
“Nanti Ayah yang biayain sekolah kamu kalo kamu mau,” kata Ethan menyanggupi.
“Mau!” sahut Gio girang.
“Pinter.” Ethan kembali tersenyum seraya mengusap puncak kepala Gio.
“Ibunya orang Subang, kalo ayahnya ... kayaknya blasteran kayak kamu.” Aliza lalu memasukkan potongan steak ke mulutnya, sengaja menjawab pertanyaan Ethan yang sempat tertahan.
Tidak seperti Aliza yang terlihat tenang, Ethan justru merasakan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak di dadanya. Tawanya hilang seketika, tergantikan oleh rasa tegang yang mendera terlalu kuat di dalam dirinya. Subang? Usia Gio lima tahun? Mengapa kebetulan ini terlalu tidak wajar dan janggal?
Awalnya Ethan tidak ingin ambil pusing perihal wajahnya yang sangat mirip dengan anak itu, tapi mengetahui dari mana kota ibu Gio berasal, pikirannya seketika meloncat ke masa lalu. Ethan mencoba meredam gelisah yang mulai mendesak dari dalam, tapi peluh di telapak tangannya sangat terasa.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa seperti duduk di antara dua kehidupan yang saling bertolak belakang. Lebih buruknya lagi, mereka berdua tidak tahu apa-apa. Sekarang Ethan tahu makan siang ini tak akan pernah lagi sama seperti makan siang sebelumnya.