Tangan Ethan memang sedang memegang salah satu dokumen yang menumpuk di sudut meja kerjanya, tapi tidak ada satupun huruf di sana yang benar-benar ia baca. Tubuhnya memang ada di sana, tapi pikirannya entah di mana. Tidak seperti wajahnya yang datar, hatinya justru perang.
Gio. Nama itu terus mengendap dalam pikirannya, seperti serpihan lagu lama yang tiba-tiba terputar tanpa izin. Siapa ibunya Gio? Ethan jadi teringat pada seorang wanita yang sangat ia benci. Tapi ... Tidak mungkin wanita itu benar-benar mengandung anaknya dan membesarkannya seorang diri.
Dirasa tak mungkin bisa melanjutkan pekerjaannya dengan pikiran kalut, Ethan lebih baik menjemput Aliza untuk membawanya pulang. Tapi, bukan hanya itu maksud kedatangannya. Ia ingin memastikan sendiri, siapa ibu dari bocah tadi. Ia memang tak pernah datang ke butik, jelas tidak tahu siapa saja yang bekerja di tempat itu.
“Tumben jam segini mau pulang, Pak?” Jefri—orang kepercayaan Ethan, bertanya basa-basi.
“Hm.” Ethan berdeham singkat. “Kamu lihat anak kecil yang dibawa Aliza ke restoran tadi?”
Jefri tidak langsung menjawab. Ia memang melihat Aliza membawa anak kecil, hanya saja tidak terlalu memperhatikan. “Kenapa emangnya, Pak?”
“Apa tanggapan kamu?” Ethan berharap orang yang selalu bersamanya itu memberikan jawaban pasti.
“Tanggapan apa?” Jefri malah bingung karena tak sempat melihat wajah Gio.
“Gak usah dibahas.” Ethan malas menjelaskan kekhawatirannya. “Kita jemput Aliza dulu di butik,” pintanya.
“Jemput? Bukannya Mbak Aliza—”
“Iya tau, dia sibuk di butik. Tapi saya mau dia pulang bareng saya!” Ethan tak ingin mendengar kalimat tak penting dari bibir Jefri.
“Siap.” Jefri mengangguk patuh, segera memberi isyarat kepada sopir.
Tulisan The Atelier yang terpajang di dinding butik Aliza tampak begitu menarik. Seorang wanita terlihat sedang menyapu teras dengan posisi membelakangi ketika Ethan datang. Ia tidak menghiraukan, terus berjalan menuju pintu masuk dengan langkah lebar. Tapi, tahu-tahu wanita itu bergerak mundur hingga tabrakan kecil pun tak dapat dihindari.
“Eh, maaf—”
Wanita itu terdiam seketika, tepat saat pandangan mereka bertemu secara tak sengaja. Dunia terasa berhenti dan mengunci keduanya di sana. Butuh sepersekian detik untuk Ethan menyembunyikan keterkejutan. Tapi dalam hati, segalanya seperti dipukul badai yang terlalu dahsyat.
Dia—Atika Aprilia, wanita berusia 29 tahun itu juga tersentak melihat wajah Ethan yang begitu nyata di hadapannya. Ini mimpi? Ingin sekali mengalihkan pandangan, tapi keadaan seolah membuat seluruh tubuhnya beku. Selain sulit bergerak, jantungnya pun terasa berhenti berdetak hingga akhirnya berdebar hebat.
“Mas?” Aliza menghampiri di saat Ethan dan Tika masih berdiri di posisi yang sama. “Ada masalah?” tanyanya, menatap dua orang itu silih berganti.
“Ma—maaf, sa—saya—”
“Kita pulang.” Ethan segera memotong ucapan Tika yang terbata-bata.
“Saya permisi, Mbak.” Tika langsung pergi tanpa menunggu jawaban.
Aliza menatap punggung Tika yang terus menjauh lalu menghilang di balik pintu. Ia merasa pertemuan suami dan karyawannya ini tak wajar. Ekspresi mereka terlalu banyak menyembunyikan sesuatu yang besar, interaksi yang terjadi juga sangat mencurigakan untuk sekadar tabrakan.
“Kita pulang sekarang.” Ethan berhasil membuat istrinya menoleh.
“Kenapa gak telepon dulu kalo mau ke sini?” tanya Aliza pura-pura bingung. “Lagian ngapain dijemput? Aku, 'kan, bawa mobil sendiri.”
Omelan Aliza tidak seberapa di telinga Ethan, tapi justru tatapannya yang membuat ia tergugup. Sial! Ethan lupa kalau sekarang istrinya membawa mobil sendiri. Biasanya dia pulang pergi bersama sopir.
“Aku baru beres survei lahan buat pembangunan kantor cabang. Kebetulan lewat sini, jadi ya udah, sekalian kita pulang.” Ethan hanya beralasan, tentu saja.
“Masih siang gini. Emang kamu gak ada kerjaan lagi? Aku masih sibuk cek barang soalnya.” Aliza berusaha mempercayainya, hanya saja ia enggan pulang secepat itu.
“Jangan sampai butik ini aku tutup.” Ethan melemparkan tatapan mengancam.
“Iya udah, iya. Kita pulang.” Aliza akhirnya mengiyakan. “Ikut masuk dulu, yuk. Aku mau bawa tas di dalam.”
Ethan tak sempat menolak, Aliza langsung menarik tangannya untuk ikut ke dalam butik. Semua pekerja menatapnya penasaran, kecuali Tika yang terlihat menyibukkan diri dengan kepala tertunduk. Ethan tidak peduli, yang ia inginkan hanyalah segera pergi dari tempat ini dan menenangkan diri.
Tak perlu bertanya, keberadaan Tika di sini sudah menjadi jawaban atas pertanyaan yang sejak tadi menggulung di pikiran Ethan. Artinya Gio adalah... anaknya yang terlahir dari sebuah kesalahan fatal. Sekarang, dia hadir di kehidupan Ethan dengan wajah yang seperti cerminannya sendiri.
“Ayah!”
Deg.
Jantung Ethan langsung berdentum sangat keras, padahal ia sudah sering mendengar anak kecil memanggilnya dengan sebutan ayah. Namun, kali ini terasa berbeda, entah karena apa, ia sulit menjabarkan. Ethan menoleh ke asal suara, dimana anak itu sedang berjalan ke arahnya dengan wajah ceria.
“Ketemu lagi,” kata Gio, tersenyum manis.
“Kamu mau ikut?” ajak Ethan pelan, tak sadar kata-kata itu akan keluar dari bibirnya.
“Mau!” sahut Gio girang.
“Nggak!” Tika berteriak cukup nyaring.
Responsnya yang berlebihan tentu menarik perhatian semua orang, termasuk Aliza yang kini sudah siap untuk pulang. Sesak! Aliza merasa sulit menghirup udara melihat 'kekacauan' di hadapannya secara nyata. Tapi ia harus bisa bersandiwara, sama seperti mereka—suami dan karyawannya.
“Gio di sini aja. Dia ... anaknya suka nakal,” ucap Tika tak jelas, gugup.
“Enggak, kok, Gio gak nakal.” Aliza malah merasa tertantang karena Tika tak ingin Gio ikut. “Nanti kamu jemput aja ke rumah. Andini tau rumah saya, kok.”
“Tapi, Mbak .... ” Tika berusaha mencegah, hanya saja ia tidak memiliki alasan kuat.
“Kasian Gio gak ada temen. Kebetulan di rumah saya ada banyak mainan, jadi Gio bisa main di sana.” Aliza mencoba membujuk.
“Mama, aku mau main!” Gio merengek di samping Ethan, bahkan tak malu meraih tangan pria itu seolah tak mau ditinggal.
“Boleh, ya?” Aliza kembali meminta izin dengan baik-baik.
“Tapi kalo Gio nakal—”
“Saya juga punya anak, Tika. Saya gak bakal kaget kalo Gio berulah.” Aliza menyela ucapan, tegas.
Tika mengangguk tanpa kata. Akhirnya Aliza dan Ethan meninggalkan butik dengan membawa Gio. Mereka bertiga duduk di barisan belakang, dan Gio ada di tengah-tengah. Tidak seperti tadi saat makan siang, Ethan mendadak tak ingin banyak bicara. Pikirannya terlalu berisik, tapi bibirnya terasa kelu.
Bagaimana bisa ia hidup dua tahun di rumah yang tenang bersama Aliza, sementara anaknya sendiri tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya? Bagaimana bisa ia memeluk istrinya setiap malam, tanpa tahu bahwa ia menelantarkan anaknya sendiri? Tuhan, Ethan tidak bermaksud menjadi ayah yang buruk.
Di samping rasa penyesalannya terhadap Gio, kebencian Ethan pada Tika masih sama seperti dulu. Amarahnya seolah abadi, tak pernah pudar meski sudah bertahun-tahun berlalu. Terlebih, kelahiran Gio bisa menjadi petaka bagi rumah tangganya bersama Aliza yang sudah lebih dari kata bahagia.
“Gio udah pernah lihat wajah ayah Gio, belum?” tanya Aliza lembut.
Suara Aliza menyadarkan Ethan dari lamunan. Entah apa saja yang sudah mereka bahas, ia tak tahu. Pertanyaan Aliza terdengar sekadar basa-basi, tapi entah mengapa di telinga Ethan terasa suatu guncangan seolah-olah pertanyaan itu adalah sindiran sekalipun nadanya tetap terdengar santai.
“Belum.” Gio menggeleng tak peduli.
“Kenapa? 'Kan bisa lihat di fotonya.” Aliza mengerutkan kening, aneh jika Tika tak memiliki foto ayah Gio walau hanya satu saja.
“Mama gak punya fotonya.” Gio kembali menggelengkan kepalanya.
“Gio suka kangen, gak, sama ayah Gio?” Aliza tak ingin membahas foto lagi, melainkan bertanya tentang perasaan anak itu.
“Enggak!” jawab Gio, tegas.
“Kok gitu?” Aliza tampak tak setuju.
“Hm .... ” Gio berdeham panjang seolah mencari kata untuk dia ucapkan. “Gio gak punya ayah. Ayah Gio udah di syurga,” ucapnya polos.
Hati Ethan berdenyut nyeri, sungguh. Seharusnya ia tidak perlu kaget mendengar kalimat itu, Gio sudah mengatakannya saat makan siang tadi. Tapi ... ia ingin sekali meminta anak itu untuk mengoreksi, bahwa ayahnya masih hidup, dan dia sedang duduk tepat di sampingnya saat ini.
“Kalo seandainya Gio mau punya ayah, Gio mau ayahnya yang gimana?” Aliza penasaran, nama siapa yang akan anak itu sebut sebagai jawaban.
“Ayah Ethan!” teriak Gio tanpa banyak pikir.
“Kenapa Ayah Ethan?” Aliza memanyunkan bibirnya seolah tak terima.
“Ganteng.” Gio lalu cengengesan dengan polosnya.
“Ayah Ethan, 'kan, punya Ibu.” Aliza menampilkan wajahnya yang cemburu.
“Biarin.” Gio terus tertawa seakan itu lucu.
Ethan pura-pura sibuk dengan ponselnya sepanjang jalan, tidak ikut berbincang atau sekadar menimpali ucapan. Ia bahkan tidak berani melirik ke arah samping, khawatir sang istri dapat membaca pikirannya yang teramat kacau. Cukup ia sendiri yang tahu bahwa ada perang besar dalam hatinya.
Keberadaan Gio di dunia ini entah harus ia anggap anugerah atau kutukan, bahagia atau derita, bangga atau petaka. Ia tak tahu mana yang lebih mendominasi. Ada perasaan haru karena ternyata ia memiliki keturunan, tapi rasa itu seolah tertutupi oleh rasa takut yang begitu pekat dalam dirinya.
Bukan tanpa alasan Aliza membawa Gio ke rumah, bahkan cukup memaksa Tika untuk mengizinkannya. Tujuannya adalah pertemuan Ethan dan Tika saat Tika menjemput Gio nanti. Karena dari pertemuan mereka, Aliza dapat mengumpulkan teka-teki rahasia yang pernah terjadi di masa lalu.