“Bung,” Abimayu menghampiri Abidan yang memilih duduk menyendiri di sudut goa. Wajah Abidan tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan dipenuh senyum sekali pun mereka berada di tempat ini, meski mereka terjebak. Tapi kini wajah Abidan nampak banyak di hiasi guratan dan sinarnya berubah menjadi awan gelap yang membuat rona wajah tegasnya, mendadak layu dan murung. “Saya tahu, Bung, pasti sedang sedih. Bung juga ingin segera pulang,” sambung Abimayu karena Abidan memilih diam menanggapi kehadiran Arlan di sebelahnya. “Bung ... Allah tidak menjanjikan langit untuk selalu terang, tapi Allah janji akan ada pagi setelah malam.” Abidan mendengus pelan, keheningan yang ingin dia dapatkan sedikit terusik. “Bung ....” Abidan yang notabennya tidak enak untuk terus-terusan mengabaikan Abi

