Bab 3

1207 Words
Kulihat layar ponselku dengan mulut mengerucut macam curut.  Tidak ada notifikasi apapun di sana.  Kutaruh dengan kasar benda kotak itu di atas meja belajar sambil meniup poniku dengan kesal.  Kuraih ponselku lagi,  tidak ada apapun di sana kecuali foto wajahku sebagai wallpaper. Mungkin omongan Randy seperti sihir bagi Niguel. Setelah si kampret itu bilang pada Niguel bahwa aku sedang ada ujian selama seminggu. Alhasil,  dia memang benar-benar tidak mengirimiku pesan sekali. Aku mendengkus. Harusnya saat kenalan dulu, kuminta nomor w******p-nya supaya aku bisa tahu kapan terakhir dia online. Kuraih ponselku lagi lalu membuka aplikasi chatting sekaligus online dating itu. k****a chat terakhirku dengan Niguel ketika kami membahas hobi lain Niguel. Ternyata pria itu hobi diving . Kukatakan padanya bahwa Indonesia punya beberapa spot bagus untuk menyelam diselingi dengan rayuan ala-ala anak twitter dengan menggunakan bahasa Indonesia. Niki : Raja Ampat,  Bunaken,  Labuan Bajo are very beautiful. If you like to diving,  you must go there! Niki : Jangan cuma pinter nyelam di laut,  Om. Sekali-kali menyelam di hati aku,  siapa tahu kamu nemuin Cinta di sana. Niguel : What is that mean?  Niki : Aku rapopo Niguel : Speak in English,  Niki! Aku cekikikan membaca pesan itu. Niguel harusnya menggunakan jasa google translate untuk menerjemahkan apa yang aku tulis, bukan malah memintaku mengatakannya dalam bahasa Inggris.  Lalu kualihkan percakapan itu ke profil Niguel. Kupandangi secara cermat foto dirinya yang mengenakan setelan jas berwarna putih gading. Jika seperti ini, entah mengapa Niguel mengingatkanku pada seseorang. Siluet wajahnya seperti tak asing namun aku tidak mengingat apapun. Mungkinkah ini de javu? #### Hari berikutnya pun sama,  semuanya terasa hambar dan hampa. Ibarat sayur, sudah tak pakai garam, juga tak pakai msg pula. Tidak ada pesan masuk dari Niguel, padahal ini hari ke delapan. Harusnya dia ... Eh? Kenapa aku jadi berharap seperti ini? Toh, kami tidak ada hubungan apa-apa selain sebatas teman, kan? Tapi, aku kangen. Tapi, aku malu. Tapi.... "Idih ... kusut amat tuh muka kayak kertas ujian yang dapet nilai D," sahut Randy yang datang entah darimana. Kutoleh dengan malas ketika pria kurus itu menaruh ras ransel di sisi kiriku. Kulirik jam di tangan kananku, dosen harusnya sudah datang. Ini kelewat sepuluh menit, menunggu itu membosankan, apalagi menunggu pesan yang tak kunjung datang. "Masih nggak dapet pesan dari dia?" tanya Randy seolah bisa membaca pikiranku. Kuanggukan kepala lemah. "Ck,  gegara kamu sih." Randy yang sedang membuka laptop miliknya hanya terkekeh. Pria itu memang tidak suka jika melihatku bahagia meski sedikit. Bahkan sejak SMA,  Randy selalu melakukan hal yang sama jika aku dekat dengan seorang pria sekali pun itu teman satu angkatan. "Eh,  curut. Leaflet tentang Senam Kaki Diabetes sudah apa belum?  Nanti kan kita mau demonstrasi," ucap Randy membuatku membelalakkan kedua mata. "Mampus! Aku belum bikin!" teriakku histeris. Refleks pria bermata agak sipit itu melempariku dengan tutup bolpoin. "Duh,  makanya jangan terlalu bucin jadi perempuan. Yang rugi kamu bukan dia.  Udah sana kerjain,  aku nggak mau tahu nanti kamu yang demonstrasi senam kaki!" Bersamaan dengan itu dosen berseragam biru tua dengan lipstik menor memasuki kelas. Tanganku gemetaran karena lupa tidak membuat brosur yang akan dikumpulkan hari ini. Kalaupun kubuat sekarang,  waktunya pun takkan cukup. Lagipula koperasi kampus letaknya agak jauh dari kelasku. Kuacak rambutku dengan frustasi. Astaga,  kenapa jadi seperti ini? "Baik,  hari ini kita mulai presentasi sekaligus penyuluhan kelompok. Saya tunjuk secara acak dan saya harap semua kelompok sudah siap," ucap dosen itu. "Ran, mampus aku ... kita kan kelompok empat. Gimana kalau kita yang maju duluan? Aku belum bikin sama sekali, " kataku dengan suara bergetar dan keringat dingin yang mulai bermunculan di dahi. Sungguh lebih baik aku terlambat masuk kelas daripada tidak mengerjakan tugas kelompok. Bayangan nilai C sudah menari-nari di kepalaku,  terlebih dosen yang sedang menatap kami itu terkenal dengan kekikiran nilai terhadap mahasiswanya. "Oke,  kelompok empat,  silakan maju." Mendengar itu jantungku rasanya sudah lepas dari rongga d**a. Begitu juga dengan seluruh otot dan tulangku yang mendadak lemas tak bertenaga. Kutatap Randy dengan tatapan memelas, namun pria itu seperti tidak peduli padaku. "Nik, kamu yang demonstrasi," ucap Anya yang duduk di belakangku sembari memberiku beberapa fotokopi leaflet bertuliskan 'Sayangi kakimu daripada manisanmu'. Mulutku menganga dengan alis bertaut. Kutatap Anya dengan pikiran yang masih kalut. Lalu kutatap Randy yang tersenyum tipis sembari menaikkan sebelah alisnya. "Plan B selalu berhasil. Aku tahu kamu bakal lupa karena terlalu memikirkan orang yang berada jauh di sana, Nik. Sekarang kamu yang pemaparan daripada kita dapet nilai jelek," kata Randy dengan nada kecewa. "Emang kenapa sih?" sahut Anya namun tidak ada jawaban yang keluar dari bibir tipis Randy. "Kelompok empat!" seru dosen itu membuat diriku sigap berdiri. "Maaf," ucapku lirih sambil berdiri meninggalkan bangkuku. #### Niki : Hi,  do you miss me? I miss you so much. Kuhapus kalimat itu dan urung mengirimkan apa yang sebenarnya kurasakan. Terlalu takut tuk mengaku bahwa ada secuil rindu yang menelusuk masuk dalam hatiku. Entah sejak kapan rasa pertemanan yang terhubung jaringan sosial berujung menjadi sebuah harapan. Mungkin aku perempuan yang terlalu cepat mengartikan arti pertemanan kami, namun apa ini salah? Lagipula, bertemu Niguel walau sebatas chatting dengan jarak ratusan kilometer membuatku serasa mengenalnya dengan dekat. "Galau teroooosss muka ambyar terooos," sahut Randy sambil membawa nampan berisi semangkuk mie ayam dengan segelas es degan. Kulirik teman bermulut julid itu dengan sinis. Kubuang muka dengan kesal meski sebenarnya aku ingin bertanya pada Randy. "Eh, Ran," ucapku sambil menopang dagu menatap temanku sedang asyik melahap makanannya tanpa menawariku sama sekali. "Boleh nggak sih aku suka sama... " "Gila! Semprul! Sinting!" ejek Randy sebelum mulutku selesai berucap. Pria itu membersihkan bibirnya dengan tisu sambil menatapku lekat. "Emang nggak ada ide lain apa selain suka sama dia?" Kuangkat bahuku dengan malas. Tebakan Randy memang selalu benar. Ya, aku suka dengan Niguel dan ini memang gila. Mana ada orang yang jatuh Cinta secara online seperti aku? Mana ada orang yang baper karena tiap hari chatting sama pria yang baru dikenal? Mana ada orang yang bisa jatuh Cinta ketika raga terpisahkan oleh jarak dan waktu? "Tapi.... " "Apa kamu yakin dengan suka sama si bule bakal bahagia? Ketemu aja nggak pernah gimana mau Cinta? Atau zaman udah berubah ya,  dari chatting turun ke hati," ejek Randy lalu meneguk minumannya. "Aku tuh nggak mau kamu nangis, marah-marah, terus sedih nggak jelas gitu. Perempuan kalau galau itu bikin ribet, Nik. Nggak diperhatiin dikira nggak peduli,  diperhatiin dikira sayang. Eh,  sekalinya dipanggil sayang nanti ujung-ujungnya dibuang." "Sembarangan!" semprotku melemparinya dengan tisu. "Lah,  beneran tahu. Apalagi perempuannya tipe kayak kamu yang gampang baperan. Diajak chattingan tiap hari tuh nggak selamanya dia tertarik sama kamu,  Nik. Ada kalanya dia chatting kamu karena buat menghabiskan waktu." Aku terdiam cukup lama menerima wejangan dari Randy. Kupikir mungkin dia ada benarnya juga. Mungkin saja Niguel memang tidak tertarik padaku sehingga percakapan kami berhenti sampai di sini tanpa ada kata perpisahan. Ingin rasanya menangis, padahal aku sudah membayangkan bahwa menjalin hubungan dengan Niguel bakal seru. Tapi nyatanya aku yang terlalu halu. Ting! Dengan malas, kuraih ponselku di dalam saku celana ketika ada notifikasi pesan masuk. Kedua mataku seketika membulat membaca sebuah nama yang terpampang di layar ponsel. Bersamaan dengan itu tubuhku meremang diiringi detak jantung yang berpacu cepat. Sebuah senyuman perlahan-lahan mengembang di wajahku dengan rona merah di kedua pipi. Aku bisa merasakan wajahku terasa panas meski cuaca sedang bersahabat. Ah, apakah dia membaca pikiranku? Niguel : Hi I miss you
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD