Sudah dua minggu sejak insiden itu, Anya masih meledekku jika mendapati diriku melamun. Bayangan ketika aku kabur dari si kacamata berdarah campuran itu masih melekat kuat. Bagaimana tidak, waktu itu banyak yang mengira jika aku seorang gadis pencuri yang mencuri sesuatu dari si bule oleh satpam HOS. Tak salah juga sih, karena aku kabur dari HOS sambil melepas sepatu flatku dan berlari kencang menuju perkampungan warga yang tak jauh dari HOS.
Jika diingat-ingat ingin rasanya aku minum ramuan pelupa ala film Harry Potter untuk menghapus hal memalukan itu. Tapi, hal yang lebih mengejutkan bagiku adalah pembelaan si darah campuran bak pahlawan kesiangan saat aku diinterogasi oleh satpam.
"Saya pikir ada tikus di bawah meja café sana, Sir! Dan Nona Miki ini sangat ketakutan dengan tikus, benar 'kan?" kata si darah campuran dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar meski aksen Spanyol-Indianya masih kentara.
Sontak aku dan ketiga temanku menoleh bersamaan. Great! Kejutan lagi Niki, Dewi batinku tertawa terbahak-bahak.
Jika dia bukanlah orang asing Spanyol-India seperti yang aku pikirkan, harusnya aku tidak bersusah payah menggunakan bahasa Inggris! Ah!
Si darah campuran itu menatapku sambil tersenyum tipis. Ingin rasanya aku merebut kacamatanya dan mencolok kedua matanya itu dengan jemariku. Sungguh, kenapa pula aku bertemu dengan lelaki aneh seperti dia.
"Niki, please!" jawabku dengan ketus. Dia terdiam membuatku lebih jengkel lagi.
"Kenapa?" tanya Anya membuyarkan lamunanku saat kami berada di perpustakaan kampus. Anya membolak-balikkan buku tentang neurologi.
Aku menatapnya sambil mengerutkan alis lalu melanjutkan kembali catatanku tentang anatomi fisiologi jantung. Anya menatapku sejenak lalu dia memutar bola matanya. Kemudian gadis berambut pendek nan ikal itu menatapku semakin lekat sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Sejak kejadian itu kamu suka melamun. Si kacamata itu telah membuatmu tertarik ya?"
"Hah? Aku? Tertarik?" kataku sambil menunjuk diriku sendiri lalu menunjukkan ekspresi muntah. "You must be kidding me! Dua kali ketemu dia aku serasa ketiban sial. Bagaimana aku bisa tertarik? Dunia udah kiamat kali."
Anya tersenyum tipis padaku sembari terus menatapku penuh arti membuatku semakin risih. "Ck! Jangan liatin aku kayak gitu, Nya. Liat aja ya kalo ada tugas nyari bule lagi, aku protes sama tuh dosen!" kataku nyolot.
"Kalo kamu nggak tertarik harusnya kamu abaikan perkataanku bukan malah membalas perkataanku, Nik. Itu membuatku berspekulasi kamu sedang memikirkannya sekarang," kata Anya dengan santai namun perkataannya serasa menusuk jantungku.
"Kenapa kamu bisa bicara gitu?" tanyaku ketus dengan nada sedikit tinggi.
"Entahlah, aku hanya menebak," ucap Anya sambil terkikik.
Kuabaikan perkataan Anya sambil membuka handphone lalu membuka salah satu aplikasi chatting. Aplikasi ini untuk mencari teman baru di berbagai belahan dunia. Ya, kalian bisa menyebutnya semacam online dating. Selain itu, aku juga ingin mengasah kemampuan bahasa Inggrisku. Lumayan kan jika kita memiliki teman dari luar negeri meskipun kemarin sempat mendapat pengalaman tak menyenangkan di HOS. Jika hanya melalui chatting, tak suka maka kublokir, beres kan?
Ada satu pesan masuk dari aplikasi ini membuatku tersenyum lebar dan melupakan sejenak catatan anatomiku. Dilihat dari warna benderanya sepertinya ini negara Emirat Arab. Wow pikiranku langsung tertuju pada pria arab yang ganteng seperti yang kulihat di internet beberapa hari lalu. Niguel! Nama yang tertera di samping bendera Emirat Arab. Bukan nama orang sana deh, batinku bertanya-tanya.
Hi, if you don't mind I would like to be your friend. My name's Niguel and now living in Dubai.
Menarik! Aku segera membalas pesan dari Niguel.
Hi, okay. I'm Niki and living in Surabaya, Indonesia.
Lalu aku mengklik send. Aku tersenyum lalu membuka profil si Niguel. Aku memicingkan mata, fotonya terlalu jauh hingga tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi, kurasa dia memang tampan dibalik setelan jas putih dengan background foto seperti rumah-rumah ala Amerika latin.
Aku membaca profilnya dengan saksama. Oke, dia lahir tahun 1990, tinggal di Dubai, seorang traveler, dan dia tertarik dengan bahasa Indonesia. Wow! Bangganya diriku ada orang yang tertarik dengan orang Indonesia. Selain itu dipostingannya, dia sering menggunggah foto pemandangan alam, bangunan, hingga hasil lukisan entah milik siapa karena tidak ada caption.
Bunyi pesan masuk terdengar lagi, great si Niguel. Seperti percakapan lainnya, pasti tanya kabar dan tanya aku sedang melakukan apa. Kujawab semua pertanyaan itu sekenanya sebagai formalitas. Niguel berkata bahwa dia bukan orang asli Dubai. Pria itu pindah ke Dubai untuk urusan kerja namun yang membuatku kaget adalah dia berdarah Spanyol-Belanda-Indonesia.
Wow! Tiga negara dalam satu tubuh! It sounds good! batinku tertawa keras membayangkan wajah Niguel.
Dia mengatakan bahwa dirinya mendapatkan darah Indonesia dari kakek buyut dari Ibunya yang berdarah Belanda-Indonesia, sedangkan ayahnya asli berdarah Spanyol. Dia mengatakan senang bisa memiliki kulit cokelat eksotis ala Indonesia.
Niki : So, you can speak in Indonesian, can't you?
Niguel : Yes, but just little bit. But, I prefer to speak in English now. Sorry.
Percakapan itu berlanjut hingga di rumah tepatnya hingga jam 12 malam. Banyak hal yang tidak terduga diantara kami. Aku dan Niguel sama-sama menyukai film Game of Thrones, music, makanan, dan traveling. Namun dalam hal traveling dia lebih mampu dariku. Aku hanya mahasiswa biasa, sedangkan dia seorang manajer di salah satu perusahaan di Dubai. Wow! Kejutan lagi, 'kan? Batinku melompat riang.
Niki: Aren't you busy with your work?
Aku memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.
Niguel : No, it's Friday, here is my weekend. We have different weekend, right?
Aku mengangguk membenarkan perkataannya dan baru tahu jika hari jumat di timur tengah dijadikan hari libur kerja. Aku mengetik lagi untuk berpamitan tidur karena ini sudah hampir jam satu malam, otakku ingin sekali melanjutkan percakapan yang tiada habisnya dengan Niguel, namun kedua mataku tidak bisa diajak kerja sama.
Niguel meminta maaf karena telah membuatku tidur larut malam lalu dia pun memerintahkan aku tidur. Aku tersenyum, dia menjadi teman yang baik. Seandainya dia di sini mungkin aku bisa berharap lebih padanya. Who knows?
####
Kutatap wajahku yang sedikit bulat bak terang bulan di depan cermin. Sebuah ukiran senyuman yang lebih sumringah daripada biasanya terukir di sana. Sembari memulas lipstik pink, aku tersenyum lagi menampakkan deretan gigiku dengan bangga.
Bagaimana tidak, sudah tiga minggu ini aku mendapat ucapaan dari Niguel, meskipun itu hanya ucapan "Good morning and have a nice day", "Have a nice dream" atau "keep fighting at campus" itu sudah membuat hatiku serasa melambung ke langit seperti terbang menggunakan sapu terbang nimbus 2000 milik Harry Potter.
Selama tiga minggu ini berbagai percakapan menyenangkan yang tidak ada habisnya untuk dibahas semakin membuat kami memiliki banyak persamaan. Oke, dia suka makan pedas seperti aku, dia suka nonton film kecuali film kartun, dia suka music yang up beat namun aku cenderung ke music rock, dan terakhir yang bikin aku kaget adalah dia suka menonton drama Korea.
It's amazing! Jarang banget ada pria yang suka nonton drama apalagi drakor yang lagi booming di mana-mana. Bagaimana tidak, kebanyakan pria apalagi di kelasku paling tidak suka dengan hal-hal yang berbau Korea. Bisa dibilang semua pria di kelasku haters sejati K-pop.
"Ngapain banci kayak gitu ditonton, mending nonton kita aja yang lebih maco daripada cowok korea!"
"Itu kulit apa keramik, putih banget, jadi geli aku."
"Idih... nari-nari kayak gitu lempeng amat."
Dan aku hanya bisa memutar mata mendengar ocehan mereka yang semakin lama semakin membuat mual. Dan ocehan-ocehan mereka pun dibalas dengan lebih pedas oleh anak-anak pecinta K-pop di kelas. Untungnya aku bukan salah satu dari keduanya.
Pagi ini mentari sudah bersinar dengan terang bagai senyuman yang tak hentinya terukir di wajahku. Mungkin ini efek dari ucapan selamat pagi dari Niguel yang telah menjadi doping saat jam lima pagi tadi. Tunggu dulu! Aku melambatkan laju motorku ketika melewati mall BG Junction di daerah Bubutan. Aku nggak jatuh cinta 'kan sama dia? Oke, aku mengakui dia tipikal pria yang menyenangkan kadang juga sedikit gila. Aku mengakui chatting dengan dia tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Aku menggeleng keras sambil meyakinkan diri bahwa diriku menyukainya hanya sebagai teman yang baik tidak lebih.
But how'd we get in this position
It's way to soon, I know this isn't love
But I need to tell you something
I really really really really like you
An I want you, do you want me, do you want me too?
Aku mengerem motor secara mendadak ketika mendengar alunan lagu Carly Rae Jepsen di headset yang menempel manis di lubang telinga. Untung aku berhenti di lampu merah jadi tidak sampai menabrak mobil yang berhenti di depanku. Kuembuskan napas panjang lega sedangkan si Carly masih asyik mengalunan bait demi bait liriknya dengan semangat.
Sial! lagunya pas banget dengan suasana hatiku, aku menggeleng keras namun membenarkan lirik lagu itu karena yang kurasakan adalah suka pada Niguel. Lampu hijau menyala aku melajukan motorku sambil bernyanyi.
"I really really really really like you, and I want you, do you want me, do you want me too." Kucoba menirukan suara Carly sekali lagi dengan keras hingga beberapa pengendara motor menoleh ke arahku sambil tertawa. Kuhentikan suaraku sambil menutup kaca helm. Untung saja aku menggunakan masker setidaknya mereka tidak mengenali wajahku.
####
Ujian anatomi dan fisiologi itu ujian yang paling menguras kinerja otak. Terlebih ketika ujian ini menggabungkan tiga anatomi sekaligus, anatomi jantung, paru, dan wajah. Sejak SD, aku paling tidak suka dengan salah satu organ manusia yang berfungsi sebagai pompa darah itu. Meski dijelaskan berulang kali, otakku selalu lupa bagian di mana pembuluh darah yang harus membawa oksigen atau karbon dioksida. Dan aku juga sering lupa keempat ruang jantung kalau Randy--teman sekelasku--mengingatkanku terus.
"Coba kamu gambar segi empat deh terus bagi empat bagian," ucap Randy saat kami duduk berdua di gazebo sembari menunggu panggilan ujian.
Kuturuti ucapan lelaki kurus sedikit kemayu itu. Jemari kananku dengan luwes menggambar sebuah segi empat lalu membaginya menjadi empat bagian.
"Terus tulis dan cerita apa yang udah aku ajarin. Ini udah yang kesepuluh kali, aku ngajarin kamu, Nik. Masa gitu aja lupa sih," gerutu Randy.
Aku mencibir. "Iya iya, bawel amat sih tutup panci!" Setelah selesai menggambar, aku membenarkan posisi dudukku lalu berdehem. "Jadi, jantung itu dibagi empat ruang yaitu atrium dextra, ventrikel dextra, ventrikel sinistra, dan atrium sinistra. Pembuluh darahnya ada vena cava inferior dan superior di mana darah masuk dari seluruh tubuh ke atrium dextra lalu melewati katup ... katup ... katup.... "
Kulirik Randy yang sudah menatapku tajam dengan tangan kanan menggenggam gulungan buku tulis. Aku meringis karena tidak ingat katup yang dimaksud. Tiba-tiba ponselku berbunyi dengan notifikasi yang khusus kubuat untuk Niguel.
Seketika itu pula kuraih ponselku namun Randy berhasil merebutnya dengan mudah. Kucoba merebut kembali ponselku namun tangan kanan Randy yang besar mencubit kedua pipiku dengan sekali cubit.
"Oh, jadi ini yang bikin kamu lupa!" seru Randy membaca isi pesanku. "Hilih, gid mirning gid mirning! Ngiming ipi ini!" cibir Randy merasa jijik. Lalu dia menekan gambar voice note dan berkata, "This silly girl is learning now. Don't send her message for a week!"
Refleks mataku membulat. Kudorong tubuh Randy sekuat tenaga dan merebut kembali ponselku. Sialnya, Niguel sudah membalas voice note Randy.
Niguel : Ok. Sorry.
"Aissshh, kampret Randy botol kecap!" teriakku marah sambil melemparinya buku anatomi milik perpustakaan.
"Makanya belajar!" timpal Randy diiringi panggilan untuk masuk ujian.