Bab 20

1046 Words
Sesampainya di rumah, aku disambut dengan bunda yang menatapku penuh tanda tanya. Jelas saja, yang dia tahu aku pergi dengan Niguel, tapi sekarang ketika aku pulang dari Yogyakarta justru Randy yang datang bersamaku. Aku berpaling, tidak sanggup menatap bunda. Namun, wanita paruh baya itu segera mendekatiku dan bertanya,  "Kamu kenapa? Kok kayak orang habis nangis gitu?" Aku terdiam, bibirku gemetaran, kukepalkan kedua tangan menahan semua beban yang ingin kutumpahkan kepada wanita yang telah membesarkanku itu. Yang bisa kulakukan hanyalah memeluk tubuhnya, hingga air mata yang tadinya bergumul di pelupuk mata kini tumpah ruah membuat sesak di d**a.  Bunda mengelus punggungku tanpa banyak bicara, membiarkanku menangis hingga puas dalam beberapa menit. Aku sungguh takut jika bunda dan ayah murka bahwa anaknya tak lagi utuh seperti sedia kala, apalagi lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini justru hilang dan lenyap di dunia tanpa jejak.  "Kamu kenapa si Nik? Randy, kenapa ini? Kok kamu yang anter Niki pulang? Niguel mana?"  Aku berbalik, menatap kedua mata Randy menyiratkan agar tidak mengucapkan apapun.  lelaki bermata sipit itu tersenyum simpul, memahami apa yang kusiratkan, dia pun memandang bunda dan berkata, "Kami bertemu di stasiun kok, Tante." "Oh ... Niguel ke mana, kok nggak ke sini dulu?" tanya bunda lagi.  "Bun ... " panggilku. "Jangan tanya tentang dia dulu ya, Niki bener-bener capek dan butuh tidur." Bunda mengerutkan alisnya, menatapku penuh selidik. "Kamu nggak ada apa-apa kan, Nik?" Kukatupkan bibirku, menunduk tak bisa memandang raut wajah wanita paruh baya yang kini terlihat gelisah. Ditariknya daguku dengan tangan kanan, namun aku memilih memejamkan mata, mencoba untuk tegar di hadapan bunda sekalipun nyatanya tidak.  "Nik, cerita sama Bunda, ada apa? Kenapa kamu datang-datang malah nangis begini?" "Nik," panggil Randy. "Ada baiknya mereka tahu, aku tidak bisa banyak membantu." Randy seakan menambah suram masalahku dan tatapan bunda kini seperti sedang menghakimiku. Dia berpamitan, tak mau ikut campur dalam masalah yang sedang menguburku hidup-hidup. Sepeninggal Randy, aku menyeret tasku masuk ke dalam kamar dengan bunda yang mengekoriku.  Kubanting tubuhku di atas kasur, kembali menangis dan mengutuki diri sendiri. Aku takut bunda murka, aku takut bunda kecewa, dan aku takut ayahku akan mengusirku dari rumah.   "Kamu bertengkar sama Niguel?" tebak bunda. Aku menggeleng keras, jika bertengkar masih membuat kami bisa bertemu tidak mengapa. Tapi, dia pergi tanpa jejak setelah menanamkan benihnya di dalam rahimku. "Kamu nggak ... berhubungan seksual dengan dia, kan?" tebak bunda membuatku menoleh dengan tatapan terkejut. "Nik ... apa yang bunda pikirkan nggak bener kan?" "Bun ..." aku bangkit dari posisiku, duduk dipinggiran kasur menatap bunda. Dia bangkit dari posisi duduknya, menatapku dengan murka. Matanya mendadak memerah, dengan bibir tipisnya yang mengatup rapat. Kemudian tamparan keras kini mendarat di pipiku, panas ... dan sakit. Aku terpaku, melihat tangan bunda yang gemetaran. Dia melayangkan tamparan lagi di pipiku dan berkata, "Bunda harus apa nak, kalau kamu hamil di luar nikah? Niguel di mana? Katakan dia di mana, biar dicari sama ayah!" seru bunda. "Bagaimana kamu bisa kebobolan seperti ini, Niki! di mana akal sehatmu!" "Bun ... Niki minta maaf, Niguel ... Niguel ... dia menghilang, Bun, dan Niki nggak tahu dia ke mana...." Aku bersujud di kaki bunda, memohon ampun atas semua yang kulakukan, menghancurkan masa depanku di saat kedua orang tuaku telah membangunnya dengan susah payah.  Bunda akan melangkah keluar, sontak kupeluk erat kakinya untuk tetap mendengarkanku. "Bun, dengerin Niki, Niguel benar-benar menghilang, hanya tertinggal tasnya saja di hotel, Bun ... ampuni Niki, Bun ..." "Bunda nggak bisa memikirkan apapun, Niki. Ayahmu ... dia bakal lebih murka daripada Bunda. Mau ditaruh di mana muka kami, Nak .... apa kata orang jika mereka tahu bahwa kamu hamil dengan orang yang jelas-jelas bukan warga Indonesia? Apa kamu mau disebut sebagai p*****r?" Aku menggeleng keras. "Nggak ... Niki bukan p*****r, Bun ....Niki masih ingin kuliah, Niki masih ingin kerja, Bunda ... tolongin Niki ..." "Selesaikan apa yang telah kamu mulai, Nik, Tuhan udah menghukum kamu!" Bunda pun melepaskan kedua tanganku yang melingkar di kakinya dengan paksa, lalu pergi meninggalkanku di kamar dengan membanting pintu dengan keras. Aku pun menangis histeris, aku sungguh takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.  Apa aku harus bunuh diri?  ### Ayahku langsung pingsan ketika mendengar bahwa aku telah menyerahkan kehormatanku pada Niguel dan dia menghilang begitu saja. Dengan berbekal ilmu dari organisasi pertolongan pertama di kampus, aku bisa membuat ayah kembali sadar. Namun balasannya, tamparan kembali kudapatkan dengan cukup keras hingga aku terhuyung beberapa langkah ke belakang.  "Kamu itu gadis yang harus ayah jaga baik-baik, Niki! Jika seperti ini, Ayah gagal sebagai orang tua! Apa kamu nggak kasian sama Ayah, Nik? Hah! Mana Niguel! Jangan kira dia bisa kabur begitu saja, Ayah bisa melaporkan kejadian ini ke polisi, Niki!" "Dia pergi, Ayah! Niki juga nggak tau! Di hotel cuma ada tas dan ponselnya saja! Ampuni, Niki, Ayah ... Ampuni Niki ..." ucapku sambil memohon ampun di kaki Ayah.  "Nggak akan pernah Ayah akui anakmu jadi cucu Ayah kalau Niguel tidak datang ke sini dengan cara baik-baik, Niki! Kamu sudah bikin Ayah malu!" "Ayah ..." rengekku dengan linangan air mata.  "Sudahlah, nggak usah kuliah! Buat apa kamu kuliah kalau kamu hamil di luar nikah!" "Nggak ... Niki, mau kuliah, Ayah, Niki mau diwisuda ... Niki bentar lagi lulus, Ayah, tolongin Niki ..." Ayahku bangkit sambil memegangi kepalanya, melangkah dengan sedikit terhuyung. Aku berusaha membantunya namun Ayah menepis tanganku membuatku semakin pilu. Apakah mereka sudah tidak menganggapku anak? Kupandang bunda, namun dia pun sama. Bunda memilih diam, walau kedua matanya begitu bengkak dan menyiratkan kekecewaanyang begitu dalam.  "Bunda ... Niki mau kuliah ..." "Silakan kuliah, tapi biaya sendiri, Niki, kamu sudah sangat kecewa dengan apa yang kami bangun untuk masa depanmu. Dan kamu menghancurkannya dengan cara seperti itu. Kamu kira tidur dengan lelaki yang belum ada ikatan sah adalah hal bagus? Di mana adabmu, Niki! Ini bukan kehidupan barat!" seru bunda hingga urat nadinya tercetak begitu jelas.  "Bunda ... Niki benar-benar minta maaf...." "Maaf? Apa untuk meminta maaf bisa mengembalikan harga diri kamu? Bagaimana jika mereka tahu perutmu membuncit dari hari ke hari, dari bulan ke bulan. Bunda dan Ayah harus bilang apa, Nak?" "Bunda ... tolong beri Niki satu kesempatan lagi..." Bunda menggeleng lemah, "Semua tergantung ayahmu, Nik. Bunda kecewa ..." lalu bunda meninggalkanku masuk ke dalam kamar, sedangkan aku jatuh terduduk di ruang tamu sambil menangis. Niguel ... kenapa kamu tega padaku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD