Memilin ujung bajuku dengan isak tangis seperti telah menerima sebuah kekalahan. Tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutku pun dari mulutnya yang kini menatapku dengan tajam. Hanya helaan napas yang keluar, sesekali decakan yang menandakan betapa kecewanya dia padaku. Kututup wajahku sendiri, entah harus bagaimana menghadapi orang tuaku nanti, aku takut mereka marah ketika tahu bahwa lelaki yang membawa anaknya pergi, kini hilang bak ditelan bumi. Namun yang lebih kutakutkan adalah bakal janin yang mungkin sedang tumbuh di dalam rahimku.
"Kan aku sudah bilang, Nik ..." suara Randy terdengar sangat kecewa. "Jika begini siapa yang rugi? Kamu kan?"
Aku mengangguk, membenarkan ucapannya. Bahkan ketika dia datang subuh tadi, Randy terlihat begitu murka mengetahui aku dan Niguel berada dalam satu kamar.
"Dia belum kembali sampai sekarang, Ran. Aku bingung ..."
"Kamu bingung dengan b******n itu? Lantas bagaimana dengan harga diri dan kehormatan kamu yang udah dirusak oleh dia? Nggak habis pikir ya aku sama kamu, Nik, kamu cewek paling bego yang kukenal. Dia cuma lelaki yang numpang lewat aja, kamu hanyalah pelampiasannya, Niki, nggak ada cinta nyata di antara kalian."
Isak tangisku semakin keras jika memutar kembali kebersamaanku dengan Niguel. Aku yakin Randy salah, cinta Niguel sama besarnya dengan cintaku. Hanya saja aku tidak mengerti mengapa dia tiba-tiba menghilang dengan tak jelas seperti ini.
"Sekarang apa yang harus aku lakuin, Ran? Ayah dan Bunda pasti marah kalau tahu aku hamil di luar nikah," rengekku.
"Aborsi? Apa kamu bakal tega membunuh anakmu sendiri, Nik?" tanya Randy, "Kamu yang melakukannya, kamu juga menanggung resikonya, Nik, sebagai teman, aku nggak bisa memberikan saran-saran yang bisa membuatmu berbuat nekat."
Aku terdiam, menunduk dan meraba perutku. Kugigit bibir bawahku dengan rasa penyesalan yang teramat. Aku tidak bisa membayangkan jika wisuda nanti, perutku membesar dan pasti semua orang akan mengolok-olokku. Kudonggakan kepala, lalu menoleh melihat tas ransel milik Niguel yang masih tergeletak seperti saat dia datang. Suara dan aroma tubuhnya pun masih terekam jelas di kepalaku. Namun semuanya telah berubah, yang tertinggal hanyalah rasa sakit hati yang tidak akan bisa disembuhkan sampai kapan pun serta bakal janin yang akan menjadi pengingat bahwa Niguel pernah menanam miliknya di tubuhku.
Kutarik napas panjang lalu metatap Randy dan berkata, "Ayo, kita pulang, Ran. Nggak ada yang perlu aku tunggu di sini lagi."
###
Deru mesin motor Randy melaju cepat membelah jalanan antar provinsi, beberapa kali kadang harus berhenti di depan emperan toko ketika hujan mengguyur dengan deras. Aku menatap setiap tetes air hujan yang turun, mengulurkan tangan merasakan dinginnya air yang menyentuh kulit. Air mataku kembali menetes, bayangan Niguel kembali terngiang-ngiang di kepalaku, membuat rasa sakit itu kembali mencabik-cabik tubuhku lagi.
Tawanya, suaranya, pandangan matanya membuatku begitu gelisah. Ada rasa rindu yang menganga berbarengan dengan rasa kecewa yang semakin membuat lukaku begitu pedih. Kupukul dadaku sendiri, mencoba melepas rasa sesak namun tidak bisa, justru semakin sesak hingga rasanya aku tidak bisa bernapas dan memikirkan sesuatu yang jernih.
Randy menyentuh bahuku, merangkul dengan sayang sebagai seorang teman. Aku kembali menangis, merutuki segala kebodohanku mengapa mempercayai seseorang dengan segala cinta yang dia tunjukkan. Tidak semua cinta akan berakhir bahagia, sama seperti diriku, meratapi nasib yang sudah hancur.
"Maafin aku, Ran, maafkan aku ..." sesalku di antara suara rinai hujan, menyesali mengapa tidak mendengarkan nasihat lelaki itu, justru tenggelam dalam kenikmatan cinta yang berakhir begitu tragis.
Randy mengangguk, mengusap lenganku seolah memberi ketabahan. Membisiki kalimat-kalimat positif bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu bakal kuat melewati semua ini, Niki, percaya sama aku. Aku bakal ada untuk kamu," ucap Randy. "Kita makan dulu yuk, kamu kan daritadi nggak mau makan."
Aku menggeleng lemah, menatap kedua matanya yang menyiratkan kegelisahan. Perutku memang sangat lapar tapi aku begitu malas untuk memasukkan makanan walau sedikit. Namun Randy yang berulang kali memintaku untuk makan, membuatku akhirnya menganggukkan kepala lemah.
"Makan yang berkuah aja ya, biar hangat."
"Iya," ucapku, "makasih ya Rand."
Randy mengangguk dengan senyum tipis, dia mengelus rambutku yang setengah basah karena hujan. "Siapa lagi yang bisa menghiburmu jika bukan teman, Nik?"
"Aku tahu, kamu memang yang terbaik, Rand."