Jemariku menelusuri lekuk tubuhnya yang terpahat begitu sempurna, menyesapi setiap inci kulitnya yang begitu lembab dengan aroma sabun yang masih membuatku mabuk. Menatap wajahnya yang tersipu malu di bawah tubuhku, dengan mata yang berkilat dan menggelap seakan permainan itu takkan lelah untuk dilakukan. Aku menunduk, meninggalkan jejak demi jejak dari bibirnya lalu turun ke leher, d**a, hingga pusar tubuhnya. Dia mengerang, membuat tubuhku semakin meremang dibuatnya. Aku mendongak, menjatuhkan kepalaku ke belakang ketika tangannya terulur membelai kulitku.
"Kau indah," ucapnya dengan nada rendah, membuat titik tubuhku menggelora.
Kini tangan kanannya membelai wajah bulatku, menyentuhnya dengan begitu lembut dan sangat hati-hati seolah aku adalah barang yang begitu berharga di matanya. Kucium dalam telapak tangannya, lalu menggigit kecil jemari itu dengan gemas. Niguel terkikik, lalu mendorong tubuhku hingga kini kami berganti posisi.
Dia merunduk, mengecup ceruk leherku, menggigit gemas di sana, meninggalkan jejak-jejak nakal. "Aku mencintaimu, Niki."
Kini, pipiku yang memerah, namun tidak bisa kusembunyikan raut wajahku dari lelaki seperti Niguel. Lalu dia bangkit, meraih celananya yang tergeletak di lantai dengan tidak berdaya. Aku membalikkan tubuhku, memandangi otot-otot Niguel yang masih membuatku mabuk kepayang. Dia pun menoleh sambil tertawa,
"Whats wrong?"
"Damn, Sexy man!"
Suara tawanya semakin menggelegar, lalu dia meraih kausnya di lemari. Sungguh pemandangan lelaki yang sedang memakai pakaian adalah hal yang paling panas dan seksi untuk dilihat.
"Tidurlah!" perintah Niguel. "Aku akan membeli beberapa makanan."
Aku mengangguk, rasanya tubuhku begitu lelah, apalagi setelah kami melakukan sesuatu yang begitu panas. Bahkan rasanya aku tidak kuat untuk berjalan ke kamar mandi. Dia pun menarik selimut untukku, lalu mengecup dahiku dengan sayang. Setelah itu dia pun keluar kamar.
###
Suara ponsel yang cukup nyaring membuatku mengerutkan kening, sambil memejamkan mata, tangan kananku meraba-raba nakas. Detik berikutnya ponsel itu terjatuh ke lantai membuatku mendecak kesal, terpaksa kubuka mata sambil menguap lebar dan menggaruk rambutku.
Kedua mataku membulat, itu bukan bunyi ponselku tapi bunyi ponsel Niguel dan lelaki itu lupa membawa ponselnya. Kulihat nomor tak dikenal sedang memanggilnya, aku ragu untuk menjawab panggilan nomor asing itu, karena bukan kode nomor Indonesia. Beberapa saat panggilan itu berhenti, kuraih ponsel Niguel dan melihat jam di layar gawai itu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Buset, aku beneran kayak kebo.
"Niguel ke mana? Kok belum balik jam segini?" gumamku.
Aku pun meletakkan kembali ponsel itu lalu bangkit dari kasur. Sejenak aku berhenti karena bagian bawahku yang masih sakit, lalu dengan sekuat tenaga aku pun berjalan pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian menunggu Niguel di lobi.
Mandi air hangat adalah hal yang benar-benar aku sukai, apalagi setelah ...
Tubuhku membeku seketika mengingat apa yang telah kulakukan dengan Niguel. Bayangan ayah dan ibuku mendadak muncul, bahkan ucapan terakhirnya sebelum kami liburan ke sini dan ucapannya kepada Niguel untuk menjagaku tetap utuh.
Kuraba perutku sendiri dengan kedua tangan yang gemetaran. Lalu membilas tubuhku dengan cepat untuk melihat jejak merah di seprai kasur. Aku keluar kamar mandi seraya melilit tubuh dengan handuk, tidak peduli jika air berceceran di lantai. Kubuka selimut yang menutupi kasur, seketika tubuhku ambruk ke lantai. Air mataku jatuh, pikiranku kacau, dan aku tidak tahu harus berkata apa jika sampai aku ... hamil.
Niguel tadi pakai pengaman nggak ya? Mampus aku ... Niki, g****k banget kamu, kenapa tergoda oleh setan sih Nik? Astaga, masa depanmu hancur, Nik ....
Kugigit kuku jemariku agar membuatku tenang, kenapa aku baru menyadari apa yang seharusnya tidak kulakukan. Kupukul kepalaku dengan kepalan tangan, merengek menyesali apa yang telah terjadi. Tidak mungkin bahwa kehormatan itu akan kembali ke bentuk semula. Dia telah rusak, rusak oleh seorang lelaki yang bahkan belum mengatakan ijab kabul kepada ayahku.
"Janji ya, Nik, kamu nggak bakal ngapa-ngapain di sana."
Ucapan Ayah kini menggema di telinga. Aku berteriak keras, memenuhi kamar hingga urat leherku tercetak jelas. Aku takut, sungguh aku takut dengan stigma orang-orang yang menganggapku p*****r.
"Niki mau aja ditidurin bule."
"Duh cewek nggak bener."
"Kasian anaknya, anak haram."
"Orang tua udah nyekolahin susah-susah, dia malah tidur dengan cowok."
"Bakal dinikahin nggak tuh?"
Suara-suara itu seperti sedang mengolok-olokku, membuatku menutup telinga rapat-rapat sambil menangis keras. Aku sungguh menyesal, kenapa aku harus menyerahkan diriku pada Niguel yang mungkin belum tentu mau bertanggung jawab jika sesuatu terjadi. Aku merasa masa depanku kini telah luluh lantak, bahkan dia pun tidak kembali sejak tadi siang. Ketakutanku semakin besar jika dia benar-benar meninggalkanku seorang diri di sini dan hanya menyisakan ponsel dan tas ranselnya saja.
"Niguel!!!!!"" teriakku kencang.
###
Hingga jam satu malam, sosok Niguel tidak jua datang. Aku menunggu di depan pintu masuk hotel dengan was-was tidak mempedulikan udara dingin yang menusuk kulit. Bahkan satpam pun sudah menyuruhku untuk kembali ke dalam kamar demi menjaga kenyamanan tamu. Namun, aku menolak, mengatakan bahwa aku masih menunggu Niguel sampai kapan pun.
"Bapak nggak tahu perasaan saya ditinggal kayak gini!" ketusku.
"Siapa tahu dia masih di tempat lain, Mbak," ucap satpam itu dengan sedikit ketakutan.
Apa yang terjadi dengannya?
Dia kabur kah?
Atau kecelakaan?
Pikiran terakhir itu yang membuatku semakin cemas, jika kecelakaan harusnya ada seseorang yang datang ke sini dan memberiku kabar. Namun tidak ada, Niguel benar-benar menghilang seperti ditelan bumi.
"Pak, bapak nggak tahu dia bilang apa gitu? Apa ada rekaman CCTV gitu Pak?"
Satpam itu menggeleng. "Tadi dia nyapa saya, cuma tanya di mana warung yang jual ayam geprek. Orang dia juga jalan kaki, Mbak, ke sana." Satpam itu menunjuk ke arah jalan raya Malioboro.
Aku mendecak, lalu pergi meninggalkan Satpam itu untuk keluar jalan raya. Namun Satpam itu menahan lenganku, seraya berkata, "Sudah malam, Mbak, nggak baik perempuan jalan sendirian ke sana."
Aku terdiam sambil menunduk lalu kembali menangis.
Aku bukan perempuan baik lagi. Harga diriku sudah hancur dibawa Niguel.
"Biar saya tungguin Mas Niguelnya di sini, nanti kalau balik biar saya kabari ya."
Aku pun mengangguk lalu melangkah gontai menuju kamarku. Dadaku teramat sesak hingga rasanya berat untuk menarik napas sejenak. Pikiranku semakin kalut, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayah dan ibu jika mereka tahu bahwa anaknya pulang dalam keadaan tidak perawan lagi.
Apa aku telepon Randy?
Begitu tololnya diriku sekarang, memikirkan Randy yang jelas-jelas kami sedang tidak dalam hubungan yang baik. Tapi ... hanya dia yang mungkin bisa memikirkan bagaimana caranya keluar dari masalah ini.
Kubuka pintu kamar lalu membanting tubuhku di atas kasur. Tidak ada tanda-tanda pesan atau panggilan masuk di ponselku, jsutru banyak panggilan dan pesan di ponsel Niguel yang tidak bisa kubuka karena pasword ponselnya yang tidak kutahu.
"Ran ..." lirihku menenggelamkan wajah di kedua lututku. "Aku harus bagaimana, Rand?"