Bab 17

1307 Words
Hari kedua di kota keraton, aku dan Niguel memutuskan untuk mengunjungi Candi Borobudur yang selalu menjadi destinasi paling menarik. Keagungan bangunan yang dibuat beratus-ratus tahun yang lalu masih berdiri kokoh walau banyak tangan-tangan jahil yang sudah merusak keindahannya. Menaiki setapk demi setapak tangga yang terbuat dari batu, membuatku kelelahan. Beberapa kali aku harus berhenti sekadar mengisi paru-paru dengan udara. Niguel yang dengan santainya melanjutkan perjalanan, sungguh lelaki itu seperti tidak pernah mengenal kata lelah.  Ah, aku lupa, bule kan sudah terlatih berjalan kaki ke manapun, beda dengan orang Indo yang lebih suka naik motor ataupun mobil. Jadinya, kalau naik tangga seperti ini, aku justru lebih merasakan tenagaku terkuras habis.  "Niki!" panggil Niguel dari anak tangga paling atas. Aku menyipit, melawan sinar matahari yang menyengat kulit. Niguel berdiri seperti bayangan hitam yang tinggi besar, dia melambaikan tangan lalu tertawa dengan suara beratnya.  "Bentar!" Aku pun dengan sisa tenaga menaiki satu persatu anak tangga, menyusul Niguel hingga ke puncak yang berisi puluhan atau ratusan stupa-stupa yang sungguh indah. Ketika sampai di atas, Niguel menarik tanganku, mengajakku melangkah cepat membuatku ingin pingsan.  "Bentar, Bam-- eh Niguel, aku haus," ucapku menghentikan langkah dan mengeluarkan sebotol air mineral dan meneguknya cepat.  "Makanya jangan terlalu suka naik kendaraan. Kau harus melatih sendi-sendimu agar tidak kesusahan saat tua nanti, Niki," titah Niguel yang kini terdengar seperti ucapan bapak-bapak.  "Kamu nggak tahu, di sini segalanya beda dengan luar negeri. Di sana mungkin fasilitas umum dekat, kereta api, bis, dan trotoar terjaga dan terawat. Nah, di sini, tidak semua tempat dijaga, apalagi banyak pedagang kaki lima yang menerobos trotoar untuk dijadikan lahan. Di sini macetnya kayak nunggu jodoh, lama banget!"  Niguel tertawa terbabahk-bahak, entah dia memahami kalimatku atau tidak. Aku mengangkat kedua bahuku lalu menaruh kembali botol mineral yang telah habis tidak bersisa. Dengan sisa tenaga, aku melangkahkan kaki, menaiki anak tangga hingga ke puncak candi Borobudur. Kala siang di musim hujan seperti ini, suhunya selalu naik drastis hingga rasanya aku ingin berendam ke dalam air es. Suhu yang akan berbanding terbalik ketika hujan deras mengguyur hingga banjir dimana-mana. Aku berpikir, apakah ini salah satu efek pemanasan global? Perasaan ketika aku kecil, cuaca tidak pernah sepanas ini.  Niguel asyik  berfoto ria, memotret stupa-stupa , kadang memotret orang-orang secara candid. Aku mencibir lalu berteriak, "Hey, kamu nggak mau mengabadikan wajahku gitu?" "Memangnya kamu stupa?" sindir Niguel dengan nada tanpa dosa, membuatku ingin melemparinya dengan sandal. Lalu dia mengarahkan kameranya padaku, "Tersenyumlah, Nona." "Haishh ... tadi ngejek kayak stupa, sekarang disuruh senyum. Iya-iya, Bam eh ... Niguel," ucapku lalu menyunggingkan senyuman paling manis.  "Good. Kamu manis." "Iya dong, kan aku manis kayak gula," kataku penuh percaya diri.  "Ayo foto bersama," ajak Niguel lalu mendekatiku.  "Menundukklah, tubuhmu terlalu tinggi kalau kita selfie, Niguel." "Kamu menjijitlah di atas kakimu, jangan terlalu terlihat pendek denganku," candanya membuatku mencubit d**a bidang lelaki julid itu.  Kenapa dia sekarang pintar bicara? Kayak randy aja nih orang. Lalu dia pun memposisikan dirinya hampir sama dengan tinggiku, dan mengarahkan kamera DSLR-nya ke arah kami berdua.  "Satu ... dua ... tiga... say cheese..." kata Niguel. "Cheeseee...." Detik berikutnya, Niguel mendaratkan ciumannya di pipi kiriku membuat  wajahku merona seketika. Dia pun tertawa lalu menegakkan tubuhnya dan melihat hasil foto kami.  "Wah, wajahmu seperti tomat, Niki," ucapnya.  Telingaku berdegung, tapi tidak dengan hatiku yang sudah mencuat entah ke mana. Bahkan seluruh bulu kudukku berdiri, dan tiba-tiba bayangan Niguel melumat bibirku kini sedang menari-nari di otakku.  Aih ... sial... ### Sekitar pukul dua siang, hujan turun dengan sangat derasnya disertai dengan angin kencang yang menggoyang-goyangkan daun di pohon. Guntur pun menggelegar seakan sedang menegur para manusia untuk berhenti melakukan perusakan bumi. Aku bergidik ngeri, dari dulu, aku tidak suka dengan suara guntur pun tidak suka jika hujan turun seperti ini.  Kami berdua berteduh di depan emperan toko di Malioboro bersama orang-orang yang juga terjebak hujan. Niguel sempat mengajakku untuk menerjang hujan, tapi aku tidak mau, apalagi bawaan belanjaan kami cukup banyak. Niguel tidak mempedulikannya asal dia sampai di hotel dan mengistirahatkan diri.  Kupeluk diriku sendiri, memandangi rinai hujan yang masih setia mengguyur kota Yogyakarta. Beberapa saat aku bersin, lalu aku mencibir, merutuki betapa lemahnya diriku terhadap cuaca dingin. Niguel pun merangkul tubuhku, mengusapkan tangannya di lengan kanannku membuatku mendongak menatap wajahnya.  "Kamu ... kedinginan." Aku mengangguk. "Aku alergi dingin." "Jika seperti ini, kau harus kembali ke hotel, Niki," kata Niguel memandang lurus ke arah jalanan.  "Masa kita hujan-hujanan?" "Mau bagaimana lagi? Hujan sepertinya akan berhenti lama." Aku terdiam, membenarkan perkataan Niguel. "Ya udah, kita lari aja. Jarak dari sini ke hotel lima puluh meter kan?" "Seratus meter." "Ah ... seratus meter, basah kuyup beneran dah. Mana bawaanku banyak." "Kamu sih, beli oleh-oleh sekarang," gerutu Niguel membuatku mendecak kesal. "Sini aku bawakan." Dia pun membawa tiga kantung plastik hitam yang cukup besar yang sudah diikat kuat agar tidak ada air yang masuk ke dalamnya. Kemudian dia memberikannya padaku satu. Dia pun memberi ancang-ancang, membuatku tertawa bahwa kami seperti sedang mengadakan lomba lari.  "Uno ..." "Pakai bahasa Indo aja, kagak ngerti gue!" seruku. "Baiklah, satu .. dua ... tiga.." Aku berteriak, berlari secepat mungkin di tengah derasnya hujan. Niguel berada di depanku karena langkah kakinya yang dua kali lipat dariku. Sesekali dia menoleh ke belakang, menyuruhku untuk lebih cepat. Aku mengumpat antara kesal karena bawaanku terjatuh ke aspal dengan suara Niguel yang menyuruhku untuk cepat-cepat berdiri.  "Bentar!" seruku. "Ayo!" Aku berdiri, memeluk plastik berisi beberapa baju bermerk dagadu, entah di dalamnya sudah terkena air atau tidak, aku sudah tidak bisa memikirkannya.  Kami akhirnya berhenti di depan pintu masuk hotel dengan napas terengah-engah. Petugas hotel pun menyambut kami, membawakan handuk besar untuk mengeringkan diri.  "Kok nerobos, hujan to Mbak?" tanya si petugas hotel dengan suara medok. "Ini Mas bule, pengennya pulang, mana saya alergi dingin pula, Mas," ucapku menunjuk Niguel yang menatapku dengan tajam.  Setelah cukup kering, kami berdua pun masuk ke lobi menuju kamar hotel dengan langkah cepat. Aku harus mengguyur tubuhku dengan air hangat, jika tidak cepat-cepat bisa dipastikan nanti malam akan flu.  Niguel membuka kunci kamar, lalu aku melesat masuk dan melempar bawaanku dan menuju kamar mandi langsung. Niguel berteriak, mengumpati diriku seperti anak kecil dan kubalas dengan ucapan yang sama. Bodo amat sama om-om tua seperti dia.  Butuh waktu hampir dua puluh menit untuk membersihkan diri di kamar mandi. Berendam air hangat di bathup memang terasa beda jika dibandingkan mandi di rumah. Aku saja hampir ketiduran di dalam jika perutku tidak berbunyi keroncongan.  Detik berikutnya, aku baru tersadar bahwa aku lupa tidak membawa ganti baju waktu ke kamar mandi. Hanya ada handuk putih besar milik hotel yang menggantung manis.  "Kampret ...." desisku.  Terpaksa, aku pun melilitkan tubuhku lalu membuka pintu kamar mandi dengan cukup pelan, mengintip keadaan luar. "Niguel?" panggilku. Tidak ada suara, hanya ada suara rinai hujan di luar.  Aman ...  Dengan langkah mengendap-endap, aku pun melangkah cepat mendekati tas ranselku untuk mengambil baju ganti yang terdiri underwear, kaus lengan panjang dan celana panjang. Saat berdiri aku terkejut ketika melihat Niguel yang bertelanjang d**a masuk ke kamar. Sepertinya dia mandi di kamar mandi luar, membuatku sedikit bersalah.  Tidak ada suara di antara kami, justru suara detak jantung yang bertalu-talu dan atmosfer yang menjadi aneh. AKu menelan ludah, menghindari pemandangan di depanku ini. Kukepalkan tangan kiriku, merapalkan doa agar tidak terlena dengan keindahan tubuh Niguel yang terpahat begitu sempurna.  Lelaki itu mendekat, membuatku menahan napas. Sialnya, aroma sabun dan parfum maskulin milik lelaki berhidung mancung itu menggoda imanku, mencoba untuk meruntuhkan pertahananku sekarang. Aku menggigil, pikiranku mulai tak waras juga liar dengan dua manusia yang terjebak dalam satu ruangan dalam kondisi seperti ini.  Niguel membisu, namun tangannya menarik daguku, bisa kulihat wajahku terpantul di iris matanya. "Kamu kenapa seperti ini?" hah? "A-a-aku.... aku ...." Bibir Niguel yang terlihat basah membuatku ingin melakukan hal gila. Tanpa sadar, kulempar baju yang berada di tangan kananku ke lantai, lalu meraih wajah lelaki tinggi itu, melumat bibirnya dengan panas.  Aku pasti gila ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD