Bab 16

1262 Words
Saat senja adalah waktu terbaik untuk menyusuri jalan Malioboro bersama pasangan atau keluarga. Menikmati suasana Yogyakarta dengan sejuta pesonanya. Saat kami berdua keluar dari hotel, sudah banyak turis yang lalu-lalang memadati jalanan, pun kendaraan serta andong dokar pun terlihat memenuhi sepanjang pinggir jalan ini. Niguel menggandeng tanganku, mengirim jutaan sensasi aneh yang menggelitik perut semenjak dia mencuri ciuman pertamaku. Kami berjalan, menerobos kerumunan orang-orang untuk mencari warung pinggir jalan. Sesekali Niguel melirikku dengan senyumannya yang benar-benar membuat seluruh sel tubuhku mendadak lemah seketika. "Apa kamu masih malu?" tanyanya, "ciuman itu?" "Woy!" seruku dengan nada tinggi. Bagaimana bisa orang seperti dia mengatakan ciuman di depan umum dengan begitu mudahnya. Tidakkah dia tahu bahwa netizen Indonesia lebih bar-bar daripada viking jika tahu aku yang belum terikat pernikahan sudah berciuman.  Tapi Niguel menanggapinya begitu santai, dia menarik tubuhku hingga aku bisa mendengar detak jantungnya yang bertalu-talu.  "See? Aku sama gugupnya denganmu, little girl." "Tapi, wajahmu mengatakan tidak!" "Tapi, hatiku mengatakan ya, kamu tidak tahu bahwa wajah bisa memiliki seribu kebohongan. Tapi hati? i don't think so." "Ya ya, terserah!" ketusku.  "Aku cinta kamu." Tuh kan! Mulai lagi, setiap dia mengatakan itu, otomatis lidahku akan membalasnya dengan mengucapkan yang sama. Ah, memang dia benar, sepintar apa pun wajah berbohong, tapi hati tidak pernah mengingkari sesuatu. Aku tersenyum, melingkarkan tanganku ke pinggangnya yang ramping seraya mencari-cari warung enak untuk mengisi perut.  ### Akhirnya kami mengunjungi salah satu warung yang menjajakan aneka makanan, termasuk gudeg khas Yogyakarta, mie ayam, soto, rawon, hingga nasi campur. Di sini jika tidak makan makanan khas Yogyakarta belum afdol, oleh karena itu aku memilih gudeg sebagai makan malam ditemani teh hangat di kala malam yang dingin ini. Hal yang dilakukan Niguel, hanya saja dia ingin mencoba wedang ronde, katanya sebagai pengganti bir jika cuaca sedang dingin.  Mataku menyipit, bir atau alkohol atau apa pun itu tetap saja berdampak buruk pada kesehatan. Kukatakan padanya bahwa lebih baik dia minum teh hangat, lemon, atau jahe yang direbus daripada harus menghabiskan uang untuk membeli bir. Apalagi usianya yang sudah menginjak kepala tiga pun harus pintar-pintar menjaga kondisi organ tubuh, aku tidak ingin dia sakit di saat usianya masih muda.  Niguel justru tertawa terbahak-bahak mendengar omelanku, bukannya dia menuruti justru dia akan melanggar ucapanku agar bisa mendengar omelanku setiap hari. Memutar bola mataku, apakah lelaki bucin akan bertingkah seperti dirinya? "Aku heran, mengapa kamu tidak mudah marah, Niguel?" "Why? Aku tidak suka marah-marah, Niki. Dan lucu melihatmu marah-marah seperti ibuku dulu." "Ibumu? Dulu? Maksudnya?" Sebelum dia membalas ucapanku, ibu-ibu penjual makanan datang seraya menaruh piring-piring berisi makanan kami. Dia berkata kepadaku bahwa Niguel sangat tampan dan mirip artis, aku tertawa, Niguel tidak cocok jadi artis, dia lebih cocok jadi model seksi.  "Sepertinya otakmu perlu dicuci, Niki. Jangan berpikiran kotor." Seketika aku menggeleng, mengacak rambutku dengan cepat. Ah! kencan seperti ini mengapa dia tidak bisa membelaku sedikit pun.  Usai si ibu berdaster itu pergi, Niguel pun menyesap minumannya dengan mata berkedip-kedip.  "Aku tidak suka jahe," ucapnya. "Lah, kenapa pesen jahe, Bambang?" Alis tebal lelaki itu naik satu, menatapku curiga. "Siapa Bambang? I never hear his name before. Is that your friend?" Kini aku tertawa terbahak-bahak, astaga, Niguel benar-benar polos. Tapi, justru dia memanyunkan mulutnya lalu menggeser p****t dengan muka marah. Aku semakin tertawa, aku berhasil membuatnya marah dan baru tahu bahwa wajahnya begitu memerah jika sedang kesal.  Aku mendekatinya seraya menopang dagu, dan menyesap teh hangatku. "Bambang adalah nama orang, aku memanggilmu sebagai bahan candaan, Niguel. Maaf, kamu marah dan lucu." "My name is Niguel, bukan Bambang. I thought that he is your friend." "Sorry, just kidding, okay. Jangan marah lah, nggak ganteng tahu!" Dia tersenyum, lalu menyuruhku makan. "Eat! Atau kucium bibirmu lagi." "Aish!!!!" Cepat-cepat aku melahap nasi gudeg yang seharusnya kunikmati dengan tenang. Tapi, perkataan Niguel benar-benar membuatku resah. Dia seperti tidak punya dosa, mengatakan akan menciumku lagi. Untungnya di sekitarku orang-orang tidak memerhatikan, pun kendaraan lalu lalang sangat bising, bersamaan dengan pengamen yang tidak henti-hentinya bernyanyi mendatangi para pengunjung di warung.  "Niguel," panggilku. "Ada apa dengan ibumu? Kenapa kau mengatakannya dulu seolah kau tidak bertemu dengannya lagi." Niguel membalikkan sendok, tanda dia sudah selesai dengan makannnya. Piring itu terlihat bersih tak bersisa. Aku menunggu jawaban ketika dia meneguk habis wedang jahe itu. Kemudian dia menatapku lurus, bibirnya yang basah kini terkatup rapat. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu yang tidak diceritakannya padaku.  "Ibuku meninggal karena kecelakaan, saat aku masih kecil, Niki." "Ah, maafkan aku ..."  Dia menggeleng, meraih wajahku dan membelai pipiku lembut. Meski bibirnya tersenyum, entah mengapa di dalam mata Niguel tersirat betapa dia merindukan ibunya.  "Ayahmu?" tanyaku.  "Dia meninggal juga, karena sakit paru-paru. Dua tahun lalu tepatnya, hari ini hari kematiannya." "Maaf..." "Tidak apa-apa, aku masih memiliki adik perempuan, walau dia sudah menikah." "Kenapa kau tidak menikah?" "Menikah butuh proses dan hati yang mantap. Aku belum mencapai ke dalam tahap itu." jadi maksudnya, dia ... tidak ada keinginan untuk menikah denganku suatu hari nanti? Kutepis tangannya dari wajahku, lalu beranjak ke ibu penjual, untuk membayar makanan. Hatiku terasa diiris-iris lalu ditaburi garam. Ada rasa kecewa mengetahui dia tidak mau melanjutkan hubungan yang lebih serius. Aku yakin dia hanya mencintaiku karena aku bisa dibodohi, aku yakin pula setelah dia bosan dia akan berpaling mencari wanita lain. Ah, bodohnya aku! Harusnya aku tahu lelaki seperti Niguel tidak pernah bisa setia dengan satu perempuan.  "Niki!" dia memanggilku. "kenapa kita pergi? Aku masih ingin makan." "Aku capek!" seruku, meninggalkannya seorang diri di warung.  Air mataku jatuh, dadaku sesak, di antara kebisingan di Malioboro aku merasa bahwa aku sendirian. Aku tidak suka dengan prinsipnya, tapi aku juga tidak bisa memaksa seseorang. Aku berhenti, berbalik badan dan menatap dirinya yang mengekoriku dari belakang. Dia mengerutkan alis seraya bertanya, "What's wrong with you?" "You don't care about me!" "What?" Niguel menggeleng. "Aku tidak paham. Apa maksudmu?" "Kau bilang ... kau belum mantap untuk menikah, dan itu artinya tidak ada kesempatan untukku kan? Jika kau bosan maka kau akan meninggalkanku kan?" Niguel menganga, aku melihat ekspresi wajahnya yang terkejut. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat, "Bagaimana kau bisa berkata seperti itu dan memutuskan semua ini sendiri?" "Karena aku tahu jawabannya!" "Kau belum tahu, Niki! Jangan egois!" Aku diam, menunduk, memandangi jalan kavling sambil mengusap air mataku. Lagi-lagi aku emosi tanpa berpikir panjang, aku masih labil, aku masih kekanakan. Kutarik napas panjang, tidak berani menatap Niguel.  "Apa kau siap jika kuajak menikah besok? Usiamu masih terlalu muda untuk menjalani kehidupan pernikahan, Niki. Menikah bukan masalah cinta dan seks, tapi lebih dari itu. Kau tidak paham atau kau terlalu polos?" Aku tertohok. Jelas apa yang dikatakan Niguel sangat benar.  "Aku ..." "Jika kau ingin menikah denganku, bersabarlah! Kejar impianmu dulu, sebelum kau mengurusi anak-anak Niki, aku tidak ingin kau menyesal karena menikah tidak sesuai ekspektasimu. Ini bukan masalah usia, tapi masalah kemantapan hati dan pikiranmu. Jika kau masih bersikap seperti ini, aku yakin jika kita menikah cepat, kita akan bertengkar setiap hari. Aku tidak ingin seperti itu." "Maaf ...." "Berpikirlah sebelum bertindak. Aku tidak ingin liburan ini menjadi menyebalkan, Niki. Kau harus menikmati masa mudamu. Oke?" Aku mengangguk, lalu dia memeluk tubuhku erat, menyesap aroma tubuhnya yang begitu kusukai.  "Apa kau marah padaku?" tanyaku. "Tidak. Aku hanya kesal, kadang kau terlalu berpikiran pendek. Sayangnya, aku selalu jatuh cinta padamu."  Aku tersenyum ketika dia menghapus jejak air mataku, lalu dia pun menarik tanganku untuk menyusuri jalanan Malioboro. Dia pun mengajakku untuk membeli beberapa pakaian dan pernak-pernik serta membeli makanan ringan.  Sikap Niguel yang dewasa membuatku jatuh cinta lagi dan lagi. Dia bisa memahamiku walau pikiranku benar-benar masih labil. Aku akan berjanji pada diri sendiri, bahwa aku tidak akan berpikiran pendek. Semoga. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD