Bab 15

1339 Words
Bunyi mesin lokomotif berbunyi nyaring, bersamaan dengan suara peluit dan bel yang begitu khas di stasiun Tugu. Merentangkan kedua tangan sambil menguap lebar, perjalanan yang memakan hampir enam jam itu sungguh membuatku lelah. Niguel mengambil barang-barang kami di atas rak, lalu memberiku tas ranselku untuk kubawa. Dia menarik lenganku untuk berjalan di depannya berbari dengan para penumpang yang turun di Stasiun Tugu Yogyakarta.  "Wah!!!! Jogja!!!!!" teriakku sambil merentangkan kedua tangan begitu senang.  Beberapa orang melihatku, mungkin mereka berpikir aku tidak pernah datang ke sini. Aku mencibir, walau Yogyakarta sudah tak asing untukku, tapi setiap datang ke sini, Yogyakarta selalu membawa kenangan berbeda. Aku berharap ketika kami pulang nanti, kenangan yang kubawa pulang akan selalu membekas di hati.  Di luar stasiun, kami berdua disambut oleh bapak-bapak yang menawarkan jasa taksi atau rental mobil. Karena Niguel yang belum pernah datang ke sini, akhirnya dia terpancing oleh salah satu bapak yang berpakaian kemeja biru telur asin. Walau bahasa inggrisnya masih terdengar begitu medok dan tersendat-sendat, aku sangat bangga bahwa bapak sopir itu bisa berbicara dengan Niguel. Kudengar si bapak taksi sedang memberikan penawaran harga taksi dari Stasiun Tugu menuju Malioboro Eh tapi kan Niguel bisa bahasa Indonesia? Dia mau ngerjain orang tua? Lagian ke Malioboro kan deket, kenapa nggak jalan aja? "Lima puluh ribu, Pak," tawar Niguel membuat si bapak membelalak terkejut. Niguel tersenyum, menampakkan lesung pipitnya yang tersembunyi itu. "Is it okay?" "Okay, okay. Shall we go right now?" ucap si bapak, Niguel pun mengangguk lalu dia mengekori jejak si bapak taksi menuju salah satu mobil yang terparkir di pinggir jalan.  "Kenapa nggak jalan?" tanyaku. "Kasihan ... " jawab Niguel singkat lalu membantu bapak yang tubuhnya agak kurus itu, untuk memasukkan barang bawaan ke bagian belakang mobil.  Kalau kasihan kenapa harganya ditawar? batinku. ### Tugu Yogyakarta masih berdiri kokoh di sana, cat yang melapisi ikon Yogyakarta itu masih terlihat putih. Dari mobil aku melihat dua orang sedang berfoto dengan sesekali mereka berpose dan tertawa bersama. Lalu pandanganku beralih pada jalanan di sepanjang Malioboro, banyak penjual pakaian atau pernak-pernik berjejer di sepanjang pinggir jalan dengan turis-turis yang nampak memenuhi area itu. Kubuka jendela kaca, menghirup aroma kota yang penuh dengan kenangan di masa kecil. Dulu, kedua orang tuaku selalu mengajakku untuk berlibur ke sini, lalu di masa sekolah hingga kuliah, kadang jika ada waktu kami selalu pergi ke sini.  Terakhir aku ke sini bersama Randy, saat selesai ujian nasional sekolah. Kami makan berdua di pinggir jalan, sepiring gudeg yang terasa sangat manis di lidahku, lalu kami pergi ke alun-alun Yogyakarta dengan sepeda motor menikmati malam yang seakan tidak mau pergi. Aku tersenyum dalam hati, entah mengapa tiba-tiba aku merindukan sosok Randy sekarang.  Mobil berhenti di salah satu bangunan hotel bercat kuning tua, kami disambut oleh petugas hotel yang berpakaian batik dan celana hitam. Niguel lagi-lagi mendominasi, dia begitu saja berbicara dengan petugas itu sebelum aku berbicara. Seolah liburan ini dia lah yang mengatur, aku mencibir, dia bahkan tidak memedulikanku sekarang.  Niguel memberikan selembar uang seratus ribu kepada bapak taksi. "Kembaliannya untuk bapak saja." "Wah terima kasih mister!" ucap bapak itu dengan sangat riang. "Monggo sedoyo." "Monggo, Pak!" balasku lalu mengekori Niguel yang tanpa kusadari sudah berada di meja resepsionis.  "Saya konfirmasi ulang, pemesanan kamar double room untuk tiga hari, Tuan," kata si resepsionis dengan rambut yang cepol ke atas, menatap Niguel dengan genit. Sedangkan Niguel justru membalasnya dengan senyum mautnya itu membuatku muak.  Kenapa perempuan begitu tergoda dengan dia? Termasuk aku juga sih! "Ada apa?" tanya Niguel. Aku menggeleng. "Nggak apa-apa." Salah satu petugas hotel menyuruh kami untuk mengikutinya ke kamar yang dipesan Niguel. Kami berjalan beriringan, mataku mengitari hotel bintang empat ini. Suasananya nyaman, apalagi lantai keramiknya begitu berkilau terpantul cahaya matahari yang menembus dari jendela. Kami naik tangga, sesekali petugas itu berbincang kepada Niguel tentang rekomendasi tempat bagus selama liburan di Yogyakarta. Kini aku kembali seperti nyamuk, tidak dianggap ada oleh lelaki bermata abu-abu itu. Entah mengapa, pesonanya semenjak di Yogyakarta mengundang semua orang untuk mengajaknya berbicara.  Kami berhenti tepat di depan sebuah pintu bercat hitam dengan ukiran nomor 102 yang terbuat dari kayu. Si petugas hotel membuka kamar itu, seketika aku dibuat membelalak. Ada satu kasur berukuran besar di tengah-tengah, ada televisi, kursi dan meja, serta kamar mandi. Sebenarnya biasa saja, hanya aku baru sadar Niguel memesan satu kamar saja. Kusilangkan tanganku di d**a, menatap tengkuk lelaki itu dengan tatapan curiga. Kini aku merasa takut jika dia berbuat macam-macam. Ah! harusnya aku memesan kamarku sendiri tadi. "Ayo masuk!" ajak Niguel yang sudah menaruh barangnya di atas kasur.  Kulirik si petugas hotel yang menatapku malu-malu lalu pergi meninggalkan kami. Aku membuang muka, padahal hatiku berdebar tidak karuan. Malam ini aku harus tidur di luar, aku tidak mau jika satu kasur dengan Niguel. Jika Ayah dan Bunda tahu, mereka akan mencincang tubuhku seperti bawang.  "Kenapa kamu hanya pesan satu kamar?" tanyaku sedikit menjauhi lelaki itu. "Oh, kamu ingin tidur sendirian? Kasur ini cukup besar untuk kita berdua. Jika kamu takut, kamu bisa meletakkan guling untuk menjadi pembatas." Niguel berkata dengan mudahnya, seolah di semua negara, perempuan dan laki-laki yang belum menikah diperbolehkan tidur satu kasur. Sinting! "Jangan takut. Aku bukan lelaki b******k," ucapnya lagi. "Mandilah, aku mau pesan makanan dulu." "Jangan ngintip!" seruku yang akhirnya pasrah dengan Niguel. Kuletakkan tas ranselku di atas kursi, membongkar beberapa baju.  ### Tak sengaja aku menjatuhkan pensil alisku ketika Niguel dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek saja. Dadanya yang begitu bidang, perut yang terpahat sempurna, rambut yang basah, hingga kulit cokelat eksotisnya seakan menjadi pemandangan sempurna kali ini. Kutelan air liurku sendiri, lalu menepuk pipiku dengan keras. Sungguh Niguel sedang mengobrak-abrik pertahananku.  Mak ... Niki jadi pengen nikah!!!! Niguel terpaku melihatku yang menatapnya tanpa berkedip. Alisnya yang tebal bertaut lalu dia melangkah dengan begitu indah, ketika celana yang menggantung di pinggulnya terlihat semakin seksi.  "Ada ap--" "Jangan mendekat!" teriakku membuat lelaki itu terkejut bukan main. Kutarik napas panjang, mengalihkan pandanganku pada otot perutnya yang menggoda jemariku untuk membelai. "Pa-pakai bajumu, Niguel!" "Memangnya kenapa?" Ah! Dia pura-pura bodoh atau bagaimana! Kutatap matanya seraya berkata, "Mataku jadi nggak fokus kalau kamu nggak pakai baju!" Bukannya menurut perintahku justru dia tertawa kemudian menunduk untuk menerjang tubuhku dengan rambutnya yang basah. Aku berteriak karena geli, jemarinya juga sibuk menggelitiki pinggangku. Bagian paling sensitif yang bisa membuatku tertawa dan menangis secara bersamaan.  "hentikan! astaga!" seruku. "Aku bisa mati, Niguel!" pintaku. Dia berhenti, namun tatapannya masih tidak bisa lepas dari pandanganku. Kulihat kaus merahku yang basah karena rambutnya. Aku mendengkus, padahal kaus ini adalah salah satu kaus favoritku dan akan kugunakan untuk menyusuri jalanan Malioboro.  "Dasar, kau in--" kalimatku menguap begitu saja ketika Niguel masih memandangku dengan senyumannya. Seketika itu pula, aku merasa terhipnotis oleh bibir itu, mata itu, dan rambutnya yang terlihat begitu panas di mataku.  Aura di kamar ini mendadak panas, padahal AC sudah kunyalakan ke suhu paling rendah. Kami masih saling menatap tapi jantungku sudah tidak karuan detaknya. Keringat sebesar biji jagung membasahi dahiku, tanganku pun juga berkeringat. Kujilat bibirku, aku sungguh gugup entah harus melakukan apa.  "Aku mencintaimu," lirih Niguel seraya mendekatkan wajahnya kepadaku. Aroma napasnya yang segar menerpa hidung dan pipiku. Bibirnya hampir saja menempel di bibirku, aku ingin mundur, namun kedua tangannya menahan pinggangku untuk tetap di tempat.  Dia memiringkan kepalanya, mengecup lembut bibirku membuat kedua mataku refleks terpejam. Aku terdiam, aku membeku seperti es, aku mendadak seperti perempuan bodoh ketika dia mulai memagut bibirku dengan bibirnya. Jantungku sudah lari entah ke mana, bahkan aku tidak bisa bernapas dengan baik ketika dia menggigit bibir bawahku dengan gemas.  "Argh!" seruku kesakitan.  Niguel bergerak mundur, menangkup wajahku yang sudah merona sangat merah.  "Sakit? Maaf aku tidak sengaja menggigitnya," ucapnya. Aku tidak bisa berkata apapun, hanya memandang bibirnya yang baru saja menciumku. Tubuhku pun masih merinding dibuatnya, padahal ciuman itu sudah berlalu.  "Aku ... terbawa suasana. Aku akan mandi lagi." Niguel berucap lagi seraya bangkit lalu kembali masuk ke kamar mandi.  Sedangkan aku membanting diriku di kasur, membenamkan wajahku ke bantal tidak peduli jika make up ku menempel di sana. Aku sungguh malu! Bahaya kalau satu kamar sama doi! Banyak setan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD