Menjelang akhir tahun memang selalu disibukkan dengan berbagai macam kegiatan termasuk ujian akhir semester. Belum lagi adanya ujian praktik yang menguras tenaga dan pikiran, hingga aku bosan dibuatnya. Makanan pun menjadi pelampiasan terakhir, apalagi dibantu dengan aplikasi pengantar makanan yang selalu siap sedia.
Beberapa hari ini pula, aku sedikit mendiami Niguel. Aku masih penasaran dengan si penelepon yang membuat cowok itu berubah drastis. Bahkan aku sempat curiga bahwa Niguel memiliki kekasih lain. Seperti sekarang, dia sibuk bermain dengan ponselnya di kala kami kencan berdua. Oh, Ayolah, bukankah aku juga penting daripada ponsel itu?
Aku berdehem keras seraya menyendok gumpalan es krim stoberi yang menggoda iman. Cuaca mendung di luar mall tidak membuat pikiranku dingin, justru berapi-api melihat Niguel tidak menganggapku ada.
"Kamu kenapa?" tanya Niguel, meletakkan ponselnya di sisi kanan meja.
Aku mendecih, memutar bola mata kesal. Harusnya dia paham, bahwa cewek tidak suka dicuekin apalagi saat kencan. Tidakkah dia mengerti bahwa aku menyelesaikan ujian dengan susah payah hanya untuk menikmati liburan dengannya seperti sekarang?
Kugelengkan kepala. "I'm fine. Kamu aja yang terlalu asyik sama cewek!"
Alis tebal lelaki itu naik sebelah, lalu tertawa terbahak-bahak. "Astaga ... jadi kamu curiga aku selingkuh?"
"Iyalah, Om. Mana ada cewek yang nggak mau sama kamu? Dilirik dikit aja udah salting," cerocosku tanpa henti.
"Memangnya kamu mau sama aku?" goda Niguel membuatku menggembungkan kedua pipi, semakin kesal. Sebelah tangan Niguel meraih pipiku, membelainya lembut membuat amarahku menguap seketika. Iris matanya yang tajam itu pun menatapku lekat, seraya berkata, "Aku mendapat kabar dari keluargaku, Niki. Adikku melahirkan bayi perempuan kemarin."
"Serius? Adikmu atau pacarmu yang lain?" ketusku masih tidak percaya.
"Tuhan ... aku serius, Niki, i never lie to you."
Kemudian, Niguel pun mengambil ponselnya lagi dan menunjukkan foto seorang gadis cantik dengan kulit eksotis yang begitu berkilau. Gadis itu sedang menggendong seorang bayi yang menggemaskan dengan selimut yang menutupi tubuh kecilnya. Di sisi kiri gadis itu nampak seorang lelaki, mungkin usianya sedikit lebih jauh dari si gadis mengingat ada beberapa uban yang menghiasi rambutnya. Aku yakin mungkin dia suami gadis itu, kalau itu ayah Niguel, tidak mungkin, aku membayangkan ayah Niguel sudah tua renta bukan hot daddy seperti di novel-novel.
"Dia adikku, namanya Maria," tunjuk Niguel. "Dan itu suaminya. Jadi, tidak mungkin aku menghamili adikku sendiri."
"Untung bukan bapaknya," lirihku.
"Apa?"
"Bu-bukan... Oke, i trust in you, Niguel. Just don't lie to me."
Niguel menopang dagunya sambil mengukir senyum tipis yang justru membuatku salah tingkah. Sejenak dia mengerlingkan sebelah mata indahnya itu padaku, refleks aku membelalakkan kedua mata. Dalam hati, ingin rasanya aku berteriak kencang mengapa ada manusia tampan dan seksi di dunia ini.
"Jangan menggodaku," ucapku dengan rona merah di pipi.
"Aku suka membuat wajahmu seperti itu, Niki."
Kami berdua sejenak terdiam, aku benar-benar kehilangan kata untuk membalas kalimatnya itu.
"Bagaimana jika kita ke Jogjakarta besok?" usul Niguel.
Aku menganga, dan berpikir cukup lama. Bukannya tidak mau, hanya saja ini terlalu mendadak. Belum lagi, ayah dan bunda akan mengijinkanku atau tidak. Tapi, jika mereka mengijinkan, aku akan begitu senang melewati liburan ini.
"Ijin kepada Ayahku, siapa tahu dia mengijinkanmu."
###
Dewi fortuna sepertinya memang selalu mengikuti Niguel ke mana pun lelaki itu pergi. Hanya sekali saja, dengan luluhnya Ayah mengatakan boleh membawaku pergi bersama cowok jangkung itu dengan syarat akan menjagaku hingga pulang dengan utuh. Niguel menyanggupi dan mengucapkan terima kasih sampai dia menciumi tangan Ayah berulang kali.
Namun, lain halnya dengan bunda, dia berbisik bahwa tidak setuju dengan Ayah. Tapi aku berusaha membujuk bunda, bahwa kami tidak akan melakukan apa-apa di Jogjakarta. Lagipula usiaku pun sudah cukup matang dan bisa menjaga diri. Aku juga meyakinkan bunda bahwa Niguel adalah lelaki baik yang sudah mau datang jauh-jauh dari luar negeri, sesuatu yang jarang dilakukan lelaki yang dimabuk asmara.
"Bunda tenang aja, kalau dia macem-macem, Niki bisa mukul anunya kok," ucapku membuat ibuku terkekeh.
Wanita yang memilih berbincang di dapur bersamaku itu, akhirnya mengangguk meski kedua netranya masih ragu. Kupeluk tubuh ibuku dan menciumnya dengan sayang, seraya berkata, "Niki baik-baik aja, Bunda, Niguel juga orang baik."
"Iya deh, Nik, hati-hati pokoknya."
"Iya, lagian berangkatnya juga nanti malam, Bun. Bunda mau dibawain oleh-oleh apa? Candi? Tugu Jogja? apa besek?"
Refleks bunda menyubit pipiku dengan gemas membuatku merintih kesakitan. "Ih, kamu nih, sama orang tua jahil banget."
Kuusap pipiku yang memerah, bekas cubitan bunda sangat terasa sampai ke ujung sarafku. "Habisnya bunda, sih ..."
"Udah sana, anterin minuman dan makanannya ke Ayah sama Niguel," pinta Bunda seraya memberiku nampan berisi dua cangkir teh dan dua porsi soto ayam.
Niguel melihatku keluar dari dapur, bibirnya mengulum senyum sambil mengerlingkan sebelah matanya. Jika bukan di rumah, mungkin aku sudah berteriak histeris. Yang bisa kulakukan hanya berdehem, pura-pura ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokanku seraya menaruh nampan itu. Ayah memandangku heran lalu mengisyaratkan untuk pergi meninggalkan dua lelaki itu.
Bibirku manyun, aku ingin duduk di sebelah Niguel tapi Ayah justru membelalakkan kedua matanya. Aku pun akhirnya menuruti lelaki itu.
###
Stasiun Pasar Turi terlihat cukup ramai, apalagi bulan desember banyak anak-anak sekolah yang liburan panjang. Suara mikrofon dari pusat stasiun yang menandakan kereta yang akan kutumpangi akan datang. Niguel beranjak dari kursi, menarik lenganku dengan erat lalu mengecup puncak kepalaku. Otomatis jantung mendadak berhenti berdetak. Di saat seperti ini lelaki itu melakukan hal di luar dugaan.
"Aku mencintaimu, Niki."
"Ha?"
Niguel tertawa dengan kedua iris mata abu-abu yang berkilau diterpa cahaya lampu-lampu. Kulitnya yang sawo matang dan berkeringat pun ikut berkilauan seolah Niguel adalah berlian tersembunyi di antara ratusan orang di stasiun.
Tanpa menunggu kalimatku, lelaki itu menarik tubuhku, membawa masuk ke dalam gerbong utama. Beberapa orang melihat kami, mungkin tubuh jangkung yang terlihat paling menonjol itu membuat banyak orang mengira bahwa Niguel bukanlah pribumi. Apalagi ketika seorang petugas kereta menyapanya, dan Niguel menjawab dengan aksennya yang begitu khas.
Kami berdua duduk setelah Niguel menaruh dua ransel di atas rak, dia menarik tangan kananku lagi, menggenggamnya erat seperti tidak mau pisah. Sungguh hal berbeda daripada kemarin. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya hingga dia berubah seperti ini.
"Kau tidak sakit kan?" ucapku.
Niguel mengernyitkan kedua alisnya. "No, Why?"
"Kau terlihat berbeda."
Manik mata abu-abu itu mengunci diriku, hingga aku bisa melihat pantulan wajahku di sana. Niguel mengecup tangan kananku, mengirimkan jutaan sinyal ke seluruh tubuhku dan meresponnya dengan sensasi aneh di perutku. Dadaku melambung, hatiku sudah berterbangan entah ke mana, bahkan aku tidak sadar bahwa aku tidak bernapas beberapa detik. Sial! Dia sungguh hebat menghipnotisku.
"Anggap saja di dunia ini kita berdua, Niki. Aku ingin menikmati Jogjakarta bersamamu."
"Jangankan Jogja, di Alaska pun aku mau asal sama kamu, Om," ucapku polos.
"Te Amor."
"Te Amor."