"Niguel!" seruku melepaskan tangan Randy yang masih setia melingkar di pinggangku.
Namun lelaki itu justru menarik kembali diriku dalam rengkuhan dirinya seakan ingin mengibarkan genderang perang dengan Niguel. Aku menoleh menatap wajah teman menyebalkan itu seraya berkata,
"Kamu ngapain sih!"
Bibir tipis Randy membisu namun iris matanya masih menatap tajam ke arah pacarku. Kini Niguel melangkah dengan kaki panjangnya, aku bisa merasakan auranya yang begitu menyeramkan seperti ingin mencekik orang. Kepalaku mendongak, mencoba melihat sudut lobi mencari letak CCTV. Sialnya, lobi ini tidak menunjukkan satu CCTV pun.
"Niguel, ini temanku," ucapku sambil nyengir.
Lelaki bermata abu-abu itu memandangku lekat lalu berdehem membuatku salah tingkah. Oke, jika hubunganku dengan Randy adalah teman, mungkin dalam kamus kehidupan Niguel, teman itu tidak perlu berpelukan erat seperti ini.
"Let her go," pinta Niguel dengan nada datar namun penuh penekanan di dalamnya.
Aku menelan ludah, Niguel benar-benar menyeramkan. Randy pun melepas pelukannya di tubuhku membuatku cepat-cepat berlindung di balik punggung Niguel. Mungkin kekanakan, tapi suasana sekarang benar-benar sangat panas. Bisa jadi satu detik ke depan bakal terjadi pertarungan di antara dua lelaki itu.
"La amo antes de que vinieras." (Aku mencintainya sebelum kamu datang ke sini)
Mulutku menganga lebar hingga menyentuh lantai mendengar Randy begitu luwesnya mengucapkan bahasa yang kedengarannya mirip dengan bahasa Niguel. Aku mendongak melihat ekspresi Niguel yang hanya terpaku mendengar kalimat yang dilontarkan Randy.
Apa artinya? batinku.
"Es una buena chica. No juegues con ella," ucap Randy lagi. (Dia perempuan baik. Jangan bermain dengannya)
"Seguro. La amo más de lo que tú sabes," balas Niguel seraya menarik tanganku dan menggenggamnya erat. (Tentu saja. Aku mencintainya lebih dari yang kau tahu.)
Kemudian lelaki itu menarikku pergi meninggalkan Randy. Aku menoleh ke belakang menatap wajah Randy yang kini tak bisa kuartikan. Lalu aku mendongak memandang garis wajah Niguel yang kini hanya membisu tanpa menatapku seperti biasanya. Aku bingung dengan apa yang mereka bicarakan. Apakah semua itu ada hubungannya denganku?
###
Di mobil, Niguel kembali mendiamiku. Beberapa kali aku ingin mengatakan sesuatu, urung kulakukan karena aku takut dengan apa yang terjadi selanjutnya. Yang bisa kulakukan hanya memilin ujung jaket hoodie milikku sambil sesekali menunduk dan menatap ke arah luar jendela.
Hujan masih setia turun seolah mewakilkan apa yang mungkin dirasakan Niguel. Mungkinkah dia cemburu meski tak menampakkan sikapnya? Atau mungkinkah Randy telah melepaskanku dan merelakan diriku di dalam pelukan Niguel?
"You can talk now," ucap Niguel tiba-tiba tanpa memandangku.
"Kamu cemburu?" tanyaku yang dibalas dengan tatapan tak suka lelaki itu. Apa pertanyaanku salah?
"Kamu tahu tanpa aku mengatakannya," jawab Niguel dingin.
"Tapi ... Randy temanku," cicitku.
"He's your friend and huged you like his girlfriend. Siapa yang nggak cemburu? Hanya orang gila yang nggak cemburu wanitanya dipeluk lelaki lain, Niki."
Menghela napas berat tak mampu membalas apa yang dikatakan Niguel. Semuanya benar dan mungkin di sini aku yang salah. Tapi kejadian itu pun di luar kehendakku, aku tidak tahu mengapa Randy tiba-tiba muncul di lobi kampus.
"Maaf, aku juga nggak tahu kalau Randy muncul," kataku.
"Forget it."
Setelah itu tidak ada percakapan lagi selain suara rinai hujan yang saling berjatuhan mengenai mobil. Mendadak aku teringat percakapan Niguel menggunakan bahasa Spanyol dengan Randy. Dengan ragu-ragu aku bertanya padanya,
"Tadi ... kamu sama Randy ngomong apa? Aku nggak tahu artinya."
Niguel memutar kemudi mobilnya memasuki sebuah perumahan yang terlihat sepi dengan beberapa pengendara motor yang melintas menggunakan jas hujan. Lelaki itu kembali berdehem lalu berkata,
"Nggak apa-apa, cuma obrolan biasa."
"Ih, masa?"
Niguel menoleh seraya menaikkan alisnya membuatku membungkam bibirku sendiri. Sepertinya malam ini aku serba salah di mata lelaki itu. Dia lebih mirip perempuan sedang mengalami PMS ketimbang laki-laki yang habis sunat massal.
Mesin mobil Niguel berhenti tepat di depan rumahku. Aku segera keluar namun tas punggungku ditarik olehnya. Aku menoleh dan dia menatapku seraya berkata,
"Te amo. Recuerde que." (Aku mencintaimu. Ingat itu.)
Aku hanya bisa menangkap arti kata te amo saja, yang kata kedua aku tidak mengerti. Bibirku menyunggingkan seulas senyum tipis. Pandangan Niguel kembali teduh tidak seseram tadi. Bibirnya pun kini menarik garis senyum manis di wajahnya. Ah, jika bukan di depan rumah, ingin sekali aku membelai wajahnya itu.
"Te amo."
"Hujan, nanti kamu sakit," ucapnya lagi. Niguel pun berbalik, mencari sesuatu di kursi belakang. Tak lama kemudian, sebuah payung bercorak bunga muncul dan diberikan kepadaku.
"Terima kasih. Tapi ... lebih sakit melihatmu diam daripada sakit karena terkena hujan," kataku.
"Aku tahu. Masuklah sebelum Ayahmu melihat kita berdua terlalu lama di sini," perintahnya dengan nada lembut.
Aku mengangguk lalu membuka payung dan keluar dari mobil. Tiba-tiba aku mendengar suara ponsel Niguel berdering. Lelaki itu meraih ponselnya kemudian sebuah senyum lebar terukir di wajahnya. Seperti tidak menganggapku ada, pintu mobil yang terbuka ditariknya kembali seraya menjawab panggilan itu.
Tentu saja aku tidak bisa mendengar apa pun kecuali mimik wajah Niguel yang begitu berubah drastis. Lelaki itu benar-benar lupa daratan, tanpa berpamitan, dia menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan diriku dengan sejuta pertanyaan.
Ah, siapa penelepon itu?