Resmi menjadi kekasih Niguel membuatku semakin bersemangat untuk menyelesaikan kuliah lalu menuju 'sah'. Selain mendapat lampu hijau dari Ayah dan Bunda, Niguel pun juga terlihat senang dengan keluargaku. Selain itu dia juga rela mengantarkanku ke kampus meski dengan mobil sewaan. Alhasil, banyak anak-anak kampus yang melihatku tercengang. Beberapa di antara mereka bertanya-tanya bagaimana aku bisa menggaet bule cakep seperti Niguel.
Tapi, hal itu tidak berlaku untuk Randy. Cowok kemayu itu mencibir sambil mengejekku secara terang-terangan bahwa aku sudah terbutakan oleh orang yang tidak kukenal sama sekali. Jika dia bukan teman dekatku, mungkin sudah kujahit mulutnya itu. Kuhiraukan Randy dan memilih meninggalkannya sendirian di lorong kampus.
"Sampai kapan?" teriak Randy berusaha mengejarku.
Aku berhenti, menatapnya dengan sejuta pertanyaan yang tidak kupahami. "Nggak usah pakai sandi morse deh. Aku nggak paham omonganmu."
"Nik, dengerin aku dulu. Oke kamu boleh pacaran sama siapa pun termasuk b******n di kampus ini. Tapi, aku beneran nggak rela kamu sama dia."
"Kamu siapa? Orang tuaku bukan, bahkan Niguel sudah menemui orang tuaku kemarin. Mereka setuju-setuju aja, kenapa kamu suka mencampuri urusan orang lain? Aku capek, Ran. Aku bukan anak kecil yang perlu kamu beritahu, oke," ucapku dengan intonasi cepat. Dadaku begitu bergemuruh setiap kali Randy mencampuri urusanku.
Randy bergerak mundur seraya mengetatkan garis rahangnya. Sebelah alisnya terangkat dengan bibir yang terkatup rapat. "Jika itu memang maumu, silakan. Aku hanya mengingatkanmu sebagai teman. Jangan pernah mencariku jika ... Niguel benar-benar meninggalkanmu seperti sampah!"
Randy pergi meninggalkanku dengan langkah kaki panjangnya sebelum aku berhasil melemparinya dengan sumpah serapah karena telah mendoakanku jelek seperti itu. Aku mendengkus seraya menghentakkan kaki menatap jejak cowok bermata sipit itu di antara kerumunan mahasiswa lain.
"Aku juga nggak butuh kamu," gumamku.
###
"Jadi, aku bakal bagi tugas-tugas apa yang harus dikerjakan. Aku dan Sarah nyari jurnal tentang BBLR, Anya nyari tentang asupan gizi pada BBLR dan pencegahannya, sedangkan Riko bikin brosur dan presentasi," ucapku saat kami membahas tugas tentang pelajaran keperawatan anak di gazebo kampus.
"Lah kok aku yang presentasi?" protes Riko tidak terima.
"Bikin brosur dua jam tiga jam selesai, lagian kan kamu sekalian baca makalahnya. Kalau besok ada pertanyaan nanti cewek-cewek yang jawab," sahutku.
"Ya elah, kalian kan juga bisa, aku presentasi itu rasanya kaku."
"Duh, nggak usah protes deh, Riko," keluh Anya menatap tajam Riko yang berbada tambun. "Lagian semester depan kita udah ujian proposal dan skripsi, buat latihan aja."
Riko mengangguk meski terlihat sangat terpaksa. Lalu kami pun fokus mengerjakan tugas di laptop masing-masing dalam diam. Beberapa saat ponselku berbunyi, kulirik sejenak dan membaca nama Niguel di layar ponsel. Kuraih benda kotak itu dan menjawab panggilannya.
"Ada apa?" tanyaku.
"When will you go home?" tanya Niguel membuatku menahan senyum. Seketika itu pula rasa fokusku terpecahkan. "I miss you."
Aduh, mampus! batinku. Kalau kayak gini terus beneran dia nggak bisa bikin aku konsentrasi. Niguel memang paling bisa membuat hati perempuan bergejolak dan berbunga-bunga. Entah sudah berapa kali dia bisa memunculkan rasa gelitik di perutku, seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam sana.
"Don't say like that, i'm so ashamed!" kataku membuat Anya menoleh. "Niguel," bisikku padanya.
Anya menempelkan telinganya di belakang ponselku saat Niguel mengatakan bahwa dia siap menjemputku ke kampus dan mengajakku jalan-jalan sejenak.
"Lagi ada tugas, Om. Jadi cowok nggak usah bucin!" seru Anya di ponselku.
Kuinjak kakinya dengan sedikit keras, Anya merintih lalu menarik rambutku. Kubalas tarikannya seraya berkata, "Jangan usil deh."
Anya hanya mendecak. "Tugasmu belum selesai. Kerjakan sana!"
Kali ini aku yang mendecih. "Niguel, I'll call you later okay. See you, Baby."
"Yang lama dibuang nih?" sahut Riko setelah aku memutuskan sambungan telepon.
"Hah? Siapa?" tanyaku dengan mulut menganga.
"Tuh, Randy. Kan kalian deket kayak anak kembar."
"Lagi cerai sama dia," ketusku. "Udah ah, males sama itu anak."
####
Hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras ketika aku menunggu Niguel untuk datang menjemputku di kampus. Kulihat jam di tangan kanan sudah menunjukkan pukul delapan malam yang artinya sudah setengah jam aku menunggu Niguel. Hatiku mulai resah dan takut jika dia lupa untuk menjemput. Tapi sisi lain dari diriku juga mengira bahwa bisa jadi dia terjebak macet.
Aku sendirian di lobi kampus yang cukup remang-remang. Jujur saja aku tidak suka sendirian apalagi kondisi hujan dengan guntur yang menyambar-nyambar. Kuraih ponsel dan memutar musik agar rasa rakut itu tidak semakin menjadi-jadi.
Alunan lagu lama Sheila On 7 mengingatkanku pada Randy. Lagu yang sering dia nyanyikan berulang-ulang seperti tidak ada bosannya. Ada rasa rindu yang menelusuk hati jika mengingat kedekatan kami. Lelaki itu tidak satu bulan dua bulan aku mengenalnya. Kuhitung mungkin sudah ada sekitar enam tahun aku mengenal Randy. Dia teman SMA yang selalu mengikutiku ke mana saja, bahkan di jurusan yang menurutku sangat tidak cocok untuknya pun dia tetap terjun untuk bersamaku.
Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa
Menangis merenung
Oleh cinta
Kau coba hapuskan rasa
Rasa dimana kau melayang jauh
Dari jiwaku Juga mimpiku
Biarlah, biarlah
Hariku dan harimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan manismu
Kadang ada selentingan gosip yang hadir bahwa Randy menyukaiku. Tapi aku selalu saja menampik hal itu karena aku tidak suka ada cinta dalam lingkup pertemanan. Cinta di antara dua insan yang menjalin persahabatan adalah hal sangat rentan terjadi, dan selalu saja berakhir dengan cinta sepihak. Randy pun tahu itu, dia pun juga pernah mengatakan padaku bahwa dia juga tidak tertarik denganku.
Pernah satu waktu dia menjalin asmara dengan adik kelas di masa SMA. Namun putus di saat UNAS SMA, Randy bercerita bahwa cinta masa SMA hanya sesaat begitu pula dengan masa putih abu-abu itu. Setelah itu Randy mendapat sebuah tamparan keras hingga berbekas di wajahnya.
Aku tersenyum mengingat semua hal yang kami lakukan dan tak terasa air mataku turut jatuh. Aku juga tidak suka kami dalam kondisi seperti ini. Kami dekat lalu saling menjauh dan menjadi asing satu sama lain.
Tiba-tiba terdengar suara langkah yang begitu jelas di telinga. Aku berjingkat sambil mengambil buku untuk melempar siapa pun yang akan muncul. Kampus sepi, aku tahu itu, kecuali penjaga kampus yang mungkin terjebak di kantor satpam.
Suara langkah itu semakin jelas bersamaan dengan irama napasku yang tak beraturan. Antara takut dan gugup, aku tidak bisa membedakannya. Lalu muncul bayangan memanjang dari sisi kiriku yang semakin lama semakin pendek yang mengartikan bahwa sosok itu semakin dekat.
Kutahan napas, kedua kakiku sudah tidak bisa menahan bobot tubuhku sendiri ketika bayangan hitam muncul di depanku.
Aku berteriak sekencang mungkin hingga bayangan itu menarikku dalam dekapannya. Mendadak aku terdiam mencium aroma tubuh yang sangat kuingat. Aku tidak berani mendongak, tapi aku juga ingin memastikan bahwa dia bukan orang yang ada dalam pikiranku tadi.
Alunan lagu di ponselku berganti dengan lirik lagu lain yang begitu pas dengan suasana saat ini. Perlahan tapi pasti, aku mendongak, memandang lelaki yang kini mendekapku erat dengan detak jantungnya yang terdengar begitu cepat.
Telah kulakukan semua
Semua untuk mendekatimu
Telah kucoba segala
Cara tuk cari atensimu
Ingin setiap kata terucap
Kau ucapkan kepadaku
Kemana kau ingin berjalan
Slalu berjalan disisiku
Tapi masih ada satu
Langkah yang pasti engkau tunggu
Sampai datang saat itu
Kumpulkan semua keyakinanmu
Sayang coba lihatlah aku
Sluruh tubuhku inginkan kamu
When I say I love you
Please baby say you love me to
Kami saling menatap cukup lama dengan napas yang menerpa pipi. Kucoba untuk melepaskan diri namun dia mempererat pelukannya di tubuhku. Aku menelan ludah, takut dengan apa yang akan terjadi. Entah mengapa aku ingin Niguel datang dan menyelamatkanku dari rasa canggung yang kini menyelimutiku.
"Bagaimana jika seandainya dia tidak pernah datang?" lirih Randy di telingaku.
Bulu kudukku meremang seketika. Bahkan aku tidak bisa merangkai kata-kata untuk membalas ucapan lelaki itu.
"Hei! What the hell are you doing to my girl!" seru seseorang yang tiba-tiba muncul di lobi kampus dengan tatapan tajam.