Memandang ke arah luar jendela mobil sambil melipat kedua tangan di d**a, aku tak berani melirik Niguel sedikit pun. Dia memang mudah membuatku kesal dengan segala tingkahnya termasuk bahasa yang diucapkannya tadi. Rasa malu yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa dihapus dalam memori. Aku mendesis ingin sekali mengucapkan mantra yang bisa menghilangkan peristiwa memalukan tadi.
Ah, harusnya aku tidak mudah cemburu apalagi tidak semua nama yang ada di Indonesia ini dimiliki oleh negara lain. Harusnya juga aku sadar bahwa setiap bangsa memiliki kemiripan bahasa. Kutarik napas panjang lalu melirik Niguel dari ekor mata kananku. Seketika aku berpaling dengan irama jantung yang sudah tidak karuan lagi. Lelaki bermata abu-abu itu tak lepas memandangiku dengan senyumnya yang benar-benar menggoda jiwa dan raga.
Dia juga tidak marah saat aku merutukinya telah berselingkuh dengan Novia yang ternyata memiliki artian lain. Justru dia hanya tertawa terbahak-bahak membuatku berpikir apakah dia telah gila. Tapi meski dia begitu mengapa aku semakin terbuai dan terbuai?
"Miki?" panggil Niguel seraya menarik tangan kananku. Digenggamnya tanganku dengan erat lalu diciumnya dengan sayang.
Aku menoleh dengan wajah memerah, sungguh Niguel tidak tahu aturan. Ini di mobil di mana sopir sewaanya tersenyum mengintip kami melalui kaca mobil.
"Are you angry? Novia?" dia terkekeh dengan mengerlingkan mata.
"Ih, apaan sih. Siapa yang marah coba." kutarik tanganku dari genggamannya namun Niguel seakan tidak rela. Lelaki itu menggeser pantatnya agar lebih dekat denganku.
"Mi Novia, itu panggilan sayang di Spanyol, Bebe."
"Sekarang kamu panggil aku bebek?" ketusku. "Sekalian aja panggil sapi."
"Astaga ...." Niguel menarik kepalaku dan mengecupnya.
Seketika itu pula sel tubuhku mati mendadak dengan perasaan yang begitu menggilitik lambung.
"Bebe itu artinya sayang."
Kukulum bibirku menahan senyum ingin berteriak sekeras mungkin. Dia benar-benar membawaku melambung ke awan yang disambut jutaan bahkan milyaran bintang yang menghiasi semesta.
"Nikah yuk, Bang," ucapku dengan lantang.
###
Niguel kembali menjadi pusat perhatian saat dia keluar dari mobil bercat hitam. Bahkan tetanggaku turut keluar dari rumah mereka seperti sedang menyambut artis dari luar negeri. Belum lagi ketika Niguel tersenyum dan menyapa para emak-emak dengan bahasa Indonesianya yang kelewat fasih. Otomatis dong, ibu-ibu yang sudah beranak dan punya mantu itu melempar deretan pertanyaan ini dan itu.
Kutarik sosok tinggi Niguel masuk ke dalam rumah sambil membisikinya bahwa jangan dekat dengan para emak-emak jika tidak ingin digoda. Sekali lagi Niguel hanya bisa tertawa membuatku geleng-geleng kepala.
Sinting ini cowok lama-lama, batinku.
Sosok wanita paruh baya yang rambutnya sebahu ala Demi Moore dan memakai daster bunga-bunga warna merah mencolok. Sejenak dia terkejut dengan lelaki yang berada di sampingku dan menatapku penuh tanda tanya. Aku hanya bisa meringis kuda dan siap menerima banyak pertanyaan dari bunda.
Seperti tahu kebiasaan masyarakat Indonesia, Niguel pun menyapa dengan sopan dan menyalami bunda. Ekspresi bunda seketika berubah, dia tersenyum manis meski dari matanya masih penasaran siapa Niguel.
"Masuk dulu," ucap Bunda setelah aku menyalami tangan kanannya. Bunda menari tanganku dan membawanya ke dapur. Sejenak Bunda mengintip Niguel yang kini duduk di sofa ruang tamu sambil melihat interior rumahku. "Siapa?"
"Calon," kataku sambil terkikik.
"Niki, Bunda serius ih," kata bunda sambil mencubit lenganku.
"Temen, Bun, temen tapi mesra. Bunda kenalan sendiri deh, nanti kalau oke bibit bobotnya, Niki siap ke KUA kok," candaku lalu berlari menuju kamar.
###
Ternyata Niguel cepet akrab dengan bunda terlebih dengan ayah yang tadi datang lima belas menit setelah aku pulang ke rumah. Kini kami berempat duduk di ruang tamu membicarakan banyak hal termasuk kemampuan Niguel berbicara bahasa Indonesia. Ayah tadi sempet tertipu, sudah memakai bahasa Inggris ala kadarnya namun dijawab Niguel dengan bahasa Indonesia. Seketika itu pula ayah tertawa dengan muka merah seperti tomat.
Niguel banyak bercerita tentang masa kecilnya yang hidup di Bogor mengikuti nenek dari pihak ibu. Ternyata kedua orang tuanya bercerai saat lelaki itu berusia delapan tahun dan ibunya meninggal dua tahun kemudian akibat sakit jantung. Niguel menceritakan semuanya dengan sangat tenang, padahal jika aku berada di posisi Niguel, air mataku pasti sudah banjir ke mana-mana.
"Papa saya hanya mengirim semua yang saya perlukan tanpa pernah pulang untuk menjenguk saya. Jadi, ya ... beginilah hidup saya. Kadang saya iri dengan orang lain, tapi saya harus menjalani hidup. life must go on," ucap Niguel sambil tersenyum tipis.
"Terus rencana kamu setelah ini apa?" tanya Ayah sambil mengusap matanya yang berkaca-kaca. "Masa kamu ke sini cuma berbagi kisah sedih doang?"
"Ih, Ayah ...." kataku sambil menyenggol lengan kiri Ayahku malu.
"Lho, kan bener, Nik. Kamu ini gimana, cowok kalo main ke rumah itu harus dipastiin tujuannya apa dan bagaimana."
"Iya," sahut bunda. "Masa tadi tetangga pada heboh, Yah, kayak ada artis datang tau nggak."
"Nah, kan," kata Ayah mencubit hidungku.
Niguel terkekeh sambil menggosok rambutnya sendiri. "Saya ... well ... it's complicated to marry a girl, but i have plan to marry Niki, not now but someday."
"Kalau nggak dipastikan, anak saya mau di PHP-in? no give false hope to my girl," kata Ayah dengan bahasa inggris yang terbata-bata.
"Ih, Ayah, lagian Niki juga masih kuliah. Belum profesi ners juga, lagian kami juga baru ketemu, Ayah. Niki nggak mau ah kalau nikah terburu-buru," bisikku dengan cemberut.
"Yeah, something like that. She has a ... good future and still too young," sahut Niguel. "Saya di sini cuma ingin bertemu dan ya ... restu kalian untuk hubungan kami."
Bunda dan Ayah saling bertatapan sedangkan aku menatap Niguel dengan mulut menganga. Jadi dia ngajak aku pacaran? Hatiku sekarang melompat kegirangan dengan bunga-bunga bermekaran. Ada semburat kemerahan muncul di pipiku dengan senyum yang tidak hentinya berhenti terukir.
"Okay, but no s*x, no kiss, no touch-touch like this." Kini bunda yang berbicara seraya memperagakan gerakan yang tidak boleh dilakukan, termasuk pegangan tangan.
"Lah, kan cuma pegangan tangan, Bun," protesku.
"Pegangan tangan tapi ngerambat yang lain. Bunda udah tahu gaya pacaran anak sekarang, Niki."
Niguel mengangguk. "Saya akan menjaganya."
"Good good, protect her like you protect your mom," ucap bunda.
"Oh ya, sekalian makan di sini, Niguel. Kamu belum pernah nyoba lele sama sambel buatan bundanya Niki, kan?" ajak ayah. "Bisa main catur, nggak?"
Kupukul dahiku sendiri. Jika ayah sudah mengatakan catur, dipastikan kunjungan Niguel akan menjadi kunjungan terlama. Ayah selalu bisa mengalahkan hampir semua orang dalam permainan catur. Bunda yang melihatku hanya terkekeh lalu dia menyeretku ke dapur untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk kami semua.
Niguel menatapku sejenak lalu memainkan sebelah matanya sambil mengisyaratkan kata te amor yang kutahu itu adalah kata cinta. Kubalas dengan kata yang sama sambil melempar cium jauh kepada lelaki yang kini jadi kekasihku.
"Eits! nggak boleh lempar cium jauh di depan ayah!" seru Ayah