Kami berdua masih saling membisu menatap pengendara yang begitu padat merayap melewati jalan raya Darmo dengan kebisingan yang begitu khas. Tidak ada yang memulai pembicaraan meski kami memilih duduk di salah satu sudut Taman Bungkul yang sepi pengunjung. Berulang kali kudengar Niguel menghela napasnya sambil sesekali menatapku. Sedangkan aku memilih membuang muka, rasa gugup sedang menguasai diriku bahkan aku pun lupa bagaimana cara merangkai kata-kata untuk memarahi Niguel sekarang.
"Kenapa kamu diam?"
Suara Niguel yang begitu terdengar dekat di telinga kananku membuat detak jantung semakin tidak karuan. Oke, mungkin jika dilakukan rekam jantung dadakan mereka bakal tahu bahwa irama jantungku sedang mengalami fase takikardia dengan atrial fibrilasi.
Niguel menunduk mencoba melihat wajahku namun aku berpaling karena takut bercampur malu. Jika aku bisa, ingin sekali memaki diriku yang tiba-tiba lemah dihadapan pria bermata abu-abu itu.
"Miki?"
"Hey!" seruku tak suka sambil memandang dirinya.
Senyuman di bibir Niguel kembali mengembang membuat amarahku menguap kembali.
"Aku tidak menyangka bisa menemuimu lagi dengan keadaan berbeda," ucap Niguel lagi.
"Kenapa bahasa Indonesiamu fasih sekali?" tanyaku mengabaikan gombalannya.
"Aku pernah tinggal di sini saat masih kecil, Miki."
"Niki! Astaga, kenapa kau membuatku kesal?"
Niguel tertawa menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Karena aku suka melihatmu kesal. Kamu begitu lucu dan menggemaskan." Tangan kanannya menyentuh puncak kepalaku lalu membelai pipiku dengan lembut membuat diriku tak sanggup lagi menopang tubuh.
Ya Tuhan, kalau begini terus leleh hati dedek....
"Don't touch me!" Kugeser pantatku sedikit menjauhi Niguel tapi pria itu mendekatiku lagi. "Jangan deket-deket, aku lagi kesal!"
Seperti teringat akan janjinya, Niguel pun mengeluarkan dompet dari dalam tas ranselnya. Dia pun mengeluarkan paspor dan visa miliknya lalu memberikan berkas itu padaku.
"Bukalah. Kamu bilang ingin tahu identitasku?"
Mau tak mau kuterima dua berkas penting itu ketika Niguel juga membuka isi dompetnya dan mengeluarkan kartu seperti KTP. k****a dan ternyata memang semuanya benar, namanya memang Niguel Olivier Theodor. Pria berkebangsaan Spanyol berusia 32 tahun.
"Hah! Tua amat!" pekikku melihat tahun lahirnya dengan refleks.
Alis tebal Niguel melengkung sempurna menatapku namun dia tidak terlihat tersinggung. Sejenak dia hanya tertawa melihat ekspresiku yang masih terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika pria di depanku ini memiliki selisih usia sepuluh tahun denganku. Pikiran apakah dia masih single atau tidak terlintas di otakku.
"Aku belum menikah jika tatapan matamu menatapku curiga seperti itu, Niki," ucap Niguel.
"Lalu kenapa kamu menyebut dirimu Adam Jackman saat di HOS jika nama aslimu Niguel? Kamu bisa terkena pasal penipuan, Niguel, terutama pada mahasiswa yang sedang serius mengerjakan tugasnya," sergahku dengan intonasi cepat.
Lagi-lagi hanya senyuman sebagai jawaban awal. Niguel menopang wajahnya dengan tangan kiri menatapku lekat lalu berkata,
"Itu hanya terlintas begitu saja. Lagipula aku tertarik padamu sejak di bandara. Tapi, aku tidak tahu jika kita dipertemukan kembali di pabrik rokok itu, Niki."
"Di Bandara? Apa kamu sengaja melintas di depanku saat itu?" tanyaku penuh selidik. "Dan membuatku seolah bersalah atas.... " Aku tidak berani melanjutkan kalimatku karena kejadian waktu itu memalukan sekali.
"Tidak. Aku memang tidak sengaja melintas di depanmu, tapi setelah kejadian itu. Diam-diam aku mengikutimu di restoran itu dan wajahmu terlihat tidak nyaman dan begitu waspada terhadap pria yang melewatimu. Kamu sangat lucu."
Bisakah kulempar dirinya ke tengah jalan sekarang juga? Kenapa dia bisa bicara seperti itu dengan santainya?
Niguel menarik tanganku yang berkeringat dingin. "Jika seperti ini, apa boleh aku dekat denganmu seperti sebelumnya?"
Aku terdiam cukup lama menatap iris abu-abu itu. Masih banyak yang ingin kutanyakan kepada Niguel jika tidak mengingat hari sudah menjelang malam. Hanya anggukan sebagai pengganti jawaban membuat garis senyum itu kembali muncul.
Tuhan, apakah aku sudah tenggelam dalam pesonanya?
####
Satu kampus heboh ketika aku dengan santainya berjalan menuju kelas. Anak-anak yang kenal padaku bersiul dengan sesekali menggoda bahwa aku berhasil menggaet seorang bule yang menurut mereka sangat wow. Sedikit risih karena beberapa dari mereka juga mengejek tak suka. Padahal menurutku bertemu Niguel adalah hal yang terburuk, teraneh, tapi juga terindah karena apa yang terjadi diantara kami pun tidak ada yang dipaksakan. Dia sendiri yang datang ke Surabaya memenuhi janjinya. Apakah itu salah?
Kehebohan juga terjadi pada Anya yang satu kelompok denganku waktu itu. Bedanya dia was-was dengan Niguel, kukatakan padanya bahwa masalah kami telah usai. Namun Anya masih tetap bergeming dengan berbagai spekulasi tentang Niguel membuat telingaku semakin panas. Terlebih dia meragukan semua dokumen yang ditunjukkan Niguel padaku walau pun aku telah mengatakan bahwa semua itu asli.
"Bisa jadi kan dia udah menyiapkan semua itu jauh-jauh hari? Kalau dia orang jujur mengapa dia harus berbohong waktu itu? Plin plan dong dia," ucap Anya.
Bola mataku memutar sambil menghela napas panjang mendengar ceramah Anya yang kunjung selesai. Kutata dirinya dan berkata, "Aku nggak tahu, dan buktinya dia jauh-jauh datang ke Surabaya hanya menunjukkan identitasnya, Nyet. Aku nggak peduli dia datang dari Dubai atau pluto sekali pun, tapi nyatanya dia jujur sekarang."
"Tapi, ya sama aja, Nik. Pembohong ya pembohong. Aku beneran nggak yakin dia orang baik, hati-hati deh kamu sama dia."
"Ck, aduh, iya-iya, dah lah pusing aku dengerin ceramahmu terus," rutukku kesal.
Sebelum Anya menimpali kalimatku, kulihat Randy masuk ke kelas seraya membawa buku tebal. Mungkin dia dari perpustakaan, pikirku. Dia melirikku sejenak dengan tatapan sinis sebelum akhirnya dia duduk ke sudut kelas lain. Semenjak Niguel datang, Randy benar-benar marah. Entah karena aku yang tidak bisa memegang ucapanku atau karena Niguel yang mendadak muncul untuk meminta maaf.
Anya menyenggol bahuku seraya menaik-turunkan alisnya yang tebal. "Marahan lagi?"
Aku mengedikkan bahu, terlalu malas menanggapi. Randy sendiri yang memilih menjauh, untuk apa aku memiliki teman yang suka ikut campur seperti dia.
"Samperin sana, enggak enak tahu liat kalian berdua diem-dieman kayak anak sakit gigi," kata Anya.
Aku menggeleng sambil memasang earphone di telinga dan melirik Anya. "Males, dia ngambekan kayak cewek PMS."
####
Sepulang kuliah, kusempatkan diri menemui Niguel yang berada di hotel di sekitaran jalan Diponegoro. Saat ditelepon tadi siang, dia berkata ingin bertemu keluargaku untuk berkenalan. Hatiku rasanya ingin melambung ke langit ke tujuh membayangkan perkenalan yang berujung lamaran. Aku terkikik sendiri hingga dilihat orang-orang saat berhenti di lampu merah depan Kebun Binatang Surabaya. Untung saja, mukaku tertutup masker, coba kalau tidak, mungkin aku akan diseret ke rumah sakit jiwa.
Mendaratkan p****t di atas sofa berbahan suede hitam yang begitu lembut ketika disentuh. Mesin pendingin menyejukkan tubuh di tengah cuaca kota yang panas. Aku mendongak memandangi hotel yang katanya memiliki view kolam renang di atas bangunan dan menampakkan pemandangan kota Surabaya dengan segala kesibukannya. Sembari menunggu Niguel, kuputuskan untuk bermain game pubg sejenak.
Baru saja memulai pertarungan seru, ponselku tiba-tiba direbut oleh sebuah tangan besar. Aku mendongak ingin protes, namun semuanya lenyap begitu saja ketika di depanku sosok Niguel berdiri. Kaus hitam yang melekat erat di tubuhnya membuat Niguel terlihat begitu seksi. Seketika itu pula, pikiran m***m menjalari otak dengan jemariku begitu gatal ingin membelai dan menggelitiki d**a Niguel dan mungkin aku ingin mendengar detak jantungnya. Aku membayangkan pasti menyenangkan bisa melakukan hal itu padanya.
"Niki?" Suara Niguel membuyarkan imajinasiku.
"Hah? Apa?"
Kedua alisnya naik sebelah membuatku salah tingkah. Aku terkekeh sambil menggaruk kepalaku. Dalam hati, aku merutuki diriku sendiri mengapa masih bisa membayangkan hal aneh di depan orang baru.
tapi, dia kan bukan orang yang baru kau kenal.
"Hey, what's wrong with you?" Niguel menyentuh daguku, semua sel saraf seketika mati bersamaan.
Kugelengkan kepala dengan cepat sambil melepaskan tangannya yang masih setia memegang daguku. Ya Tuhan, Jika seperti ini, aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dengan jernih.
"DOn't touch me!"
Kali ini Niguel yang tertawa seraya memeluku bahuku. Mataku membelalak, irama jantungku semakin tak karuan. Aku yakin saat ini mukaku begitu merah seperti udang rebus.
"Te amor, Mi Novia," ucap Niguel membuatku menganga.
"Hah? Apa? Novia? Siapa tuh Novia? Cewek mana, hah!" cerocosku dengan kesal.
Niguel tertawa terbahak-bahak membuat orang-orang memandangi kami. Kutampik tangannya di bahuku dan berjalan cepat meninggalkan lelaki kampret itu.
"Sono pergi sama Novia!" seruku yang disahuti oleh panggilan Niguel.