Bab 9

1384 Words
Do you forget about me?" Kalimat itu terdengar hingga ketiga kalinya membuat alam sadarku kembali. Mendadak telingaku berdengung dan kepala terasa pusing. Tapi tidak dengan pacu jantung yang berdegup tidak karuan membuat aliran darah di setiap pembuluh darah mengalir begitu cepat. Ada sensasi panas di wajahku kala mengingat suaranya. Dewi batinku berteriak ingin mengatakan bahwa sisi lain dari diriku merindukan sosok itu. Meski dia menipuku. Kulirik Randy yang menatapku dengan penuh selidik. Aku segera bangkit dari tempat dudukku untuk mencari privasi selain tidak memancing emosi pria cantik itu. Di bawah pohon mangga yang tidak jauh dari tempat kami duduk,  aku memalingkan diri menghindari Randy yang masih menatapku dengan alisnya yang berkerut. "Niki?" suara itu kembali memanggilku. "Apa yang kamu inginkan dariku?" ucapku dengan bahasa Indonesia dan suara setengah berbisik. "Belum puaskah dirimu membohongi aku?" "Aku ... tidak bermaksud seperti itu," ucap Niguel dengan bahasa Indonesia yanh terdengar sangat cadel di telingaku. "Aku.... " "Kamu apa? Siapa dirimu sebenarnya? Kamu minta uang? Maaf,  aku cuma anak pensiunan yang mengandalkan gaji Ayah yang tidak seberapa banyak dibandingkan caramu merampok semua perempuan," sindirku dengan nada sedikit tinggi. "Ck! Demi Tuhan, aku tidak melakukan itu,  Niki!" seru Niguel. "Baik,  I was wrong,  and I'm really sorry,  okay." "How could you say  so easily like nothing happened?" "What should I do to make you forgive me? You wanna meet me and say sorry to you?" Aku terdiam cukup lama tuk menafsir apa yang aku inginkan. Terlalu sakit melihat apa yang dilakukannya padaku,  tapi aku pun masih ingin mendengar penjelasannya secara langsung tanpa melalui telepon seperti ini. Tapi,  siapkah diriku bertemu dengannya lagi? "Niki,  say something please." "I don't know.  You make me so hurt,  Niguel. I trusted in you before,  but now ...." "Aku paham," ucap Niguel. "Kamu takkan percaya sebelum kubuktikan semua identitasku,  bukan? Oke,  i'll come to you next week." Sambungan terputus sepihak bahkan sebelum aku membuka suara. Kupandangi layar ponselku dengan pikiran berkecamuk. Jika aku bertemu dengannya,  apa semua egoku akan runtuh atau justru egoku akan meledak karena dia menipuku? Tapi kau merindukannya,  Niki. Jangan lupakan itu! Kau membencinya tapi kau merindukannya di saat bersamaan! Ya Tuhan, apakah aku terlalu munafik? #### Sebisa mungkin aku tidak memegang ponsel atau menghidupkan sinyal internet dalam seminggu ini.  Meski pada akhirnya aku tertinggal berita kampus jikalau Randy tidak mengirimiku pesan atau telepon dengan nada marah-marah. Kukatakan padanya bahwa aku tidak memiliki uang untuk membeli kuota meski semua itu bohong. Aku tidak mau Randy tahu bahwa Niguel akan datang dalam minggu ini. Usai jam kuliah Endokrin, aku bergegas keluar kelas menuju perpustakaan. Selain tuk menenangkan diri,  aku juga menghindari Randy yang terus memborong pertanyaan semenjak kami berdua pulang dari Pacet. "Kamu telepon sama siapa tadi? Kok jadi muram gitu?" "Bukan dari si bule kampret, 'kan?" "Tumben kamu nggak punya kuota,  biasanya kan kamu on terus." Di dalam perpustakaan yang lumayan lengang, aku memilih meringkuk di sudut rak berisi kumpulan buku tentang Kode Etik Keperawatan. Kuambil salah satu buku sekadar mengalihkan tanganku yang begitu gatal ingin membuka akses internet. Bayangan wajah Niguel yang berkacamata bulat berwarna hitam saat kutemui di HOS menari-nari di pikiran membuat tubuhku merinding. Kutelan saliva sambil menggeleng, sungguh jika aku bertemu dengannya aku tidak tahu harus apa dan bagaimana. Mengingat pertemuan kami tidak berjalan begitu baik. Sejenak, kupandangi langit-langit perpustakaan yang bercat putih bersih dengan lampu LED yang cukup terang. Jika kumatikan semua akses internet, bagaimana Niguel bisa menemukanku? "Emangnya dia bakal datang? Paling cuma akal-akalan dia doang," gerutuku. "Lagian dia juga nggak tahu di mana rumah sama kampusku." Tiba-tiba ponsel dalam saku seragam kampusku bergetar membuatku kaget bukan main. Beberapa anak menoleh tak suka dan salah satu petugas menegurku untuk tidak berisik di perpustakaan. Dengan cepat kurogoh benda kotak buatan Cina itu lalu mengernyit ketika ada nomor tak dikenal sedang memanggil. Kujawab panggilan dari nomor misterius dengan ragu,  takut jika ada penelepon gelap minta pulsa. "Halo, Kapolsek Wonocolo ada yang bisa dibantu?" ucapku asal. "Niki?" Suara yang tak begitu asing di indera pendengaran membuat kedua alisku mengerut. Kupandangi layar ponsel menatap nomor tak dikenal itu masih di sana dengan waktu panggilan yang masih berjalan. "Serius,  ini siapa?" tanyaku dengan tangan gemetaran. Entah kenapa rasa parno akan sosok Niguel menghantui diriku. Bisa jadi kan dia tiba-tiba datang ke Surabaya tanpa aba-aba?  Sambungan tiba-tiba terputus dari si penelepon misterius.  Udara mendadak berubah menjadi panas hingga bulir keringat membasahi dahi.  Kupandangi nomor itu di daftar panggilan terakhir. Haruskah aku menyalakan akses internetku? ### "Niki!" teriak Randy ketika aku melangkah cepat menuju parkiran motor. Kuabaikan suara sedikit cempreng milik Randy karena yang kuinginkan hanyalah sampai di rumah dengan selamat. Aku masih parno jika telepon tadi siang adalah suara Niguel yang kini berada entah di mana. Aku juga parno jika tiba-tiba Niguel muncul secara ajaib di mana pun bahkan jika dia muncul di gerbang kampus, pasti bakal membuat kehebohan banyak pihak. "Nik!" Aku hampir jatuh ke belakang ketika tangan Randy menarik tasku.  Aku mendecak kesal sambil berkata, "Apaan sih! Nggak tahu apa aku lagi dismenorrhoe!" "Enggak, kan aku nggak punya rahim, cuma punya ot-" Kutampar bibir merah Randy dengan tangan kanan ketika dengan santainya dia berbicara m***m di depanku. "Udah ah,  aku mau pulang!" ucapku sambil menyalakan mesin motor. "Pulang apa nemuin si bule kampret?" kata Randy dengan setengah teriak di antara suara deru mesin motorku. Detik itu juga tubuhku lemas seperti tak bertulang. Bahkan rasanya untuk menahan setir motor saja hampir tak kuat jika Randy tidak menepuk bahuku untuk kembali ke alam sadar. Sungguh,  Niguel lebih cocok menjadi agen FBI daripada sekadar seorang scammer yang meminta uang. Aku tidak pernah memberitahu kenalanku di mana kampus dan rumahku,  tapi kenapa yang satu ini bisa begitu mudahnya? "Sorry , Ran. Aku harus pergi dulu." Kutinggalkan Randy yang mematung di parkiran sebelum dirinya mengucapkan kalimat atau sumpah serapah karena aku masih berhubungan dengan Niguel. Ah,  persetan dengan bule berdarah campuran itu! Seperti nektar yang sedang dikerumuni banyak lebah,  sosok menjulang tinggi yang dibalut dengan kaus dan jaket jeans serta celana jeans hitam begitu menarik perhatian banyak perempuan. Sosok itu berdiri di bawah pohon rambutan membuat dirinya lebih cocok menjadi penunggu dengan balutan wajah tampan. Sosok itu tersenyum sambil melambaikan tangan kanan dan tersenyum tipis meski kedua matanya dibalut kacamata hitam yang sama persis ketika kami bertemu di HOS. Hal itu membuat beberapa perempuan yang nampak asyik berkenalan serempak menoleh ke arahku. Beberapa di antara mereka terkejut sambil mengucapkan umpatan. Aku tidak berani turun dari jok motorku yang berjarak sekitar dua puluh meter dari dirinya.  Hingga Niguel memilih menghampiriku dengan langkah begitu anggun bak model majalah pria.  Aku memilih memandang objek lain ketika tatapannya mengunci diriku serta merasakan auranya begitu menghujam bagai seribu anak panah yang ditusuk bersamaan di d**a. "Kapolsek Wonocolo, apa kabar?" godanya sambil membuka kacamata hitamnya. Mau tak mau kutatap iris mata itu yang ternyata makin membuat tubuhku luluh. Jika aku tidak ingat akan kesalahannya, mungkin saat ini juga aku pasti memuji iris mata abu-abu yang begitu bercahaya diterpa sinar matahari sore. "Kenapa kamu di sini?" ucapku dengan nada angkuh meski dalam hati ingin melompat-lompat seperti orang kesetanan. Pria dengan bingkai mata yang begitu lentik dan alis tebal hanya tersenyum yang lagi-lagi membuatku makin leleh tidak karuan. Berulang kali mengumpat dan mengucap sumpah serapah dalam hati,  agar tidak terlihat begitu murahan di depan Niguel. Aku benar,  'kan? "Seperti yang kukatakan minggu lalu," ucapnya seraya mensejajarkan pandangannya padaku. Kulihat pantulan diriku di kedua pupilnya yang berkilauan dengan aroma napas berbau mint serta parfumnya yang begitu maskulin. "Aku ingin meminta maaf padamu, Niki.  Aku tidak bermaksud berbohong padamu." "Oh,  jadi cuma itu kamu datang ke sini?" teriak Randy membuat kami menoleh bersamaan ke arahnya. "Gila ya! Penipu tetap penipu!" Niguel menegakkan tubuhnya sambil menatap Randy dengan tatapan yang siap mengibarkan bendera perang. Kuputuskan untuk menarik tangan kanan Niguel lalu berkata, "Kita pergi dari sini,  Niguel. Aku tidak mau ada pertengkaran di sini." "Kamu masih mengharapkan dia ketika dia menipu kamu?" tanya Randy kepadaku dengan ekspresi marah hingga wajahnya memerah. Kukatupkan bibirku tidak tahu harus bagaimana. Yang aku inginkan juga tidak sampai seperti ini,  tapi aku butuh kejelasan secara langsung  dan Niguel sanggup menemuiku. Jadi,  apakah aku salah? "Maaf, Ran. Aku harus menyelesaikan apa yang telah aku mulai. Tidak semua ego yang kumiliki ini harus menang." Kuisyaratkan Niguel untuk duduk di jok belakang motorku. Randy berlari ke arahkun namun dengan susah payah aku melajukan motor yang membawaku dan tubuh besar Niguel ke Taman Bungkul. "Sekarang urusanmu denganku, Niguel Adam Jancukman!" seruku dengan kecepatan tinggi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD