Setelah memutuskan memblokir nomor Niguel dan menghapus akun online dating. Hidupku rasanya tak lagi sama, aku tidak mencoba mendramatisir keadaan tapi kehilangan orang yang baru menelusuk hati seperti kehilangan separuh nyawa. Belum sempat memiliki namun sudah patah hati. Kadang aku bertanya kepada Tuhan, apakah aku pernah menyakiti hati orang lain hingga Niguel tega memberikan identitas palsu kepadaku.
Kupejamkan mata menikmati belaian angin sore di jembatan Kenjeran seraya memandangi laut yang surut. Jika kenangan yang diciptakan olehnya bisa surut seperti air laut, ingin rasanya aku melepas semua rasa dilema yang menggerogoti diriku. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, ada secuil rasa rindu yang mencoba meraba-raba apakah masih ada harapan di ujung kebohongan yang diciptakan Niguel di sana.
Air mataku kembali menetes dengan isak tangis yang sungguh berat di d**a. Inginku berteriak sekeras mungkin, tapi semua itu takkan mengembalikan kepercayaan yang sudah dihancurkan Niguel dengan begitu baik.
"Jadi kamu di sini?"
Kuputar kepalaku ke belakang tuk melihat si empunya suara. Sosok bertubuh kurus dengan mata sipitnya tersenyum kecut kepadaku. Dia melangkah dan menepis jarak di antara kami. Sedangkan aku menunduk merasa sangat malu bahwa kemarin aku tidak mempercayai semua firasatnya.
Tangan kanannya terulur menarik daguku. Kedua iris mata kami bertemu. Kugigit bibir bawahku yang gemetaran tak mampu menahan rasa kesedihan yang mendalam. Tak banyak kata, dia menarik tubuhku ke dalam rengkuhannya dan seketika itu pula dinding pertahananku hancur.
Semilir angin sore kala itu menjadi saksi bisu antara aku dan Randy. Tak ada yang menyela dan tak ada yang mengakhiri. Kupeluk erat tubuh kurusnya sambil sesekali mengumpat tentang kebodohanku yang begitu mudah percaya pada orang lain.
"Aku g****k ya, Ran," kataku sesenggukan.
"Iya."
"Aku buta ya, Ran."
"Iya."
"Aku jahat ya, Ran."
"Enggak," kata Randy. "Cuma lelaki bodoh yang membuat perempuan baik dan cantik seperti kamu menangis."
Aku mendongak menatap wajah Randy yang sedikit memerah. Jika seperti itu, artinya pria itu sedang menahan amarah yang sangat mendalam.
"Tapi aku Cinta dia," ucapku membuat Randy menatapku tajam.
"Jika dia benar-benar mencintaimu, harusnya tidak pernah menggoreskan satu luka di hatimu, Nik. Tapi, kebanyakan orang rela menangis dan patah hati karena Cinta yang telah membutakan logika mereka."
Bibirku membisu tak dapat membalas kalimat Randy. Dia sepenuhnya benar. Harusnya Niguel tidak membuatku menangis, harusnya dia membuatku bahagia, harusnya dia jujur bukan malah membuat sebuah kenyataan palsu seperti ini.
"Hapus air matamu, Nik. Belum tentu dia melakukan hal yang sama padamu."
Kedua jempol Randy menghapus jejak air mataku yang telah mengering di pipi. Seulas senyum tipis terukir di bibir tipisnya.
"Maafin aku, Ran. Udah nggak percaya sama kamu," kataku dengan rasa penyesalan.
Randy menggelengkan kepalanya lemah. "Nggak usah minta maaf. Yang penting jangan galau lagi, nggak enak liat kamu kayak mayat hidup. Hidup segan mati tak mau."
Bibirku mengerucut. Kami berdua tertawa bersama sambil saling mencubit pinggang. Sesekali Randy berteriak kencang karena titik kelemahannya berada di ketiak.
"Dasar botol kecap!" seru Randy.
####
Hari ini hari terakhir aku praktik di rumah sakit. Selesai ujian prasat rawat luka steril, aku segera menemui Randy. Kebetulan kami sama-sama turun jaga malam. Pria cantik itu bilang, bahwa untuk menghilangkan semua dilema yang melanda diriku, aku harus menceburkan diri di air terutama pemandian air panas di daerah Pacet.
Kulambaikan tangan kanan ketika Randy menungguku di parkiran motor. Ternyata dia sudah mengganti seragam praktiknya dengan kaus berwarna kuning menyala kesukaannya, celana pendek, dan sandal. Jika seperti ini, Randy tidak terlihat seperti anak kuliahan.
"Bawa baju ganti nggak?" tanyanya dengan antusias. "Tadi gimana ujiannya?"
"Aku bawa kaos tapi aku ganti di sana aja deh. Ujianku ya gitu-gitu aja, cuma aku lupa pas ditanyai tentang macam dressing."
"Emang kamu lupa bagian mana?"
Aku memutar bola mata sambil memanyunkan mulutku. "Udah ah, lupain. Aku males bahas ujian." kuraih helm berwarna pink yang menggantung manis di kaca spion motor Randy kemudian memakainya.
Randy mendecak lalu dia menghidupkan mesin motornya. Sejenak dia menoleh padaku yang duduk di belakangnya. "Peluk pinggang nggak?"
"Najis!"
"Lah kemarin kita udah pelukan," godanya membuatku malu setengah mati. "Masa sekarang enggak."
Kucekik lehernya dari belakang membuat Randy terbatuk-batuk sambil merintih memohon ampun. Aku tidak peduli ketika ada jejak merah yang membekas di leher jenjang teman paling menyebalkan itu.
Sepanjang perjalanan menuju Pacet dengan jalanan yang meliuk-liuk, Randy lebih banyak bercerita tentang kegiatan selama praktik. Dia bilang bahwa ada satu perempuan dari kampus lain yang suka sekali dekat dengan Randy. Bahkan anak perempuan itu tidak segan membawakan Randy bekal makan atau snack ketika pria bermata lentik itu sedang naik jaga. Aku tertawa terbahak-bahak ketika Randy begitu terlihat tidak menyukai anak itu. Padahal cinlok dengan anak kampus lain juga menguntungkan, bukan?
"Di dunia ini, ada dua jenis laki-laki. Kalau nggak b******n kayak Niguel, bisa jadi homo kayak kamu," ejekku membuat Randy mengumpat.
"Sembarangan aja. Aku masih doyan perempuan, kanebo kering!" gerutunya. "Cuma aku lagi males aja deket sama perempuan selama kuliah kayak gini. Bikin nggak konsen."
"Halah bilang aja kamu emang homo."
"Sekali lagi bilang gitu, aku turunin kamu di jalan nih," ancamnya dengan mulut mengerucut.
"Iya-iya, maaf, Randy zheyeng."
####
Pemandian air panas Padusan yang berada di salah satu kecamatan di Mojokerto ini memang selalu menjadi tempat kami berdua melepas penat. Berlatar belakang gunung Welirang, kolam yang mengandung sulfur ini juga dikelilingi oleh banyak pepohonan yang menjulang tinggi seolah ingin menggapai langit. Udara yang selalu dingin dengan langit yang terlihat mendung tidak membuatku urung tuk menceburkan diri ke dalam pemandian itu.
Lumayan kan mandi air panas yang mengandung sulfur di sini bisa menghilangkan penyakit terutama penyakitku yang terlalu menggilai Niguel.
Kucoba mencelupkan jemari kakiku untuk merasakan suhu air kolam. Hangat. Namun, tiba-tiba seseorang mendorongku dari belakang membuatku jatuh ke kolam. Kudengar samar-samar suara tawa yang begitu keras membuatku ingin sekali melempari makhluk menyebalkan itu dengan sepatu.
"Randy kampret!" umpatku sambil terbatuk-batuk karena ada air yang tidak sengaja tertelan.
Pria kerempeng itu masih saja tertawa. Lalu dia ikut menceburkan diri ke kolam dan menyirami wajahku dengan air kolam.
"Musnahlah kebucinan Niki. Jangan biarkan dia g****k, jangan biarkan dia nangis kalau nangis Papa nggak punya s**u," ucapnya seperti sedang meramalkan mantra. "Musnahlah, musnahlah."
Beberapa orang yang berada di dekat kami tertawa. Si kampret itu memang selalu bisa membuatku malu di depan banyak orang. Kubalas perbuatannya dengan menyelam di kolam dan menarik celana kolornya membuat pria itu berteriak nyaring mirip LL.
"Nik, kalau mau liat ya jangan di sini, di villa aja yuk!" serunya membuatku menjambak rambutnya merasa jijik.
"Amit-amit punya temen gila kayak kamu."
Disela-sela candaan itu, dalam hati sebenarnya rasa dilema dan galau itu perlahan hilang. Rasanya kehidupanku akan normal kembali seperti sebelum aku bertemu Niguel. Kupandangi sekeliling yang mulai ditutupi kabut sambil menarik napas dan pikiran melayang kepada sosok pria bule itu. Sisi lain dalam diriku bertanya-tanya apakah setelah kublokir dirinya, dia akan mencariku? Atau dia hanya diam saja? Namun sisi lainnya berkata bahwa Niguel bisa jadi melakukan salah satu di antara dua pilihan itu.
Jika dia menemuimu, apa yang akan kamu lakukan?
Aku menggeleng tidak tahu. Hatiku begitu hancur melihat dia membohongiku. Kalau pun dia berusaha menemuiku, mungkin rasa yang pernah ada dulu akan sedikit berbeda. Tapi aku tidak yakin.
"Masih mikirin dia?" sahut Randy membuyarkan lamunanku.
Kuangkat kedua bahuku dengan malas. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Sebenarnya, apa yang kamu harapkan ketika mengenal Niguel?"
Kutatap manik mata Randy dengan lekat dan mengulang kalimat itu dalam hati. Tak banyak yang kuharapkan dari hubunganku dengan Niguel karena sejak awal pun aku hanya ingin berteman.
Meski berakhir dengan sebuah rasa.
"Aku ... cuma butuh kepastian," ucapku dengan lirih.
"Tapi kamu ragu dengan dirimu sendiri, Nik. Kamu ingin bersamanya tapi kamu tidak yakin. Kalau sejak awal kamu tegas dengan perasaanmu, mungkin kamu tidak akan sesedih ini."
"Apa benar akan seperti itu?"
Randy mengangkat kedua bahunya lalu naik dari kolam untuk mengeringkan diri. "Hanya kamu yang tahu. Aku hanya memberi saran. Ayo, pulang, keburu malam. Nanti Mama kamu bisa marah sama aku."
Randy melangkah mendahuluiku menuju toilet pria untuk ganti baju. Kupandangi punggung mulus pria itu dengan sejuta pertanyaan yang tidak berujung sebuah jawaban. Kugelengkan kepala sambil membasuh wajahku dengan air kolam yang hangat.
"Lupakan Niguel, Niki. Kamu harus tegas dengan perasaanmu," ucapku meyakinkan diri.
####
Setelah selesai membersihkan diri, kami memutuskan untuk membeli bakso bakar yang dijual oleh penduduk lokal di sepanjang jalan. Kepulan asap yang dihasilkan arang untuk membakar bakso membuat aroma khas yang menggelitik indera yang membuat perut semakin lapar. Randy datang dari sisi kiriku sembari membawa segelas teh hangat. Aku menerimanya sambil tersenyum.
Kami berdua duduk beralaskan tikar yang disediakan penjual dengan meja-meja berukuran 1x1 meter berbahan plastik. Sepanjang mata memandang banyak sekali penjual makanan seperti ini namun ada juga yang menjual jagung bakar, sempol, sosis bakar hingga mie ayam. Laki-laki berjaket kulit membawakan dua piring berisi bakso bakar yang telah dibumbui dengan kecap dan sambal kacang.
"Makasih, Pak," kata Randy. "Makan dulu, Nik, laper tahu nggak ngasih kamu wejangan terus."
Aku mencibir sambil mencomot bakso bakar. Kemudian, aku teringat dengan ponselku yang hampir tidak kusentuh seharian ini. Ada banyak sekali chat yang masuk dengan lima panggilan tidak terjawab. Belum sempat melihat nomot panggilan tak dikenal itu, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk. Kedua alisku bertaut ketika nomor itu nomor kantor tapi bukan kode telepon Surabaya.
"Halo?" ucapku.
Tapi tidak terdengar suara apapun dari seberang sana.
"Halo, ini siapa?" ucapku lagi. "Nggak usah usil deh jadi orang."
"Do you forget about me?"