Hari seminar besar pun tiba. Tepat pukul delapan pagi, sekitar 32 orang mahasiswa yang masuk dalam kelompok ruang penyakit dalam berkumpul di ruang rapat di lantai dua rumah sakit. Beberapa anak nampak sibuk menyiapkan peralatan untuk presentasi termasuk menata komsumsi di depan pintu masuk, membagi beberapa tumpuk fotokopi makalah untuk kelompok lain, serta mengecek mikrofon.
Sedangkan aku, duduk menyendiri di sudut kanan belakang ruangan sambil menutupi kepalaku dengan jaket. Aku sungguh tidak bersemangat selama beberapa hari ini. Bahkan ketika temanku si medusa itu menyuruhku presentasi lagi, dengan emosi tinggi kutolak perintahnya. Kami berdua hampir terlibat adu mulut kalau Reza tidak melerai kami berdua.
Kutarik napas dalam-dalam sambil memejamkan kedua mata. Hubunganku dengan Randy sekarang juga tidak baik. Terakhir aku berbicara dengannya di parkiran sekitar tiga hari lalu. Dia tidak mengucapkan maaf pun tidak menyapaku ketika bertemu. Seharusnya aku yang marah padanya, kenapa dia malah balik marah padaku? Apa aku egois? Tolong tampar jika aku salah.
"Kamu tengkar sama Randy?" tanya Anya ketika aku bertemu dengannya di depan ruang penyakit dalam.
"Iya, kenapa?" ucapku dengan tatapan menantang. "Salah dia sendiri suka ember."
"Dia mencoba melindungi kamu. Dia tahu kamu bakal kayak gini, Niki."
"Emang aku kenapa? Toh, yang lagi bucin juga aku bukan Randy."
"Justru itu," kata Anya lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan sebuah foto seorang lelaki berkacamata yang benar-benar tak asing. "Kamu masih inget dia?"
"Darimana kamu dapet foto itu?"
"Nanti kamu bakal tahu. Aku cuma pengen kamu jawab, kamu masih inget dia?"
Aku tak mampu menjawab karena terlalu malas mengatakan bahwa aku masih ingat si darah campuran aneh bernama Adam Jackman. Kulirik foto itu, wajah lelaki yang sedang tersenyum lebar itu seolah sedang mengolokku.
"Bagaimana jika Niguel yang kamu puja adalah orang yang tidak kamu harapkan? Bagaimana jika---"
"Kamu kok gitu sih! Jelas-jelas mereka beda, Anya!" sungutku.
"Kamu menolak karena takut bahwa mereka sama kan? Atau kamu perlu melihat rekaman video wawancara kita lalu bandingkan dengan Niguelmu dan foto ini. Mereka adalah orang yang sama, Niki."
Mengingat percakapanku dengan Anya hanya membuatku semakin dilema. Anya akhirnya memberiku sebuah flashdisk berisi rekaman video wawancara kami di HOS. Jujur saja, aku tidak pernah meminta hasil rekaman itu karena malu setengah mati. Namun, mengingat ini semua berhubungan dengan Niguel sepertinya dengan terpaksa aku harus melihatnya.
Tapi, aku takut. Belum sempat memiliki sudah patah hati lagi, batinku menangis.
####
Setali tiga uang dengan Niguel. Pria itu tidak membalas pesanku hampir tiga hari ini. Terakhir dia online di w******p pukul dua pagi yang artinya pukul sepuluh malam di Dubai. Hatiku semakin resah pikiranku semakin kalut. Benarkah Niguel berbohong? Lalu kenapa dia tega mempermainkan hatiku seperti ini? Kenapa pula dia begitu mahir membolak-balik hatiku bagai dadu?
Kutatap layar laptopku yang menampilkan folder berisi video wawancara kelompok. Sambil menggigit bibir bawah, jemari kananku meng-klik folder itu dan memutar videonya. Kedua mataku fokus pada sosok Adam Jackman yang entah mengapa pandangannya hanya tertuju pada kamera. Sesekali dia tersenyum sembari menopang dagunya dengan tangan kiri. Selama video berlangsung, Adam tidak banyak bicara hingga menit 12.10 di mana dia menunjuk diriku.
Kutajamkan indera pendengaranku sambil memutar ulang adegan itu. Satu kali, dua kali hingga kelima kalinya kuulang adegan itu. Suara Adam benar-benar mirip dengan Niguel, cepat-cepat kubandingkan voice note Niguel dan memutarnya berulang-ulang. Seketika itu pula rasanya tubuhku meluncur ke dasar bumi hingga hancur berkeping-keping. Kedua tanganku gemetaran dengan peluh membasahi dahi. Aku menggeleng keras berusaha meyakinkan diri bahwa Adam Jackman bukanlah Niguel. Karena semua orang bisa memiliki beberapa ciri fisik yang sama, aku yakin itu.
Lalu kubuka foto kami di sebelah file video itu. Adam Jackman dengan kacamata bulat hitamnya serta senyum begitu lebar. Kuteliti sosok jangkung itu hingga ke aksesoris yang dipakainya. Dia memakai jam tangan hitam di tangan kiri, rambut halus menghiasi rahangnya, alis tebal yang begitu tegas, gaya rambut tebalnya yang sedikit berantakan, serta tato yang terukir di tangan kanan. Kubandingkan lagi foto itu dengan foto profil w******p Niguel dan akun online dating miliknya.
Aku merasakan tubuhku yang di dasar bumi kini melayang entah ke mana. Pikiran dan hatiku serasa dihantam ribuan panah hingga rasanya dadaku begitu sakit. Kepalaku mendadak sangat pening hingga rasanya ingin pecah. Dadaku naik-turun ketika oksigen di sekelilingku mendadak menipis bersamaan dengan kristal bening yang meluncur deras membasahi pipi.
Dia berbohong padaku.
Lalu dia siapa?