Sekitar pukul empat pagi, ponselku bergetar membuat diriku yang sebelumnya sempat terlelap menjadi siaga. Kulihat nama Niguel di layar ponsel sedang memanggilku. Refleks aku berlari menuju kamar mandi yang berada di sebelah ruang istirahat perawat. Sembari berjongkok di belakang pintu, kujawab panggilannya dengan senyum yang mengembang.
"Hei," sapaku setelah mendengar suaranya.
"Hi, sorry, for calling you this early morning."
"It's okay," jawabku sambil menguap. "What's wrong? Do yo miss me, huh?"
Dari seberang Niguel terkekeh. "I always miss you, little girl. Hey, how was your day?"
"It's bad. I have to look for some journals and so lazy to translate in Indonesian. How abou you?"
"Everything was fine. I just tired right now."
"Need a hug?"
"Yes, i really need it."
"I wish you were here."
"I wish that too. I want to meet you little girl, like... "
"Like what?"
"Nothing."
Aku mengerutkan alis saat Niguel kembali terdiam cukup lama. Entah mengapa aku merasakan dia menyembunyikan sesuatu dariku.
"I'll wait for you," ucapku pada akhirnya.
"I know. You should sleep right now."
Memutar bola mataku ingin rasanya nyemil tembok. Ini sudah pukul setengah lima dan aku masih di rumah sakit. Bagaimana bisa dia menyuruhku tidur?
"I'm still at hospital. Do you forget?"
Niguel terkekeh lagi. Kali ini suaranya membuatku merasa benar-benar tak asing. Haruskah aku menanyakan padanya dia memiliki saudara kembar atau suaranya memang jenis suara yang banyak ditemui di pasaran?
"Niguel."
"Yes."
"Do I ever meet you before?"
"Why?"
Aku menggeleng meski Niguel tak bisa melihat ekspresiku. "Nothing."
"I have to sleep, Little girl. See you later. Take care, Sweetie Pie."
"Okay, see you later."
####
Anya datang sambil membawa beberapa buku tebal yang kutebak pasti berisi tentang penyakit anak, saat aku sedang merebahkan kepalaku di atas buku di salah satu meja perpustakaan kampus. Perempuan berambut pendek itu menatapku heran lalu berkata,
"Kenapa kamu?" tanya Anya sambil membuka bukunya.
"Bad mood."
"Kenapa?"
"Nggak tahu."
Anya mencibir lalu dia membaca sekilas bukunya. Sejenak dia kembali menatapku dan berkata, "Kudengar kamu lagi deket sama seseorang ya."
"Pasti si Randy ya?" tanyaku sambil menopang dagu dengan tangan kiri. "Dasar ember bocor."
"Kenapa kamu percaya aja sama orang yang nggak pernah kamu temui?"
"Emang kenapa?" tanyaku.
"Jadi perempuan jangan terlalu percaya, Nik. Lagian kamu yakin sama dia?"
"Yakin."
"Gimana jika orang yang kamu suka sekarang adalah orang yang nggak pernah kamu harapkan?"
"Maksudnya?" ucapku sambil menatap Anya dengan lekat.
"Nanti kamu bakal tahu," kata Anya dengan tatapan penuh arti seraya beranjak dan meninggalkanku.
Sedangkan aku hanya bisa melihat punggung temanku itu menghilang di balik pintu masuk perpustakaan. Lalu, kuambil ponselku dan menelepon Randy. Aku yakin pria cantik itu mengadu pada Anya yang tidak-tidak.
Panggilan yang Anda tuju sedang berada di luar service area....
"Hah? Tumben!" seruku membuat beberapa anak menoleh tajam kepadaku.
Aku segera berdiri sambil menaruh kembali buku penyakit dalam ke rak di depanku. Entah mengapa rasanya begitu aneh mendengar penuturan Anya. Aku juga merasa aneh dengan percakapanku bersama Niguel tadi subuh. Tapi, semakin kupikir akan, semakin tidak menemukan benang merahnya.
Ah, sekali punya gebetan aja banyak yang julid.
#####
Kegiatan praktek untuk mahasiswa yang mendekati semester akhir memang menguras banyak tenaga. Belum lagi kendala intern dalam kelompok yang hampir setiap hari terjadi. Aku sampai bosan harus berdebat dengan salah satu anggota kelompokku yang begitu egois.
Bagaimana tidak, dia menyuruhku merevisi bab tiga di mana kasus yang kami ambil dibahas secara detail. Eh, ternyata saat kuserahkan padanya, dengan ekspresi datar dan tak bersalah dia berkata padaku,
"Kemarin aku udah konsul sama dosen. Udah aku perbaiki semua. Kamu tinggal print."
Sumpah demi apapun di dunia ini. Jika ada zat yang bisa menghilangkan anak perempuan berjilbab dengan tubuh bongsor itu dari dunia ini dalam sekejap, aku rela mencarinya meski harus menyelam di segitiga bermuda. Susah-susah merevisi hingga tidak tidur sama sekali, ternyata dia sudah mengerjakannya sendiri. Jika seperti itu, kenapa dia memaksaku untuk merevisi?
Kukatupkan mulutku rapat-rapat ketika dia memberikan sebuah flashdisk biru kepadaku.
"Besok kamu yang presentasi ya," titahnya dengan nada begitu santai.
"Kenapa bukan si Adit aja? Aku kemaren sudah presentasi penyuluhan," tolakku dengan sedikit emosi.
"Ya, kamu kan tinggal baca power point-nya nanti yang jawab pertanyaan juga aku," ketusnya tak mau kalah. "Masa gitu aja nggak bisa?"
Memutar bola mataku sambil mengembuskan napas kasar. Bisakah kusumpal mulutnya dengan alat intubasi supaya tidak asal bicara seperti itu? Atau adakah jasa santet online untuk teman kampret seperti dirinya?
"Iya udah deh," jawabku.
Perempuan berwujud medusa jadi-jadian itu pergi sambil membawa tas ranselnya. Dia berbalik dan menatapku lalu berkata,"Aku sudah mengumpulkan tugas mingguan. Kemaren dosen bilang kalau askepnya selesai segera konsul biar nggak numpuk."
"Duh, iya-iya, bawel!" seruku merasa ingin mengunyah temanku.
"Aku cuma mengingatkan."
####
"Randddyyyy!!!!" teriakku saat bertemu pria kurus itu sedang memarkir motor buntutnya di parkiran belakang rumah sakit.
"Eh, bucin. Kangen ya?" godanya.
Refleks kupukul kepalanya yang masih dibalut helm berwarna kuning menyala. Dia mengaduh lalu mencubit kedua pipiku yang agak tembem seperti bakpao.
"Ini masih pagi, bucin," katanya. "Ada apa sih?" tanya Randy seraya melepas cubitan mautnya.
Kuusap kedua pipiku yang terasa panas. "Kamu ember ya ke Anya! Ngapain sih, Ran. Aku nggak suka ya kamu ember ke anak lain sekali pun itu Anya. Tahu sendiri kan Anya kadang orangnya lambe turah juga."
"Salah sendiri suka sama orang yang identitasnya nggak jelas. Aku kasih tahu kamu ya Nik, kamu dibohongi sama Niguel."
"Apa maksudmu!" seruku tidak percaya. "Jangan ngomong sembarangan ya!"
"Aku nggak sembarangan. Kalau kamu mau marah sama aku silakan, aku nggak peduli. Yang jelas Niguel udah bohongin kamu."
"Nggak usah bikin moodku rusak deh Ran! Kalau kamu bilang gitu harusnya kamu punya bukti kuat. Emang kamu kenal siapa dia? Yang kenal Niguel cuma aku, dan aku yang tahu siapa dia."
"Yakin?" tantang Randy seraya menaikkan sebelah alisnya. "Aku rasa kamu yang termakan oleh rayuannya si bule b*****t itu. Kamu terlalu bodoh!"
"Kamu... " aku terdiam tak sanggup membalas ucapan Randy. Dadaku begitu sesak, air mataku mulai meluncur membasahi pipi sambil menatap Randy yang sama-sama tersulut emosi.
Aku tidak suka keadaan seperti ini. Tapi aku pun tidak suka ada orang yang menghujat hubunganku dengan Niguel.
Apa aku salah?
Apa Niguel salah?
Apa pertemuan yang berakhir dengan Asmara ini juga salah?
"Aku benci kamu, Ran!" umpatku sambil menginjak kakinya dengan sekuat tenaga lalu berlari meninggalkan pria menyebalkan itu.