Bab 5

1058 Words
"Hoi,  bucin kronis!" teriak Randy dengan suara yang memekakkan telinga saat aku keluar dari ruang prodi setelah mengambil buku absen dan log book. Teman paling kampret yang tidak tahu malu itu melambaikan tangan kanannya begitu santai ketika kami berdua menjadi bahan tontonan. Bahkan ada beberapa anak yang menertawakan diriku dengan setengah berbisik membuatku ingin melempari Randy dengan sepatu. Kuhampiri lelaki cungkring bak botol saus sambal itu dengan langkah cepat kemudian melempari wajahnya yang sok ayu dengan buku saku penyakit dalam. Namun, jemari kurus Randy dengan lihai menangkap buku pinjaman dari perpustakaan itu dengan tatapan mengejek. "Emang kamu nggak pernah bucin apa, ngataian aku bucin kronis!" seruku kesal sambil merebut kembali buku saku. "Enggak. Ngapain bucin kalau endingnya patah hati," tanggap Randy santai seraya membenarkan poninya. "Bucin itu bikin kita bodoh selain kebanyakan makan micin." "Ye... Kamu aja yang anti sama cewek. Nanti nggak kawin-kawin baru tahu rasa," ejekku. "Eh,  botol kecap,  kawin itu gampang, nikah yang susah. Tinggal ngajak cewek ke daerah Pacet atau Trawas buat nginep di villa udah beres, 'kan," bela Randy membuatku menimpali mukanya dengan buku lagi. "Mulutnya tolong difilter ya, tutup panci." Randy mencibir lalu dia merangkul bahuku dan berkata, "Besok kamu dapet jadwal apa?" "Malam," kataku dengan nada sedih. "Jadwalku jadwal neraka deh.  Malam, malam,  siang, siang,  libur,  trus pagi." Seketika itu pula Randy tertawa terbahak-bahak. Refleks kuinjak kaki kirinya dengan sepatu pantofel dengan hak runcing tiga senti.  Randy berteriak kesakitan sambil mencekik leherku dengan lengannya membuat wajahku mau tidak mau mencium ketiaknya. Kami berdua seperti sepasang anak aneh yang heboh di koridor kampus. Melebihi kucing dan tikus tapi sayangnya melebihi dari suadara kandung. Kadang aku tidak paham dengan hubungan kami yang lebih dari teman namun kurang dari arti kata kekasih. Randy pun menolak mentah-mentah perempuan yang dulu pernah menembaknya saat di SMA. Padahal jika dilihat sebenarnya Randy juga tampan,  hanya saja mulutnya saja yang tidak bisa disaring seperti dirinya yang selalu mengejekku. "Kamu dapet kasus apa buat minggu depan?" tanya Randy sembari membawaku duduk di salah satu gazebo kampus. Angin sepoi-sepoi berhembus menggoyangkan rambutku yang berantakan karena ulah Randy. Kutatap temanku itu sambil berpikir lalu menatap langit yang begitu birunya seperti laut. "Dapet kasus kompleks. Diabetes mellitus dengan komplikasi gagal ginjal,  anemia,  dan hipertensi." "Mampus!" seru Randy mengejekku kembali. Tuh,  kan,  mana ada teman seperti Randy Budiman yang kelakuannya tidak budiman sama sekali. "Kasus kamu emang apa?" tanyaku balik. Aku berharap dia mendapat kasus anak yang susah supaya aku bisa menertawakan penderitaannya. Pria bermata sipit ala oppa itu terdiam cukup lama. Beberapa kali dirinya memajukan bibir tipisnya hingga hampir mirip platypus. Lalu dia membisikikku dengan suara yang begitu lirih seperti bisikan setan. "HFMD," bisiknya. "Hah?  CFD? Car free day?" "Hand, Foot, Mouth Disease," jawab Randy dengan muka lesu. "Apaan itu?" "Flu Singapura." "Lah kenapa flu aja kok sampe ke Singapura?" "Astaga,  Niki Sarasvati yang kadang nggak waras. Baca buku penyakit anak lah kampret. Jangan baca chat sama doi doang," ketus Randy. Mengingat kata 'doi' refleks tangan kananku mencari ponsel yang hampir tak kusentuh seharian ini. Dan benar saja,  ada lima pesan dari Niguel yang membuat kedua mata bulatku membesar dengan senyum mengembang bak diberi baking powder. Niguel : Good morning, babe Niguel : I see sun rise and feels like seeing your beautiful smile,  Niki Niguel : Are you busy there? Niguel : I'm busy too. But busy thinking of you Niguel : be careful, love "Ih,  sejak kapan ngomong cinta-cintaan gitu," sahut Randy mengintip percakapanku dengan Niguel. "Udah ada dua mingguan sih." "Awas kena scammer," kata Randy. "Gitu aja udah seneng, ngetik cinta-cintaan mah gampang. Tapi kamu nggak tahu dia jujur apa enggak, kan?" "Ih,  apaan sih. Lagian suka-suka aku dong." "Tapi aku nggak suka." "Terserah." ##### Praktik di rumah sakit itu sibuknya seperti emak-emak ngurus rumah tangga. Bedanya kami para mahasiswa sering mendapat panggilan kebangsaan ala-ala senior di ruangan untuk melakukan tindakan ke pasien. Meski kutahu ini kompetensi saat ujianku nanti,  entah kenapa rasanya begitu jenuh. "Dek,  ambilin hasil lab." "Dek, ganti infus." "Dek, pasang infus ya." "Dek,  pasiennya BAB,  nggak ada yang nungguin. Kamu bersihkan ya." Dan masih banyak panggilan 'dek' lainnya. Sekarang,  aku hanya bisa tidur empat jam. Setelah turun jaga malam,  kelompokku menyuruhku untuk konsul ke pembimbing kampus masalah seminar. Dan shift kemarin,  aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena keluarga pasien yang membangunkanku untuk membenarkan infus macet atau sekadar mengganti cairan infus.  Belum lagi aku harus bangun pukul setengah lima untuk mengukur tekanan darah pada dua puluh pasien. Setelah mengukur tekanan darah,  aku harus menyeka dua pasien yang bed rest total.  Jika dilakukan berdua sih enak,  sayangnya di ruangan ini mahasiswanya hanya aku seorang. Jadi rasa lelah bakal sangat terasa. Sambil menguap,  aku menunggu dengan tak sabar di depan ruang dosen. Jika seperti ini,  rasanya aku merindukan satu kelompok dengan Randy. Jika ada dia,  rasanya tugas kelompok menjadi begitu ringan. Tapi kali ini, aku mendapat kelompok yang mengharuskan diriku bekerja ekstra. "Ayo, Nik," kata Bu Irma--dosen pembimbing berkacamata--yang muncul dari balik pintu. "Kamu ambil kasus apa untuk seminar?" Aku duduk di kursi yang sudah di sediakan lalu membuka file berisi kertas print bab dua dan tiga. Kuserahkan file itu kepada Bu Irma sambil tersenyum tipis. "Kami ambil kasus dari kasus saya,  Bu." "Lho,  kok gitu? Kalau kasus seminar ya jangan dipakai untuk kasus pribadi. Besok kasus kamu ganti ya. Kalau kasusnya sama nanti kita nggak bisa belajar hal baru dong." Mampus! "Siap,  Bu." Hampir dua jam lebih aku dan Bu Irma diskusi masalah kasus yang kuambil untuk seminar besar. Bukan hal mudah menjawab setiap pertanyaan dan sanggahan dari dosen,  apalagi jika referensi yang kupakai merupakan referensi tua. Bu Irma pun terkenal sebagai dosen yang suka menggunakan jurnal terbitan luar negeri. Alhasil, saran dari dosen itu mengharuskanku menambahkan beberapa jurnal supaya seminar kami semakin berbobot. "Ya udah, kamu revisi dulu ya sama kelompok, Nik. Mesti banyak yang perlu ditambahi, kalau bisa kamu buat patofisiologi sendiri biar bisa tahu sebab-akibat kasus yang kamu ambil. Jangan asal comot dari buku aja tapi nggak paham maksudnya," kata Bu Irma seraya menyerahkan file tugas seminar kepadaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, Bu." Keluar dari ruang dosen, aku segera mendudukkan diri sembari meneguk air mineral untuk mengembalikan konsentrasiku. Tugasku benar-benar banyak dan aku butuh hiburan. Jika seperti ini, rasanya dipeluk seseorang asyik juga. Kuambil ponselku dari dalam tas. Niguel masih belum membalas pesanku sejak empat jam lalu. Tapi mengingat di Indonesia sudah jam sembilan, sedangkan di Dubai masih jam enam pagi. Mungkin Niguel masih terlelap dalam mimpi. Kutekan voice note lalu berkata, "Niguel! I need you right now!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD