BAB 2

1687 Words
Karpet merah tebal di lorong VIP Velvet Rose Club terasa seperti spons lembab di bawah telapak kaki Laras yang gemetar hebat. Setiap langkah meninggalkan jejak samar di serat halus yang harum campuran mawar merah dan vanila mahal, aroma yang terlalu manis hingga membuat perutnya bergolak. Lampu kristal gantung berderet di langit-langit tinggi memancarkan cahaya keemasan yang lembut, memantul pada dinding beledu hitam ber motif mawar emas yang berkilauan seperti ribuan mata yang mengejek. Di kejauhan, musik dj pelan bercampur tawa wanita-wanita lain dan denting gelas kristal samar-samar menyusup, mengingatkan Laras bahwa ia bukan satu-satunya korban malam ini. Dua pria berpakaian serba hitam menggandeng lengannya dengan cengkeraman tegas tapi terkendali. Dress putih sederhana Laras yang tadi rapi kini kusut di pinggang, beberapa helai rambut hitam panjangnya menempel di pipi basah oleh air mata yang tak henti mengalir. Udara di lorong terasa pengap meski AC menyala dingin, bercampur bau parfum mahal dan asap rokok samar dari ruangan-ruangan tertutup. “Mas… tolong… ini pasti salah paham,” bisik Laras dengan suara lembut yang bergetar, matanya yang bulat dan berbulu mata lentik menatap pria di sebelah kanannya penuh harap. “Laras cuma mau kerja sebagai pelayan. Bibi bilang gajinya dua puluh juta. Bukan… bukan seperti ini. Tolong antar Laras pulang, ya?” Pria yang lebih tinggi hanya melirik sekilas, wajahnya datar tanpa emosi sedikit pun. “Nona, kontrak sudah ditandatangani keluarga Anda. Uang penuh sudah masuk rekening mereka. Dua ratus juta rupiah. Jangan buat keributan di sini, akan mempermalukan semua pihak.” “Dua… dua ratus juta?” Laras terhenti mendadak, kakinya lemas seperti kapas. Ia hampir jatuh jika bukan karena tangan pria itu yang segera menahan bahunya. “Tidak mungkin… Paman bilang hanya dua puluh juta untuk bayar hutang dan biaya hidup. Mereka bilang ini kerja pelayan di klub mewah. Bukan… bukan dijual seperti ini!” Pria yang satunya mendengus pelan, suaranya rendah dan dingin. “Keluarga Anda tahu persis apa yang mereka jual, Nona. Gadis cantik, masih suci, lemah lembut, dan sopan. Itu yang dicari klien VIP malam ini. Madam sudah cek semuanya. Sekarang jalan terus, jangan buang waktu.” Laras menggeleng kuat-kuat, air matanya semakin deras. “Tidak! Laras tidak pernah setuju! Bibi Rina bilang ini kesempatan emas, Viona bilang cuma pelayan. Mereka… mereka bohong! Tolong, biarkan Laras telepon Bibi dulu. Laras mau pulang. Laras tidak mau di sini!” Kedua pria itu saling pandang sejenak sebelum pria yang lebih pendek menjawab dengan nada tak sabar, “Telepon? Keluarga Anda sudah pergi sepuluh menit lalu. Mereka bilang ‘jangan ganggu Laras, biarkan dia kerja dengan tenang’. Uang sudah transfer, kontrak sudah sah. Kalau Anda kabur, mereka yang akan kena masalah hukum dan hutang baru.” Laras merasa dunia berputar. Lorong yang tadinya indah kini terasa seperti terowongan gelap yang menelan harapannya. Ia mencoba menarik lengannya, tapi tenaganya terlalu kecil. “Kenapa mereka lakukan ini? Laras kan sudah kerja keras di rumah. Cuci piring, masak, bersihkan rumah setiap hari. Laras tidak pernah minta apa-apa selain tinggal di sana setelah Papa Mama meninggal. Kenapa… kenapa mereka jual Laras?” Suara Laras pecah menjadi isakan pelan. Salah satu pria itu menghela napas panjang, suaranya sedikit melunak tapi tetap tegas. “Itu urusan keluarga Anda, Nona. Kami hanya menjalankan tugas. Sekarang masuk ke ruang tamu VIP. Klien sudah menunggu.” Mereka mendorong Laras pelan ke depan. Pintu ganda berukir kayu mahoni terbuka, memperlihatkan ruangan lobi VIP yang mewah luar biasa. Lantainya marmer hitam mengkilap dengan urat emas, sofa kulit hitam mengelilingi meja marmer bundar yang di atasnya ada vas kristal berisi mawar merah segar. Lampu dinding berbentuk lilin listrik memberikan cahaya hangat yang kontras dengan udara dingin ruangan. Di salah satu sofa paling pojok, duduk seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluhan tahun, berpakaian jas hitam mahal yang pas di tubuhnya yang masih tegap. Wajahnya dingin, kerutan dalam di dahi dan sekitar mata, tatapannya tajam seperti elang yang sedang menilai mangsa. Di samping pria tua itu berdiri seorang pria muda berusia tiga puluhan, berpakaian serba hitam rapi, wajahnya cuek, ekspresinya hampir tanpa emosi — Damian Voss. Laras didorong masuk lebih dalam. Madam, wanita paruh baya dengan gaun hitam ketat dan rambut disanggul tinggi, langsung menyambut dengan senyum profesional. “Ini dia barangnya, Tuan Alexander. Masih murni, kulit bersih, mata polos. Cocok sekali dengan selera Tuan.” Kakek Alexander Wiratama menatap Laras dari atas ke bawah tanpa ekspresi. Suaranya dalam dan dingin, seperti angin musim dingin. “Dekatkan dia. Biar aku lihat lebih jelas.” Madam mendorong Laras maju dengan lembut. Laras berdiri di depan kakek itu, kepalanya tertunduk, bahunya gemetar. Air matanya menetes ke lantai marmer. “Angkat kepalamu,” perintah Kakek Alexander tegas. Laras pelan-pelan mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Tatapan kakek itu tajam, tapi ada sesuatu di baliknya — penilaian dingin yang tak terbaca. “Siapa namamu?” tanya Kakek Alexander. “Larasati… Larasati Pramudya, Tuan,” jawab Laras dengan suara kecil, hampir hilang. “Berapa umurmu?” “Dua puluh dua tahun, Tuan.” Kakek Alexander mengangguk pelan, lalu menoleh ke Madam. “Keluarganya sudah terima uang?” “Sudah, Tuan. Dua ratus juta penuh. Mereka bilang gadis ini beban rumah tangga mereka sejak orang tuanya meninggal kecelakaan tujuh tahun lalu. Mereka senang bisa ‘melepaskan’ dia dengan harga bagus.” Laras tersentak mendengar itu. “Tidak… itu bohong! Mereka bilang ini kerja pelayan! Bibi Rina memeluk Laras tadi, bilang ini buat bayar hutang dan sekolah Viona. Paman Budi janji aman. Viona bilang Laras paling fresh di sana. Mereka… mereka semua bohong!” Suara Laras semakin keras, campur isak dan amarah yang tertahan. Ia menoleh ke Madam dengan mata memerah. “Bu Madam, tolong hubungi Bibi saya sekarang. Nomornya ada di ponsel Laras. Biarkan Laras bicara dengan mereka. Laras mau tanya kenapa mereka lakukan ini pada Laras!” Madam tersenyum tipis, tak terganggu. “Sayang, mereka sudah pulang. Pamanmu bilang, ‘Laras jangan telepon kami malam ini, biarkan dia menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya’. Mereka bilang kau terlalu naif, selalu percaya orang. Sekarang kau milik klub ini, dan malam ini kau dibeli oleh Tuan Alexander Wiratama.” Laras mundur selangkah, punggungnya menyentuh dinding. “Milik? Laras bukan barang! Laras punya hak hidup! Papa Mama dulu selalu bilang keluarga harus saling jaga. Kenapa Bibi, Paman, dan Viona tega jual Laras ke tempat seperti ini? Mereka keluarga darah Laras!” Kakek Alexander mengamati reaksi Laras dengan tatapan dingin tapi tertarik. Ia melambaikan tangan ke Damian. “Damian, ambil ponselnya. Hubungi keluarganya sekarang. Biarkan gadis ini dengar sendiri.” Damian Voss mengangguk cuek tanpa bicara banyak. Ia mengambil ponsel Laras yang disita tadi dari pria pengawal, mencari nomor Bibi Rina, lalu menghubungkan ke speaker. Nada sambung terdengar. Setelah beberapa detik, suara Bibi Rina terangkat, latar belakang suara mobil yang sedang melaju. “Halo? Siapa ini?” Laras langsung merebut pembicaraan, suaranya pecah. “Bi! Ini Laras! Bi, kenapa kalian tinggalkan Laras di sini? Ini bukan klub pelayan! Ini rumah bordil! Mereka bilang kalian jual Laras dua ratus juta! Bi, bilang ini bohong… bilang Laras bisa pulang sekarang…” Hening sejenak di seberang. Lalu suara Bibi Rina terdengar manis tapi dingin. “Laras… kamu sudah di sana ya? Bagus. Dengar Bibi baik-baik. Kami sudah capek ngurus kamu bertahun-tahun. Makan, minum, tidur di rumah kami, tapi kamu gak pernah bawa uang masuk. Sekarang ada kesempatan bagus, kenapa kami tolak? Dua ratus juta itu cukup buat bayar semua hutang, beli rumah baru, dan Viona bisa kuliah di luar negeri.” Laras menangis tersedu. “Bi… Laras kan sudah kerja cuci piring, masak, bersihin rumah tiap hari. Laras tidak pernah minta uang saku. Kenapa Bi tega? Laras kan anak dari adik Bibi…” Bibi Rina tertawa kecil, suaranya penuh kepalsuan. “Adik? Orang tua kamu sudah mati, Laras. Kami bukan wali resmi. Kamu beban, Nak. Viona bilang kamu terlalu cantik buat cuma jadi pembantu rumah. Lebih baik dimanfaatkan di tempat yang menghargai kecantikanmu. Lagian, di sana kamu dapat tempat tinggal gratis, makan enak, dan mungkin ketemu orang kaya. Siapa tahu kamu beruntung.” Dari belakang, suara Viona menyela, ceria tapi beracun. “Iya, Kak Laras. Jangan nangis gitu. Mbak kan cuma bantu kamu keluar dari kemiskinan. Di rumah kami kamu cuma cuci piring doang. Di Velvet Rose, kamu bisa dapat klien kaya raya. Mungkin dapat suami kaya! Kami lakukan ini buat kebaikan kamu juga, loh.” Paman Budi ikut bicara, suaranya tegas dan kasar. “Sudah, Laras. Jangan bikin drama. Kontrak sudah sah. Kalau kamu kabur, kami yang kena tuntutan. Terima nasibmu. Kerja yang baik di sana, jangan bikin malu keluarga. Besok pagi kami kirim baju-bajumu.” Laras ambruk ke lantai, lututnya menyentuh marmer dingin. “Paman… Viona… kalian keluarga Laras. Darah daging. Kenapa kalian jual Laras seperti barang? Laras takut… Laras tidak mau di sini. Tolong… jemput Laras pulang. Laras janji akan kerja lebih keras di rumah. Laras akan cari kerja tambahan…” Bibi Rina mendengus. “Pulang? Rumah mana? Mulai malam ini, rumah kami bukan rumahmu lagi. Nikmati hidup barumu, Laras. Kami sudah dapat uangnya. Terima kasih ya, kamu berguna sekali di akhirnya.” Telepon langsung ditutup. Nada sambung panjang terdengar seperti tawa setan di telinga Laras. Ruangan menjadi hening. Hanya isakan Laras yang memecah keheningan. Kakek Alexander menatapnya lama, jarinya mengetuk-ngetuk lengan sofa. “Pengkhianatan keluarga darah memang pahit,” katanya dingin. “Tapi itu kenyataan. Gadis, malam ini kau sudah dibeli. Aku bukan pembeli biasa. Aku Alexander Wiratama. Dan aku punya rencana lebih besar daripada sekadar malam di tempat ini.” Laras mengangkat wajahnya yang basah, suaranya lemah tapi penuh keputusasaan. “Tuan… tolong… Laras tidak mau. Laras masih suci. Laras mau pulang…” Kakek Alexander berdiri perlahan, tubuhnya tinggi dan berwibawa. Damian Voss langsung mendekat, siap menjalankan perintah. “Damian, urus dokumen. Gadis ini ikut kita sekarang. Malam ini juga.” Laras mencoba bangkit, tapi kakinya tak kuat. “Tidak… Tuan… Laras mohon…” Ruangan mewah itu terasa semakin sempit. Pengkhianatan keluarga darah baru saja mengikat Laras ke takdir yang lebih gelap — sebuah pernikahan paksa yang akan segera menyusul. Di luar gedung, malam Soreang semakin larut, angin dingin meniup daun-daun pohon di pinggir jalan tol, seolah ikut menangisi nasib seorang gadis lemah lembut yang dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD