BAB 3

1621 Words
Ruangan lobi VIP Velvet Rose Club terasa semakin pengap meski AC berhembus dingin dengan suara pelan yang hampir tak terdengar. Marmer hitam mengkilap di lantai memantulkan bayangan Laras yang ambruk, air matanya menetes membentuk bintik-bintik kecil yang cepat mengering di permukaan dingin. Vas kristal berisi mawar merah segar di meja marmer bundar mengeluarkan aroma manis yang menyengat, bercampur dengan bau asap rokok mahal dan parfum mahal yang menempel di udara. Lampu dinding berbentuk lilin listrik memberikan cahaya keemasan yang hangat, tapi bagi Laras cahaya itu terasa seperti sorotan lampu interogasi yang kejam. Kakek Alexander Wiratama berdiri tegak di depannya, jas hitam mahalnya terjahit sempurna, arloji emas di pergelangan tangannya berkilau samar. Wajahnya yang keriput dalam tetap dingin, mata tajamnya menatap Laras seperti sedang menilai sebuah investasi berharga. Di sampingnya, Damian Voss berdiri diam seperti patung, wajah cuek dan misteriusnya tak menunjukkan emosi apa pun. Madam, wanita paruh baya dengan gaun hitam ketat dan rambut disanggul tinggi, masih tersenyum profesional, tangannya terlipat di depan d**a. Laras mengangkat wajahnya yang basah, suaranya pecah dan gemetar. “Tuan… tolong… Laras mohon dengan sangat. Laras tidak mau di sini. Laras masih suci. Laras tidak tahu apa-apa tentang… tentang tempat seperti ini. Bibi, Paman, dan Viona sudah bohong. Mereka sudah ambil uangnya. Tolong biarkan Laras pulang. Laras akan cari cara lain untuk bayar hutang mereka. Laras janji akan kerja keras.” Kakek Alexander tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Laras lebih lama, jarinya mengetuk-ngetuk lengan jasnya dengan irama pelan. Akhirnya suaranya keluar, dalam, tegas, dan dingin seperti es. “Pulang? Ke mana? Ke rumah yang sudah menjualmu seperti barang murahan? Gadis, kau terlalu naif. Keluargamu sudah jelas. Mereka tidak menginginkanmu lagi. Dua ratus juta sudah masuk rekening mereka. Kontrak sudah sah di mata hukum klub ini.” Laras menggeleng kuat-kuat, tangannya mencengkeram ujung dress putihnya yang kusut. “Tapi… tapi Laras tidak pernah tanda tangan apa-apa! Laras hanya ikut mereka karena dijanjikan kerja pelayan. Bibi Rina bilang ‘kesempatan emas’, Viona bilang ‘lo paling fresh’. Mereka peluk Laras tadi malam, bilang ini buat kebaikan kita semua. Kenapa… kenapa mereka tega lakukan ini pada Laras? Laras kan keluarga mereka!” Madam tertawa kecil, suaranya manis tapi penuh sindiran. “Sayang, di dunia ini banyak keluarga yang melakukan hal lebih buruk demi uang. Kamu beruntung dibeli oleh Tuan Alexander Wiratama. Beliau bukan klien biasa. Beliau pemilik saham besar di beberapa klub eksklusif ini. Malam ini beliau datang khusus mencari gadis seperti kamu — polos, lemah lembut, dan belum tersentuh.” Laras menoleh ke Madam, matanya memohon. “Bu Madam… tolong bicara dengan Tuan. Laras tidak cocok di sini. Laras takut. Laras tidak tahu cara melayani tamu… tamu seperti apa. Laras hanya bisa masak, cuci piring, bersihkan rumah. Tolong… Laras mau pulang ke kampung. Laras rela tidur di gudang lagi, asal tidak di sini.” Damian Voss akhirnya bicara untuk pertama kali. Suaranya datar, cuek, dan misterius, tanpa nada empati. “Nona Larasati, emosi tidak akan mengubah fakta. Keluarga Anda sudah menerima pembayaran penuh. Jika Anda menolak, klub ini akan menuntut mereka atas pelanggaran kontrak, dan Anda tetap tidak bisa pulang. Lebih baik terima situasi dengan tenang.” Laras menatap Damian dengan air mata yang masih mengalir. “Mas… Anda kelihatan baik. Tolong bantu Laras. Laras tidak punya siapa-siapa lagi. Orang tua Laras sudah meninggal karena kecelakaan tujuh tahun lalu. Laras hanya punya Bibi, Paman, dan Viona. Sekarang… sekarang mereka jual Laras. Laras merasa seperti sampah.” Kakek Alexander melangkah lebih dekat. Sepatu kulit mahalnya berbunyi pelan di lantai marmer. Ia menunduk sedikit, tatapannya masih tajam tapi ada kilatan keputusan di dalamnya. “Cukup air mata. Aku bukan di sini untuk menghancurkanmu, gadis. Aku di sini karena aku melihat sesuatu yang berbeda di matamu. Kesucian yang jarang kutemui di tempat seperti ini. Velvet Rose ini memang rumah bordil mewah — lantai bawah untuk tamu biasa, lantai VIP untuk orang-orang berpengaruh. Kamar-kamar di atas dilengkapi tempat tidur king size dengan seprai sutra, kamar mandi marmer dengan bathtub emas, dan balkon yang menghadap lampu kota. Tapi aku tidak membawamu ke sini untuk malam biasa.” Laras mundur hingga punggungnya menyentuh dinding beledu. “Kalau bukan untuk itu… lalu untuk apa, Tuan? Laras takut. Tolong jelaskan. Laras mau mengerti.” Kakek Alexander menghela napas pelan, suaranya tetap dingin dan tegas. “Aku punya cucu. Namanya Arkanendra Wiratama. CEO Grup Wiratama. Dingin, kejam, arogan, dan saat ini sedang hancur karena masa lalunya. Ia butuh seorang istri yang bisa memberinya keturunan. Bukan wanita liar seperti yang biasa ia temui. Aku butuh gadis seperti kamu — lemah lembut, penyabar, dan masih murni. Aku akan membawamu keluar dari tempat ini malam ini juga. Tapi dengan syarat.” Madam menyela dengan senyum lebar. “Tuan Alexander selalu punya cara sendiri. Beliau sudah membayar harga yang sangat tinggi untukmu, Nona Laras. Lebih tinggi dari penawaran siapa pun malam ini. Itu artinya kamu sudah resmi keluar dari daftar klub. Tapi keputusan selanjutnya ada di tangan Tuan.” Laras menatap Kakek Alexander dengan mata melebar. “Istri? Tuan mau Laras jadi istri cucu Tuan? Tapi… Laras tidak kenal beliau. Laras bahkan tidak tahu wajahnya. Kenapa tiba-tiba seperti ini? Laras… Laras tidak siap menikah dengan orang asing. Apalagi kalau cucu Tuan seperti yang Tuan ceritakan — dingin dan kejam.” Kakek Alexander tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Arkan memang dingin. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan yang sama tragisnya dengan orang tuamu. Sejak itu ia hanya punya aku. Dan ia masih terjebak pada wanita masa lalunya yang licik dan mata duitan. Aku sudah lelah melihatnya menghancurkan dirinya sendiri. Kau akan menjadi obatnya, Larasati. Kau akan tinggal di rumah kami, belajar menjadi Nyonya Wiratama, dan memberiku pewaris.” Laras menggeleng lagi, suaranya semakin lemah. “Tuan… Laras hanyalah gadis biasa dari kampung. Laras tidak tahu cara menjadi istri CEO kaya. Laras takut menyakiti cucu Tuan atau membuat Tuan kecewa. Tolong pikirkan lagi. Mungkin ada gadis lain yang lebih pantas.” Damian Voss ikut bicara lagi, suaranya tetap cuek. “Tuan Alexander tidak pernah salah memilih. Beliau sudah memantau beberapa kandidat selama berminggu-minggu. Anda terpilih karena kepolosan Anda. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Di luar sana, keluarga Anda sedang merayakan uang dua ratus juta itu. Sementara Anda di sini menangis.” Laras menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang. “Laras tidak mau jadi alat… Laras mau dicintai, bukan dibeli. Tuan bilang ini rumah bordil mewah. Di sini banyak kamar dengan tempat tidur sutra, bathtub emas, dan tamu-tamu kaya yang datang mencari kesenangan semalam. Laras tidak mau jadi salah satu dari mereka. Laras mau hidup biasa… meski susah.” Kakek Alexander melangkah mundur dan memberi isyarat ke Damian. “Damian, siapkan mobil. Kita bawa dia sekarang. Madam, urus semua dokumen pelepasan. Aku tidak suka berlama-lama di tempat seperti ini.” Madam membungkuk hormat. “Baik, Tuan. Semua akan selesai dalam sepuluh menit. Nona Laras, Anda beruntung sekali. Banyak gadis di sini berdoa agar ada yang membeli mereka untuk selamanya, bukan hanya satu malam.” Laras menurunkan tangannya, matanya masih merah. Ia menatap sekeliling ruangan sekali lagi — sofa kulit hitam yang empuk, lukisan abstrak di dinding yang harganya mungkin miliaran, karpet Persia tebal di bawah meja, dan pintu-pintu rahasia yang mengarah ke kamar-kamar pribadi di lantai atas. Semua terasa begitu mewah, tapi juga begitu kotor di matanya. “Tuan Alexander… sebelum kita pergi, boleh Laras tanya satu hal?” suara Laras pelan tapi jelas. Kakek Alexander mengangguk sekali. “Kalau Laras ikut Tuan… apakah cucu Tuan akan menerima Laras?” Kakek Alexander menjawab dengan tegas, tanpa ragu. “Arkan akan menolak pada awalnya. Ia angkuh, sombong, dan masih mencintai masa lalunya. Tapi keputusanku harus diikuti. Aku akan memaksa dia menikahimu. Kau akan tinggal di rumah kami sebagai istri sah. Sisanya… terserah bagaimana kau menghadapinya dengan kesabaranmu.” Damian mendekat dan mengulurkan tangan. “Mari, Nona. Mobil sudah siap di pintu belakang. Jangan buat Tuan menunggu.” Laras berdiri perlahan, kakinya masih lemas. Ia melangkah keluar dari ruangan lobi VIP, melewati lorong yang sama dengan karpet merah tebal. Kali ini tidak ada pria yang menyeretnya — hanya Damian yang berjalan di sampingnya dengan langkah tenang. Di belakang mereka, Kakek Alexander berjalan dengan wibawa, jasnya bergoyang pelan. Saat melewati salah satu pintu kamar VIP yang sedikit terbuka, Laras sempat melihat sekilas — seorang wanita muda berpakaian tipis sedang tertawa manja di pangkuan seorang pria tua berjas mahal. Suara musik dan desahan samar terdengar. Laras cepat-cepat membuang muka, hatinya semakin hancur. Mereka keluar melalui pintu belakang klub. Udara malam Soreang yang dingin langsung menyambut, angin meniup rambut Laras yang acak-acakan. Sebuah mobil Mercedes-Benz hitam mengkilap sudah menunggu, mesinnya menyala pelan. Sopir berpakaian rapi membuka pintu belakang. Sebelum masuk mobil, Laras berhenti sejenak dan menoleh ke Kakek Alexander. “Tuan… terima kasih sudah membeli Laras dari tempat ini. Tapi Laras masih takut. Apakah hidup baru ini akan lebih baik… atau justru Laras akan terjebak dalam penjara yang lebih mewah?” Kakek Alexander hanya menjawab singkat, suaranya tegas seperti biasa. “Itu tergantung kau dan Arkan. Sekarang masuk. Malam ini kau tidur di rumah kami. Besok… kita mulai semuanya.” Laras masuk ke mobil. Kursi kulitnya empuk dan dingin. Damian duduk di depan, Kakek Alexander di samping Laras. Mobil meluncur pelan meninggalkan Velvet Rose Club yang lampu neon merah-emasnya semakin menjauh di kaca spion. Di dalam mobil yang hening, Laras menatap keluar jendela. Lampu-lampu jalan tol berkelap-kelip, pohon-pohon di pinggir jalan bergoyang ditiup angin malam. Hatinya berat. Pengkhianatan keluarga darah masih terasa pedih, dan sekarang ia dibawa ke rumah bordil yang mewah hanya untuk dijual lagi — kali ini ke sebuah pernikahan paksa dengan seorang CEO yang tak menginginkannya. Mobil melaju semakin cepat menuju rumah mewah keluarga Wiratama. Malam itu, Laras tidak tahu bahwa takdirnya baru saja memasuki babak baru yang lebih rumit dan dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD