BAB 4

1560 Words
Mobil Mercedes-Benz hitam mengkilap meluncur mulus di jalan tol menuju kawasan elit di pinggiran Bandung. Lampu-lampu jalan kuning pucat berkelap-kelip di kaca jendela, menerangi wajah Laras yang pucat dan basah air mata. Kursi kulit hitam empuk terasa dingin menyentuh kulitnya melalui dress putih yang sudah kusut dan lembab. Di dalam mobil, suasana hening seperti kuburan, hanya terdengar dengung mesin yang halus dan hembusan AC yang menyemburkan udara dingin. Aroma kulit baru bercampur sedikit dengan parfum mahal Kakek Alexander yang samar. Laras duduk tegak di kursi belakang, tangannya saling meremas di pangkuan. Matanya menatap keluar jendela, melihat pepohonan tinggi di pinggir jalan yang bergoyang pelan ditiup angin malam. Jantungnya masih berdegup kencang sejak meninggalkan Velvet Rose Club. Setiap detik terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Kakek Alexander Wiratama duduk di sebelahnya dengan postur tegak dan berwibawa. Jas hitamnya tidak kusut sedikit pun, tangannya yang keriput bertumpu di pangkuan, arloji emasnya berkilau samar setiap kali mobil melewati lampu jalan. Tatapannya lurus ke depan, tapi Laras bisa merasakan aura dingin yang memancar darinya. Di kursi depan, Damian Voss duduk diam seperti patung, sesekali melirik spion tanpa bicara. Setelah hampir dua puluh menit hening, Laras memberanikan diri. Suaranya kecil dan gemetar, hampir hilang ditelan dengung mobil. “Tuan Alexander… boleh Laras tanya sesuatu?” Kakek Alexander tidak langsung menoleh. Ia hanya menggerakkan jarinya sedikit di pangkuan. “Bicara.” Laras menelan ludah, mencoba menahan air mata yang hendak jatuh lagi. “Kenapa Tuan memilih Laras? Di klub itu pasti banyak gadis yang lebih cantik, lebih berpengalaman. Laras… Laras hanya gadis kampung biasa. Laras tidak tahu cara menjadi istri seorang CEO. Apalagi cucu Tuan… Tuan bilang dia dingin dan kejam. Laras takut nanti malah menyusahkan Tuan.” Kakek Alexander akhirnya menoleh perlahan. Tatapannya dingin, tajam, dan menusuk seperti pisau es. Matanya yang sudah tua tapi masih jernih menatap langsung ke bola mata Laras, seolah bisa membaca setiap pikiran dan ketakutannya. Tatapan itu membuat Laras merinding, bulu kuduknya berdiri. Bukan tatapan marah, tapi tatapan seorang penguasa yang terbiasa melihat orang lain tunduk. “Karena kau berbeda,” jawab Kakek Alexander dengan suara dalam dan tegas, tanpa nada lembut. “Aku sudah melihat ratusan gadis di tempat-tempat seperti Velvet Rose. Mereka cantik, tapi mata mereka sudah rusak — penuh tipu daya, lapar uang, atau putus asa. Matamu masih polos. Masih ada cahaya di sana, meski sekarang redup karena air mata. Itu yang kubutuhkan untuk Arkan.” Laras menggigit bibir bawahnya, tangannya semakin erat meremas. “Tapi… Laras tidak mau jadi obat untuk cucu Tuan. Laras juga manusia. Laras juga punya perasaan. Kalau cucu Tuan masih mencintai wanita masa lalunya, apa Laras nanti hanya akan jadi bayangan? Dihina, diabaikan, atau bahkan dibenci?” Kakek Alexander tidak tersenyum. Wajahnya tetap dingin. “Arkan memang masih terjebak pada Saskia. Wanita licik yang meninggalkannya demi uang. Ia menunggu wanita itu kembali. Tapi aku tidak akan biarkan dia menghancurkan garis keturunan Wiratama hanya karena hati yang lemah. Kau akan menikah dengannya, Larasati. Kau akan tinggal di rumah kami sebagai istri sah. Dan kau akan memberiku cicit.” Laras tersentak, matanya melebar. “Menikah? Tuan… Laras bahkan belum bertemu cucu Tuan. Bagaimana bisa tiba-tiba menikah? Laras takut… Laras tidak siap. Apakah cucu Tuan tahu tentang ini? Apakah beliau setuju?” Damian Voss yang selama ini diam akhirnya bicara dari kursi depan. Suaranya cuek, datar, dan misterius seperti biasa. “Tuan Arkan belum tahu. Tuan Alexander akan memberitahunya besok pagi. Dan tidak ada yang boleh menolak keputusan Tuan Alexander. Itu aturan di keluarga Wiratama.” Laras menoleh ke Damian, suaranya memohon. “Mas Damian… Anda kan dekat dengan Tuan Alexander. Tolong bujuk Tuan. Laras tidak mau masuk ke rumah yang penuh dingin. Laras sudah cukup menderita dikhianati keluarga sendiri. Kalau cucu Tuan menolak Laras, apa yang akan terjadi pada Laras? Laras akan dibuang lagi?” Kakek Alexander mendengus pelan, suaranya masih tegas. “Dibuang? Kau belum mengerti, gadis. Aku bukan membelimu untuk dibuang. Aku membeli masa depan keluarga ini. Rumah kami besar — tiga lantai, taman luas dengan kolam ikan koi, garasi untuk sepuluh mobil, dan kamar utama yang lebih mewah dari kamar VIP di Velvet Rose. Kau akan punya kamar sendiri dulu, pelayan pribadi, dan segala yang kau butuhkan. Tapi ingat, keputusanku harus diikuti. Termasuk oleh Arkan.” Mobil mulai keluar dari tol dan memasuki kawasan perumahan elit. Jalanan semakin lebar, pohon-pohon tinggi dan lampu taman yang artistik menerangi pagar-pagar tinggi besi tempa. Gerbang besar berwarna hitam dengan huruf “W” emas besar terbuka otomatis saat mobil mendekat. Laras melihat sekilas pagar tinggi yang mengelilingi kompleks, kamera pengawas di setiap sudut, dan satpam yang membungkuk hormat. Mobil berhenti di depan rumah utama yang megah. Bangunan bergaya modern-minimalis dengan dinding kaca besar dan marmer putih. Lampu sorot menerangi halaman depan yang luas, air mancur kecil menyembur pelan di tengah taman. Udara malam terasa lebih dingin di sini, angin gunung yang segar bercampur aroma bunga dari taman. Sopir membuka pintu. Kakek Alexander turun lebih dulu, diikuti Damian. Laras keluar pelan, kakinya masih lemas. Ia berdiri di depan rumah itu, menatap pintu masuk kayu mahoni besar yang terukir halus. Rumah ini terasa seperti istana — dingin, mewah, dan menakutkan. “Masuk,” perintah Kakek Alexander singkat. Mereka masuk ke ruang tamu yang luas. Lantai marmer putih mengkilap, langit-langit tinggi dengan lampu kristal gantung besar yang menyala redup. Sofa kulit hitam panjang mengelilingi meja kaca, lukisan abstrak mahal tergantung di dinding. Udara beraroma kayu mahoni dan sedikit kopi pahit dari dapur jauh. Kakek Alexander duduk di sofa utama, Damian berdiri di sampingnya. Laras berdiri di tengah ruangan, tangannya saling meremas, dress putihnya terlihat sangat sederhana dan kumuh di tengah kemewahan ini. “ Duduk,” kata Kakek Alexander, suaranya tegas. Laras duduk di ujung sofa, tubuhnya tegang. Ia menatap lantai, tak berani menatap mata kakek itu lagi. Kakek Alexander bersandar, tatapannya kembali dingin dan menusuk. “Besok pagi aku akan panggil Arkan ke ruang kerja. Kau akan hadir. Aku akan umumkan bahwa kau adalah calon istrinya. Ia pasti menolak. Ia arogan, sombong, dan masih menunggu Saskia. Tapi aku akan ancam dia dengan warisan dan kekuasaan perusahaan. Ia akan menurut.” Laras mengangkat wajahnya pelan, suaranya bergetar. “Tuan… kalau cucu Tuan membenci Laras, bagaimana? Laras lemah lembut, tapi Laras juga punya hati. Laras takut hidup setiap hari dihina, diabaikan, dan dianggap jijik. Laras sudah cukup menderita dari keluarga sendiri. Apakah Tuan yakin ini pilihan yang tepat?” Kakek Alexander menatapnya lama dengan tatapan dingin yang sama. Tidak ada kelembutan di sana, hanya keputusan mutlak. “Aku yakin. Kesabaranmu yang lemah lembut justru yang dibutuhkan untuk melelehkan es di hati Arkan. Tapi ingat, Larasati — aku bukan kakek yang penyayang. Aku tegas. Keputusanku adalah hukum di rumah ini. Kalau kau gagal memberiku pewaris, aku bisa mengubah keputusan. Tapi untuk sekarang, kau adalah bagian dari keluarga Wiratama.” Damian menambahkan dengan suara cuek, “Tuan Alexander jarang salah. Anda akan diberi pakaian baru besok, pelatihan etiket, dan segala yang diperlukan. Jangan coba kabur. Rumah ini dijaga ketat.” Laras menunduk lagi, air matanya menetes ke pangkuan. “Laras mengerti, Tuan. Laras hanya… takut. Tatapan Tuan sangat dingin. Seperti tidak ada ruang untuk penolakan. Laras merasa seperti barang yang baru dibeli dan sedang diatur tempatnya.” Kakek Alexander berdiri perlahan, langkahnya mantap di lantai marmer. Ia mendekati Laras dan berhenti di depannya. Tatapannya turun, dingin dan penuh otoritas. “Karena memang begitu. Kau dibeli untuk sebuah tujuan. Tapi jika kau patuh dan penyabar, kau bisa dapat lebih dari sekadar atap. Sekarang istirahat. Kamar tamu di lantai dua sudah disiapkan. Besok pagi pukul tujuh, kau harus sudah rapi di ruang makan.” Laras bangkit pelan, kakinya gemetar. “Baik, Tuan. Terima kasih… atas tempat tinggalnya.” Seorang pelayan wanita paruh baya muncul dari lorong, membungkuk hormat. “Nona Laras, ikut saya.” Laras mengikuti pelayan itu naik tangga marmer melingkar yang lebar. Lorong lantai dua dilapisi karpet tebal berwarna krem, dindingnya berpanel kayu hangat dengan lukisan-lukisan klasik. Kamar tamu yang diberikan luas, dengan tempat tidur king size berseprai putih bersih, meja rias besar, dan jendela besar menghadap taman belakang yang gelap. Setelah pelayan pergi, Laras duduk di tepi tempat tidur. Ruangan itu wangi sabun mahal dan linen bersih, tapi terasa asing dan dingin. Ia menatap cermin di meja rias — wajahnya pucat, mata bengkak, dress putihnya kotor. “Apa yang akan terjadi besok?” bisiknya pada diri sendiri. “Cucu Tuan pasti akan marah. Tatapan dingin sang kakek saja sudah membuat Laras takut… bagaimana dengan tatapan cucunya?” Di lantai bawah, Kakek Alexander masih duduk di ruang tamu, Damian berdiri di sampingnya. “Damian,” kata Kakek Alexander dingin. “Besok pagi pastikan Arkan datang tepat waktu. Kalau dia menolak, ancam dia dengan memotong semua akses ke perusahaan dan warisan. Aku tidak main-main.” Damian mengangguk cuek. “Baik, Tuan. Gadis itu… dia lemah. Apakah Tuan yakin dia bisa bertahan dengan Tuan Arkan?” Kakek Alexander tersenyum tipis yang dingin. “Dia penyabar. Itu cukup. Tatapanku saja sudah membuatnya gemetar. Bayangkan tatapan Arkan yang lebih kejam.” Malam semakin larut. Laras berbaring di tempat tidur mewah itu, mata terbuka menatap langit-langit. Tatapan dingin sang kakek masih terbayang di benaknya — dingin, tegas, dan tak terbantahkan. Ia tahu, besok pagi akan menjadi awal dari ujian yang lebih berat. Rumah mewah Wiratama yang megah dan dingin itu kini menjadi penjaranya yang baru. Dan tatapan dingin sang kakek hanyalah awal dari segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD