02. Janji Sebuah Keluarga

1139 Words
Subuh merayap pelan, tapi panti asuhan itu terasa lebih gelap daripada malam sebelumnya. Nina duduk di kursi kayu di lorong, matanya bengkak, wajahnya pucat. Suara anak-anak yang tertidur resah masih samar terdengar dari balik pintu. Dia masih merasakan genggaman rahang kasar pria itu semalam, ancaman tentang gelang, dan tatapan terakhir Ibu Maren yang membekas di benaknya. Rasa sesak itu belum juga reda. Dari ujung lorong, samar-samar terdengar langkah para petugas forensik yang sibuk merapikan sisa olah TKP. Bau menyengat cairan pembersih bercampur dengan sisa aroma besi darah yang menusuk hidung, membuat perut Nina mual. Sesekali suara plastik besar dilipat dan disegel terdengar, disusul roda brankar yang berdecit pelan saat tubuh Ibu Maren akhirnya dibawa pergi. Ketika pintu ruang kerja ditutup kembali, keheningan menelan lorong itu. Hanya bekas noda pembersih yang masih basah di lantai sebagai jejak nyata dari tragedi yang baru saja merenggut satu-satunya orang dewasa yang menjadi sandaran Nina. Sepasang langkah mendekat. Seorang polisi berseragam berdiri di hadapannya, buku catatan di tangan. “Miss Nina, kami butuh keterangan lengkap Anda. Harap ikut dengan kami ke kantor.” Nina mengangkat wajahnya perlahan. “Maaf … saya tak bisa meninggalkan anak-anak. Mereka hanya punya saya sekarang. Kalau saya pergi, siapa yang akan menjaga mereka?” Polisi itu terdiam sejenak, menatap Nina yang pucat dan rapuh. “Baiklah. Kami akan lakukan interogasi singkat di sini dulu. Tapi nanti, Anda tetap harus datang ke kantor.” Polisi itu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Nina di lorong yang sepi. Detik jam dinding berdetak pelan, tik-tok, tik-tok, hingga jarum panjangnya melewati angka enam. Di balik jendela, cahaya pucat merayap masuk, menorehkan garis-garis terang di lantai kayu yang kusam. Debu beterbangan samar di udara, berkilau sesaat ketika tersapu sinar itu. “Baiklah, Miss Nina. Kami akan bertanya beberapa hal. Mohon jujur, ini sangat penting," suaranya datar, profesional. Nina mengangguk pelan, jari-jarinya saling meremas di pangkuan. “Apakah Anda melihat atau mendengar sesuatu sebelum menemukan jenazah Ibu Maren?” Nina tercekat, bayangan darah dan tubuh tak berdaya itu kembali menyeruak. Dia menelan ludah. “Saya … hanya mendengar suara berderit. Ketika saya buka pintu, dia sudah … seperti itu," suaranya bergetar. Polisi mencatat singkat. “Ada tanda-tanda orang luar masuk ke panti?” Nina teringat jelas bagaimana rahangnya dicekal kasar malam tadi, tapi lidahnya kelu. Dia menunduk, tubuhnya gemetar. “T-tidak … saya tak melihat.” Polisi menghentikan tulisannya, menatap Nina dalam-dalam. “Miss Nina, tolong pikir baik-baik. Ada sesuatu yang disembunyikan?” Air mata mulai menggenang di mata Nina. Dia ingin berteriak soal gelang, soal ancaman, tapi pikirannya langsung tertuju pada wajah-wajah kecil yang sedang tidur di kamar. Jika dia bicara, mereka bisa jadi target komplotan penjahat itu. “Tidak,” jawabnya lirih. “Saya tak tahu apa-apa.” Hening menekan udara. Polisi hanya mengangguk kaku, lalu menutup bukunya. “Baiklah. Kami akan hubungi Anda lagi untuk keterangan lebih lengkap. Jangan tinggalkan kota.” Nina mengangguk, meski tubuhnya terasa makin berat. Begitu polisi berdiri dan pergi, dia menundukkan wajah, menahan tangis, sembari berbisik pada dirinya sendiri, "Aku harus kuat demi mereka ...." *** Subuh sudah lama berganti pagi. Matahari Sydney menyelinap lewat jendela besar, mengisi ruang tamu dengan cahaya keemasan yang lembut. Bau roti panggang dan suara panci beradu dari dapur menandai awal hari yang baru. Ainsley duduk di tengah sofa, tubuhnya tegak kaku. Di satu sisi, seorang pria paruh baya—ayah barunya—terpaku pada berita pagi di televisi. Di sisi lain, seorang anak perempuan yang kelak akan dia kenal sebagai kakak tirinya terus mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan-pertanyaan ringan. “Tidurmu nyenyak semalam? Kamarnya terlalu besar, ya?” tanya Emily dengan nada ceria. Ainsley hanya menoleh singkat, lalu menunduk, jemarinya meremas gelang yang kembali dia pertahankan sejak bangun dari tidurnya. Dari dapur, sang ibu melirik sambil tersenyum hangat, ditemani seorang bibi yang membantu menyiapkan sarapan. “Ayo, sebentar lagi kita makan bersama,” katanya. Mata Ainsley menyapu sekeliling—perabotan tertata rapi, bingkai foto keluarga, dan sebuah piano di sudut ruangan. Semuanya terasa asing, tapi tak menakutkan. Emily mengikuti arah tatapannya. “Kau bisa main piano?” tanyanya dengan nada riang. Ainsley menggeleng pelan tanpa berani bersuara. “Aku bisa,” Emily menepuk dadanya dengan bangga. “Nanti kita bisa memainkannya bersama. Mau?” Ainsley menunduk sedikit, ragu. Ayah mereka menoleh, senyumnya tipis. Sejenak dia lupa pada berita yang barusan ditontonnya, sibuk mengamati kedua putrinya yang mulai akrab. “Yah,” Emily beringsut mendekat, menyandarkan kepala ke bahu ayahnya, “kapan kita foto keluarga lagi, seperti yang Ayah janjikan?” “Nanti,” jawabnya lembut, mengusap kepala Emily. “Kalau waktunya tepat.” Ainsley memperhatikan kedekatan itu. Ada sesuatu yang menusuk dadanya, bukan sakit, melainkan asing. Kehangatan ini … sesuatu yang belum pernah dia kenal. Apakah … seperti inilah keluarga utuh terlihat? Emily menoleh tiba-tiba. “Nanti Leyley juga ikut kan, Yah?” “Tentu saja.” Ayahnya tersenyum, menatap Ainsley penuh makna. “Dia bagian dari kita sekarang.” “Oh iya,” Emily menyeringai lebar, “mulai hari ini aku panggil dia Leyley.” Ayahnya terkekeh. “Itu panggilan yang cukup unik, kau tahu?” Tiba-tiba, denting telepon rumah memecah ketenangan. Ayah angkat Ainsley berjalan ke arah meja, mengangkat gagang, suaranya terdengar ramah di awal. Tapi dalam sekejap, rona wajahnya berubah tegang. “Apa? … kapan?” Tangannya mencengkeram gagang lebih erat, nadanya menurun drastis. Sang istri yang mendengar perubahan itu segera menghampiri. “Ada apa?” bisiknya cemas. Suaminya menutup mulut gagang sebentar, menatap istrinya dengan mata yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan. “Ibu Maren … dia meninggal tadi malam.” Sang istri terperanjat, menutup mulutnya agar tak bersuara keras. "Ya Tuhan ...." Keduanya refleks menoleh ke arah sofa. Di sana, Emily tengah menggelitik Ainsley. “Aha! Berhenti … hahaha … berhenti!” Ainsley terkikik, tubuh mungilnya berusaha menghindar. Emily tersenyum nakal. “Aku takkan berhenti sampai kau memanggilku kakak!” “Ya … ya! Kakak! Aku mohon … Kak!” seru Ainsley di sela tawa, sampai wajahnya memerah. Suara gelak mereka mengisi ruang tamu, ringan dan penuh kehidupan. Sang istri menggenggam tangan suaminya. Dengan suara serak dia berbisik, “Jangan beri tahu dia. Tidak sekarang. Biarkan dia merasa aman dulu.” Sang suami menunduk, hanya bisa mengangguk. Gagang telepon diletakkan dengan hati-hati. "Apa ... ini ada hubungannya dengan orang-orang asing yang datang ke panti kemarin?" suara istrinya penuh curiga. Rahang sang suami mengeras, sorot matanya gelap. "Ada kemungkinan," jawabnya pendek. Sejenak hening. Hanya suara tawa kedua putri kecilnya yang terdengar. "Haruskah kita memberikan keterangan ke kantor polisi?" bisik istrinya ragu. Pertanyaan itu membuat keduanya saling bertukar tatap penuh kecemasan. Rahasia semacam ini tak mudah dipikul, apalagi jika dibuka ke pihak luar. Mereka tahu, satu langkah keliru saja bisa menyeret keluarga ini ke dalam bahaya yang lebih besar. Namun, di ruang tamu yang dipenuhi tawa kecil itu, mereka juga tahu bahwa waktu untuk tetap diam takkan berlangsung selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD