bc

Antara Cinta dan Konspirasi

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
family
friends to lovers
arrogant
boss
tragedy
sweet
bxg
mystery
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Ainsley hanyalah seorang gadis muda yang baru memulai hidupnya, tapi takdir menjerumuskannya ke dalam bayang-bayang rahasia besar. Bukti korupsi yang pernah dimiliki orang tuanya kini tersembunyi … di tubuhnya sendiri. Ketika kakak tirinya dan seorang pria berpengaruh bernama Zack menyeretnya ke pusaran intrik, dia tak punya pilihan selain melangkah ke dunia penuh kriminal, pengkhianatan, dan maut yang selalu mengintai. Dalam jaringan rahasia yang bisa menghancurkan siapa pun, Ainsley harus menjawab pertanyaan: Siapa yang benar-benar bisa dipercaya, dan siapa yang hanya menunggu untuk menjatuhkannya?

chap-preview
Free preview
01. Detik-detik Terakhir
Ainsley menatap gelang itu, besar dan berat di tangan kecilnya. Logamnya dingin, berkilau samar di cahaya lampu panti. Dia tak tahu siapa yang membuatnya, atau kenapa pengasuhnya, Ibu Maren, tampak begitu cemas saat menekannya ke tangannya. “Jangan lepaskan, Ainsley,” suara Ibu Maren bergetar. “Jangan biarkan jatuh ke tangan orang lain. Kau mengerti?” Ainsley mengangguk pelan, rasa ingin tahu berkecamuk di hatinya. Siapa ‘orang lain’ itu? Mengapa gelang ini begitu penting? Tapi setiap kali ingin bertanya, Ibu Maren selalu menunduk seolah sedang menahan beban yang besar. Dari lorong panti terdengar langkah kaki berat dan tergesa, bergema di lantai kayu. Anak-anak lain menahan napas, menatap pintu dengan mata terbelalak. Ibu Maren segera menarik Ainsley lebih dekat, menatap ke arah pintu dengan wajah tegang. “Kau harus menyimpannya … dan jangan bertanya,” bisiknya ke telinga Ainsley, sebelum melangkah ke arah suara itu. Matanya penuh ketegangan dan ketakutan. Suasana di panti berubah kacau. Suara bentakan terdengar, tiga orang pria masuk sambil menatap anak-anak dengan pandangan dingin. Ibu Maren segera menghalangi. “Ke ruangan lain, kita bicara di sana,” suaranya tegas. Seorang pria—tampak lebih tinggi, lebih berwibawa, jelas pemimpin komplotan itu—memberi isyarat halus pada rekannya. Sementara pemimpin komplotan mengikuti Ibu Maren, pria lainnya memberi arahan pada pengasuh panti yang tersisa. “Kumpulkan semua anak ke ruang utama,” perintahnya singkat. Pengasuh itu bergerak cepat. Anak-anak berjalan perlahan, mengikuti arahan tanpa mengerti apa yang sedang terjadi. Ainsley tetap menggenggam gelang di tangannya, jantungnya berdetak kencang. “Kenapa kita di sini, Nina?” suara kecil seorang anak, bertanya pada pengasuhnya dengan ekspresi ketakutan. Nina menenangkan mereka sebisa mungkin. “Ssst … jangan takut. Ikuti aku, tetap tenang, oke?” Waktu berlalu, lama, terlalu lama. Ainsley menatap lorong menuju ruangan Ibu Maren, berharap wanita yang selalu menenangkan itu segera kembali, tapi tak ada. Pria komplotan menatap mereka dengan dingin. “Angkat tangan kalian ke atas!" bentaknya, suaranya tajam. Ainsley menatap dengan mata bulat, kaget dan bingung. Tangannya gemetar, menggenggam gelang erat-erat. “Hey, kau! Angkat tanganmu!” pria itu menegur, menunjuk ke arah Ainsley. Dengan ragu, Ainsley akhirnya mengangkat tangannya … yang tetap mengepal. Anak-anak satu per satu digeser, ketegangan makin menekan ruang kecil itu. Tiba-tiba, suara deru mobil di halaman panti memecah ketegangan. Langkah kaki pria-pria itu terhenti, pandangan mereka saling bertukar. Seorang dari mereka memerintahkan pengasuh panti, “Buka pintu. Lihat siapa di luar.” Nina ragu sekejap, tapi akhirnya menuruti perintah. Pintu terbuka, dan mata semua orang tertumbuk pada sepasang suami-istri yang berdiri dengan senyum hangat. Wajah mereka cerah dan ramah, kontras dengan ketegangan yang baru saja melingkupi ruangan. “Maaf karena baru bisa menjemputnya malam ini,” kata sang istri, suaranya lembut. “Kami sudah menginformasikan Ibu Maren sebelumnya. Kami datang untuk menjemput Ainsley sesuai kesepakatan.” Ketegangan di ruangan itu sedikit mereda. Anak-anak menatap dengan penasaran, sementara Ainsley menggenggam gelangnya lebih erat. Sesuatu di dalam hatinya memberi rasa aman yang pertama kali dia rasakan sejak kekacauan ini dimulai. Senyum ramah pasangan itu seketika berubah menjadi bingung saat melihat suasana di panti. Sang suami menatap sekeliling, lalu bertanya dengan hati-hati, “Apa ada masalah di panti?” Nina menunduk, tak mampu menjawab, sedangkan pria komplotan berbisik pelan ke rekannya, “Kita tak bisa membuat masalah menjadi besar kalau ingin ini tetap jadi rahasia. Bos besar takkan senang.” Salah satu pria itu kemudian bergerak ke arah ruang Ibu Maren, sebelum kembali bersama pemimpin mereka. Ainsley menatap lorong itu dengan penasaran, berharap Ibu Maren muncul, tapi tetap tak ada. Pemimpin komplotan menatap pasangan itu dengan mata menyipit, jelas tak senang dengan kedatangan mereka. Akhirnya, suaranya yang terdengar dingin menembus keheningan ruang utama, “Kalian datang mengadopsi anak?” Pasangan itu masih mencoba tersenyum, dan sang suami menjawab dengan tegas, “Ya, kami datang menjemput Ainsley. Semua dokumen sudah kami siapkan, dan kami telah memberi tahu Ibu Maren sebelumnya.” Ketegangan sejenak menggantung di udara. Ainsley, yang kini tak lagi mengangkat tangan, hanya menatap dari jauh. Pemimpin komplotan menatap ruangan. “Siapa yang bernama Ainsley di sini?” Ainsley maju dengan ragu, langkahnya perlahan menuju pintu. Semua mata tertuju padanya, dan setiap detik terasa seperti mencekiknya. “Oh, sayangku! Ayo kita pulang ke rumah,” sambut sang wanita yang akan mengadopsinya dengan hangat. Ainsley terdiam seribu bahasa. Dia menatap uluran tangan itu, hati kecilnya bimbang. Namun di satu sisi, dia menyadari bahwa ini jelas lebih baik daripada situasi di panti saat ini. Dengan pandangan terakhir ke lorong yang membawa Ibu Maren, Ainsley akhirnya melangkah keluar panti. Saat pintu kembali tertutup, pemimpin komplotan menoleh ke Nina. “Berikan kami data tentang anak itu,” perintahnya. Nina tampak pasrah, lalu memenuhi perintah mereka. Para pria komplotan kembali memeriksa anak-anak lain, sementara Ainsley dibawa pergi. Setelah memeriksa anak-anak dan menyadari mereka tak bisa memberikan apa yang diinginkan, pemimpin komplotan mendekati Nina. Tanpa peringatan, tangannya mencengkeram rahang Nina dengan kuat, menahan kepalanya agar menatapnya. “Dengar baik-baik,” suaranya penuh ancaman. “Kalau kau menemukan gelang itu, segera hubungi kami. Kau mengerti?” Nina menelan ludah, hanya bisa mengangguk pelan penuh ketakutan. Pemimpin komplotan itu melepaskan rahangnya, menatap sekeliling ruangan dengan sorot mata yang menakutkan. “Berengsek!” umpatnya sebelum melangkah pergi bersama kedua rekannya, meninggalkan suasana tegang dan berat di panti itu. Anak-anak yang ketakutan mulai menangis. Nina berusaha menenangkan mereka. Dia menggendong beberapa anak, membimbing mereka kembali ke kamar untuk beristirahat sambil membisikkan kata-kata lembut agar rasa takut perlahan reda. “Semua akan baik-baik saja … tenang, tenang .…” Nina menutup pintu kamar setelah memastikan semuanya tertidur. Dia terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Namun pikirannya berputar. Gelang apa yang dimaksud pria itu? Dia sempat meneliti anak-anak saat menidurkan mereka satu per satu. Tak ada benda mencurigakan. Semua tampak biasa saja. Ketika hendak melangkah pergi, langkahnya terhenti. Sebuah kegelisahan menekan dadanya. Ibu Maren … wanita itu tak kunjung kembali sejak masuk ke ruangan bersama pemimpin komplotan tadi. Nina menoleh ke arah lorong gelap yang sunyi, diterangi samar cahaya bulan dari jendela. Dia berjalan dengan hati was-was menuju ruang Ibu Maren. Awalnya langkahnya tenang, tapi firasat buruk makin menyergapnya. Sesuatu di dalam hatinya berteriak bahwa ada yang salah. Kayu lantai berderit di bawah kakinya, suara pelan tapi menambah rasa takut yang menumpuk. Dengan napas tertahan, dia membuka pintu sedikit demi sedikit, tak berani melangkah masuk. Dan … pemandangan itu menghentikan seluruh gerak tubuhnya. Ibu Maren terbaring bersimbah darah, tubuhnya tampak tak berdaya dan mengenaskan. Dada Nina sesak, napasnya tercekat, jantungnya berdebar begitu kencang hingga rasanya seperti akan meledak. Dia menutup mulutnya, menahan teriakan yang nyaris keluar. Tubuhnya gemetar hebat, langkah mundurnya tersendat, dan dunia seakan berhenti berputar di sekitarnya. *** Mobil terus melaju. Pemandangan luar mulai berubah; lampu kota berkelap-kelip, memantul di jalanan, kendaraan, dan gedung-gedung tinggi. Perlahan, ketegangan yang menumpuk di d**a Ainsley mulai mencair. Napasnya yang tercekat sedikit demi sedikit mereda. Pasangan pengadopsi di depan bertukar pandang, lalu sang wanita tersenyum lembut. “Kau lelah, ya? Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja sekarang,” katanya dengan suara hangat. Ainsley hanya menunduk, tangannya terus menggenggam gelang erat di pangkuannya. “Kau akan senang di rumah baru. Kami akan menjagamu,” sambung sang suami. Dengan hati-hati, Ainsley perlahan melepaskan genggaman tangannya. Cahaya lampu kota menyoroti gelang itu, dan di bagian logamnya ... Di panti, lorong gelap masih menelan bayangan Nina. Sementara itu, di mobil, Ainsley menatap enam angka yang tertulis samar tapi jelas. ... Apa makna dari enam angka itu? Lampu kota terus melintas, bayangan angka di gelang memantul sebentar di matanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Pengacara Itu Mantan Suamiku

read
7.3K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
5.4K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook