Perfect Arga

1173 Words
Suara music K Pop yang up beat dan penuh semangat disetel dengan volume tinggi. Musik mengalun di seluruh ruangan. Beberapa asisten rumah tangga yang sedang bekerja seakan terpecut semangat hingga bekerja dengan lincah sesekali kepala mereka mengangguk, tangan dan kaki mereka bergerak mengikuti irama. Yudistira baru saja mengambil sebotol air mineral dari kulkas, berjalan dengan langkah pelan sambil memandang mbak – mbak yang sedang bekerja sambil bergerak mengikuti irama. Saat mata mereka saling beradu, mbak – mbak terdiam sambil berusaha untuk tidak tersenyum malu karena tertangkap basah oleh sang majikan. Padahal kegiatan seperti ini bukan satu atau dua kali, tapi seringkali terjadi. Hal ini terjadi sejak Azel mengenal music K Pop hingga gadis berambut bob itu menjadi salah satu fans sebuah grup idol. Yudistira masuk ke kamar Azel, mematikan music hingga membuat orang yang sengaja menyalakan music dengan volume tinggi itu menghentikan kegiatannya menyisir rambut. Memandang Yudistira dari pantulan kaca, Azel hanya bisa mengerucutkan bibir lalu kembali menyisir rambutnya yang cukup rapi. Yudistira hanya memandangnya sekilas sebelum akhirnya keluar dari kamar. Tak lama kemudian, sedetik setelah Yudistira keluar kamar, music dengan volume keras kembali dinyalakan. Kali ini sang kakak berusaha tidak peduli meskipun ia yakin tidak akan bisa berkonsentrasi jika Azel sudah menyalakan music. Suasana hati Azelia sedang sangat baik. Berkat kehadiran Arga yang tadi membuat sekolahnya menjadi begitu indah dan menarik. Arga bukan anak yang rajin. Kerjaannya hanya tidur di belakang Azel, namun selalu bisa menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan guru. Arga pasti jenius seperti oppa – oppa di drama Korea yang pernah Azelia tonton. *** Hari masih sangat pagi saat Azelia bersiap berangkat sekolah. Dengan mengenakan bando warna coklat hijau, Azel tampak begitu fresh. Berjalan cepat dengan setengah melompat, Azel menuruni anak tangga lalu menuju meja makan. Om, Tante dan kakaknya telah duduk manis, menyapanya dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang membuat hati Azelia bahagia. “Sepertinya kamu semangat sekali, Azel. Om boleh tahu ada apa sampai kamu seperti ini, Sayang?” tanya Agustinus, sadar jika keponakannya begitu heboh oleh euphoria. “Harus dong, Om. Aku kan anak SMA, hari – hariku menyenangkan,” celetuk Azelia. Tapi tentu saja hal itu bisa dipahami Febriyanti. Bahwa keponakannya yang beranjak remaja sedang jatuh cinta monyet. “Apa ada cowok keren di sekolah Azel?” tanya Febriyanti penuh selidik. “Kok Tante tahu sih?” Azelia mengulas senyum penuh makna. Febriyanti dan Agustinus saling memandang sebelum akhirnya sama – sama memandang Azelia. “Belajar yang benar, jangan pacaran dulu!” ucapan Yudistira membuat Azelia mencibir. Kakaknya terlalu kaku seperti kakek – kakek. Sangat tidak gaul dan tidak mengerti seperti apa kehidupan remaja perempuan sepertinya. “Aku nggak pacarana kok. Belum,” ucap Azel sambil meralat ucapannya sendiri. Sontak Yudistira melirik adiknya dengan sudut mata seakan siap menelan adiknya. Azelia memang tidak menurut seperti dulu, namun baru terakhir – terakhir ini sang adik pandai membantah ucapannya. “Good morning every body,” seru Archie yang tiba – tiba datang dengan sebuah kehebohan. Yudistira melirik teman adiknya yang dulu sempat membuatnya khawatir dengan Azel. Takut jika Archie memberi pengaruh buruk kepada adiknya. Namun sikap Archie jauh lebih kekanak – kanakan dari Azel. Anak blasteran itu juga memiliki gaya kewanita – wanitaan meskipun dibalut dengan gaya metropolis. “Kamu sudah sarapan, Archie?” tanya Febriyani. “Sudah, Tan … Azel, ayo berangkat!” Archie sudah tidak sabar untuk segera ke sekolah. Azel berdiri dengan setangkup roti yang baru digigit beberapa kali. Mencium pipi Febriyani dan Agustinus sebelum berlari meninggalkan rumah. Yudistira hanya bisa geleng – geleng dengan sikap keduanya. Merasa konyol karena sempat susah tidur sebelum melihat seperti apa Archie. Febriyani dan Agustinus tertawa melihat kelucuan Archie dan Azelia, sementara Yudistira kembali geleng – geleng kepala. *** Guru bahasa inggris baru saja meninggalkan kelas setelah jam pelajarannya berakhir. Anak – anak segera berseru seakan seekor burung yang baru saja dilepaskan dari sangkarnya. Beberapa anak perempuan membentuk kelompok, mereka sibuk memamerkan kosmetik yang sengaja mereka bawa dari rumah. Ada pula sekelompok anak lelaki yang heboh dengan t****k yang sedang viral. Sementara itu Azel, Archie dan Quindy berada di tempat mereka. Membicarakan banyak hal termasuk rencana bepergian saat libur nanti. “Bagaimana kalau kita ke Ancol?” tanya Archie kepada Quindy dan Azel. “Ngapain kesana? Enakan juga ngemall,” kata Quindy, keberatan dengan ide Archie. “Kita bisa ke Dufan dan Seaworld,” kata Azel kemudian. Archie setuju dengan ide Azel, seakan mereka memang ditakdirkan menjadi sahabat dekat sehingga saling memahami isi hati masing – masing. “Males ah, kalau kesana.” Quindy memandang isi laci mejanya lalu menarik sebuah buku dan membacanya. “Ayolah, pasti seru kita bisa mainan bersama.” Archie berkeras hati. Quindy masih keberatan. Sementara Azel hanya memandang kedua temannya secara bergantian. Azel meletakkan sikunya di kursi dengan gerakan yang cukup cepat. Tanpa sengaja menyenggol seseorang yang ada di belakangnya. Sontak ia menoleh dan melihat Arga yang tidurnya menjadi terganggu. “Arga, sorry.” Secara reflek, Azel menarik kedua tangannya lagi. Arga diam sambil memandang Azel beberapa saat. Hal itu membuat Azel menjadi canggung dan sekaligus merasa bersalah. Gadis itu hendak kembali meminta maaf namun Arga justru kembali meletakkan kepalanya di meja. Sepulang dari sekolah, berjalan di Lorong sekolah. Quindy dan Archie membicarakan Arga yang keberadaannya selama ini hampir seperti bayangan. Padahal dari segi fisik, Arga boleh dibilang keren sekali. Secara akademis pun cukup bagus meskipun di kelas kerjaannya selalu tidur. Archie merasa heran dengan sikap Arga yang menurutnya sok cool dan sok populer. “Kamu aja yang iri kalee.” Azel meninju lengan Archie sambil tertawa lebar. “Gue iri? Sorry ya.” Archie membalas Azel. “Nggak iri tapi dari tadi jelek – jelekin mulu,” celetuk Quindy, sontak membuat Azel tertawa terbahak – bahak. Sampai di depan gerbang, mereka bertiga berdiri sambil menunggu jemputan mereka. Sambil menunggu, mereka melanjutkan obrolan seputar Arga hingga akhirnya Archie menyenggol pundak Azel dan Quindy sambil memandang ke seorang anak lelaki yang baru saja keluar dari lobi sekolah. Sekolah Azel, Archie dan Quindy termasuk sekolah elit. Hampir semua anak di sekolah itu dijemput dengan mobil sehingga mereka harus menunggu jemputan di pintu gerbang. Namun Archie, Azel dan Quindy dibuat kaget saat melihat Arga masuk ke Lamborghini merah yang diparkir di sebelah Alphard putih milik kepala sekolah. “Gila, apa dia punya SIM?” Archie memandang Lamborghini merah itu meninggalkan sekolah. Azel sendiri menyebut ‘gila’ di dalam hati. Arga memang sangat keren, tidak hanya secara fisik, otak dan kini ia tampak sangat keren karena bisa menyetir sendiri mobilnya. “Paling dia pernah nggak naik kelas, makanya baru kelas sepuluh sudah gaya bawa motor,” cibir Archie, tak suka dengan gaya Arga yang sok artis. Azel sendiri yang geleng – geleng, tak menyangka sekaligus terpesona dengan Arga serta mobilnya. “Wah, keren banget Arga,” seru Maya, salah satu dayang – dayang Sherly. “Perfect banget,” seru Tatiana tak kalah seru. “Bagaimanapun juga, aku yakin bisa mendapatkan Arga,” kata Sherly dengan penuh percaya diri. Azel berdiri beberapa langkah dari Sherly. Darahnya seketika mendidih setelah sadar jika Sherly juga menaruh perhatian kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD