Arga, Cowok Ter Cool

1210 Words
Sampai sekolah, Azel berlari menyapa dua temannya yang sedang berjalan di halaman sekolah. Merangkul mereka berdua, berjalan dengan bangga karena memakai hoodie yang sama. Dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya yang mungil. Beberapa murid memperhatikan mereka bertiga, beberapa lagi berusaha untuk tidak menertawakannya. Tiga sahabat ini sadar, namun tidak peduli. Mereka bertiga kompak masuk kelas dan duduk di bangku mereka. Saat mata mereka beradu, mereka cekikikan seakan ada sesuatu yang lucu dan patut ditertawakan. “Weekend besok kita jalan lagi ya,” seru Archie yang sudah memiliki rencana untuk weekend nanti. “Boleh, kita mau kemana?” tanya Azel, tak sabar ingin kembali jalan dengan dua temannya. “Bagaimana kalo kita nginap di rumahku? Mommy – ku pasti tidak keberatan kalian menginap,” saran Archie. Azel menyambut ide Archie dengan seulas senyum lebar penuh makna. Membayangkan betapa serunya pesta piyama, lempar – lemparan bantal, memakai masker bertiga dan masih banyak hal seru yang sedang menari – nari di kepala. “Menginap ya? Aku harus ijin dulu sama bokap and nyokap,” ucapan Quindy seketika menghilangkan senyum yang sedetik lalu menghiasi wajah cantik Azel. “Aku juga harus ijin dulu ke tanteku,” kata Azel, lebih tepatnya meminta ijin Yudistira sang pemilik peraturan ketat di rumah. “Kamu tidak perlu khawatir, Zel. Biar mommy yang minta ijin ke tantemu. Aku yakin pasti dibolehin,” kata Archie penuh keyakinan. Azelia menepuk kedua tangannya, menyetujui ide itu bahkan yakin kalau Febriyani akan mengijinkannya menginap di rumah Archie. Sesaat lalu ia lupa kalau maminya Archie adalah teman arisan tantenya. “Kita bisa pesta barbekyu terus pajamas party, pasti seru.” Archie menewarang, membayangkan pesta mereka yang akan sangat seru nantinya. Azelia dan Quindy melakukan hal yang sama, di kepala mereka penuh dengan acara – acara seru. Memasak sosis bakar, steak, kentang lalu pesta piyama dan tak lupa perang bantal. Pasti sangat menyenangkan. Sherly dan dua temannya masuk kelas dan tatapannya segera tertuju pada tiga orang yang masih mengenakan hoodie yang menurut Sherly terlalu kekanak – kanakan. Bahkan meskipun hoodie itu dari salah satu brand terkenal, tetapi warnanya terlalu mencolok dan kampungan. Ya, meskipun model kampungan itu tertolong karena ada logo brand terkenal sih. Tapi tetap saja bagi Sherly, kampungan tetap saja kampungan. Ia hanya geleng – geleng sambil duduk di depan Azelia. Diikuti dua anak buahnya yang juga duduk setelah mendesis melihat tiga orang sekawan yang ada di belakang mereka. Hal itu disadari oleh Azel, hanya saja ia tak ingin membuat suasana hatinya keruh hanya karena ulah tiga orang yang tidak penting. Sebagai gantinya, ia tersenyum kepada kedua teman yang ada di kanan dan kirinya. Mereka berbincang seru tentang semua hal yang telah mereka lakukan kemarin. Juga membuat rencana – rencana yang akan mereka lakukan pada minggu mendatang hingga akhirnya bel berbunyi dan tidak lama kemudian seorang wanita dengan rambut panjang yang diikat di belakang, memakai seragam guru dan sepatu vantofel yang membentuk irama ketukan teratur perlahan semakin jelas. Miss Brenda masuk ke kelas dengan membawa setumpuk diktat yang kemudian diletakkan di atas meja. Memandang satu – persatu murid yang sudah duduk rapi di kursinya masing – masing. Sherly mengangkat tangan, meminta perhatian sang guru dengan satu sudut bibir terangkat. “Ada apa, Sherly?” tanya Miss Brenda. Sang guru memang sudah menghafal nama murid – muridnya. “Miss, ada tiga anak yang menyalahi peraturan sekolah,” kata Sherly sambil berusaha tidak tertawa. “Apa maksudmu?” tanya Miss Brenda dengan dua alis bertaut. “Ada tiga anak yang memakai hoodie di kelas, Miss. Seharusnya mereka dihukum sesuai dengan peraturan yang ada, kan.” Sherly merasa bangga karena sudah merasa seperti pahlawan kesiangan. “Kamu benar.” Seketika Miss Brenda memandang tiga anak yang masih mengenakan hoodie mereka. “Kalian bertiga, lepaskan hoodie kalian!” perintah Miss Brenda. Miss Brenda tidak mempermasalahkannya lagi, namun Sherly meyakinkannya untuk memberi hukuman bagi tiga anak yang sudah berani menyalahi aturan. Pada akhirnya Azel, Archie dan Quindy harus lari tiga kali putaran di lapangan bola yang ada di belakang sekolahnya. Dengan suhu udara yang cukup menyengat, lari tiga kali putaran lapangan bola adalah sebuah hukuman yang sangat berat. Azel berkeringat, ia berlari dengan langkah kecil namun cepat. Meski demikian, ia butuh waktu cukup lama untuk bisa berlari satu putaran. “Dia ngerjain kita,” kata Archie yang juga sudah kepayahan padahal baru lari satu kali putaran. “Kenapa dia jahat ke kita? Salah kita apa coba,” keluh Quindy. Ia berhenti dan membungkuk, memegang kedua lututnya sambil mengatur napas. “Dia iri kali sama kita,” seru Archie sambil menyeka keringatnya. “Apa yang dia iri dari kita? Aku dan Quindy tidak cantik. Kamu juga tidak cakep,” kata Azel seakan menghina Archie. Archie melirik temannya tanpa bicara, namun Azel tahu lelaki itu tersinggung dengan ucapannya. Azelia terkekeh lalu melanjutkan lari. Saat melewati gawang, ia melihat Arga berjalan santai dengan ransel yang menggantung di pundak kanan lelaki itu. Lelaki itu tampak sangat tenang padahal sudah telat cukup lama. Azelia memperhatikannya dengan bermacam – macam pertanyaan di hatinya. Melewati Arga tanpa menyapanya, karena Azelia tidak merasa memiliki hubungan dekat dengannya kecuali mereka satu kelas. Toh ini baru minggu kedua, jadi Azelia merasa akan sangat aneh kalau tiba – tiba menyapanya seakan sok dekat. Meski demikian, langkah Azelia goyah. Ia berlari dengan kepala penuh, hingga tiba – tiba ia jatuh setelah kaki kiri menyandung kaki kanannya sendiri. Jatuh telungkup, dengan wajah hampir saja mencium rumput. Sebuah insiden yang memalukan. Azelia berharap Arga tidak melihat kekonyolannya. Tapi itu tidak akan mungkin, mengingat ia jatuh di depan lelaki itu. “Apa kamu baik – baik saja?” tanya Arga yang sedang jongkok di sebelah Azelia. “Aku tidak apa – apa. Aku baik – baik saja.” Azelia berdiri dengan cepat hingga tubuhnya tidak imbang dan hampir jatuh untuk kedua kalinya. Beruntung Arga segera menarik tangannya, kalau tidak mukanya mau ditaruh dimana. “Terima kasih,” ucap Azelia, mukanya memerah seperti udang rebus. “Kamu harus hati – hati,” kata Arga sambil tersenyum manis sekali. Azelia terpana dengan ketampanan Arga. Anak lelaki yang memiliki senyum terindah yang pernah ia lihat. Membuat wajahnya kembali memerah bahkan memanas. Arga meninggalkan Azel begitu saja, melangkah santai menuju belakang gedung sekolah yang hanya terdapat sebuah ruangan yang merupakan gudang sekolah. “Hei, apa kamu baik – baik saja?” seru Quindy sambil memeriksa temannya. Tapi Azel masih terlalu sibuk dengan memandang Arga, hingga punggung anak lelaki itu menghilang setelah membelok ke kanan. Quindy kembali menepuk pundak Azelia, kali ini dengan tepukan lebih keras sehingga membuat gadis itu menoleh sambil meringis. “Ada apa sih?” tanya Quindy, bingung dengan sikap sahabatnya. “Kesambet kali,” celetuk Archie yang baru saja menyelesaikan hukuman. Napasnya masih berat dan ia harus menunduk dengan dua tangan berada di lutut, mengatur napas dan degup jantung yang tak beraturan setelah berlari tiga putaran tadi. “Enak aja. Ayo balik ke kelas!” ajak Azelia, meninggalkan dua temannya yang masih sibuk dengan kelelahan mereka. Dengan terpaksa, meskipun sebenarnya ingin rehat sejenak, mereka berdua mengikuti langkah Azelia menuju kelas mereka. Azelia sendiri memilih segera ke kelasnya, karena tak ingin melewatkan pemandangan yang paling indah yang pernah ia dapatkan. Arga akan membuat kelasnya menjadi berwarna. Azelia menjadi sangat bersemangat dalam mengikuti pelajaran dan semua itu karena kehadiran seorang cowok yang telah mencuri Sebagian hatinya.                    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD