Azel, Archie dan Quindy bengong saat melihat tiga orang perempuan yang merasa popular di kelasnya berada di tempat yang sama dengan mereka.
Hal yang sama juga dirasakan Sherly dan teman – temannnya. Mereka berhenti di depan toko es krim sambil memandang tiga teman sekelasnya, yang menurut mereka memiliki wajah yang udik dan kampungan.
Saat mata mereka tertuju pada paper bag dengan lambang brand ternama, mereka hanya mendecih sambil geleng – geleng. Melangkah masuk dan memilih tempat duduk yang paling jauh dari tiga sahabat itu, seakan mereka bertiga adalah orang yang bisa menularkan penyakit.
Sementara itu, Azel, Archie dan Quindy menjadi tidak nyaman. Andai belum memesan es krim, pasti mereka memilih pergi daripada berada di satu tempat yang sama dengan mereka.
Seorang pramusaji yang memiliki postur dan wajah seperti artis datang dan meletakkan pesanan Azel serta teman – temannya.
“Kak Febian,” seru Azel saat mengetahui siapa lelaki itu.
Febian adalah teman SMP Yudis yang cukup dekat. Beberapa kali pernah main ke rumah hingga Azel mengenalnya.
“Azel,” seru Febian sambil nyengir, mempertontonkan gigi – giginya yang rapi.
“Kakak, kerja disini?” tanya Azel dengan polos.
“Ini toko, Kakak. Kalau tahu kamu yang pesan, aku pasti gratisin.”
“Kalau gitu kasih cash back seratus persen, Kak.” Azel tersenyum lebar, menampilkan sebaris gigi putih yang rapi.
Seketika Febian tertawa terbahak – bahak, tak menyangka gadis cilik yang dulu sering dikerjain, sekarang sudah beranjak remaja.
“Tentu saja Tuan putri, semua yang anda inginkan, akan saya kabulkan,” ucap Febian sambil mengacak – acak rambut Azel dengan gemas.
Di sudut lain toko itu, Sherly dan teman – temannya menatap keakraban Azel dan Febian dengan sinis. Walau kesinisan itu hilang dan berganti senyum lebar saat tak sengaja tatapan Febian mengarah kepada mereka.
“OK, nikmati es krim kalian. Aku masih harus bekerja. Oh ya, lain kali kalau makan es krim disini, khusus kalian bertiga tidak perlu bayar. Aku akan meminta karyawanku mengingat kalian, kalau perlu memotret kalian bertiga,” kata Febian sambil mengedipkan mata kiri.
Quindy tertawa, lebih mengarah pada terkekeh karena tawanya yang begitu canggung. Sementara itu Archie dan Azel tersenyum lebar, senang sekali bisa makan es krim gratis di tempat itu.
Dan benar saja, tak lama kemudian seorang pelayan membawa nampan kecil untuk mengembalikan uang yang tadi dikeluarkan Quindy.
Tiga anak polos itu bertepuk tangan, seakan kedatangan uang itu seperti kue tart dengan lilin – lilin kecil yang menyala.
“Jadi dia teman kakakmu? Cakep ya,” bisik Quindy setelah pelayan tadi meninggalkan mereka.
“Baru Kak Febian, kamu bilang cakep? Belum lihat kakakku,” seru Azel dengan penuh rasa bangga.
“Kalau lihat mukamu sih, aku nggak percaya kamu punya kakak cakep,” ledek Archie.
“Ih, kok nggak percayaan sih,” seru Azel, kesal dengan sahabatnya.
“Kalau dia atau kamu anak pungut, aku akan percaya,” ucapan Archie membuat Azel memukul pundaknya beberapa kali.
Namun pukulan itu berhenti saat Febian keluar dengan membawa senampan es krim pesanan Sherly dan kawan - kawannya. Azel berbagi senyum dengan Febian, saat mata mereka beradu.
“Kalo dilihat – lihat, Kak Febian cakep juga,” gumam Azel. Meletakkan dua siku di meja, menggunakan kedua telapak tangan untuk menopang wajah mungilnya.
Archie melambaikan tangan di depan muka Azel, membuat gadis itu melirik sang sahabat sambil mengerucutkan bibir.
Azel baru saja menapaki masa remaja. Masa – masa dimana seseorang mulai tertarik dengan lawan jenisnya. Seperti itu pula yang dirasakannya. Dulu, saat Febian sering main ke rumah, ia masih terlalu kecil untuk tertarik pada lelaki yang enam tahun lebih tua darinya itu.
Fabian sering membawakannya cemilan atau permen saat main ke rumah, sesekali ikut main bekel atau pun congklak dengannya, tetapi saat lelaki itu tamat SMP dan tidak satu SMA dengan kakaknya, Fabian jarang sekali main ke rumah.
“Abis ini kita kemana?” tanya Quindy.
“Nonton yuk!” ajak Archie dengan setengah memaksa.
Azel masih memandang pintu khusus karyawan dimana Fabian keluar masuk dari pintu itu, sambil tersenyum sendiri seperti orang kasmaran.
“Oi, ayuk nonton!” paksa Archie sambil menepuk pundak Azel.
Merasa terganggu, Azel kembali manyun. Archie sangat mengganggunya, bahkan membuatnya merasa malu sendiri karena sudah membayangkan Fabian jalan dengannya.
“Ayok, kita pergi!” Archie menarik tangan Azel dan memaksanya keluar.
“Kak Fabian, aku pergi dulu ya. Bye!” teriak Azel karena Archie tidak memberinya kesempatan untuk sekedar berpamitan.
Fabian yang baru saja keluar dengan membawa nampan pesanan customer hanya bisa melambaikan tangan sambil geleng – geleng. Kemudian ia meletakkan nampan itu di depan Sherly. Gadis itu tersenyum dan sengaja mengedipkan satu mata kepadanya.
“Silakan dinikmati!” ujar Fabian sambil berjalan cepat masuk ke dapurnya.
***
Sebelum mereka nonton, mereka bertiga memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
Azel, Archie dan Quindy masuk ke sebuah restoran Korea. Memesan jajangmyeon, kimbab, kimchi dan juga teh ocha.
Mereka menikmati makanan itu dengan lahap, hingga mi dengan saus berwarna hitam itu menghiasi sekitar bibir mereka.
Mereka saling menunjuk sambil tertawa saat melihat wajah temannya belepotan saus. Suara tawa mereka yang keras menjadi bahan perhatian beberapa pengunjung.
Setelah menghabiskan makanan yang begitu banyak, seakan mereka kelaparan dan tidak makan selama beberapa hari. Setelah perutnya penuh, malah membuatnya menjadi begah.
Setelah membuat piring – piring penuh itu menjadi kosong, mereka menyelonjorkan diri sambil menepuk perut yang keras. Membuka gawai untuk melihat jadwal film yang sedang tayang di bioskop.
Mereka juga membuat sebuah rencana saat berada di gedung bioskop, seakan sedang akan berperang sehingga butuh taktik jitu untuk memenangkan sebuah peperangan.
Setelah merasa baikan, Azel segera mengeluarkan kartu debit untuk membayar lalu keluar dengan langkah lemah dan pelan karena perut mereka masih kekenyangan.
Archie sedang mengantri untuk memesan tiket bioskop. Mereka sepakat untuk menonton sebuah film animasi yang lucu. Sementara itu, Azel dan Quindy membeli popcorn dan minuman bersoda.
Quindy membawa satu ember pop corn dan tiga minuman bersoda yang ditata di sebuah tatakan minuman berisi empat lubang yang terbuat dari bahan kardus.
Azel membawa dua ember pop corn. Berjalan mendekati Archie yang baru saja mendapatkan tiket masuk.
Mereka bertiga membawa satu ember pop corn, masuk ke studio tiga. Setelah melewati pemeriksaan tiket, mereka segera mengambil tempat duduk mereka yang ada di tengah – tengah.
Tak lama kemudian, lampu – lampu dipadamkan lalu layar mulai memutar sebuah iklan.
Sepanjang film diputar, mereka bertiga hanya makan, minum dan tertawa setiap kali adegan lucu terjadi. Hingga perlahan pop corn mulai habis dan film pun selesai diputar.
Setelah film selesai, mereka bertiga keluar dan tanpa terasa hari sudah mulai gelap. Hal itu diketahui Azel saat melihat keluar jendela yang terbuat dari kaca.
“Mampus aku!” serunya sambil menepuk jidat.
“Kenapa?” tanya Archie dan Quindy bersamaan.
“Aku harus pulang, kalau tidak, kakakku bisa marah – marah.” Azel tidak suka Yudistira mengomel soal apa saja. Lelaki itu lebih galak dari om dan tantenya.
“Ya sudah, ayo kita pulang,” ujar Archie.
“Quindy kamu tadi kesini sama siapa?” tanya Azel yang merasa tidak enak karena harus menyudahi acara jalan – jalan mereka.
“Aku sama sopirku. Kalian tenang saja! Cepat pulang sebelum dimarahi kakakmu,” kata Quindy sambil mendorong dua teman mereka.
“Sorry ya, kita harus pulang dulu. Sampai jumpa senin besok,” ujar Azel.
Azel mencium pipi kanan dan kiri Quindy lalu menarik tangan Archie menuju tempat parkir.
Tanpa diketahuinya, gawai sudah bergetar sejak jam lima sore tadi.