Azel dan Archie masuk mall yang hari ini cukup ramai karena weekend. Kedua anak yang masih ingusan itu berjalan sambil melihat ke sekeliling.
Mereka harus ke toko buku, tempat mereka janjian bersama Quindy.
“Kenapa sih anak itu, ngerepotin banget. Kalau dijemput kan nggak usah kayak gini,” keluh Archie.
Keluhan itu bukan tanpa sebab. Mereka belum mengenal seluk beluk mall, sehingga untuk menuju toko buku harus berjalan dan berkeliling mencarinya.
“Kamu kenapa sih, ngedumel terus kayak mama – mama.” Azel menepuk pundak Archie, membuat sang sahabat meliriknya sebal.
Setelah berjalan agak jauh, mereka berdua akhirnya menemukan toko buku itu. Berdiri di depan sambil melihat orang – orang yang lalu lalang.
“Arhie, Azel.” Quindy berlari sambil melambaikan kedua temannya. Tersenyum lebar dan tampak bahagia bisa bertemu sahabatnya.
“Lain kali, mending kita jemput deh. Biar kita nggak seperti orang ilang, nunggu kamu disini.” Archie masih saja ngedumel, membuat dua gadis itu tertawa.
“Untung kamu cepat datang. Dari tadi dia ngedumel mulu, kayak emak – emak.” Sontak Quindy tertawa dan tak lama kemudian tawa Azel ikut meledak.
Archie mengerucutkan bibir dan dengan sengaja menggeser dua sahabatnya untuk melintas di tengah mereka.
Azel dan Quindy makin tertawa lebar sambil mengikuti Archie yang melangkah dengan lebar.
Ketiga anak remaja itu berjalan beriringan, seakan mall milik mereka bertiga. Berjalan di tengah – tengah, membuat orang lain harus minggir saat mereka melintasi tiga orang sahabat yang tampak sangat akrab itu.
“Eh, ada toko asesoris,” tunjuk Archie, tak lama kemudian ia berlari menuju tempat itu.
Archie bukan anak lelaki feminism yang suka memakai barang perempuan, tetapi ia sangat menyukai barang – barang itu dan sangat menarik minatnya.
“Wah lihat nih,” ujar Archie sambil mengangkat sebuah bando bermotif kotak – kotak, paduan warna hitam dan krem, di tengahnya membentuk pita yang sangat lucu.
Bando itu dipasang di kepala Azel, tanpa canggung apalagi malu – malu. Ia juga mengambil bando yang sama namun berbeda warna. Biru elektrik dan krem, segera ia pasang di kepala Quindy.
“Kalian seperti kembar siam yang baru dipisahin.” Archie berlari kencang keluar dari toko asesoris sambil tertawa keras.
Azel dan Quindy kompak melepas bando dan mengembalikannya di tempat semula sebelum mengejar Archie.
Dengan kompak keduanya menepuk pundak Archie, sebal karena disebut kembar siam yang baru dipisahkan. Sebuah lelucon yang sangt tidak lucu bagi kedua anak perempuan itu.
Kembali melangkah menyusuri mall, Azel melihat sebuah hoodie yang tampak lucu dipajang sebuah toko dengan brand ternama. Hoodie berwarna hijau pastel itu menarik minatnya untuk mendekat.
“Hoodie itu lucu deh. Ayuk kesana!” Azel menarik tangan Quindy dan Archie.
Mereka masuk ke toko itu dan melihat – lihat isinya. Mereka berpisah ke tiga sudut yang berbeda.
Archie melihat – lihat pakaian laki – laki, sementara itu Quindy melihat – lihat T shirt yang sedang diskon.
Azel berada di bagian hoodie yang berjajar bersama jaket – jaket yang berada di bawah hoodie. Setelah memeriksa hoodie hijau yang tampak menarik itu, ia memanggil dua sahabatnya agar mendekatinya.
“Gimana kalau kita pakai hoodie yang sama?” tanya Azel sambil menenteng hoodie yang terdapat lambang toko di bagian d**a kirinya.
“Boleh, tapi warna biru muda saja ya. Aku nggak suka warna hijau,” kata Archie, lelaki itu segera mengambil hoodie biru muda yang menggantung bersama hoodie yang lain.
Quindy mengernyitkan dahi, memandang hoodie itu tanpa bicara.
“Kenapa?” Azel sadar dengan sikap Quindy, membuatnya merasa heran dengan sang sahabat.
“Masalahnya, aku sedang dihukum papaku. Aku nggak dapat uang saku sampai bulan depan.” Quindy menunduk dengan muka merona karena malu.
Archie dan Azel saling memandang. Merasa iba dengan sahabatnya yang sedang kena masalah keluarga.
“Soal itu, nggak usah dipikirin. Biar aku yang bayarin kamu,” kata Archie.
“Tapi….” Quindy merasa tak enak hati, memandang temannya dengan tatapan berkaca – kaca.
“Udah deh, kamu nggak usah mikirin soal itu. Aku juga dibayarin dia kan.” Azel mengambil satu hoodie lagi untuknya dan segera diserahkan kepada Archie.
“Aku cuma bayarin Quindy, bukan kamu, Azel.” Archie protes karena Azel seenaknya memintanya membayar tiga hoodie seharga delapan ratus ribu per itemnya.
“Sudah deh, ntar aku yang bilang mamamu kalau anak tunggalnya baik banget sudah beliin teman – temannya hoodie.” Azel menepuk pundak Archie.
“Ini bukan seperti aku beliin kalian makan siang,” cicit Archie.
“Soal makan siang, biar aku yang bayar. Deal!” sahut Azel sambil mengangkat tangan, bersiap berjabat tangan dengan sahabatnya.
“Aku yang pilih restorannya ya,” kata Archie, berusaha bernegosiasi dengan sahabatnya.
“OK, deal!”
Archie dan Azel saling berjabat tangan. Tak lama kemudian Archie menuju kasir untuk membayar tiga hoodie kembar dengan memakai kartu debitnya.
Azel tersenyum melihat sahabatnya sedang mengambil tiga paper bag berisi hoodie kembar mereka.
Setelah membagikan paper bag yang berwarna putih, Azel, Archie dan Quindy kembali berjalan menyusuri mall.
Sambil sesekali tertawa karena saling membuat joke lucu. Saat mereka tiba di sebuah toko es krim, kali ini Quindy yang menarik mereka untuk masuk ke toko itu.
“Kalian duduk saja disini, biar aku yang pesenin es krim untuk kalian,” kata Quindy yang membuat dua orang temannya itu terkejut.
“Bukannya kamu lagi nggak ada duit ya?” tanya Archie, heran dengan temannya.
“Kalau Cuma buat beli es krim sih ada. Udah deh, kalian tenang saja, biar aku yang bayarin kalian. Kalian mau es krim rasa apa?” tanya Quindy.
“Aku vanilla dan coklat,” kata Azel.
“Aku tiramisu dan coklat,” sahut Archie.
“OK.” Quindy segera mendekati sang penjual untuk memesan es krim sesuai dengan pesanan dua sahabatnya.
Azel melihat ke sekeliling toko es krim yang ruangannya tidak terlalu besar. Bewarna serba biru, pink dan hijau yang soft, yang membuat toko ini terkesan manis seperti es krim.
Toko dengan empat meja itu hanya terisi mereka bertiga saja. Membuat ruangan menjadi terasa sangat privasi dan itu sangat menyenangkan.
Di etalase toko, terdapat bermacam – macam es krim dengan warna dan rasa yang berbeda. Ada vanilla, coklat, stroberi, tiramisu, hazelnut, oreo, matcha, avocado dan masih banyak lagi.
Azel dan Archie duduk berhadapan, saling memandang lalu saling bertukar tawa tanpa alasan.
Quindy yang baru saja selesai memesan es krim melihat kedua sahabatnya yang tertawa tanpa tahu sebabnya.
“Ada apa sih, kenapa kalian ketawa?” tanyanya penasaran.
“Nggak ada apa – apa, Cuma lucu aja melihat mukanya,” kata Azel sambil menunjuk wajah Archie.
“Aku ketawa lihat mukanya,” kata Archie tak mau kalah.
Tiba – tiba tawa mereka bertiga meledak sambil saling menunjuk wajah temannya. Namun tawa itu seketika lenyap saat tiga orang gadis masuk ke toko yang sama dengan mereka.
Sherly dan teman – temannya juga terkejut saat melihat tiga teman sekelasnya sudah duduk manis di toko es krim itu.