Menjemput Archie

1342 Words
Azel baru saja pulang sekolah, melompat keluar dari Alphard dan segera masuk rumah dengan berlari kencang. Gantungan kunci warna merah muda dengan inisial 'YA' bergoyang seiring langkahnya. Ia hendak membuka handel pintu kamarnya namun urung dan segera masuk kamar Yudistira. Melempar ransel begitu saja dan melompat ke ranjang untuk membangunkan kakaknya yang sedang terlelap. “Ada apa, Azel,” keluh Yudistira yang tidur siangnya terganggu. “Kakak, Kakak. Tahu nggak sih, tadi tuh ada cewek nyebelin banget deh. Sok cantik dan sok keren,” ujar Azel sambil mengguncang pundak kakaknya yang masih enggan bangun. “Terus kenapa?” Yudistira tidur membelakangi Azel, masih berusaha melanjutkan mimpi tapi itu takkan pernah terjadi. “Ayo, Kak. Bangun deh.” Azel menarik tangannya, meminta sang kakak untuk segera bangun dan mendengarkan ceritanya. Dengan terpaksa, lelaki yang usianya delapan belas tahun itu pun duduk sambil berusaha membuka kedua matanya. “Aku tadi kan duduk di tengah – tengah, urutan ketiga, Kak. Cewek itu nyamperin aku dong, terus nyuruh aku pindah.” “Terus apa yang kamu lakukan?” “Ya, aku pindah aja. Lagian buat apa ribut soal bangku, toh belakangku masih kosong.” “Seharusnya kamu ke depan, Azel. Bukan malah mundur.” “Aku tidak mamsalah kok. Lagian, ada cowok cakep duduk di belakangku. Namanya Arga. Aduh, dia keren banget deh.” Alea menyatukan kedua tangannya sambil membayangkan betapa kerennya Arga saat masuk ke kelas. Mata Alea ke arah langit – langit kamar, sambil tersenyum karena membayangkan Arga. Tiba – tiba saja Yudistira memukul pelan kepala Azel, membuat adiknya terkekeh karena merasa konyol sekali. “Sekolah yang bener! Baru hari pertama sudah mikirin cowok,” ujar Yudis dengan lirikan mautnya. Azelia hanya bisa nyengir kuda, setelah membangunkan kakaknya secara paksa, ia turun dari ranjang berseprai abu – abu itu. Meraih ransel yang teronggok di dekat ranjang lalu berlari keluar menuju kamarnya sendiri. Masuk kamar, Azel menjatuhkan diri di ranjang queen size dengan seprai soft pink. Merogoh gawai dari tasnya, lalu membuka chat yang ternyata sudah berisi puluhan chat dari grup WA yang baru dibuat tadi saat pulang sekolah. Grup yang hanya berisi dirinya, Quindy dan Archie sudah dipenuhi dengan ekspresi kekesalan dari kedua sahabat barunya. Azel segera turut menambah kekesalan dengan mencurahkan hati. Weekend, hangout yuk! ajak Archie kepada dua kawannya. Kemana? tanya Azel penuh semangat. Mall aja. Kita take a lunch, ujar Archie. Boleh – boleh, balas Quindy. Nanti aku ikut kamu ya Zel. Sopirku lagi libur seminggu nih, kata Archie. OK, nanti kujemput. Kamu mau kujemput juga, Quin? balas Azel. Nggak usah, kita kan beda arah. Kita ketemuan disana saja, jawab Quindy. Azel dan Archie kompak mengirim emotikon lucu dengan tulisan OK. *** Pada hari yang ditentukan, Azel membongkar lemarinya untuk pergi bersama dua sahabatnya. Seperti sedang kencan berdua, ia memadu madankan pakaian di depan lemari namun pada akhirnya dilempar ke sembarang tempat. Gadis remaja itu tidak puas dengan outfitnya, membuatnya stress sendiri hingga memutuskan duduk di tepi ranjang sambil memandang pakaiannya yang berserakan di lantai. Febriyani masuk kamar dan terkejut dengan keponakannya. Ia mengambil baju yang teronggok di dekat kakinya lalu meletakkannya di tepi ranjang. “Kamu jadi pergi jam berapa, Sayang?” tanyanya lalu mendekati Azel yang masih manyun karena tidak mendapatkan pakaian yang ia inginkan. “Jam sepuluh, Tan. Tapi aku bingung pakai baju mana yang bagus.” Azel mencebik. Febriyani memandang ke sekeliling kamar lalu mengambil sebuah T shirt pink dan celana pendek putih. “Ini bagus, Sayang. Kamu tampak cantik dan fresh kalau pakai ini.” Azel tersenyum dan menyambar pakaian itu, mencium pipi kanan Febriyani lalu berlari masuk kamar mandi. Febriyani hanya bisa tersenyum sambil geleng – geleng, tak menyangka waktu sudah berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin ia membelikan boneka kepada Azel saat gadis itu sah menjadi keluarga karena dicatat di kartu keluarganya, kini bocah kecil itu sudah beranjak dewasa. Azel telah memakai pakaian yang direkomendasikan tantenya. Febriyani yang masih berada di kamar itu segera memberi kalung manik – manik warna warni untuk membuat penampilan Azel semakin fancy. Hubungan mereka sudah sedekat ibu dan anak. Meskipun Febriyani belum memiliki momongan, keberadaan Azelia dan Yudistira adalah sebuah berkah baginya. Meski demikian, ia tidak mensyukuri kondisi ini karena keberadaan Azelia dan Yudistira terjadi karena hal yang sangat buruk. Febriyani sangat menyayangi kedua keponakannya seperti layaknya seorang ibu kepada anaknya. “Sudah, kamu cantik sekali, Sayang.” Febriyani menyelipkan anak rambut Azel ke belakang telinganya. Azel memeluk Febriyani erat lalu mencium kedua pipi tantenya, “Thanks, Tan. Aku pasti belum siap kalau tidak ada Tante,” ujarnya. “Sudah – sudah, cepat berangkat! Pak Priyo sudah menunggu,” ujar Febriyani. Azelia segera menyambar tas ransel kecilnya, yang juga dihiasi gantungan kunci berinisial YA. Semua tasnya dihiasi dengan gantungan kunci yang sama. Sebuah gantungan kunci yang pernah dipesan secara custome saat mereka jalan – jalan ke Jepang dua tahun yang lalu. Melewati Agustinus dan Yudistira yang sedang duduk di ruang keluarga, Azel hanya melambaikan tangan sambil tersenyum manis sekali. “Mau kemana?” tanya Yudistira. “Jalan sama temen, Kak.” “Ya, sudah. Hati – hati ya!” Agustinus senang jika melihat keponakannya senang. “Kemana? Pulang jam berapa?” tanya Yudistira penuh selidik. “Mall. Sore juga udah balik, Kak.” Azalea mengerucutkan bibir, mulai kesal dengan kakaknya. Azelia hendak melangkah namun harus kembali berhenti karena Yudistira kembali bertanya, “Dengan siapa?” “Archie dan Quindy, sudah ah. Aku harus berangkat sekarang.” Azelia segera mendekati Agustinus dan mencium pipi kanan lelaki itu, lalu melewati Yudistira begitu saja. Gadis itu memang selalu sebal dengan kakaknya setiap kali harus menjawab beberapa pertanyaan setiap kali mau keluar bersama temannya. Kakaknya over protektif dan sering membuatnya malu karena suka menjemputnya lebih awal karena dianggap jam keluarnya sudah selesai. Karena itulah, ia sengaja meminta ijin kepada Febriyani dan tidak kepada kakaknya, karena jika ia meminta ijin kepada Yudistira, lelaki itu akan menjadi bayang – bayangnya. Ia tak suka dan tak nyaman jika harus jalan dengan kakak serta teman – temannya. Rasanya seperti memiliki baby sitter saja. Azalea segera ke teras dimana Pak Priyo sudah menunggunya. Ia segera masuk mobil dan meminta lelaki paruh baya itu mengantarkannya ke rumah Archie yang letaknya hanya dua blok dari tempat ini. Rumah Archie sebelas dua belas bentuknya dengan rumah Azalea, hanya saja jika rumah Azalea rimbun karena banyak tanaman, rumah Archie hampir tidak ada pohon sama sekali. Hanya ada satu pot besar pakis yang berada di ujung ruangan, dekat carport yang dihiasi dengan tiga mobil mewah. Azalea segera masuk rumah Archie dan duduk di ruang tamu yang berwarna abu – abu setelah dipersilakan masuk oleh seorang wanita berdaster yang merupakan asisten rumah tangga. Tak lama kemudian, seorang wanita yang sangat cantik dengan warna kulit putih mulus datang menyapanya. “Wah, temannya Archie ya. Senang melihatmu, saya mommy nya Archie, panggil saya Aunty Marie. Siapa namamu?” Marie segera mendekati Azel dan memeluknya ringan. “Azel.” “Dimana rumahmu, Sayang.” “Cuma dua blok dari sini, Aunty.” “Oh, ternyata kita tetangga ya. Siapa nama Mamamu, siapa tahu Aunty kenal.” “Saya tinggal dengan Om dan Tante saya. Tante saya namanya Febriyani.” “Febriyani istrinya Agustinus?” “Iya.” “Wah, kalau dia saya sudah kenal. Kita satu arisan. Duh, Aunty ada acara ini. Kalian berdua bisa bersenang – senang. Sering – seringlah main kesini. Archie selalu kesepian karena Mommy dan Daddy – nya selalu sibuk.” Azalea tersenyum untuk bersopan santun, sikap ramah yang begitu berlebihan membuatnya seperti sedang menghadapi tantenya yang juga memiliki sikap seperti itu. Pantas saja jika mereka satu arisan. Jangan – jangan, semua anggota arisan mereka memiliki kesamaan karakter. “Sudah, Mom. Berangkat sana, nanti telat. Aku dan Azel mau berangkat juga,” kata Archie sambil memutar bola matanya. Setelah mencium kedua pipi Azel dan Archie, wanita yang mengenakan baju motif macan itu keluar dengan langkah yang begitu jumawa. Archie dan Azel kompak tertawa melihat tingkah wanita itu. Bahkan tawa mereka belum habis meskipun sudah masuk mobil. Tapi Azalea beruntung bisa berteman dengan Archie dan diterima dengan baik oleh mamanya. Wah bagaimana kelanjutannya ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD