Beberapa tahun kemudian
Hari pertama Azel berangkat ke sekolah SMP, suasana hatinya sangat baik. Diantar kakaknya dengan BMW 320i yang merupakan milik mendiang papa mereka berdua.
Sejak Yudis bisa mengendarai mobil, Azel senang sekali bisa pergi berdua dengan kakaknya. Jalan – jalan, makan – makan atau ke mall bersama. Terkadang mereka hanya keliling kota saja. Meskipun harus merasakan penat karena kemacetan yang sangat parah, tidak membuat Azel kesal.
Dengan begitu percaya diri, Azel keluar mobil setelah tiba di sekolahnya. Sekolah baru, suasana baru, teman dan guru baru, ia sangat siap menghadapi semuanya.
“Bye, Kak.” Alea melambaikan tangan ke Yudis sebelum melangkah masuk ke gerbang sekolah.
Ransel biru dengan gantungan kunci berwarna pink dengan huruf YA Yang merupakan inisial nama mereka berdua, bergoyang – goyang mengikuti langkah Azel yang berjalan cepat.
Yudistira tersenyum sambil memandang adiknya. Memastikan Azel masuk gerbang sekolah dengan aman sebelum meninggalkannya.
Sepanjang perjalanan, Yudistira menikmati suasana dengan mendengarkan lagu slow rock lawas dan legend.
I want to lay you down in a bed of roses
For tonight I'll sleep on a bed of nails
Oh I want to be just as close as the Holy Ghost is
And lay you down on a bed of roses
(Bon Jovi - Bed Roses)
Yudistira sangat menyukai lagu yang dulu juga sering ia dengar bersama keluarga. Lagu – lagu semacam ini meskipun sering menyeretnya ke masa lalu dan terkadang berefek pada emosinya, namun ia tak bisa lepas darinya.
Ia sangat menyayangi Azalea, sang adik. Tapi ada satu hal yang harus dilakukan demi menggapai cita – citanya. Menjadi orang dengan backround pendidikan tinggi dari universitas terbaik di Indonesia.
Sebenarnya ia ingin kuliah di Harvard, namun karena tak ingin jauh dari Azel yang menurutnya masih terlalu kecil dan belum mandiri untuk ditinggal sendiri, ia memilih menundanya. Tetapi ia akan kesana untuk S2 nanti, saat Alea sudah masuk SMA.
Yudistira ingin sebuah kesempurnaan sebelum memegang perusahaan milik sang papa. Berharap nanti saat menduduki jabatan tertinggi di perusahaan itu, ia sudah siap memajukan perusahaannya dan membuat mendiang papanya bangga.
Bila semua itu terjadi, Yudistira siap melawan Gunadi, lelaki yang sudah membunuh papanya namun masih bisa bebas berkeliaran.
Tidak harus pintar untuk bisa mengetahui hal itu. Semua bukti – bukti yang didapat mengarah kepada rival papanya. Meskipun polisi sudah melakukan penangkapan, tetapi pada prosesnya lelaki itu justru dilepas karena bukti – bukti yang ada dianggap terlalu lemah.
Tentu saja demikian, karena ada seorang oknum yang sengaja menghilangkan bukti – bukti kuat yang bisa menjebloskannya ke penjara.
Itulah mengapa sampai detik ini ia tidak mempercayai orang – orang yang berhubungan dengan hukum.
Yudistira hanya percaya pada hukum rimba. Yang kuat akan semakin kuat dan yang lemah akan semakin lemah.
Tak terasa, mobil sudah mengarah ke rumah omnya yang berada di sebuah komplek perumahan elit di daerah Kemang – Jakarta Selatan.
Rumah berlantai tiga dengan konsep minimalis berwarna krem dan putih itu tampak menjulang diantara rumah – rumah yang lain.
Setelah memarkirkan mobil di depan pintu, ia melempar kunci kepada Pak priyo yang merupakan sopir keluarga. Tanpa memberi perintah, lelaki baya itu segera masuk mobil untuk memindahkannya ke carport.
“Kapan hasilnya keluar?” tanya Febriyani saat berpapasan dengan Yudistira di ruang tamu.
“Bulan depan,” jawab Yudistira dengan suara rendah dan terkesan dingin.
Febriyani tidak masalah dengan cara bicara keponakannya yang terkesan angkuh tersebut.
“Tante harap kamu bisa masuk sana. Papa dan om kamu juga lulusan sana,” ujar Febriyani.
“Aku yakin lolos.” Rasa percaya diri yang besar itu membuat Febriyani gemas kepada keponakannya.
“Ya sudah, kamu sarapan dulu. Tante mau keluar, ada acara dengan teman – teman Tante.” Febriyani segera melenggang pergi dengan menenteng Tas H yang harganya cukup mahal.
***
Azalea berada di kelas barunya. Duduk di barisan ketiga, di tengah – tengah kelas. Satu kelas berisi dua puluh anak. Sembilan di antaranya adalah laki – laki. Salah satunya berada di sisi kanannya.
Laki – laki yang perawakannya kurus dan berkulit putih pucat itu menarik perhatiannya. Bukan karena tampan, tapi karena wajahnya perpaduan Chinese dan Kaukasia. Rambutnya berwarna coklat pekat namun kulitnya putih seperti kulit orang Chinese.
Azalea tinggal di lingkungan yang cukup banyak terdapat ekspatriat. Tetapi baru sekarang ia satu kelas dengan lelaki itu.
Tiga anak perempuan dengan seragam rok yang terlalu pendek, masuk sambil melipat kedua tangannya. Sambil memandang ke sekitar, ketiga gadis itu berhenti di depan Azalea.
“Minggir!” ucap gadis dengan rambut bergelombang yang sengaja dibuat demikian.
Azalea memandang perempuan itu sesaat, hendak mengeluarkan suara namun sayangnya suara itu seakan menghilang ke udara.
“Kamu juga, pindah!” perintah gadis dengan rambut bob, salah satu dari ketiga gadis itu.
Sementara itu, gadis lainnya juga meminta gadis yang duduk di sebelah kiri Azalea untuk pindah.
Secara tak sengaja, ketiga anak yang duduk itu saling memandang namun tidak lama kemudian mereka pindah ke depan.
Meja kursi di kelas itu saling menempel, dengan jumlah empat deret dan lima baris. Pada akhirnya Azel dan dua temannya memilih mundur tanpa melakukan perlawanan.
Lelaki yang menurut Azel merupakan blasteran itu membuat garis miring di depan dahi dengan jari telunjuknya. Membuat Azel dan teman satunya tersenyum sambil geleng – geleng.
Saat bel tanda masuk berbunyi, seorang lelaki yang cukup tampan masuk dengan langkah lebar. Seakan slow motion dengan berhias bunga – bunga. Kulitnya yang putih begitu bersinar, selain itu dia anak yang memiliki badan cukup proporsional bagi anak yang baru duduk di kelas tujuh.
Tidak ada anak perempuan yang tidak terpana padanya. Termasuk Azel, jantungnya seperti sedang melakukan salto saat tahu lelaki itu duduk di belakangnya.
Azel menoleh, hendak menyapa lelaki itu, namun ternyata anak lelaki yang mengenakan sneaker hitam itu sudah meletakkan kepalanya di bangku.
Azel dan kedua temannya hanya bisa saling mengedikkan bahu, tak menyangka bertemu dengan teman dengan berbagai keunikan.
***
Pada jam istirahat, Azel akhirnya berkenalan dengan dua teman yang segera kompak sejak mereka bertemu.
Archie yang ternyata rumahnya masih satu komplek dengan Azel adalah anak lelaki yang sangat heboh dan suka sekali bicara. Quindy adalah anak perempuan yang suka sekali julid tapi tidak berani bicara di depan orang.
Mereka berada di kantin, menikmati cheese cake dan milkshake. Ketiga kawan itu memiliki selera makan yang sama, yang membuat mereka tertawa setelah menyadarinya.
“Cewek tadi, Sherly namanya kan. Duh sok banget dia,” ujar Quindy sebelum memasukkan cheese cake putih ke mulutnya.
“Dayang – dayangnya juga, nggak kalah sok. Untung aku lagi malas ribut sama orang. Kalau nggak, pasti sudah kubikin pempek biar tahu rasa,” seru Archie.
Azel hanya tersenyum menanggapi keluhan teman – temannya. Ia sendiri juga malas ribut dengan orang apalagi hanya karena tempat duduk.
“Eh, boleh coba milkshake mu, Quindy?” tanya Azel yang begitu terpana dengan milkshake temannya.
“Kalau mau incip aja. Kita kan teman, nggak usah sungkan seperti itu,” ujar Quindy.
Azel segera mengambil milkshake Quindy sambil terkekeh, lalu menyedotnya dengan sedotan besar berwarna pink miliknya. Hal yang sama dilakukan oleh Archie dan Quindy, mereka saling incip milkshake serta cheese cake.
Saat mereka bertiga tertawa karena melakukan hal konyol untuk pertama kali, saat itulah Sherly datang dan meminta ketiga kawan itu agar pindah ke tempat lain.
Ketiganya saling pandang, tak percaya kalau tiba – tiba tiga orang sok popular itu lagi – lagi merebut tempat mereka.
“Mulai sekarang, tempat ini, tempat kami. Kalian bertiga jangan pernah duduk di tempat ini lagi,” ujar Sherly.
Mereka bertiga saling memandang, dengan mata sepolos anak kucing yang kelaparan.