Hidup bersama om dan tante membuat kehidupan kedua anak yatim piatu itu berubah drastis. Azalea yang biasanya ceria, kini lebih banyak diam dan bahkan sering menangis mencari papa mamanya.
Yudhistira yang kalem hanya bisa memegang kedua tangan adiknya sembari terisak, tertahan dan akan berusaha tampak tegar saat om dan tantenya datang.
Azalea tidak mau terpisah dari Yudhistira, sehingga Agustinus dan Febriyani memutuskan untuk menempatkan mereka di kamar yang sama untuk sementara waktu. Sampai kondisi keduanya menjadi lebih baik secara fisik dan jauh lebih penting secara psikis.
Mereka berdua tidur dengan posisi saling berhadapan. Yudhistira menepuk pundak Azalea yang tidak berhenti meneteskan air mata. Gadis cilik yang biasanya menangis keras kini hanya terisak tertahan. Seakan menyembunyikan perasaan gundahnya, hanya kepada Yudistira.
“Kakak janji akan menjagamu, Azel,” ucap Yudis kepada sang adik yang biasa dipanggil Azel.
Azalea tidak menjawab, air matanya justru menetes dengan deras. Ia merapatkan diri ke pelukan Yudistira dan menangis di dekapan sang kakak.
Yudistira memeluk erat adiknya, membelai rambutnya dan membiarkan Azel menghabiskan air matanya.
Remaja itu bukan sembarang remaja. Yudistira adalah remaja jenius dan cukup dewasa untuk anak seusianya. Ia bahkan sudah mencurigai bahwa kebakaran itu bukan terjadi tanpa sengaja, sejak ia melihat jasad kedua orang tuanya.
Bahkan meskipun Agustinus berusaha menutupinya, lelaki yang sangat baik itu hanya ingin dua keponakannya bisa menjalani hidup dengan baik. Meskipun tidak akan sebaik saat kedua orang tuanya ada, tetapi Yudistira merasakan ketulusan om dan tantenya.
Aku harus menemukan siapa pelaku pembakaran rumah dan pembunuh papa mama! ucapnya dalam hati.
***
Hari yang sangat cerah namun diliputi mendung di rumah keluarga Agustinus. Bagaimana tidak, kakak laki – lakinya, satu – satunya keluarga yang tersisa, meninggal dengan cara yang tidak wajar.
Bahkan meskipun polisi sedang melakukan penyelidikan, ia tetap tidak bisa tinggal diam.
Hanya saja di depan dua anak sang kakak, warisan yang sangat berharga itu. Agustinus dan Febriyani berusaha keras untuk tampak biasa saja, tidak menunjukkan kesedihan yang mendalam sejak kepergian Leonardo beserta istri beberapa hari yang lalu.
“Azel, makan yang banyak ya! Ini kan makanan kesukaanmu,” ujar Febriyani.
Agustinus, istri dan dua keponakannya sedang menikmati sarapan pagi dengan lesu. Bahkan meskipun Febriyani meminta asisten rumah tangga mereka memasak semua makanan favorit setiap anggota keluarga, tetap saja tidak menambah nafsu makan.
“Azel, makan! Kamu bisa sakit kalau tidak makan.” Yudistira memandang adiknya dengan sorot mata tajam.
“Kakak juga tidak makan. Kenapa aku harus makan?” ucap Azel dengan sengit.
Yudistira segera menyendok nasi dan rawon yang merupakan makanan favoritnya. Memasukkan ke mulut hingga sangat penuh lalu menelannya. Cara makan yang tergesa – gesa membuatnya tersedak hingga terbatuk – batuk.
Agustinus menyerahkan segelas air ke depan Yudistira. Saat remaja itu mengangkat gelas, tangannya tiba – tiba bergetar hebat. Gelas yang dipegang jatuh dan isinya tumpah hingga ke kedua kakinya yang ada di bawah meja.
Wajah Yudistira mengkerut karena berusaha keras menahan tangis yang akan pecah.
“Jangan memaksakan diri. Om tahu sangat sulit menghadapi kematian papa mama kalian. Om dan Tante tidak memaksa kalian bisa cepat pulih,” ucap Agustinus dengan suara rendah, tenang namun tidak menutupi getar kesedihan.
“Tante sudah membuat janji dengan teman Tante. Dia akan membantu kalian melewati masa – masa berat ini,” imbuh Febriyani.
“Apa Om sudah tahu siapa pelaku pembunuhan papa dan mama?” Pertanyaan Yudistira membuat Agustinus menahan napas.
“Apa maksudmu, Yudis?” Agustinus seakan pura – pura tidak tahu apa yang sedang dibicarakan keponakannya.
“Om tidak perlu menutupi semuanya. Aku sudah tahu ada orang yang membunuh papa dan mama. Aku melihat luka di tubuh mereka. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang sudah menyakiti keluargaku.” Yudistira mengepalkan kedua tangannya, otot – otot di lehernya mencuat.
“Kakak.” Azalea tiba – tiba menangis keras. Gadis sepuluh tahun itu bukan tidak mengerti perjalanan dunia. Azelia tahu apa arti membunuh, dibunuh dan pembunuhan. Tiba – tiba saja ia ketakutan tanpa sebab.
Febriyani memeluk erat Azalea dan berusaha menenangkannya. Ia saling pandang dengan suaminya sambil menepuk punggung Azalea dengan lembut.
“Kamu benar. Om sudah menyerahkan masalah ini kepada polisi. Mereka akan menyelidiki semuanya,” ujar Agustinus.
“Apa polisi bisa dipercaya? Om pasti tahu seberapa buruknya mereka. Orang – orang yang berani melakukan semuanya demi uang.”
“Tidak semuanya. Om memiliki teman dekat yang juga seorang polisi. Kebetulan dialah yang menyelidiki kasus kematian orang tua kalian. Kita tunggu saja perkembangannya.” Agustinus memandang istrinya sambil mengangguk pelan.
Agustinus sangat mengenal sifat Yudistira yang pendiam dan penyendiri. Anak itu tidak mudah mempercayai orang lain, sama seperti sifat papanya.
“Habiskan makanmu! Jangan terburu – buru anak muda, semuanya harus dipikirkan dengan baik dan masak – masak.” Meskipun tidak sedang nafsu makan, Agustinus memaksakan diri menyendok nasi dengan sayur sup iga favoritnya.
“Azel, Tante suapin ya.” Febriyani menyendok nasi dan mencuil daging ayam krispi favorit Azalea, tetapi anak itu menggeleng dan menutup mulutnya.
“Makan Azel! Kamu bisa sakit kalau tidak makan.” Yudistira melotot, membuat wajah Azalea memerah dan tak lama kemudian tangisnya kembali pecah.
“Kak Yudis jahat. Azel tidak suka sama Kakak. Azel tidak mau makan kalau tidak ada mama,” teriak Azelia dengan tangis yang semakin keras.
“Papa mama sudah meninggal, apa kamu tidak tahu apa artinya? Mereka sudah dikubur, kamu juga melihatnya,” bentak Yudistira.
“Yudistira, hentikan!” Agustinus berusaha melerai tanpa menyakiti perasaan kedua anak itu.
“Azel harus makan, Om. Aku juga harus makan. Kita semua harus makan. Kita semua….” Yudistira melahap makanannya hingga mulutnya penuh.
Febriyani meneteskan air mata melihat betapa dalam luka yang dirasakan Yudistira, sementara itu Azelia masih terlalu kecil untuk memahami keadaan ini.
***
Yudistira duduk di meja belajarnya sambil memandang keluar jendela. Ia tidak tahu apa – apa tentang dunia papanya. Siapa saja temannya dan siapa saja musuhnya. Ia benar – benar terlalu sibuk mengejar prestasi hingga tidak memperhatikan keluarganya.
Bahkan ia tidak tahu siapa teman Azalea, membuatnya kesal karena selama ini ia terlalu cuek dengan keluarganya.
Yudistira memukul meja dengan dua tangan mengepal erat.
Ajaran mendiang papanya kala itu hanyalah agar Yudistira belajar keras agar bisa mencapai cita – cita yang bahkan saat itu masih begitu buram.
Yudistira hanya menjalani kehidupan dengan sebaik – baiknya. Banyak belajar dan sedikit bermain. Piala dan medalinya karena mengikuti berbagai perlombaan berjajar di rumahnya, tetapi yang baru ia sadari adalah bahwa apa yang ia anggap terpenting ternyata bukan apa – apa.
Tidak ada yang lebih penting daripada keluarga. Dan untuk menyadari hal itu, Yudistira harus kehilangan sesuatu yang sangat besar … papa dan mama.
Suara derit pintu membuatnya memutar tubuh. Melihat Azalea yang masuk dengan begitu pelan dan takut – takut membuatnya merasa bersalah. Karena amarahnya, Azalea harus menjadi korban.
“Kakak, maafin aku ya,” lirih gadis itu sambil melangkah perlahan mendekati Yudistira.
“Azel, maafkan Kakak. Kakak memang jahat sudah membuatmu sedih.”
“Apa Kakak masih marah padaku?”
“Tidak. Kakak tidak marah sama kamu. Sini Azel, ayo kita baikan.” Yudistira membuka kedua tangannya.
Seketika Azalea berlari kencang memeluk kakaknya yang masih duduk di kursi.
“Azalea, sampai kapan pun Kakak tidak akan pernah marah lagi sama kamu. Kakak janji. Kakak akan merawatmu dan menjagamu sebaik papa dan mama,” ucap Yudistira kepada sang adik.