Archie orang pertama yang datang ke rumah Azalea. Tentu saja karena rumahnya yang paling dekat. Anak lelaki kurus itu juga membawa oleh – oleh dessert box buatan maminya.
Febriyanti yang sudah kenal dan cukup dekat dengan mami Archie begitu senang mendapatkan buah tangan tersebut. Ia juga tak mau kalah dan meminta Archie untuk membawa pudding s**u buatannya.
“Quindy sudah datang?” tanya Archie sambil duduk di ruang keluarga.
“Belom. Tapi katanya sudah OTW.” Azel duduk di sebelah Archie lalu menggunakan memangku bantal cushion berwarna ungu tua.
Tak lama kemudian kehebohan terjadi saat Quindy datang sambil berteriak histeris. Seakan – akan mereka adalah teman lama yang tak pernah bertemu bertahun – tahun lamanya.
Azel bahkan Archie berdiri lalu berpelukan sambil berputar – putar hingga akhirnya terjungkal, untung jatuhnya di atas sofa karena kalau jatuh di atas lantai pasti akan sangat menyakitkan.
Arum membawa senampan minuman dingin yang ia buat sendiri sesuai permintaan sang majikan. Hanya sebotol besar cola dengan puluhan es tube yang akan diisi ulang kalau sudah habis. Arum juga membawa beberapa toples cemilan sebagai teman kerja kelompok.
“Arga belum datang?” tanya Quindy.
“Awas saja kalau tidak jadi datang. Aku bakal buat perhitungan dengannya.” Archie menjadi sangat berapi – api.
“Kamu nih, ada dendam apa sih sama Arga. Kok segitunya?” tanya Azel yang heran karena Archie berubah jadi tegas kalau berhubungan dengan Arga.
“Halo, Kak Yudis.” Archie menyapa Yudistira yang baru saja melewati ruang keluarga. Cowok itu hanya melengos tanpa peduli dengan Archie.
“Siapa dia?” tanya Quindy sambil memandang punggung Yudistira yang kini menghilang di balik pintu.
“Kakakku,” jawab Azel.
“Naksir?” ledek Archie membuat Quindy tertawa lebar.
“Kamu tidak bakal naksir kalau tahu seperti apa orangnya,” seru Azel sambil mencibir kakaknya sendiri.
“Dia cakep banget. Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau punya kakak secakep dia?” Quindy mabuk kepayang setelah melihat Yudistira, membuatnya seperti orang yang habis minum minuman keras dan setengah mabuk.
Archie dan Azel saling memandang lalu Azeal tertawa sambil mengibaskan tangan, tak percaya kalau ada yang menyangka Yudistira tampan. Mungkin karena Azel melihatnya setiap hari sehingga tidak dapat melihat ketampanan kakaknya sendiri.
“Kak Yudis tampan tapi aku yakin kamu nggak mau deket – deket dia kalau udah kenal.” Archie tidak mengada – ada. Yudistira memandangnya sebelah mata bahkan meskipun ia berusaha ramah, Yudistira hanya memandangnya dari sudut mata.
“Dia kaku kayak robot. Nggak peka jadi lelaki,” sahut Azel, apalagi jika mengingat kejadian kemarin saat mau makan es krim di toko milik Fabian.
Quindy tidak percaya begitu saja, tapi ia pun tidak ingin berlama – lama membahas tentang kakak Azel. Mereka bertiga segera membahas tentang project mereka yang harus dikumpulkan minggu depan.
***
Yudistira keluar rumah hendak membeli sesuatu saat sebuah Lamborghini merah masuk ke pelataran rumahnya. Tanpa ditanya oleh security, itu artinya Azel telah memberitahu Pak Darmono –nama security yang sedang bertugas— sehingga lelaki itu mendapatkan akses masuk dengan mudah.
Ia penasaran seperti apa lelaki yang ada di dalam mobil itu. Tak akan jadi soal kalau lelakinya seperti Archie, anak lebay yang membuatnya jengah setiap kali berjumpa.
Namun saat Arga keluar dari mobilnya, jantung Yudistira seakan berhenti berdetak. Lelaki itu jelas tidak semodel dengan Archie, teman dekat Azel.
Arga seperti menyalakan alarm peringatan untuk menjaga Azel dengan lebih baik lagi.
Yudistira tidak ingin adiknya bersama lelaki sembarangan, tidak tanpa ijinnya dan Arga adalah salah satu lelaki yang tidak boleh dekat dengan Azel.
Arga yang mengenakan kaos putih dan celana khaki sedang melepas kacamata hitam ray bannya. Dengan gerakan seakan slow motion bak seorang model berjalan mendekatinya.
“Saya temannya Azel. Saya sudah janjian dengannya,” kata Arga tanpa basa basi.
Yudistira termenung, masih terpaku dengan sosok Arga yang memiliki tinggi badan sama dengannya. Lelaki berbadan atletis dengan kontur wajah tampan dan tegas adalah bahaya bagi semua Wanita tak terkecuali Azel.
“Kak, Azel ada?” tanya Arga membangunkannya dari lamunan.
“Dia ada di dalam,” jawab Yudistira dengan suara yang sangat kaku.
Arga masuk ke rumah tanpa menunggu dipersilakan masuk, membuat Yudistira kesal karena dianggap sangat tidak sopan. Jika lelaki itu adalah Archie, ia takkan mempermasalahkannya. Tapi dia adalah lelaki yang menyalakan alarm bahaya dan Yudistira tidak bisa membiarkan Azel di rumah tanpa pengawasan darinya.
Yudistira masuk rumah dan mengurungkan niatnya untuk keluar. Melihat Arga bergabung di ruang keluarga, disambut hangat oleh Quindy serta Archie.
Saat melihat wajah Azel yang tiba – tiba memerah, jantung Yudistira menjadi tak karuan. Merasakan aura ketertarikannya kepada bocah bongsor yang kini duduk di sebelah Azel.
Yudistira menyugar rambutnya dengan kesal. Senewen melihat senyum malu – malu Azel yang membuatnya ingin sekali menyeret adiknya menjauh dari anak itu.
“Kak Yudis.” Suara Quindy yang melihatnya berdiri di depan pintu membuat tiga orang lainnya ikut melihat ke arahnya.
Tanpa banyak bicara ia segera melangkah menjauh menuju dapur dan segera mengambil air minum dingin untuk meredam rasa panas yang membakar tubuhnya.
***
Hati Azel berbunga – bunga dan jantungnya berdegup kencang saat Arga duduk di sebelahnya. Lelaki itu tampak sangat tampan dan wangi, membuatnya berharap waktu berhenti agar ia bisa berlama – lama bersamanya.
“Jadi bagaimana perkembangan penelitiannya?” tanya Arga kepada Archie yang duduk lesehan di dekat meja, di hadapan Arga.
“Kita baru datang, jadi aku belum membuat apapun,” kata Archie sambil membuka laptopnya.
Arga mengeluarkan gawai lalu menyerahkannya kepada Archie. Ada lima pertanyaan yang telah ia buat, membuat Archie memandangnya dengan binar – binar tidak percaya kalau Arga yang tadinya tampak cuek tiba – tiba berubah.
“Aku sengaja mencarinya di internet. Kamu kenal internet kan?” pertanyaan Arga membuat Archie mengerucutkan bibir, tak menyangka kalau Arga membalasnya dengan ucapan yang tak kalah pedas.
“Kupikir kamu tidak suka K Pop,” celetuk Archie sambil mengetik catatan yang diserahkan Arga.
“Kamu bisa mengirimnya melalui email atau WA lalu meng copy pastenya,” kata Arga saat melihat Archie mencatatnya.
“Cuma lima biji ribet amat. Diketik ulang juga cepat,” jawab Archie dengan bibir mengerucut.
Quindy dan Azel menyerahkan daftar pertanyaan yang akan dibuat sebagai questioner. Archie bertugas mengetik, ia juga menyerahkan lima pertanyaan sehingga total pertanyaan pada questioner adalah dua puluh pertanyaan.
Setelah menunggu beberapa saat, Archie membalik laptop untuk menunjukkan hasil kerjanya.
“Kita buat lay out yang bagus biar yang mengisi questioner jadi semangat mengisinya,” kata Azel saat melihat hasil kerja Archie yang masih polos.
“Targetnya siapa?” tanya Arga.
“Murid – murid kelas sepuluh dan sebelas di sekolah kita saja. Kalian setuju kan?” tanya Archie meminta keputusan dari yang lain.
“Setuju,” jawab Azel dan Quindy bersamaan.
“Kapan ini disebar?” tanya Arga.
Archie merasa kalau Arga mendominasi mereka, seakan dialah ketuanya padahal sejak awal dialah yang memimpin kelompok ini.
“Besok. Kita akan bagi tugas. Aku dan Quindy di kelas sebelas. Kalian berdua di kelas sepuluh,” ucapan Archie bukan pertanyaan namun nada suaranya lebih terdengar seperti pernyataan.
“Apa kamu marah padaku?” Arga bisa merasakan Archie yang sedang kesal dengannya tapi ia tidak tahu alasannya.
“Aku nggak marah,” jawab Archie ketus. Ia segera memutar laptop dan membuat lay out pada lembar quistionernya.
Arga memandang Azel, tidak ada yang bisa dilakukan Azel selain tersenyum dan mengedikkan bahu.
Setelah beberapa lama, Archie kembali menunjukkan hasil pekerjaannya.
Azel terpukau dengan hasil lay out yang dibuat Archie. Mereka sama – sama pecinta K Pop sehingga Azel tahu Archie bisa membuat lay out yang sangat baik.
Pada lembar questioner itu sengaja di beri gambar beberapa idol terkenal juga lambang – lambang dari nama boy band and girl band yang dipasang di atas dan bawah lembar questioner.
“Kalau sudah OK, bisa cepat di print,” kata Archie.
Azel dan Quindy suka dengan hasil kerja Archie, sementara Arga hanya mengedikkan bahu.
“Print dua ratus lembar, Zel. Kamu punya printer kan?” tanya Archie, memastikan kalau Azel memang memilikinya.
“Ada. Kakakku punya. Kirim ke emailku ya. Aku print sekarang.” Tanpa menunggu jawaban Archie, Azel segera melesat keluar ruang keluarga.
Azel merasakan perang dingin antara Arga dan Archie. Hanya saja ia tidak tahu mengapa Archie begitu tidak suka kepadanya. Berusaha untuk melupakan masalah itu, ia segera masuk kamar Yudistira tanpa mengetuknya.
Gadis itu belum tahu kalau kakaknya sedang ingin melumat Arga menjadi bola – bola daging.