Azalea turun dari yang mengantarnya ke sekolah. Hari masih cukup pagi, hanya beberapa anak yang baru saja datang dengan kendaraan mereka yang berada di belakang antrian. Sekolah Azel memang sekolah elit dengan biaya mahal. Hampir semua muridnya diantar mobil mewah. Hanya segelintir murid yang datang dengan jalan kaki atau diantar motor, mereka adalah anak – anak dari guru sekolah ini yang mendapatkan fasilitas sekolah gratis.
Berpamitan dengan Pak Priyo, Azel berlari melewati halaman sekolah yang masih sepi. Jam masih menunjuk angka tujuh pagi, sementara jam masuk sekolah adalah delapan pagi. Azalea sudah terbiasa datang jauh sebelum jam masuk sekolah.
Tidak seperti kemarin, pagi ini tidak Arga di kelasnya. Mengembuskan napas berat, ia melangkah menuju bangkunya sendiri. Duduk lalu menoleh ke belakang seakan Arga ada di tempat itu, duduk sambil meletakkan kepala di meja.
Saat menoleh, lelaki itu baru saja masuk kelas. Menenteng tas ransel hitam, melangkah lebar menuju bangkunya dan segera meletakkan kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.
“Hei, aku tidak tahu kamu suka makan di toko es krim itu,” kata Azel sok kenal sok dekat.
“Aku tidak suka makan es krim apalagi di toko itu,” jawab Arga.
“Yang kemarin, apa dia kakakmu?” tanya Azalea penuh ingin tahu.
Arga duduk tegak, mengembuskan napas berat lalu memandang Azel sambil melipat kedua tangannya, “Urus urusanmu sendiri!” tegasnya sebelum kembali meletakkan kepala di atas tumpukan kedua tangannya.
Arga memang tegas dan cenderung ketus, meski telah mengetahuinya tetap saja ucapan tajamnya membuat hati Azel mengkerut karena takut.
Azel membungkam mulutnya lalu memutar badan memandang ke papan sambil berusaha meredam perasaannya sendiri. Menyalahkan dirinya sendiri yang seenaknya berbicara, lagipula kenapa dia tiba – tiba berbicara seakan sedang bersama Archie.
Azel memejamkan mata sambil menahan napas, menyesal mengapa ia mengatakan hal itu.
Ia taky akin bisa melihat Arga lagi dengan cara yang sama. Seharusnya ia menjadi Azel yang pendiam dan tidak sok dekat seperti tadi. Tiba – tiba udara menjadi panas padahal AC baru saja dinyalakan.
Archie masuk dan segera melambaikan tangan. Awalnya Azel berpikir lambaian tangan itu untuknya, tetapi ternyata salah. Archie mendekati Arga, tetapi Arga membuang muka.
Itu lebih masuk akal daripada tiba – tiba Arga dekat dengan Archie. Bukannya ia setuju dengan Yudistira yang merasa kalau Archie kecewek – cewekan, tetapi kenyataan kalau Archie lebih mudah bergaul dengan cewek daripada dengan cowok adalah kebenaran yang tidak bisa dibantah.
Namun nyatanya Archielah orang yang bisa membuat sebuah pertemuan di perpustakaan setelah pulang sekolah.
Arga dipaksa untuk ikut serta sehingga disinilah ia sekarang berada.
Sherly dan dua temannya serta seorang cowok super cupu lengkap dengan kacamata tebalnya baru saja masuk perpustakaan. Dengan sengaja memilih duduk di dekat meja Azel dan kawan – kawan.
Arga duduk di depan Azel, kedua tangannya dilipat dan satu kakinya menumpang kaki yang lain. Gayanya seperti seorang bos yang menunggu laporan anak buahnya.
Azel tersenyum kikuk, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kejadian tadi pagi masih membuatnya merasa tak enak hati.
“Kita harus memikirkan penelitian apa yang harus kita lakukan. Kita harus cepat memutuskan biar cepat membuat laporan.” Archie membuka laptop dan mengetik sebentar.
“Bagaimana kalau kita melakukan penelitian tentang murid – murid penyuka dan tidak suka K Pop,” kata Quindy.
Azel mengangguk menyetujui ide Quindy. Sebagaii salah satu fans sebuah grup K Idol, Azel merasa ini sangat menarik.
“Menurutmu bagaimana, Arga?” tanya Archie kepada Arga yang masih duduk diam, hanya memandang Azel yang berada di depannya.
“Lakukan apa yang kalian mau,” ujarnya tanpa membuang muka dari Azel.
Azalea meringis bahkan mengusap tengkuknya karena merasa tak nyaman dengan sikap Arga.
“OK, itu saja ya. Nanti aku buatkan papernya, tapi kalian harus menyerahkan lima questioner. Besok kita ketemu lagi disini,” kata Archie.
“Lima belas questioner saja cukup. Aku tidak tahu dunia K Pop jadi aku tidak bisa memberi kalian questionernya, maaf.” Namun permintaan maaf Arga tidak tulus dan hal itu bisa dirasakan Aechie.
Archie tidak memperpanjang masalah dan ia membiarkan Arga untuk tidak mengirim questioner seperti permintaannya.
“Besok aku tidak bisa datang. Kalian atur saja semuanya,” ujar Arga membuat Archie melotot tak percaya kalau Arga menjadi sangat tidak sopan.
“Kalau begitu, jam berapa kamu bisa datang? Tidak masalah kalau kita bertemu di rumahku atau rumah Azel atau rumah Quindy kan?” ujar Archie.
“Jangan ke rumahku. Besok ada acara keluarga. Mending ke rumahmu atau Azel,” ralat Quindy dengan cepat.
“Di rumahku tak masalah.” Azel menawarkan rumahnya.
“OK, besok kita kumpul di rumah Azel,” seru Archie.
“Aku sudah bilang tidak bisa datang. Besok aku sibuk,” kata Arga dengan begitu dingin membuat Archie berang.
“Bukan kita yang mengajakmu masuk grup, kamu sendiri yang menawarkan diri. Terserah kamu mau satu grup sama kami atau silakan cari grup lain.” Archie yang biasanya santai dan sedikit lebay tiba – tiba tampak tegas selayaknya lelaki.
“Kamu bisa masuk grupku, Arga.” Sherly yang duduk di belakang Arga tiba – tiba menyahut.
“Japri alamatmu!” kata Arga kepada Azel, membuat gadis itu terkejut karena tak menyangka Arga segera menyetujui perintah Archie.
Bagi Azel apapun alasannya tak jadi soal yang penting Arga main ke rumahnya. Ini sebuah hal yang layak untuk dirayakan.
Sampai rumah, Azel meminta para asisten rumah tangga membersihkan rumah dengan baik karena besok teman – temannya mau datang. Ia juga meminta mereka menyiapkan makan malam istimewa untuk menyambut kedatangan Arga … maksudnya teman – temannya.
Begitu hebohnya sampai Febriyanti dan Agustinus saling memandang melihat Azel yang begitu semangat dalam urusan rumah.
Mereka berdua sadar kalau Azel sudah beranjak dewasa dan mereka bisa merasakan ada remaja yang sedang jatuh cinta di rumah ini.
Lain halnya dengan Yudistira, ia memandang tingkah polah Azalea dari tangga.
“Tolong pesankan bunga untuk meja bundar itu ya, Mbak,” pinta Azel kepada Mbak Arum, kepala asisten rumah tangganya.
Arum segera melaksanakan tugas dengan menyuruh salah satu asisten rumah tangga memesan langsung rangkaian bunga ke toko bunga langganan mereka.
“Apa kamu sedang merayakan sesuatu?” tanya Yudistira sambil memandang para asisten rumah tangga yang dibuat sibuk oleh Azel.
“Besok teman – temanku mau datang, Kak. Jadi wajar dong kalau rumah ini harus dibersihin,” jawab Azel.
“Pesta?” tanya Yudistira dengan satu alis terangkat.
“Belajar kelompok,” jawaban Azel sontak membuat kedua alis Yudistira terangkat.
Melihat keponakan lelakinya, Febriyanti mendekati Yudistira. Menepuk pundaknya sambil berusaha untuk tidak tertawa karena merasa tingkah Azel sangat lucu.
“Masak kamu tidak tahu, Yudis,” kata Febriyanti.
“Apa, Tan?” Yudistira benar – benar tidak tahu mengapa Azel menjadi seperti itu.
“Sepertinya adikmu sedang menikmati cinta monyet,” jawab Agustinus sambil menahan geli.
Berbanding terbalik dengan perasaan Yudistira yang segera berubah masam. Merasa bodoh karena tidak tahu kalau Azel sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya.
Ia segera naik tangga lalu masuk ke kamar Azel. Gadis itu sedang mengaduk – aduk lemarinya, memasangnya di depan badan lalu melemparnya.
Menyadari kehadiran Yudistira, Azalea meminta pendapat Yudistira tentang pakaian yang pas untuk dirinya. Tanpa mengetahui sang kakak kembali kebakaran jenggot.