2. Tabir yang Terungkap

1637 Words
“Kalau jalan pakai kaki. Jangan jelalatan matanya!” hardik Patya kepada adiknya yang berpapasan di lorong manor keluarga Radimir. “Jangan melihat kami! Berani-beraninya kamu melihat kekasihku?” tegasnya berulang. “Jangan pernah menampakkan diri ketika kekasihku datang!” Tangan gadis yang memakai setelan mewah warna merah gelap itu hampir menjambak rambut adiknya sebelum dihentikan oleh kekasihnya sendiri, Stevan Alex Timofey. “Kita pergi. Jangan sering-sering marah, wajahmu akan berkeriput nanti, Patya.” Setelah kepergian itu, tinggallah seorang diri gadis yang berdiri di depan dinding kaca tembus pandang. Ia menyingkap tirai berwarna emas dan menemukan sebuah mobil yang buru-buru meninggalkan manor ayahnya. Tatapannya sedih dan mengiba. Jemari yang lentik dan putih itu menyantuni kaca yang dari luar tertimpa rintik hujan. Anehnya, bayangan yang tercetak dari kaca itu tampak persis dengan gadis yang menggunakan setelan merah gelap tadi. Gadis muda yang berusia dua puluhan itu anehnya tidak terkejut dengan persamaan figur keduanya. Tiba-tiba suara decakan sepatu dan lantai manor terdengar. “Anak Haram, segera kembali ke kamar.” desis nyonya rumah dengan tatanan sanggul dan gaun merah delima sedang turun dari tangga. “Apa yang kau lakukan? Kembali ke kamarmu.” Namanya Anastasius, nyonya rumah kediaman besar Radimir. “Jangan pernah tampakkan dirimu pada siapapun di luar rumah ini! Kembali dengan hening,” perintahnya. “Baik, Ibu.” Hormat anaknya dan berlalu pergi. Seorang pelayan kecil mengikuti di belakangnya. Putri dan pelayannya itu hampir hilang ditelan tikungan pada lorong panjang sebelum gadis yang dipanggil Ibu memerintah, “Jangan pernah tampakkan wajahmu di sini. Sudah berapa kali Ibu bilang? Apalagi jika ada tamu, kau sudah berumur 22 tahun jadi ketahui tempatmu.” Sayangnya anak gadis itu tidak tahu di mana tempatnya. Ia juga tidak paham kenapa ia selalu menuruti Ibunya itu. Setiap kali ia bertanya, ia selalu berakhir disiksa tak karuan. “Kita kembali ke kamar, Nona Muda,” bujuk pelayan gadis itu. Mau tak mau putri itu menurutinya daripada melakukan drama yang ia sendiri sudah hapal di luar kepala. Kamar yang dimaksud oleh Ibu adalah serambi kiri manor yang dingin, berhadapan langsung dengan hamparan padang hijau tepi hutan. “Aku masih belum paham kenapa Ayah dan Ibu tidak bisa memandangku sama seperti mereka memandang Kak Patya, kami hanya terlahir beda beberapa menit,” keluh si gadis. Jena, pelayan kecil yang telah melayani bungsu Radimir belasan tahun membantah perkataan majikannya, “Nona Muda sudah tahu jawabannya.” “Jawaban bahwa Ayah dan Ibu terlanjur memberitakan kepada media bahwa hamil seorang bayi perempuan? Aku … aku masih tidak bisa memikirkan betapa gilanya mereka memalsukan berita itu sampai sekarang.” “Anda akan semakin tersakiti oleh pikiran Anda sendiri, Nona Muda, sebaiknya segera beristirahat, atau saya ambilkan buku di perpustakaan?” tawar pelayan. “Tidak. Aku masih belum puas menyakiti diriku sendiri dengan kebodohan orang tuaku. Pelayan yang dulu yakni, ibumu juga mengatakan hal yang sama. Bahwa kesalahan telah terjadi karena Ayah dan Ibu mengumumkan kehamilan seorang bayi setelah hampir lima belas tahun menikah padahal kenyataannya Ibu mandul.” “Mereka melakukan itu karena hanya satu bayi yang bisa diselundupkan ke tempat persalinan untuk membodohi keluarga lainnya.” Bantah pelayan. “Ibu saya mengatakan jika Tuan dan Nyonya tidak tahu jika ibu kandung Nona melahirkan kembar.” “Lantas jika mereka tidak tahu, setidaknya aku harus tetap bisa menerima perlakuan yang sama dengan kakak kembarku tanpa dibedakan.” “Ibu saya juga mengatakan dalam malam-malam persalinan itu, mereka terpaksa mengatakan jika Nona Muda adalah anak dari adik Nyonya untuk menutupi kelahiran kembar karena Tuan dan Nyonya telah mengumumkan seorang bayi perempuan.” “Jadi aku yang terlahir sebagai bungsu harus menerima semua ini? Alasan itu tidak masuk akal. Kak Patya juga terlahir dari hasil perselingkuhan Ayah dengan adik iparnya namun menjadi tunggal Radimir dan aku sendirian dianggap anak haram oleh semua orang karena ibu kandungku koma sebelum sempat mengatakan siapa yang telah menghamilinya.” “Nona Muda, membahas hal ini akan menyakiti Anda.” “Aku tahu. Aku masih tidak habis pikir jalan pikiran Ayah dan Ibu, mereka harusnya tidak berpesta dan membuat berita tengah hamil dan memalsukan persalinan palsu padahal Ayah telah jelas-jelas selingkuh dengan adik iparnya sendiri yang melahirkan sepasang kembar. Anehnya mereka membodohi publik dan memalsukan Kak Patya sebagai anak kandungnya.” “Aku hanya tidak terima dikatai anak haram sendirian, sedangkan Ayah sebagai pelaku bisa menikmati hidup dengan istrinya dan menganggap Kak Patya sebagai anak kandungnya.” Apa yang dikatakan oleh Nona Muda bernama Pasha dan pelayannya adalah sebuah kebenaran yang disembunyikan di serambi kiri manor Radimir. Bahwa 22 tahun yang lalu, tuan rumah mengumumkan kelahiran seorang bayi dari nyonya setelah menanti 15 tahun lamanya. Namun peristiwa yang terjadi bukanlah sesederhana itu, nyonya rumah keluarga Radimir itu tidak benar-benar pernah hamil karena mandul. Anak yang diumumkan sebagai tunggal Radimir itu adalah hasil perselingkuhan Tuan Albert dengan iparnya sendiri yakni, adik kandung nyonya rumah. Dari perselingkuhan itu, adik ipar telah melahirkan sepasang kembar sebelum koma sampai sekarang. Karena terlanjur mengumumkan seorang bayi lahir, Albert dan istrinya mengumumkan bungsu dari kembar sebagai anak adik iparnya dengan seorang pelayan. Maka dari itu, semua orang memandang Pasha sebagai anak haram yang menumpang di kediaman konglomerat tersebut. Kendati demikian semua penghuni manor tahu fakta itu karena fisik kembar itu terlahir identik. Hal suram tersebut yang menjadikan serambi kiri manor hanya diisi oleh Pasha dan beberapa pelayannya saja. Suasana sisi serambi itu selalu hening yang pekat, bahkan pernah penghuninya lupa hari telah siang dan malam saking sepinya. Namun suasana hening yang menghanyutkan itu pecah oleh decakan sepatu hak tinggi yang menimpa lantai. “Beraninya kamu menampakkan diri di depan kekasihku!” teriak Patya dengan amarah yang hebat. Rambut yang hitam lebat pekat tersisir ke belakang tampak bergoyang lemah, sedangkan wajahnya memerah karena marah. “Sudah berapa kali aku katakan? Jangan menampakkan diri ketika kekasihku datang, Jal*ng Kecil!” Amuknya tak terkira. Tiba-tiba saja datang pada adiknya yang ketakutan di pojokan ruangan, ia jambak rambut yang warnanya sama dengan miliknya itu. “Adik kurang ajar! Beraninya kamu menggoda kekasihku!” teriaknya lagi tepat di depan wajah lawannya. “Ampun, Kak!” mohon Pasha. Rambutnya ditarik hingga hampir menyentuh lantai. Sakit sekali rasanya sampai kulit kepalanya terkelupas. “Apa kau tuli? Aku sudah memperingatkan kamu untuk tidak muncul di hadapanku lagi seperti yang Ibu katakan. Jadi turuti aku!” tandas si kakak. “Aku hanya … berjalan-jalan saja, Kak.” Bantah si adik. “Tidak di saat Stevan datang, Jal*ng Kecil,” murka sekali nada bicaranya. “Kau ingin menggoda kekasihku?” “Tidak! Tidak, Kak. Aku bersumpah aku hanya ingin sedikit keluar kamar.” “Berani menjawab? Sudah berani menjawab kakakmu?” cecar Patya dan menyeret Pasha keluar kamar. Gadis pelayan hanya bisa mengikuti ke mana kakak adik itu berjalan. Ternyata tujuan keduanya adalah halaman di belakang manor. Sembari terseret-seret kedua gadis dengan paras yang sama persis itu akhirnya berhenti di samping kolam renang super masif. “Lihat apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu jera, Jal*ng Kecil!” kata Patya dengan menekan bahu lawannya hingga bersimpuh di lantai yang dingin. Lalu gadis yang mencengkram rambut itu memasukan wajah adiknya ke dalam kolam dengan paksa. Anak pelayan di belakang mereka menangis meminta maaf. “Nona Patya, tolong maafkan adik Anda! Maafkan adik Anda. Saya mohon!” mohonnya sembari bersimpuh bersama kedua anak majikannya itu. “Pergi! Dasar, Pelayan!” sentaknya membantah dan mengangkat wajah adiknya untuk kembali ditenggelamkan lagi ke air kolam. Raungan pilu berbalas dengan tawa yang puas dari sisi kolam. “Aku … mohon maafkan aku, Kak!” pinta Pasha namun kakaknya tetap menahan rambutnya dan didorong ke tepi kolam renang lagi hingga air masuk ke dalam mulut adiknya. “Ini akibat kau berani menggoda kekasihku, dengan begini kau tahu dengan siapa kau berhadapan.” “Kak Patya … cukup! Aku mohon!” “Belum cukup, Jal*ng Kecil!” terkanya dan mengangkat wajah adiknya. Dalam wajah yang berantakan itu, Patya meracuni adiknya dengan kekejaman yang tak terkira lewat kata-katanya, “Aku tekankan sekali lagi. Jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan kekasihku lagi!” Sembari murka wajahnya yang dihiasi urat-urat hijau. “Jika kau berani, hukumannya akan lebih jauh menyakitkan lagi.” Pasha terdorong masuk ke kolam dengan keras dan ditinggalkan begitu saja. Anak pelayan yang menangis di pinggir kolam segera menceburkan diri membawa majikannya naik ke atas daratan. Mereka menangis meraung berpelukan di samping air kolam yang beriak kasar. Basah bertemu angin yang dingin sungguh menyiksa keduanya. “Nona baik-baik saja? Ada Jena di sini.” Tenang anak pelayan itu dengan memeluk tubuh yang masih bergetar ketakutan. Dalam pelukan itu, nona muda cantik sedang meratapi nasibnya yang sungguh pahit. Hatinya remuk redam oleh drama hari itu. “Apa salahku?” “Aku tidak pernah minta dilahirkan, Tuhan. Kenapa berat sekali cobaan ini?” Tangisnya pilu. “Aku tidak minta dilahirkan di keluarga ini,” teriaknya sekali lagi kencang-kencang. Urat dalam di wajahnya menegang, napasnya terengah dan tersengal. Sungguh pilu dan kasihan sekali. Gaun putih gadingnya sudah bernoda darah dari rambutnya yang lepas dan mengambang di air riak tepi kolam. “Kenapa aku tidak dibunuh sekalian? Kenapa kalian tidak membunuhku juga?” “Nona Muda, tenanglah! Ada Jena bersamamu,” bujuk si pelayan, gadis kecil itu bergetar melihat rambut majikannya yang rusak dan rontok tak karuan, beberapa bagian dari kulit kepalanya terkelupas. Ia menangis pilu dan berbagi kesedihan yang sama. “Aku ingin keluar dari rumah ini!” “Tidak ada jalan, Nona Pasha.” Benar. Tidak jalan ada untuk keluar dari sangkar emas itu. Bahkan jalan satu-satunya yang bisa gadis itu dapatkan baru saja lenyap. Kesempatan paling besar yang ia miliki juga telah berkhianat padanya. Kesempatan yang tidak sengaja ia ciptakan dua bulan yang lalu juga berbalas pengkhianatan. Betapa sakit hati dan kecewa Pasha dengan pria yang ia korbankan keperawanan dan kesuciannya itu malah berdusta. “Rudolf Karp Sevastyan. Betapa hina dirimu mengkhianati janji padaku dan malah melamar kakak kembarku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD