3. Pembalasan Dendam Pujangga

2387 Words
“Kak Patya memiliki kehidupan yang sempurna, Jena. Sungguh beruntung dia,” ucap Pasha yang sedang meminum teh di halaman samping serambi kiri kediaman Radimir bersama anak pelayannya. “Saking bahagianya, semua anggota keluarga bahkan sudah melupakanku.” “Nona Muda.” Sesal Jena. “Kak Patya sedang mengandung, sebentar lagi akan diadakan pesta perayaan.” “Apakah Anda akan berbahagia dengan berita itu, Nona Muda?” tanya Jena. Yang ditanya hanya menghela napas kecil, bingung harus menjawab apa. Pasha kemudian memandangi cangkir teh yang uapnya masih mengepul di udara musim dingin tahun itu. Wanita yang sudah kelewat matang itu juga memandang tepi hutan serambi kiri rumah keluarganya yang sejuk. “Apa ada jalan keluar lewat tepi hutan itu, Jena?” Sang pelayan mendesah kecil karena kecewa namun tetap menjawab, “Anda sudah pernah mencobanya lima tahun yang lalu. Anda tahu jawabannya.” “Sebuah lorong bawah tanah akan menghubungkan tepi hutan dengan tepi kota, lima tahun yang lalu kita berhasil ke sana dan pulang hanya untuk merasakan siksaan Ayah dan Ibu,” ungkap nona muda itu. “Kendati demikian itu adalah hari yang indah, kau tahu maksudku?” Jena mengangguk dan membalas, “Itu sudah sangat lama sekali, Nona Muda. Apakah Anda masih mengingat pemuda itu?” Pasha memandang senja yang hampir lolos dari cakrawala dan menggugah luka lama. “Dia berjanji akan melamarku.” “Nona Muda, itu kejadian lima tahun yang lalu. Anda sebaiknya tidak mengungkit kembali.” “Benar, tidak ada yang tahu bahwa pria yang datang melamar Kak Patya lima tahun yang lalu adalah pria yang berjanji melamarku. Sungguh tragedi hidup ini,” desisnya. Nona muda keluarga Radimir yang kaya raya itu menyampirkan ujung gaunnya yang megah dan mewah ke samping kursinya. Hanya Jena yang tahu bahwa kejadian lima tahun yang lalu ketika seorang pemuda datang melamar kakaknya, pemuda itu harusnya melamar Pasha. Namun tidak ada yang tahu jika Nona Muda keluarga Radimir itu telah masuk ke dalam pesona hasrat yang ditawarkan oleh pemuda bernama Rudolf itu, bahkan keperawanannya telah direnggut pemuda tersebut di antara puing-puing bangunan bendungan. “Kak Patya akan segera mendapat perayaan kehamilan. Ayah dan Ibu pasti sangat berbahagia karena berhasil menjadi kakek dan nenek penerus kekayaan keluarga Timofey,” gumam Pasha. “Apakah Nona Muda ikut berbahagia?” tanya Jena lagi. Pasha merasakan batu tersangkut di tenggorokannya karena ditanya seperti itu. Ia juga bingung harus menjawab apa. Bahkan setelah usianya menginjak 27 tahun itu, ia masih bingung dengan kehidupan mau membawanya ke mana nanti. “Apakah Ayah dan Ibu mau merelakan seorang pria untukku atau aku harus mati mendekam di sini sendirian? Aku sangat ingin pergi dari neraka ini,” tanya Pasya, sedangkan si pelayan nona muda itu masih belum menemukan jawaban atas keresahan hati Pasya sendiri. Kenyataan bahwa nona termuda itu disembunyikan untuk kepentingan bersama keluarga Radimir menjadikan kehadirannya tidak bisa disebarluaskan, apalagi dipinang seorang pria. “Aku dan Kak Patya terlahir dari rahim yang sama dan itu bukan rahim Ibu. Anehnya hanya Kak Patya yang diakui, padahal pada hakekatnya kami sama-sama anak haram tanpa pernikahan.” Pasha terkekeh dengan perkataannya sendiri. Sungguh menggelikan ironi yang dia jalani. “Hanya karena aku yang terakhir lahir, Kak Patya mendapatkan semuanya dan mereka mengasingkanku.” “Nona Muda,” sela Jena. “Anda hanya membuka luka lama. Anda sudah tahu jawabannya dari semua kesakitan itu.” “Alasan bahwa Ibu mandul dan Ayah menghamili adik iparnya? Seharusnya jika Ibu dan Ayah ingin memanfaatkan wanita malang itu dan membuat kehamilan palsu, mereka harus cerdas dan mengaku bahwa Ibu sedang hamil bayi kembar bukannya malah mengumumkan Kak Patya tunggal dan mengasingkan aku.” Pasha terkekeh dan tertawa halus sekali. Gaunnya yang berwarna putih gading ditiup angin senja cukup kuat. Dingin merasuk dari punggungnya dan merayap ke bahu dan lengannya, begitu pun hatinya yang mendingin seperti malam. Baru saja Pasha memejamkan matanya ketika angin berhembus kencang, suasana sendu petang itu hancur oleh suara tiga tembakan dari arah depan manor. Kedua wanita tersebut, Pasha dan Jena terkejut bukan main. Sebagai anak pelayan yang telah berjanji mengabdi, Jena segera membawa nona mudanya masuk ke serambi kiri. Dari bagian samping manor, tepatnya di jendela serambi kiri itu kedua wanita yang bergetar ketakutan tersebut melipir pada sumber keramaian. Halaman utama yang dikelilingi kebun anggur sudah dijejali puluhan mobil mewah warna hitam. Di halaman kediamannya, puluhan orang sudah berjejer rapi dengan senjata di tangannya. Dari puluhan mobil itu, sebuah jejakan sepatu muncul dari pintu mobil paling mewah, seorang pria keluar dari sana. Dengan begitu, Pasha ambruk mengetahui siapa pria itu. Yang ditangannya membuka kaca mata hitam. “Rudold Karp!” pekik Pasha. Tangan wanita itu menyantuni jendela kaca dengan bergetar. ‘Mau apa dia datang ke mari dengan puluhan mobil?’ “Tuan Albert!” ungkap pria itu. Kepala keluarga Radimir sendiri yang memilih menemui siapa gerangan yang telah berani melepaskan tiga tembakan di depan manornya. Awalnya pria tua itu tidak menyadari siapa pria yang membawa lusinan pria berpakaian formal di belakangnya hingga ditegur oleh lawan mainnya sendiri. “Lama tidak bertemu, Tuan Albert,” sapa pria itu. Albert Peter Radimir memicingkan matanya, ia tidak gentar dengan semua orang yang berani menjejali halamannya itu. Kemudian ia tidak sengaja mengingat kejadian lima tahun yang lalu, kejadian menggelikan di mana seorang pemuda dari kalangan biasa saja melamar Patya. “Oh, kau pemuda miskin yang melamar putriku dulu?” tanyanya. Pria di halaman mendengus dan terkekeh. Logatnya dingin dan tak tersentuh. Status sosial pria itu jelas sudah banyak berubah dilihat dari cara berpakaian dan logatnya. Hanya saja niatnya ke rumah Radimir yang masih menjadi tanda tanya. “Aku datang untuk membalas penghinaan Anda dan putri Anda, Tuan Albert,” katanya. “Aku ke mari membawa hadiah.” Pria yang bernama lengkap Rudolf Karp Sevastyan itu memerintahkan seorang pria yang membawa buntalan kain maju dan melempar hadiah yang dimaksud tepat di bawah kaki tuan rumah. Kepala keluarga Radimir itu jenuh dan tidak tertarik dengan hadiah itu. “Kau kira dengan hadiah ini, kau bisa mendapatkan putriku? Aku tidak peduli dengan berapa banyak uang yang sudah kau hasilkan, putriku tidak akan jatuh di tanganmu. Dia sudah menikah dan bahagia dengan Stevan.” Rudolf terkekeh ringan. Pria itu hanya menyinggungkan senyum di sudut kiri bibirnya saja dan Pasha yang melihatnya dari kejauhan ketakutan melihat logat tersebut. “Bukalah!” Albert dengan malas membukanya. Namun isi dalam bungkusan kain itu membuatnya terkena serangan panik yang nyata. Bahkan kepala keluarga itu mundur dan terjerembab ke tanah halaman saking terkejutnya. Ibu tiba-tiba menghampiri suaminya dan sama-sama menjerit terkejut pada akhirnya setelah mengetahui isi dari kain tersebut. “Apa yang kau lakukan?” teriak Ibu dan menangis histeris. “Apa yang sudah kau lakukan dengan menantuku?” Tangan wanita itu menuding pria yang berdiri kokoh tak tersentuh oleh sedikitpun emosi. Mendengar kata menantu, Patya tergopoh membuka pintu utama dan ikut menghampiri. Wanita yang berbadan dua itu langsung menjerit histeris. “Stevan!” teriaknya luar biasa pilu. “Stevan! Ya Tuhan, Stevan!” “Apa yang kau lakukan pada suamiku?” Patya memeluk buntalan kain itu dengan menangis histeris di tanah, tangisan yang sangat pilu. “Stevan! Stevan!” Tuan Albert yang sudah emosi bukan kepalang segera menghambur pada pria yang membawa derita tak berujung pada putrinya, dengan begitu seorang pria berjas hitam lainnya melepaskan tembakan di kaki kirinya, terjungkal Alberta di tanah. Suasana petang pekat oleh kesedihan. Helaan nafas dan tangis membara di sana, begitu pun dengan Pasha yang bergetar ketakutan melihat semua itu dari jendela tembus pandang serambi kiri. Wanita itu hanya memperhatikan kakak kembarnya tengah berlumuran darah dari buntalan kain sembari melantai di tanah dan menangis histeris. Ibunya hanya terpaku tidak sanggup bergerak ketika menangisi kaki suaminya yang terluka parah. “Apa yang kau lakukan pada keluargaku?” geram Patya. Wanita itu berdiri dengan buntalan kain yang berlumuran darah. “Apa yang kau lakukan dengan suamiku, Brengs*k?” Tangisan histeris wanita bergaun merah itu hanya dibalas dengan dengusan pongah oleh pria bernama Rudolf. Tersangka akhirnya menjelaskan, “Aku telah menghabisi keluarga mertuamu tak bersisa, dan menyisakan kepala suamimu sebagai hadiah.” “Biad*b, setan sepertimu tidak pantas hidup!” Patya histeris dan berlari ke arah pria itu dengan menggendong buntalan tersebut. Ketika kainnya jatuh ke tanah, Pasha menjerit histeris saking terkejutnya melihat isi buntalan yang didekap kakaknya. Itu adalah potongan kepala dari kakak iparnya. Sebuah senjata laras panjang langsung menodong kening Patya hingga membuat wanita yang menangis histeris itu berhenti kaku di depan Rudolf. “Jangan berani membantahku!” desis pria itu kepada Patya, ia memerintahkan anak buah yang menodongkan senjata mendorong kening wanita itu hingga berlutut di depannya. “Wanita jahat sepertimu tidak pantas menerima kebaikan dalam hidup ini.” “Beraninya kau mengatakan itu!” Tunjuk Patya. “Beraninya kau melakukan ini kepada suamiku! Bunuh aku sekalian!” Patya histeris di tanah memohon kematian segera menyambutnya. “Aku lebih baik mati bersama suamiku.” “Membunuhnya sungguh mudah bagiku, namun kematianmu bukanlah tujuanku. Aku telah menghabiskan lima tahun untuk bisa membunuh suamimu dan keluarganya. Lantas sekarang keinginanku hanyalah membawamu ke tempatku dan menjadikanmu sebagai gundikku.” Patya meludahi wajah pria itu ketika ditatap dan dihina sebegitu rendahnya. “Lebih baik aku mati daripada harus melayanimu. Sial*n. Bunuh aku sekarang!” Rudolf terkekeh lagi dan menjawab, “Kau telah menjadi tujuanku selama ini, membuatmu mati perlahan di ranjangku akan sangat menyenangkan.” “Sial*n!” Patya meludahi lagi, sedangkan si pria hanya pelan-pelan membersihkannya. Kemudian Rudolf memerintahkan seseorang memegangi wanita itu dan mencengkram wajahnya. Rudolf berkata keras-keras, “Kau akan mati di tanganku, tetapi tidak sekarang. Kau akan mati perlahan agar ibu dan ayahmu tahu bahwa kau telah menjadi gundik di rumahku untuk selamanya.” “Aku tidak mau, Brengs*k!” teriak Patya. Rudolf memerintahkan seorang membawa Patya masuk ke dalam mobil namun dicegat oleh nyonya rumah yang memerah tangisnya. “Sebentar!” katanya. “Sebentar! Izinkan aku membawa suami dan putriku ke dalam,” pintanya. “Sebentar saja. Aku mohon!” Wanita itu bersujud di bawah kaki Rudolf. Albert tidak kuasa melihat istrinya seperti itu dan memilih berpaling. “Sebentar saja, izinkan aku membawa jasad menantuku ke dalam rumah.” Rudolf menghela napasnya pongah dan menendang wanita itu dari kakinya. “Sepuluh menit tidak keluar, aku ledakan rumah ini dengan bom.” Putusnya. Dengan begitu berbondong pelayan membawa Tuan Albert masuk ke dalam, Ibu membawa Patya yang masih terisak hebat memeluk jasad suaminya yang tidak utuh. Dalam waktu sepuluh menit itu, Anastasius Radimir memerintahkan pelayan memanggil putri bungsunya dengan cepat. Pasha yang digeret pelayan segera histeris melihat potongan kepala yang dipeluk kakak kembarnya itu, anak bungsu itu bersimpuh dan menjauh dari kakak kembarnya yang berlumuran darah. Ibu memerintahkan pelayan, “Lepaskan pakaiannya!” Pelayan segera melangsungkan perintah nyonya rumah dan melucuti gaun putih nona muda mereka dengan terpaksa. Albert sebagai kepala keluarga tidak paham dan mencegah, pria itu tertatih dengan kakinya yang mengeluarkan banyak darah. “Apa yang kau lakukan, Anastasius?” hardiknya. “Cepat lepaskan pakaiannya!” teriak Anastasius dengan gugup. “Sepuluh menit bukanlah waktu yang lama!” “Sebenarnya apa yang kau lakukan, Anastasius?” teriak Albert pada akhirnya. Ia bingung dengan istrinya yang melucuti pakaian putri bungsunya. “Diam!” Bantah si istri. “Patya! Segera lepaskan pakaianmu!” Dari sana, kepala keluarga mulai paham arah rencana istrinya. “Kau berniat menukar Patya dengan Pasha?” Suasana langsung runyam dengan pertanyaan Albert, namun Pasha yang paling histeris ketika dipaksa melepas pakaiannya. “Aku tidak mau! Lepaskan aku! Ayah, tolong aku! Ayah!” “Cepat, Patya!” Paksa Ibu pada putrinya dan mendorong Albert hingga terpental di kursi. Wanita itu merebut Pasha dan merobek gaun putihnya dengan kencang tanpa belas kasihan dan beralih ke Patya untuk diberi penjelasan, “Segera lepaskan pakaianmu dan pergi ke menuju hutan serambi kiri. Ayah dan Ibu akan menyusulmu setelah menyelesaikan urusan kami, kita bertemu di ujung lorong tepi hutan.” Patya menurut masih dengan terisak hebat, wanita itu tanpa peduli segera melepas gaun merahnya dan membawa jasad suaminya diikuti para pelayannya, sedangkan Ibu memerintahkan beberapa pelayan memegangi Tuan Albert ketika memaksa memakaikan gaun merah tercela darah ke tubuh anak bungsunya. “Gunakan ini, Pasha. Jangan membantah Ibu!” hardiknya kepada Pasha. Nona muda itu meraung dan menolak hingga dihadiahi beberapa tamparan keras di belah pipinya. “Aku tidak mau, Ibu. Aku tidak mau menggantikan Kak Patya, Ibu!” teriaknya tanpa digubris ibunya. Walau dengan bersusah payah, Anastasius berhasil membuat Pasha mengenakan gaun merah yang bercampur pekatnya darah. Wanita itu mencengkram rahang anak bungsunya dan mengancam, “Pergi dengan pria brengs*k itu, atau melihat ibu kandungmu yang koma itu tewas sekarang juga, Pasha Dmitry Radimir?” “Ibu!” teriak Pasha histeris. “Apa salahku? Kak Patya yang telah jahat menolak pria itu lima tahun yang lalu.” Ibu menampar belah pipinya yang kebas, wanita itu mengancam, “Pergi dan jangan pernah mengaku bukan Patya. Dengan begitu ibu kandungmu akan tetap bernapas dengan semua alat sial*n itu, Pasha Dmitry!” Wanita muda yang telah matang itu menatap tidak percaya kepada ibu dan ayahnya. Ia memang tidak pernah disukai oleh keluarganya dengan alasan yang nyeleneh, akan tetapi menjadi pengganti kejadian maut demi kakaknya membuat ia hancur lebur tak bersisa. Apalagi setelah di dorong di depan pintu, Pasha memandang seorang pria congkak yang berdiri kokoh di luar sana. Pria yang telah menjadi pujaan hatinya itu adalah maut yang tak berujung baginya. Pria yang telah merenggut hati dan kesuciannya itu telah berubah menjadi iblis. Pasha digeret oleh seorang pria berjas dan dilempar di mobil yang sama dengan Rudolf sendiri. Wanita itu akhirnya menangis tak terkendali ketika mobil berjalan menjauhi tanah kelahirannya. Ia memperhatikan Jena yang mengejar mobilnya, Pasha tak kuasa tak memohon pada Rudolf, “Aku mohon! Aku mohon bawa pelayanku satu itu!” “Aku mohon!” Tangisnya ketika melihat Jena hampir ditabrak mobil di belakangnya. “Aku mohon bawa Jena bersamaku! Aku mohon padamu!” Pasha menyatukan tangannya untuk memohon belas kasihan pria itu. “Suruh mobil belakang membawanya.” Putus Rudolf lalu beralih ke Pasha. Lantas wanita itu tidak bisa tidak ketakutan ketika melihat ledakan besar yang menghanguskan tanah kelahirannya, dalam sekejap saja udara langsung dicampuri api yang panas. Manor putih sirna, kebun anggur ludes dan sisa-sisa asap mengepul ke langit. Pasha bahkan tidak bisa menarik napasnya saking takutnya. Pria itu, Rudolf menghabisi Pasha dengan racun di perkataannya. “Patya Dmitry, neraka sesungguhnya ada di rumahku. Kau akan menjadi jal*ng pribadiku hingga akhir hayatmu nanti.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD