“Patya Dmitry…,” lirih Rudolf. Kendati demikian nadanya penuh kebencian. Ia segera mengambil Bathrobe hitam dan memakainya asal. Langkah kakinya membawa pria itu ke sebuah kamar putih. Ditemuinya wanita yang sangat ia benci itu, yang sekarang sedang terbujur lemas.
“Demi dunia dan seisinya, aku sangat membencimu, Patya. Rasa-rasanya kematian adalah hadiah paling baik untukmu,” desisnya. Pria itu berdiri tinggi menjulang di ujung ranjang memperhatikan Pasha yang masih belum sadarkan diri.
“Aku sudah bersumpah untuk membuatmu menyesal telah lahir di dunia ini. Kau tidak pantas mendapatkan kehidupan yang baik, aku akan membuatmu hidup serasa di neraka, Jal*ng,” cela Rudolf.
“Aku sudah meleyapkan keluarga suamimu hingga habis, hartanya sudah aku kuras dan aku hanya tinggal membawa kedua orang tuamu untuk mati tepat di depan matamu. Dengan begitu rasa sakit ditinggal orang tuaku terbalaskan.”
Pasha di ranjang mengigau sendu dengan suara kecil. Tampak seperti kelinci yang bisa kapan saja disantap oleh pemangsa. Wanita itu terserang rasa dingin yang akut dan Rudolf ada di sana, berdiri dan membenci.
“Aku sangat membencimu,” kata Rudolf.
Kulit putih wanita itu tersepuh oleh sinar senja dari jendela. Bayangannya membayang syahwat Rudolf dengan lekuknya yang sensual. Wajah pucat yang sangat Rudolf benci itu mati-matian tidak ia hancurkan karena saking cantiknya. Ia akhirnya mencengkram rahang yang dibingkai garis tegas yang feminim, Rudolf jatuh hati dengan sepasang labium pucat itu. Membayangkan dirinya bisa menghabisi mulut itu dengan kebanggaannya akan membuat hasrat Rudolf terpuaskan.
“Kau beruntung terlahir dengan wajah ini, Patya, dengan begitu aku bisa puas menghancurkanmu di bawahku. Aku sudah tidak sabar membuatmu meminta ampun padaku seperti dulu,” desah pria berwangsa Sevastyan itu.
Akhirnya Rudolf meninggalkan Pasha yang terbaring kaku berbibir biru pucat sebelum dihentikan oleh sebuah cekalan dingin di tangan kanannya. Pria itu menegang hanya karena di cekal jemari selembut sutra milik wanita yang sangat ia benci. Rudolf berbalik dan menemukan Pasha masih belum sadar, hanya berani mencegah kepergiannya dengan jemari.
“Dingin,” gumam Pasha di ambang kesadarannya.
Rudolf harus menerima dirinya kaku dan tidak rasional, kendati demikian egonya menang saat ini ketika syahwat dan hasratnya muncul. Tanpa bisa dicegah Rudolf menarik atasan piyama biru wanita itu, berdesir hatinya dihadapkan dengan ciptaan Tuhan satu itu. Sungguh indah. Di detik berikutnya, Rudolf mengggigit bahu Pasha tanpa perasaan. Kendati demikian, ketika ego dan hasrat menguasainya, Rudolf tetap sadar dan fokus pada acara membalas dendamnya.
“Aku ingin ketika kau melayaniku, kau sadar dan menerima. Aku ingin kau memohon untuk sebuah jamuan di ranjang ini, Patya. Aku ingin kau mengakui dirimu sendiri sebagai gundikku.” Janji Rudolf pada Pasha yang belum sadar.
“Dan kepuasan itu hanya bisa di dapat jika kau tidak tewas sekarang.”
Rudolf akhirnya membuang seluruh piyama biru yang pelayan pakaikan di tubuh Pasha. Ia juga secara perlahan membuang jubah mandi berwarna hitam yang ia kenakan ke lantai. Kulit bertemu kulit, hangat berjumpa hangat, dan panas berpasangan dengan panas ketika Rudolf membawa Pasha dalam rengkuhannya. Dengan begitu, senja menjadi saksi bahwa kaisar mafia itu menyelematkan wanita yang menjadi tujuan balas dendamnya dari kematian karena rasa menggigil.
***
Pasha terbangun dalam tubuh yang terasa remuk redam. Dadanya panas hingga kesulitan untuk sekedar menarik napasnya, ia berdiam sebentar untuk menyesuaikan kesadarannya dan cahaya lampu di atasnya dan jendela besar di seberangnya. Lalu ingatan wanita itu memutar kejadian di mana ia melayang dan terjatuh ke dasar kolam yang dalam. Serangan panik yang nyata di tempurung kepala belakangnya. Rasanya berdenyut pengang telinganya dan nyeri di dadanya. Keterjutan lain menambah rasa sakitnya ketika menemukan sebuah lengan kekar melingkar di perutnya. Pasha otomatis tercengang ketika tahu siapa empunya.
“Rudolf!” pekiknya. Lalu ia memeriksa tubuhnya yang telanjang tanpa sehelai benang pun menutupi. Pasha memerah oleh emosi dengan dugaan paling ia takuti.
“Apa yang kau lakukan?!” Tudingnya pada seorang pria yang tengah membuka matanya.
Pasha beringsut ketika pria yang menjadi sasaran kemarahannya itu bangun. Hal yang lebih mengejutkannya lagi adalah pria itu sama-sama telanjang sepertinya.
“Patya Dmitry” desis pria itu. Yang auranya sangat gelap di pagi hari yang cerah. “Kau pikir siapa dirimu bisa berlaku berlaku tidak sopan kepadaku?”
Pasha sesungguhnya ketakutan dengan desisan pria itu namun rasa marahnya juga tetap mengambil alih. “Apa yang kau lakukan padaku, Rudolf?” tanyanya dengan nada yang marah. Apalagi melihat bagaimana penampilan mereka berdua yang telanjang seperti itu, tidak tahu kenapa Pasha merasa dilecehkan.
“Apa kau memaksaku semalam?” Tuntut si wanita.
Rudolf baik-baik saja dikritik habis-habisan seperti pagi itu dan tetap beraura dingin. Kendati demikian menikmati ketakutan Pasha jauh lebih memuaskannya. Ia diam dan bangkit dari ranjang seolah-olah ketelanjangannya tidak akan menjadi masalah bagi wanita yang berbagi ranjang dengannya. Dengan aura yang tidak tersentuh oleh emosi Pasha pagi itu, Rudolf hampir meninggalkan ruangan.
Pasha terkejut bukan main, selain dugaan bahwa ia telah dinodai, ketelanj*ngan pria itu terlalu mengusiknya. Itu kali pertama baginya menemui hal setabu dan seintim itu setelah diam-diam melepas keperawanannya untuk pria itu.
Ia berujar dengan keras, “Kau pria busuk yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, betapa hinanya dirimu, Rudolf Karp.”
“Dasar pengecut!” ulangnya.
Rudolf yang pagi itu berseri karena telah melewati tidur paling nyenyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir hidupnya langsung terusik dengan umpatan Pasha. Pria itu setelah selesai memakai jubah mandi hitamnya, kulitnya bersinar legam oleh terpaan sinar matahari dari jendela. Bahu kekarnya kokoh dengan gumpalan otot berlapis emas yang panas. Perut pria ramping dan membentuk karya yang apik dan wajah setampan itu setelah bangun adalah sebuah kejahatan. Pria itu akhirnya datang pada Pasha yang terduduk kaku di tepi ranjang. Sisi rahang wanita itu dianinya olehnya, Rudolf belum sempat memberikan racun dari mulutnya ketika diumpati lagi Pasha.
“Kau pengecut! Kau memanfaatkan wanita yang lemah untuk kepuasanmu!” bentak si wanita.
Rudolf yang sudah terpancing akhirnya menghadiahi wanita itu sebuah tamparan yang kuat di sudut bibirnya hingga Patya terperosok pada ranjang lagi.
“Jangan berani mengatakan hal rendahan tentangku, kau wanita mur*han!”
Sela bibir Pasha terluka namun Rudolf tetap mengambilnya kembali dengan cengkraman lumayan kuat hingga berdarah. Pria itu memandang sungguh rendah lawan mainnya. “Aku tidak sepengecut itu untuk mengambil kesempatan darimu. Tujuanku adalah membuatmu berlutut menginginkan aku dan menyerahkan dirimu padaku dengan sukarela.”
Pasha beringsut dan membantah, “Tidak akan pernah! Aku wanita baik-baik.”
“Kau mendesah memohon untuk aku setubuhi di pertemuan pertama kita, itu yang kau katakan wanita baik-baik?” desis Rudolf. “Aku akan mengajarimu tata cara untuk menghadapiku.”
Rudolf menyingkap jubah hitamnya dan Pasha tidak bisa tidak ketakutan melihatnya kebanggaan pria yang diselimuti hutan lebat itu. Urat-urat menonjol dari hal yang Pasha hindari bagaimanapun caranya, wanita itu beringsut dan keluar dari cengkraman Rudolf. Ketakutan merayap dari tulang belakang sang wanita, ia menggeleng ribut. Kendati demikian, reaksi wnaita itu adalah hal yang sangat Rudolf tunggu dalam hidupnya. Kaisar mafia itu maju dan menekan leher Pasha hingga telentang dan kokoh di atas d*da si wanita. Karena posisi telentang, hal itu memudahkan Rudolf mengendalikan tubuh Pasha dengan menjepitnya di sela kakinya.
“Kau harus tahu cara memuaskanku, Patya Dmitry. Kau harus tahu dengan siapa kau berhadapan,” desisnya. Pria yang disebut kaisar Rusia itu mengarahkan pusat dirinya pada wanita yang telah menangis terisak di bawahnya. Bulu kejantan*nnya menggesek leher serta rahang Pasha.
“Buka mulutmu!” Paksanya. “Aku bilang buka!” Rudolf berteriak murka. Tangan pria itu kemudian mengcengkram rahang Pasha dan satunya mengambil uraian rambut si wanita. “Masih tidak mau menurutiku?”
Karena rambutnya ditarik tidak manusiawi, Pasha akhirnya berteriak kesakitan dalam cengkraman tangan lawannya. Rudolf akhirnya bisa mengambil kesempatan dan memasukkan kelelakiannya ke dalam mulut putri tunggal Radimir. Wanita cantik di bawahnya praktis terisak dan menolaknya namun peduli setan baginya. Pujangga kelewat tampan itu mendongak dan mendesah lega, suaranya rendah dan menghanyutkan siapa saja yang melayaninya. Sungguh sebuah surga di pagi yang indah mendapat mulut semungil dan sehangat itu di er*ksi paginya.
“Kulum!” perintah si pria. “Aku bilang kulum, Jal*ng!”
Rudolf akhirnya memegang kedua sisi wajah Patya dan menikmati paginya di sana dengan gerakan konstan maju mundur yang membunuh si wanita dengan perlahan. Mulut kecil itu disantuni hal yang sangat dibenci empunya, sedangkan pelakunya sangat menikmati kepasrahannya. Berdarah-darah hati Pasha diperlakukan macam itu ketika jalur pernapasannya diperk*sa sedemikian rupa. Dari sekian banyak penderitaan mungkin, pagi itu adalah hal paling pelik yang ia alami. Bulu-bulu halus milik sang pria menganinaya hidungnya apalagi gerakan maju mundur yang menembus tenggorokannya dengan kasar dan menyakitkan, rasanya sakit sekali kerongkongan dan rahangnya. Pasha siap mati detik itu karena perlakuan kasar Rudolf.
Di sisi lain, Rudolf yang masih menikmati er*ksi paginya di mulut Pasha mencengkram rahangnya dan bergerak brutal untuk mencapai puncaknya. Ia memperhatikan tangan wanita itu yang mendorongnya menjauh namun peduli setan Rudolf. Ia gerakan pinggulnya hingga menembus kerongkongan si cantik dan memuntahkan isinya di sana, ia melihat lelehan sperm* dan air liur berserakan di wajah si wanita. Ia yang telah selesai dengan urusan hasrat paginya akhirnya bangkit namun masih mengekang Pasha dengan kedua tangannya.
Pria itu memerintah, “Telan, Patya. Telan semua itu!”
Pasha yang rahangnya masih dicengkram berusaha menuntahkan sari-sari kebejatan Rudolf. Mata wanita itu telah sembab luar biasa dan hendak muntah karena tidak tahan. Namun paksaan Rudolf bukan main besarnya, pria itu menekan lehernya keras dan mengancam, “Jika ada setetes saja yang keluar mulut sial*nmu itu, leher ini akan ku patahkan.”
Butuh sebuah pelengseran harga diri dari Pasha untuk menelan cairan laknat itu. Rasanya asin dan memuakkan. Setelah habis deritanya, Rudolf menjambak rambutnya dan mengancam untuk kedua kalinya, “Jika kau berani mencoba batasku, kejadian seperti ini akan kau alami lagi. Kau akan menjadi bahan pemuas bagi orang-orangku, mereka akan menggilirmu.”