“Tuan Besar, memanggil saya?” tanya Ishak ketika membuka pintu kamar majikannya.
Sekretaris tampan itu telah menjabat menjadi penasehat mafia yang mempunyai julukan kaisar Rusia sejak tiga tahun yang lalu setelah Rudolf membunuh pemimpin mafia besar dalam sebuah duel sengit. Mereka berangkat dari status teman akrab dan memutuskan mengawali karir sebagai kurir narkoba di tahun pertama, lalu merambah ke sektor lain dan akhirnya mengkudeta kartel yang sekarang dimiliki Rudolf Karp.
Dari awal pertemanan mereka bersumber di jaman kuliah sang tuan besar. Namun Ishak tidak tahu pasti alasan konkret yang membuat Rudolf memulai karirnya di dunia gelap dan melepas sebuah perusahaan kontraktor peninggalan orang tuanya yang telah meninggal. Dalam lingkar pertemanan mereka, Ishak terbiasa dengan sikap ceria pemuda itu hingga saat ayahnya meninggal, Rudolf berubah.
“Anda berubah menjadi lebih tenang setelah kedatangan Nona Patya, Tuan Besar,” terang Ishak kepada pria yang masih bertelanjang d**a di balkon kamarnya.
Entitas yang dimaksud hanya diam dan menikmati angin siang yang hangat dengan terpaan matahari. Rudolf sama sekali tidak terganggu dengan pernyataan sahabat karibnya dan tetap menyedot cerutunya. Lama keduanya berdiam di sana tanpa ada suara yang menginterupsi hingga Rudolf memberi perintah, “Panggilkan Luna, Ishak!”
Akhirnya kesunyian pecah oleh perintah majikan, Ishak segera pamit dan memberitahu seorang ajudan di depan kamar untuk memanggil salah satu wanita kesayangan sang mafia. Namun ia tetap berdiri di sana hingga wanita yang dikenali oleh semua anggota rumah itu tampak dengan seorang pelayan kecil di belakangnya.
“Segeralah masuk, Luna,” perintah Ishak kepada wanita itu.
Wanita cantik keturunan China itu masuk ke dalam ruangan setelah meminta izin kepada tuan rumah. Rudolf Karp berdiri menjulang masih di balkon bertelanjang d**a.
“Tuan Besar memanggil saya,” kata si wanita lembut.
Lama pertanyaan itu tidak dibalas, Luna membungkuk dan mundur hingga berdiri di dekat ranjang sang penguasa. Ia berdiam diri di sana dengan keringat dingin, kelihatannya Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk. Masalahnya ia yang sekarang dipanggil ke mari pasti untuk melayaninya. Bisa-bisa habis dirinya di tangan pria dingin itu. Tidak dalam emosi saja sudah membuatnya tidak sanggup berdiri, apalagi dengan suasana hati yang buruk. Kemungkinan ia tidak keluar dengan selamat.
Benar saja yang dikatakan dalam hati wanita cantik dengan siluet kecil itu, wajahnya yang mungil dan posturnya yang lentik menjadi target Rudolf membalas kemarahan dalam hatinya. Sang penguasa ranjang telah kembali. Awal mulanya pria itu kasar seperti biasanya namun kelakuannya semakin lama semakin tampak dajjal. Luna akhirnya berserah di ranjang dan telungkup, kedua tangannya dicekal ke belakang.
“Akh! Ampun, Tuan Besar!” Luna mendongak ketika di pusat d**a pria di belakangnya menggeesek punggungnya.
Begitulah nada memohon Luna meminta ampun pada majikannya. Namun hal itu tidak akan berpengaruh sama sekali dengan pengendalian diri pria yang akan ia layani sekarang. Dalam beberapa detik saja, seluruh pakaiannya telah robek di tangan pria itu, bahunya digigit dengan keras saat beraksi mencari sengg*ma si pemuas di bagian bawah. Seluruh urat dalam diri Luna tertarik di bagian yang dijejali pusat tubuh dari Rudolf yang kokoh dan beringas. Perih dan menyakitkan harus melayani nafsu liar pria itu, apalagi di tengah suasana hatinya yang buruk.
“Tuan Besar sangat hebat!” Luna memainkan bagiannya. Ketua mafia suka sekali disanjung ketika sedang bersengg*ma dan hal itu sudah menjadi rahasia umum di manor.
Pria itu tidak peduli dengan punggung wanita yang ia injak saat menikmati surga dunia. Hanya napasnya yang berat ketika menemukan titik di mana ia puas. Berkali-kali menyatukan diri dengan yang satu itu, membuat Rudolf paham bahwa tubuh kecil di bawahnya itu sangat kewalahan menanggapi kemauannya.
“Tahan!” Rudolf memerintah, pria itu menjambak rambut Luna hingga mendongak ke atas. Air liur si wanita hamir tumpah saking kencangnya hentakan si pria di belakangnya.
“Tuan Besar … pelan-pelan.”
Rudolf menggeram rendah dan menekan punggung si wanita dengan kakinya ketika mendengar teriakan kecilnya. Rasanya panas seperti biasa dan ia memegang kendali. Rambut gund*knya itu dirambati tangannya dan ditarik ke belakang, jeritan melengking terdengar karena ia menabrak bagian sengg*ma si wanita keras-keras. Surga memang senikmat itu baginya.
Belum habis waktu yang ia telan untuk membuang sari pati cintanya, Rudolf membawa tubuh tanpa sehelai benang itu keluar kamar dan mendekam di udara siang yang panas tepat tengah balkon. Kedua tangan ditarik ke belakang milik wanita yang ia panggil serak, “L*curku …,”
Melakukan hal asusila tersebut di kanopi sungguh menggetarkan kaki-kaki Luna. Angin dingin yang bercampur panas dari pegunungan menerpa wajah berantakan penuh liur dari Luna ketika dipergunakan sedemikian rupa oleh pria di belakangnya. Gerakan pria itu tidak pernah konstan, seperti sedang memberi pelajaran pada anaknya, kencang dan brutal atau pelan-pelan sembari menggeram. Dua kali pelepasan telah ditelan perut Luna, benih kaisar itu selalu tidak pernah merasakan lantai atau bagian lain selain rahim ataupun lambung wanita-wanita yang melayaninya.
Abstraknya, Luna dipaksa setelah diperlakukan sekasar itu untuk melatar di lantai kanopi. Tuan Besar itu duduk tanpa sehelai pakaian di kursi besar yang ada di balkon putih. Luna ditarik rambutnya dengan kasar dan terjerembab tepat di bawahnya. Pria itu memerintah keras, “Layani dengan mulutmu!”
Setelah habis tenaganya, Luna tetap mengambil pusat tubuh dari majikannya dan mulai melakukan tugasnya. Butuh waktu yang lama baginya karena memang durasi percintaan pria itu sangat lama. Luna memekik ketika dicekal kepalanya oleh Rudolf. Pria yang duduk itu menganiaya kepalanya dengan kedua tangannya maju mundur.
“Akh!” teriak Rudolf dengan keras-keras dan melempar si wanita dengan keji. “Beraninya menempatkan gigimu padaku!” murkanya.
Luna meminta maaf, “Maafkan kelalaian saya, Tuan Besar. Saya berhak menerima hukuman.”
Dengan begitu tugas terakhir itu dilanjutkan, tangan Rudolf mengambil kedua sisi wajahnya dan menempatkan keuntungan di jalur makan itu dengan kebanggaannya.
“Puaskan aku!” Kaisar Rusia itu mengendalikan ujung tenggorokan Luna hingga si wanita tidak mampu bernapas karena saking dalamnya. Akhirnya dalam gelombang besar terakhir itu Rudolf mendesah kencang, “Patya!”
Luna yang terbebas dari jeratan si tuan mafia segera membungkuk dan meminta izin, “Apakah sudah selesai, Tuan Besar? Atau Anda ingin melanjutkan?” Walaupun kedua bibir, tangan, kaki, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat, ia tetap meminta apa keinginan majikannya.
Di lain sisi, Rudolf sendiri baru saja tertampar oleh suatu gelombang kepuasan seperti pagi tadi. Kendati demikian ia tidak segera berpuas diri dan memerintahkan wanita yang tengah berantakan itu kembali menungging.
Luna segera berbalik dan merasakan pusat tubuhnya dimasuki lagi oleh entitas yang sudah sering ia layani. Di lantai itu menjerit memohon karena tubuhnya terlalu sensitif dan diperlakukan kasar. “Ampun, Tuan Besar!”
Rudolf menarik rambut wanita yang tengah ia gag*hi itu dan menampar sisi rahangnya. “Siapa kamu berani memohon padaku?”
“Maafkan aku!” Luna berteriak tak karuan dan Rudolf yang terlanjur kesal mengambil sebuah kemeja putih di lantai untuk diikatkan ke mulut Luna. “Diam, Jal*ng!”
Luna bertahan untuk waktu yang lama dengan posisi semenyakitkan itu sebelum ditabrak pinggul tuannya kencang-kencang dan dibarengi teriakan sang mafia. Perut bagian bawah si wanita praktis nyeri. Ia lemas dan tak sanggup bergerak setelah dicampakkan di lantai dengan kaki yang gemetar.
“Pergi” perintah Tuan Besar. Luna akhirnya merangkak ke belakang ketua mafia dan memunguti pakaiannya di lantai.
Kini tinggal Rudolf sendiri yang mematung setelah memakai jubah hitam sutranya dan membakar cerutudi pagar kanopi putih. Asap melambung tinggi, Rudolf merasakan panas belum reda. Sebuah keinginan akan tubuh wanita yang ia tidak pahami, rasa-rasanya belum puas dengan surga yang barusan ia baru saja cicip dalam sejam lebih.
“Sial*n! Wanita sial*n!” umpatnya luar biasa kesal.
“Kenapa wajah brengs*k itu yang muncul dalam pikiranku. Kenapa wajah jal*ngmu yang muncul, Patya Dmitry?”
Hal aneh itu adalah peristiwa pertama dalam hidupnya yang memuja seks menjadi kecewa setelah dipuaskan. Masalahnya ada di mana fantasinya mengambang ketika berhubungan dengan salah satu gund*k kesayangannya. Wajah mungil dengan bibir bangir dan bibir kecil yang menjadi bahan pelepasannya terakhir tadi adalah wajah anak tunggal Radimir yang pagi tadi ia cicipi. Apalagi masalah hatinya yang berkecamuk karena Patya ternyata tidak sesuai dugaannya.
“Wanita sial*n itu,” desisnya. “Aku akan membuatnya merangkak menginginkan diriku.”
Di sisi lain, Luna terisak ketika memakai pakaiannya kembali, ia mundur dengan tenang namun tidak bisa menahan air matanya yang berlomba keluar.
“Kenapa Tuan Besar mendesahkan nama orang lain saat bersamaku? Siapa sebenarnya jal*ng bernama Patya itu?”