8. Pondok Belakang Manor

2035 Words
Setelah kepergian Rudolf yang telah memperk*sa mulut Patya, wanita itu belum sanggup bangun dari ranjang. Masih setia menangis dan teriak. “Rudolf Karp teganya kamu!” teriaknya histeris. “Apa salahku?” Pasha menarik selimut dan meringkuk melingkar seperti janin. Rasa sakit di tubuhnya bukanlah sesuatu yang bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang mengiris hatinya. Rasanya tenggorokannya telah digorok namun tak kalah berdarah-darah akal pikirannya karena membiarkan Rudolf melecehkannya seperti tadi. “Tuhan!” Pasha mengadu. “Apa salahku hingga terlahir seperti ini?” Ia sesekali membersihkan mulutnya karena merasa jijik jika teringat sesuatu telah menginvasinya. Pasha praktis krisis kepercayaan diri setelah disakiti oleh orang yang ia cintai dengan tulus. Bagaimana cara ia menghadapi dunia nanti? Ia malu dan merasa tidak pantas hidup. Dengan latar belakang setinggi konglo Radimir, Pasha menjunjung tinggi hakekat hubungan badan sesudah menikah untuk menghormati orang tuanya. Lantas, setelah semua hal itu, bagaimana cara baginya untuk menghadapi dunia? “Hidup macam apa ini?” Tangisnya pilu. “Hidup macam ini yang aku jalani ini?” Pasha memandang wajahnya yang berantakan di kaca kamar mandi. Wanita keturunan konglo itu tidak yakin dengan siapa gerangan bayangan mengerikan di cermin itu. Wajah yang senantiasa cantik itu sangat berantakan dan tak terurus. Jejak-jejak cengkraman Rudolf masih ada di pelipisnya. “Aku jijik dengan wajah ini.” Tangisnya. Ia belum bisa menerima bahwa Rudolf telah menduduki dad*nya dan mencekoki pusat diri pria itu di mulutnya. Berdarah-darah Pasha terluka harga dirinya. Bibir Pasha terluka namun hatinya jauh lebih terluka. Ia benci tapi juga masih mencinta. Saking terluka hatinya, Pasha tidak sanggup mengatakan kebencian lagi kepada Rudolf. Namun di dalam hatinya yang paling dalam ia masih menyimpan pria itu. Pertemuan mereka lima tahun yang lalu telah menjadi suatu makna yang besar untuknya, jadi untuk melupakan romansa yang merah muda tersebut, Pasha akan terseok-seok. “Kehidupan macam apa ini?” Pasha segera melepas selimut tebal yang membungkusnya dan menuju Shower gantung untuk membersihkan diri. Dalam guyuran air yang deras, tangis Pasha malah makin menjadi. Wanita berumur 25 tahun itu bersimpuh dan menarik rambutnya hingga meringkuk. Di lantai yang basah ia menangis sedih. Hingga tiba di titik ia harus mengetahui tindakan Rudolf semalam. Apakah pria dingin itu benar-benar telah mengambil kesempatan dari tubuhnya? Jari jemari Pasha yang lentik memeriksa pusat dirinya dengan gamang, masih dengan menangis dan tidak menemukan kesakitan sedikit pun. Dengan fakta bahwa ia juga tidak meraba rasa nyeri, Pasha tahu bahwa Rudolf tidak benar-benar mengambil kesempatan. Tangis Pasha malah semakin menjadi karena hal tersebut. Rasa sakit di hatinya bercampur dengan rasa lega. Ketika ia selesai membersihkan diri dan menemukan pakaian yang tiba-tiba tersedia di ranjang, Pasha segera memakainya dan mencoba peruntungan dengan membuka pintu. Ternyata tidak dikunci. Beruntungnya ada Jena yang langsung memeluknya di depan pintu. “Nona Muda,” pekik Jena. Pasha bahagia bukan kepalang melihat gadis itu hingga ia menemukan luka-luka di wajah pelayan kecilnya. “Apa yang terjadi denganmu, Jena? Kenapa kau terluka?” Majikan muda itu kelewat khawatir ketika Jena malah menangis ketika ditanyai. “Saya tidak apa-apa, Nona.” Bantah Jena namun akibat luka-luka di seluruh tubuhnya tidak bisa disembunyikan. Gadis itu sesekali meringis ketika disentuh Pasha. “Katakan padaku, Jena. Apa yang yang terjadi padamu?” Jena menghapus air matanya dan berakhir jujur. “Mereka telah menyiksa saya, Nona.” Pasha juga sama-sama menghapus air matanya, mereka berpelukan. “Maafkan aku harus membawamu ke mari. Aku tidak tahu akhirnya akan seperti ini.” “Tidak, Nona. Aku sudah berjanji akan mengikuti ke mana pun Nona pergi.” Bantah Jena. Pasha menghapus air mata pelayan kecil yang sangat setia padanya itu dan berjanji, “Aku berjanji akan menemukan jalan keluar untukmu, Jena, untuk kita keluar bersama.” Tangisan mereka di hentikan oleh segerombolan wanita berpakaian pelayan yang berbaris menghampiri. Salah satunya berkata, “Nona, silakan ikuti kami.” Pasha menahan lengan Jena yang akan membantah dan berkata, “Kita ikuti saja mereka.” Akhirnya Pasha berjalan di belakang gerombolan pelayan tersebut, Pasha berjalan dengan waspada. Sepanjang manor putih itu, berbaris puluhan orang-orang berpakaian jas hitam yang rapi. Lorong-lorong panjang membelah manor, pilar-pilar menjulang, desain megah khas bangunan tempo dulu berpendar aura gelapnya. Secara teknis tempat itu sangat menakjubkan. Rombongan keluar dari manor lewat pintu belakang yang besar menuju hamparan halaman yang sangat luas seperti lembah. Dari Tenggara halaman tersebut, Pasha memandang pacuan kuda dan kandangnya. Di sisi kanan manor itu Pasha juga melihat sebuah landasan helikopter yang terisi tunggangan mewah tersebut. Di sisi paling pojok yang lurus dengan pintu belakang manor, ada sebuah hunian yang cukup besar. Entahlah itu vila atau rumah biasa, sedangkan hutan yang gelap membungkus daratan hunian mewah itu. Rombongan berhenti ketika angin berhembus kencang dan seorang pelayan memberikan mantel tebal kepada Pasha. Salah seorang menjelaskan, “Kami adalah pelayan yang ada abdi dalam manor ini, saya bertanggung jawab untuk keperluan penghuni pondok ini. Jadi jika Anda, Nona Pasha, menginginkan sesuatu Anda bisa mencari saya atau salah satu pelayan di sini.” Pasha dengan kaku menjawabnya, “Aku tidak butuh semua itu, kami berdua sudah cukup.” Para pelayan hanya membungkuk dan menyisakan seorang yang kemungkinan adalah ketua pelayan. Wanita setengah baya yang berwajah kaku itu memberikan seragam pelayan kepada Jena dan berkata, “Karena kamu dibawa sebagai hasil jarahan oleh Tuan Besar, kamu juga akan melaksanakan tugas sebagai pelayan. Namun Sekretaris Ishak telah memberi instruksi untuk menjadikanmu pelayan pribadi Nona Patya, jadi kamu tidak usah melayani semua penghuni pondok ini.” “Nona Patya, apa ada yang Anda diperlukan? Kamar Anda ada di sini, mari saya antarkan,” ajak ketua pelayan itu. Mereka memasuki pondok berlantai dua dan berhenti di depan kamar bercat cokelat di lantai atas. “Ini adalah kamar Anda, silakan Anda beristirahat.” Ketika kepala pelayan itu hampir pergi setelah membungkuk, Pasha mencekal tangannya. “Kenapa aku harus ada di sini?” apakah tidak ada jalan keluar dari sini?” Wanita setengah baya itu menghela napas dan menjawab, “Anda adalah hasil jarahan Tuan Besar dan beliau memerintahkan Anda tinggal di pondok ini sebagai salah satu … maafkan saya jika harus mengabarkannya secara langsung, Anda ada di sini untuk melayani Tuan Besar.” “Melayani?” tanya Pasha heran. “Pondok ini diisi oleh wanita jarahan dari kartel yang ditundukkan Tuan Besar atau wanita yang berhasil mencuri hatinya. Tuan Besar konstan mengunjungi pondok ini untuk menerima pelayanan,” jelas si ketua pelayan. “Aku tidak paham,” keluh si nona muda. Si ketua pelayan menghela napas dan berbisik kecil, “Maafkan saya, Nona Muda, Anda di tempatkan di sini untuk menjadi salah satu gund*k Tuan Besar.” Pasha tidak bisa tidak menegang hingga sekujur tubuhnya dikabari hal sebegitu bejatnya. Ia hampir limbung karena terkejut dan ketakutan. Ke dua pelayan di sampingnya segera membantu Pasha untuk memasuki kamar dan beristirahat. Ketua pelayan pergi meninggalkan Pasha dan Jena yang praktis membeku. “Pria itu benar-benar iblis,” desis Pasha. Jena menyingkir dari kamar untuk berganti pakaian. Kini hanya ada Pasha yang duduk di kursi meja rias. Tangan wanita itu terkepal erat dengan sorot mata yang memerah. Karena amarah dan rasa kecewa berkumpul di dad*nya, Pasha tidak sanggup menerka bagaimana hidup bisa semenyakitkan itu. Ia telah mengalami konflik besar dengan keluarga kandungnya hanya karena terlahir bungsu dari ibu surogasi. Lalu pria yang keperawanannya malah melamar kakak kembarnya sendiri. Ironisnya sekarang pria itu menculik dan meledakkan semua anggota keluarganya. Bagian terburuk dari kehidupan yang ia alami adalah menjadi gund*k dari pria yang ia cintai mati-matian. “Air mata ini tidak akan ada artinya.” Dalam kamar besar itu, Pasha menderita sendirian hingga hari menjelang siang ketika Jena datang dan mengatakan bahwa ia harus mengikuti acara minum teh bersama di halaman belakang pondok. Awalnya Pasha menolak namun pelayan kecil itu memaksanya untuk bergabung. Akhirnya ia datang ke bawah dengan jaket yang lebih tebal, halaman belakang yang berbatasan langsung dengan lembah dan hutan yang asri yang gelap. Ternyata pesta minum teh itu diadakan untuk menyambutnya. Ada belasan wanita yang luar biasa cantik dengan fisik yang luar biasa menggoda kaum adam tengah berkumpul dan duduk di kursi masing-masing. Selusin pelayan berjejer di sana untuk melayani para wanita cantik itu. Para wujud asli dari bidadari itu tertawa dan berperilaku biasa saja. Pasha merasakan air matanya tiba-tiba turun sebab memandang mereka merayakan dirinya menjadi pemuas nafsu pria brengs*k. “Silakan mengambil tempat, Anda, Nona Patya,” suruh ketua pelayan. Pasha duduk kaku masih dengan air mata yang mengalir begitu saja memandang kebahagiaan para wanita cantik itu. Mereka membicarakan beberapa hal mulai dari perawatan tubuh dan sebagainya. Mereka berbicara seolah-olah menjadi pelac*r adalah hal yang biasa saja. Pasha tidak habis pikir bagaimana cara mereka menghadapi dunia di luar sana dengan status serendah itu? Tangisan Pasha di sadari oleh seorang wanita berambut emas legam yang memiliki aksen kecil dan lembut, penduduk asli tanah Rusia kelihatannya. “Namaku Oxana, aku di bawa ke mari setahun yang lalu. Aku datang pertama kali juga persis sepertimu sekarang, merasa rendah dan jijik dengan diri sendiri. Kau tidak sendiri,” kelakar wanita cantik berkulit putih itu. Jemari wanita itu terulur kepada Pasha sebagai tanda perkenalan. “Oxana Russof. Suamiku mati di tangan Tuan Besar dan aku hidup harus melayani Tuan Besar. Aku berkata seperti itu untuk membuka hatimu bahwa tidak ada satu pun dari wanita di sini yang datang dengan senyuman, mereka semua datang dengan paksaan dan tangisan. Jadi jangan memandang kami rendah seperti tatapanmu itu.” Pasha membungkuk dan meminta maaf, “Maafkan aku, Oxana. Aku bersalah padamu, tolong maafkan aku.” Oxana di depan Pasha hanya tersenyum dan menuang teh untuknya. “Minumlah! Aku harap kita bisa akrab.” Pasha masih dengan deraian air mata meminum sajian itu. Ia menghapus air matanya untuk menghargai para wanita di depannya. Sekarang ia tahu bahwa senyuman dan tawa itu adalah kebahagiaan ketika dipaksa melayani pria yang sama. Namun tidak semua juga menderita seperti Oxana, seperti seorang wanita dengan rambut merah terang yang berpakaian sangat minim mendatangi mejanya. “Jadi ini menantu keluarga Timofey yang tersohor?” desis si merah terang. “Ternyata statusnya seperti kita sekarang.” Pernyataan itu diakhiri dengan tawa yang sangat menggelegar. “Kami tidak peduli dengan asal-usul dirimu sebelum menjadi simpanan Tuan Besar, status kita tetap sama, jadi kita bersaing secara sehat untuk menarik minat Tuan Besar.” Sombong wanita itu dan pergi setelah mengibarkan bendera perang ke arahnya. Kini Pasha memandang belasan wanita cantik yang berkumpul di kubu merah terang itu, sedangkan di sampingnya hanya ada Oxana yang menunduk sedih. Ternyata ada senioritas di pondok itu. Pasha telah hidup di bawah tekanan Ayah dan Ibu selama hidupnya jadi untuk yang satu itu, ia memilih menerima tantangannya. “Aku tidak ingin bersaing dengan Anda-Anda sekalian. Aku tidak ingin berada di tempat ini.” Bantahnya. Salah seorang wanita cantik yang mengenakan jaket kulit dengan potongan pendek berkata, “Itu juga yang aku katakan dua tahun yang lalu.” Pasha menelan ludahnya dan mencoba bermain kartu dengan penghuni lama. “Bagaimana jika kita berkongsi untuk kabur dari tempat si*lan ini?” tawarnya. Tawa dari mereka mengudara, sungguh menghina kenaifan Pasha. Si merah terang menjawab, “Coba saja lewat hutan di belakang pondok ini, siapa tahu kau bertemu lorong yang keluar menuju jalan raya.” Pasha praktis tidak bisa tertidur karena memikirkan perkataan si rambut merah siang tadi. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan suasana sudah sangat sepi. Ia mengendap keluar dari kamar setelah memakai jaket kulit yang hangat dan lembut. Hal pertama yang ia lakukan adalah membangunkan Jena yang ada di lantai bawah tepatnya di kamar para pelayan. Malam itu Jena terkejut dengan keberanian nona mudanya yang berencana kabur melalui hutan belakang pondok. Keduanya mengendap dan membuka pintu belakang pondok yang anehnya tidak terkunci. Pasha menghela napas dan mengeratkan jaketnya sebelum memasuki hutan bersama Jena di temani sinar bulan yang terang benderang. Kedua sosok wanita itu lenyap ditelan kegelapan hutan yang diliputi dedaunan rimbun. Sinar bulan juga membayang di kamar lantai atas milik wanita berambut merah terang. Pemilik kamar itu ambruk dengan napas yang hampir tersengal setelah Tuan Besar bangkit menyiksanya dengan kenikmatan yang menyakitkan. Deru napas bersahutan namun sinar bulan bisa membedakan singgungan senyum di sudut kiri milik pria tampan yang tengah membereskan pakaiannya. Pria itu terkekeh dan melepas kepergian Pasha di hutan dari jendela kamar salah satu gund*knya. “Beruang-beruang itu akan kenyang malam ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD