Dedaunan membayang pada gelap yang jatuh di antara selanya. Sepasang majikan dan pelayan itu mengendap perlahan menyusuri jalanan hutan yang rimbun oleh lautan pohon-pohon besar.
“Apakah Nona yakin jika kita akan menemukan jalan keluar dari hutan ini?” tanya Jena.
Pasha sendiri yang memegang keputusan melarikan diri itu tidak seratus persen yakin jika hutan lebat itu ada tepinya. Namun berbekal keyakinan dalam hatinya ia berani melarikan diri dan membawa Jena. Pasha tidak menjawab pertanyaan anak pelayannya itu dan tetap memimpin jalan.
“Setelah keluar dari jerat pria gila itu, kau harus segera pergi dari hidupku, Jena. Kau pantas mendapatkan masa depan yang lebih baik.”
“Bagaimana jika kita pergi bersama? Kita bisa membuat toko roti dari sisa tabunganku di bank, Nona,” tawar Jena.
Pasha memilih menggeleng dan melanjutkan perjalanan. Lama setelah mereka terdiam ia akhirnya bisa membicarakan mengenai kebenaran yang ia curi dengar dari beberapa wanita tadi siang.
“Rudolf adalah ketua mafia paling besar di tanah ini, membunuh keluarga Timofey secara terang-terangan dan tidak dibabat hukum saja sudah sangat aneh, dia kebal hukum dan sangat berbahaya. Apalagi dengan dendamnya karena ditolak Kak Patya, dia akan tetap memburuku sampai akhir hayatnya nanti jadi lebih baik kau menghindar dariku. Biar aku hadapi sendiri pria itu.”
Jena pelayan kecil itu terharu dengan kebesaran hati anak majikannya. Sungguh baik hati Pasha Dmitry. Namun ia tetap memilih, “Saya akan tetap bersama Nona Muda apapun yang terjadi.”
Sinar rembulan terang benderang di atas mereka terpecah ketika ada suara-suara gesekan daun yang riuh dari sebelah barat mereka berjalan. Demi dunia dan seisinya, kedua wanita itu jatuh terperosok karena seekor beruang besar berlari dari arah semak belukar ke arah mereka. Ketakutan merayap melalui tulang punggung mereka dan menyatu menjadi teriakan. Keduanya berlari membabat semak untuk melarikan diri beruang hitam yang tergopoh dengan air liur di mulutnya yang besar.
“Cepat berlari, Nona Muda! Selamatkan diri kita,” teriak jena yang dibalas teriakan ketakutan oleh Pasha.
Mereka berlari tanpa tentu arah dan Pasha tidak sengaja tersandung akar pohon hingga kakinya terkilir, jena menyeret majikannya itu di belakang pohon untuk bersembunyi. Deru napas pelan-pelan di antara keduanya pecah atas raungan binatang buas itu di sisi pohon. Pasha dan anak pelayannya sama-sama ketakutan hingga wajahnya memutih karena beruang itu menemukan mereka dan bersiap menerkam.
Anehnya ada bunyi tembakan di udara yang mengejutkan daratan dan menghentikan terjangan beruang itu, Pasha menjerit tak terkendali ketika selusin pria berjas hitam membawa senapan datang berbondong. Memang benar jika beruang itu tumbang dan mereka menghadapi masalah baru. Setelah selamat dari amukan beruang lapar, mereka dihadapkan dengan jajaran anggota mafia kejam itu.
“Anda menyerahlah dan kembali dengan tenang, Nona Patya.” Paksa salah satu di antara pria itu.
“Tidak akan. Aku lebih baik mati dari pada menjadi pelac*r tuan kalian.” Bentak Pasha dan bangkit.
“Kami tidak bisa melukai Anda atas perintah Tuan Besar jadi lebih baik tolong bekerja sama dengan kami.”
Pasha membantah lebih keras, “Lebih baik aku menjadi santapan beruang lapar itu daripada harus menghadapi setan kel*min itu.”
“Nona Patya!”
Pasha tak menghiraukan orang-orang itu dan memilih menyeret kakinya sambil berlari bersama Jena. Mereka berdua menghabiskan kesabaran orang-orang berjas karena bermain kucing-kucingan. Buktinya saat seorang membidik Pasha salah seorang lain membentak, “Tuan Besar akan menggantungmu jika jal*ng itu terluka.”
Pasha terus berlari dengan kaki yang terkilir dan beberapa kali terjatuh. Namun ia masih sanggup berjalan dan bersembunyi di balik pohon ketika orang-orang itu mengarahkan sorot senternya. Gelapnya malam membuat ia jauh lebih mudah bersembunyi. Kini hanya menunggu mereka pergi dan ia bisa kabur dari jeratan Rudolf.
Dalam hening itu, para pria berjas sebenarnya sudah tahu bahwa ke dua wanita itu bersembunyi di balik pohon besar di depannya, mereka tidak bergerak seperti yang diperintahkan ketuanya dan menunggu korbannya mengambil tindakan. Setelah lama Pasha dan pelayan kecilnya bersembunyi ke dua wanita itu memutuskan berlari dan terkejut bahwa pria-pria tersebut tengah menunggu mereka lengah.
“Segeralah kembali dengan tenang, Nona!”
“Aku tidak mau, Bajing*n.” Bantah Pasha.
Bungsu Radimir itu mundur dan berdiri di atas jurang yang mengarah ke lembah, cukup dalam ternyata. Jadi itu adalah alasan para pria itu tidak mengagetkannya, agar ia tidak terkejut dan masuk ke jurang tersebut. Dengan begitu Pasha mengancam, “Jika kalian tidak mundur, aku akan meloncat.”
“Tidak!” sergah pria berjas hitam yang membawa senapan.
“Mundur!” Pasha memaksa. “Jika kalian tidak mundur aku juga berani meloncat. Aku mati kalian juga mati di tangan setan itu.”
Para pria itu mundur dengan perlahan, bahkan ketua dari mereka yang membawa senapan juga mundur.
“Buang senapan itu!” Pasha membentak dan mundur selangkah. Pria tersebut langsung membanting senapan sebagai mitigasi.
“Kami mohon, kembalilah dengan tenang, Nona,” mohon si pria.
“Jadi kalian sangat takut dengan si brings*k itu?” Pasha mendecih. Ia mengambil sebatang kayu sebagai perlindungan.
Jena masih ketakutan dan menahan langkah majikannya yang terus mundur. “Jurang ini terlihat tidak dalam, Nona Muda, namun kita tetap harus berhati-hati.”
Malam semakin pekat oleh hawa dingin yang merasuk hingga ke tulang manusia. Pasha masih memasang ancang-ancang kepada mereka dan Jena menahan langkah majikannya agar tidak terperosok ke jurang. Namun pria-pria itu tidak sesabar manusia lainnya. Mereka maju perlahan dan Pasha terpojokkan. Setelah pergolakan alot itu, seorang pria merampas ranting yang dibawa Pasha, Jena kaget dengan gerakan mendadak dan tidak bisa menahan berat badannya Pasha hingga keduanya terperosok jatuh ke dalam lembah. Teriakan-teriakan kedua wanita itu bersahutan di malam yang pekat saat terperosok dalam jurang tersebut. Kendati cukup parah luka-luka Pasha yang terjerat ranting dan daun-daun, kedua wanita itu tetap selamat dan mampu bertahan untuk menangis di tanah yang lembab dan basah. Rasanya kematian memang tidak takdir mereka malam itu.
“Apa Nona baik-baik saja?” tanya Jena khawatir, gadis itu memeriksa bagian tubuh Pasha dan tidak menemukan luka yang serius selain pergelangan kakinya yang terkilir. Ia membantu nona mudanya berdiri dan saling membahu.
Pasha sendiri mendesah lega, “Dua hari berturut-turut menghadapi maut namun Tuhan masih belum mau menjemputku.”
Acara syukur keduanya bubar oleh suara panggilan yang bersahutan dari seberang jurang. Pasha menyadari jika mereka adalah para pria yang mengejarnya tadi. Ia bergegas bangkit dengan kaki yang terkilir. Gaun putih yang diselimuti jaket telah ternoda dan robek sana-sini. Putri dan pelayan itu membahu untuk segera keluar dari lembah yang penuh dengan semak belukar. Mereka menyusuri hutan dengan perlahan dan sembunyi dari pria yang membawa senter. Setelah beberapa kali hampir ketahuan mereka pantas berbangga hati karena berhasil menemukan jalanan beraspal.
“Kita selamat.” Syukur Pasha. Ia bahagia sekali berhasil keluar dari jerat manor mewah di puncak gunung. Kini tugasnya lebih mudah untuk menemukan mobil yang lewat untuk dimintai bantuan. Doa dan harapan Pasha terkabul selang beberapa detik. Malam itu Tuhan mungkin sedang menjawab doa Pasha yang kehabisan energi setelah berperang habis-habisan. Sebuah mobil melintas dari kejauhan, sorot lampunya sebagai penanda. Pasha dan Jena yang membahu di tepi jalan dan memutuskan berdiri di tengah aspal untuk mencegat mobil tersebut.
“Tolong bantu kami!” teriak Jena dengan tangan yang melambai ke atas, sedangkan Pasha mengucapkan syukur ada bala bantuan datang di saat ia membutuhkan. Mobil hitam tersebut berhasil dicegat keduanya dan berhenti tepat di hadapan mereka.
Seseorang keluar dari tunggangan warna hitam yang kelewat mewah tersebut lewat pintu penumpang belakang. Seorang kaum adam dengan kemeja hitam dan celana bahan berwarna hitam yang senada, pria itu menggunakan sepatu hitam mengkilat. Surainya hitam pekat dan sinar bulan membayang pada bayangannya yang segelap langit malam. Setelah berhasil mengoreksi rupa itu, Pasha memohon kematian segera menjemputnya.
“Sudah selesai bermainnya?” tanya pria bernama Rudolf Karp Sevastyan.