10. Iblis Berjubah Hitam

1087 Words
Pasha terbuka oleh emosi ketakutan ketika tahu siapa pria yang tengah berdiri di samping kendaraan mewah itu. Hitam pekat menyatu dengan udara tengah malam yang kelewat dingin. Pria itu meracuni Pasha dengan bahasanya, “Masih belum paham juga dengan ancamanku tadi pagi?” Si wanita menggeleng ketakutan, ia mundur untuk kabur dan menemukan bahwa orang-orang berjas hitam dari hutan telah menemukannya. Ia praktis terkepung, apalagi dengan energinya yang sudah terkuras habis. Kakinya juga terkilir dan kelelahan. “Rudolf!” teriak Pasha. “Biarkan aku pergi.” Pria itu, yang tampan dan gagah hanya diam tak bereaksi. Tampak sangat muak dengan tingkah Pasha sendiri. Ia memerintah pada ajudannya, “Bawa!” Akhirnya pria-pria berjas itu menangkap Pasha dan Jena. “Lepaskan aku! Lepaskan aku, Brengs*k!” “Nona Muda,” teriak Jena ketika putri Radimir itu dibawa dengan paksa ke sebuah mobil yang baru saja datang di belakang mobil sang ketua. Mereka membawa ke dua wanita yang menangis terisak itu dalam mobil, dipaksa habis-habisan dan ditampar agar diam. Pria yang tadi membawa senapan menampar pipi Pasha dan bersuara, “Kau kira karena Tuan Besar memerintahkan kita untuk tidak menyentuhmu, aku tidak bisa beralasan dengan jatuhmu di tebing?” “Rasakan ini, Jal*ng.” Hantam pria itu lagi di belah pipi Pasha. Wanita itu terluka hatinya, pun dengan fisiknya yang digarap habis-habisan siang malam. Musim penghujan tahun itu tidak bisa membedakan waktu ketika Pasha dipaksa berlutut di bawah kaisar mafia tanah Rusia tidak peduli saat ini sudah tengah malam. “Tuan Besar, maafkan saya tidak bisa membawa Nona dalam keadaan baik-baik saja. Nona Muda nekat melompati tebing,” jelas ketua pria berjas hitam yang tadi membawa senapan, pria itu juga orang yang telah menampar Pasha sebanyak dua kali. Rudolf sendiri duduk diam dan kaku, mereka sedang berkumpul di ruangan yang luas lantai bawah manor. Kaisar tampan itu memandang dingin sosok Pasha yang bersimpuh di bawah kakinya, kaki Rudolf turun dengan tubuhnya. Rudolf mengambil rahang si wanita dan mengatakan hal keji, “Masih belum paham kedudukanmu, Patya Dmitry?” Pasha sampai kapan pun tidak akan paham kedudukannya di sini, ia menolak keras dengan status barunya sebagai hasil jarahan dan harus melayani si mafia itu. Kalaupun ia harus bersama pria yang ia cintai tersebut, ia tidak mau ada di sampingnya dengan status serendah itu. Ia memandang tajam pria itu, sungguh benci karena telah membunuh keluarganya dan membuat dirinya menyedihkan saat ini. “Beraninya wanita sepertimu memandang diriku seperti itu?” desis Rudolf di depan bibir Pasha. Sang wanita hanya diam, tatapan matanya sungguh membenci dan terluka. “Kau perlu diberi tahu dengan siapa kamu berhadapan, Patya.” Putus sang kaisar kejam. Pujangga tua itu memberikan isyarat kepada ajudan untuk membawa seseorang ke sana. Tibalah kedatangan Jena yang terisak di bawah ketiak seorang pria kekar. Pasha masih takut namun tidak gentar melihat itu. “Perkos* pelayan itu di sini. Biarkan Jal*ng satu ini paham,” sentak Rudolf lalu tertawa keras-keras. “Tidak!” bentak Pasha. Wanita itu pucat pasi mendengarnya, ia juga merekam teriakan Jena ketika beberapa pria menganiaya pelayan kecil tersebut. Tubuh putri Radimir itu kaku dalam sekejap karena tertekan dengan perintah Rudolf, sedikit banyak masih tidak menyangka pria itu tega memerintahkan ajudannya berbuat hal sekeji itu tepat di hadapannya. “Tidak, Rudolf, aku mohon, jangan!” pintanya dengan menangis. “Aku mohon!” Pasha berteriak ketika salah satu pria telah merobek gaun tidur Jena. Pasha memegang lengan Rudolf dan menangis terisak, air matanya tumpah ruah tak karuan. “Aku mohon! Lepaskan Jena, aku mohon padamu, Rudolf!” “Jangan! Lepaskan aku! Nona Muda, tolong aku!” Jena terisak ketika dipaksa, bajunya robek sana-sini. Gadis itu telungkup di lantai dan menjerit-jerit tak terkendali ketika seorang pria memegang wajah mungilnya. Pria tersebut tega memaksa pelayan kecil itu menelan kebanggaannya tanpa tahu malu dan bergerak konstan memuaskan hasratnya di mulut Jena. Hal pelik itu merasuk ke dalam Pasha yang terisak, ia berbalik untuk membantu pelayan yang sangat setia padanya itu dari malapetaka. “Jena! Jangan sentuh Jena!” teriak bungsu Radimir itu. Rudolf menarik rambut Pasha dan menekan lehernya dari belakang. Tangan pria itu menekan leher serta pinggang Pasha dengan erat dan bersimpuh di lantai. Dari posisi di belakang Pasha Rudolf berkata sembari melumat telinga si wanita, “Ini adalah hukuman untukmu karena berani melewati batas, Patya.” “Tidak! Hentikan!” teriak si wanita ketika salah seorang pria telah memegang pinggang Jena dari belakang, pria berjas itu hampir melayangkan niatnya menodai jena. Pasha beringsut menjauh untuk mencegah tindakan pria berjas membuka Zipper celana bahannya namun dihalangi Rudolf dengan kedua tangan di belakangnya. Tangan Rudolf memegang sisi wajah Pasha dan bersengit kecil, “Lihat! Lihatlah hasil dari kebodohanmu itu, Jal*ng Kecil.” “Aku mohon! Aku mohon lepaskan Jena, Rudolf. Aku mohon padamu.” Tangis Pasha. Netranya sudah buram oleh air mata yang deras sekali saat melihat adegan naas di depannya itu. “Maafkan aku! Ampun, Rudolf, ampun. Aku berjanji … aku janji tidak akan melawanmu.” Putus Pasha di ujung rasa frustasinya. “Ampun!” Rudolf menarik leher Pasha ke atas dan berbisik di belakang telinganya, “Katakan padaku, katakan kau akan menjadi jal*ngku, Patya.” Awalnya Pasha menggeleng namun Rudolf memerintahkan dengan dagunya kepada pria yang memegang pinggang Jena dari belakang, “Habisi gadis itu!” Pasha tidak bisa tidak kelimpungan ketika Jena menjerit-jerit kencang, ia memberontak dan terisak, “Aku janji! Aku janji akan menjadi jal*ngmu, Rudolf.” Pasha memutuskan berkata seperti itu karena terpaksa oleh keadaan, kendati demikian ia pantas lega ketika Rudolf memerintahkan berhenti pada pria-pria brengs*k itu dan menjauh dari Jena. Suasana canggung langsung terasa, Jena masih menangis terisak memegangi lehernya yang nyeri karena dipaksa melayani nafsu buas p****************g. Gadis pelayan itu melata di lantai yang dingin hampir setengah telanjang hingga salah seorang pria berjas berbaik hati mau membuka jasnya untuk menutupi tubuh pelayan kecil itu. “Ulangi!” perintah Rudolf di telinga Pasha. Dunia Pasha hancur detik itu juga ketika diperintah seperti itu, ia menahan napasnya ketika berucap dengan cengkraman di pinggangnya oleh tangan keras si mafia tampan itu, “Aku berjanji padamu untuk menjadi … menjadi jal*ngmu, Rudolf.” Perkataan lirih wanita matang itu telah berhasil membuat Rudolf terpingkal dan melemparkan Pasha ke lantai di samping pelayannya. Ia berdiri menjulang tinggi, angkuh dan sangat arogan. “Ini hanyalah Sebagian kecil hukuman karena berani melewati batasmu, Patya Dmitry. Jika di masa depan kamu masih berani melawan, aku akan membawa dirimu menjadi bahan pemuas nafsu bawahanku atau menjadi makan siang beruang-beruang di hutanku.” “Jangan pernah mencoba batasku lagi di masa depan, Patya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD