Part 11

1048 Words
“Kok panas banget gini ya? Apa aku alergi jus jeruk ya?” Aku berbicara pada diriku sendiri, otakku sedikit sadar, tetapi gerakan tubuhku tak menampilkan diriku sendiri. “Ada yang mencampur minumanmu dengan obat sepertinya.” Roland mencoba menjawabku. “Ya ampun panas banget sih, AC mobilmu mati ya?” Aku mengechek AC mobil Roland. “Ini udah nyala, aku aja udah kedinginan.” “Aku buka jendelanya aja ya.” Aku sudah menekan tombol agar jendelanya terbuka namun tak bisa terbuka. “Mobilmu rusak ya ini? Kenapa jendela juga gak bisa dibuka sih.” Aku mulai marah-marah karena rasa panas dan aneh yang terus menyerang. “Denger ya Manda, jendela itu gak rusak tapi aku kunci. Kalau kamu buka jendela dan AC tetap nyala seperti ini, bukan cuma kamu yang bakal sakit, tapi aku juga bakal sakit kena masuk angin.” Roland menepikan mobilnya dan mencoba untuk berbicara denganku. “Tapi ini panas banget Roland, gak enak banget rasanya.” Tubuhku sudah bergerak seperti cacing kepanasan. “Lihat aku Manda.” Roland menarik lenganku dan membuatku memiringkan tubuhku. “Ini kenapa aku bilang kamu jangan kemana-mana, kamu disebelahku aja masih bisa kecolongan begini. Mereka itu pada punya niat jahat semua sama kamu. Maaf aku juga ikut maksa kamu untuk ikut ke acara tadi, aku cuma..” Aku memotong pembicaraan Roland, karena fokusku hanya pada bibirnya yang terlihat sangat menggoda. Cupp, aku memajukan kepalaku dan entah apa yang mendorongku sehingga berani mencium bibir Roland, yang nampak terkejut dengan sikapku. “Maaf, maaf. Ayo cepet Roland antar aku balik, aku mau mandi biar gak panas begini lagi.” Aku kembali mengibas-ngibaskan bajuku agar tak terasa panas yang sebenarnya bersumber didalam tubuhku. Roland menarik lenganku kembali agar menghadap dia, sepertinya kesadarannya sudah kembali. Dia menatapku lekat dan tak berkata apa pun padaku, hanya tatapannya yang tajam, kemudian… Cupp, kepalanya dicondongkan ke arahku. Roland tak hanya mengecup bibirku, tetapi dia mencoba memasukkan lidahnya pada mulutku. Aku awalnya tak mau membuka mulutku, tetapi rasa yang menggelora membuatku membuka mulutku. Aku memejamkan mataku saat Roland menciumku, tangannya mulai meraba leherku, membuat aku merinding. Kurasakan seperti ada sesuatu yang ingin disalurkan. Dari leher, tangannya mulai turun ke arah dadaku, entah meremas entah memijat, membuat aku melenguh mengeluarkan suara disela-sela ciuman kami. “Aku antar ke apartemenmu ya? Atau mau ke apartemenku yang lebih dekat?” Roland menghentikan ciumannya dan kembali mengemudikan mobilnya. “Kok makin panas gini sih Roland?” Aku mengibas-kibaskan rokku. “Ke apartemenku aja ya, biar kamu bisa cepet mandi.” “Terserah deh, aku sudah gak tahan panasnya.” Tanganku tanpa sadar menyentuh dadaku sendiri, memijatnya perlahan dan aku merasakan sensasinya. Kepalaku menyandar pada kursi, dan mulutku mulai kembali mendesah. Roland membiarkan aku yang seperti ini, sedangkan dia fokus menyetir. “Manda, sadar dulu. Berhentilah meremas dadamu sendiri. Aku gak mau orang ngira aku bawa cewek mabuk ya. Ayo kita turun Man, udah sampai ini.” Roland keluar dari mobilnya, dan membuka pintu mobilku. “Ayo Man, aku bantu.” Tangan kiriku dilingkarkan pada pinggangnya, seolah seperti aku merangkulnya. Sedangkan tangan kanannya dia rangkulkan ke bagian pundakku, sebenarnya dia hanya ingin agar tanganku tak lagi menjelajah dadaku sendiri. Kami berjalan menuju lift, dan menunggu lift terbuka. “Panas banget Roland.” Aku meremas pinggang Roland. “Sebentar ya.” Roland berbisik dan meremas lenganku. Pintu lift terbuka dan Roland segera membawaku masuk kedalam Lift. Untung saja karena ini malam minggu dan jam masih menunjukkan pukul 7 malam, jadi apartemen masih belum ramai, dan hanya kami berdua yang ad didalam lift ini. “Roland, tolong cium aku.” Entah apa lagi ini, mulut dan otakku tak lagi dapat berkompromi dengan normal. Bahkan tubuhku sudah mulai aku himpitkan pada tubuh Roland. Tanpa berkata apa pun, Roland hanya tersenyum dan kemudian menciumku. Saat pintu lift terbuka, Roland kembali membimbingku untuk berjalan. Kami menuju kesebuah pintu yang terletak di ujung lorong. Roland memasukkan password untuk membuka pintu. “Kamar mandinya itu, ada handuk baru di dalam lemari kecil.” Roland menunjuk pada sebuah pintu. Aku langsung berjalan ke arah pintu yang ditunjuk. “Tas mu taruh dulu Man.” Roland menarik tanganku untuk memberitahuku, bahwa tasku masih menggantung di tubuhku. Aku segera melepaskan tasku dan masuk kedalam kamar mandi. Apartemen Roland hanya memiliki 1 kamar tidur, dapur kecil, ruang TV yang berfungsi sebagai ruang tamu juga. Hampir mirip dengan unit apartemen yang aku tempati, hanya saja ini lebih kecil dan hanya memiliki 1 kamar. Aku menyalakan shower dan langsung membasahi tubuhku dengan air. Rasa panasnya sedikit berkurang, tapi belum benar-benar hilang. Aku duduk di bawah pancuran shower agar rasa panas benar-benar hilang. Entah sudah berapa lama aku berada di bawah shower ini, tapi panasnya juga belum benar-benar hilang. “Ya ampun Manda, kamu mandi masih pakai baju lengkap begini?” Roland masuk ke kamar mandi dan mematikan shower. “Jangan di matikan Roland, badanku masih panas.” “Yang ada kamu malah sakit tau.” Roland hendak berjalan untuk mengambil handuk, tetapi tangannya aku cegah. “Apa yang mereka campurkan di minumanku Roland?” Aku menatap mata Roland. “Nanti aja kalau kamu udah gak kepanasan aku jelaskan ya.” Roland berjongkok menghadap aku dan tersenyum. Dia sudah berganti pakaian, menggunakan kaos dan celana pendek jeans. Aku hanya mengangguk dan pandanganku justru kembali terfokus pada bibir Roland. Aku mengigit bibir bawahku, dan rasanya aku seperti singa yang kelaparan. Aku mendorong Roland hingga terduduk, kemudian aku naik di atas pangkuan Roland, dengan pakaianku yang sudah banyak menampung air. Roland yang masih kaget karena dia terduduk di lantai yang basah, kembali bingung saat aku sudah berada di atas pangkuannya. “Man..” Belum selesai dia berkata, tetapi aku sudah menyambar bibirnya. Aku menciumnya seperti sudah lama lapar dan menemukan makanan lezat. Roland yang mengerti apa yang aku lakukan pun membalas ciumanku. Tangannya membelai kaki ku yang berada di kanan dan kiri tubuhnya. Tanganku berada pada tembok yang digunakan Roland untuk bersandar, dan tanpa sengaja tanganku menyenggol knop untuk menyalakan shower, akhirnya kami berada di bawah guyuran air, menikmati sensasi yang baru pertama ini aku rasakan. Bibir Roland kini berada dileherku, menyapukan lidahnya ke atas kulit di leherku. Tanganku sudah berada pada bagian belakang kepala Roland, meremas rambutnya. Tangan Roland berada pada bagian punggungku, menarik resleting gaunku. Tangannya menyusuri punggungku yang sudah terbebaskan dari kain. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD