Part 1
Hampir 40 hari yang lalu ayah Manda meninggal dunia karena serangan jantung mendadak. Mmbuat kehidupan Manda yang sederhana dan penuh keceriaan berubah.
“Manda, ibu mendapat tawaran pekerjaan dari kawan ayahmu yang ada dijakarta.” Ibu berkata sendu, aku tahu ibu masih sangat merasa kehilangan ayah, tapi ibu menguatkan diri demi kelangsungan hidup kami.
“Manda bantu ibu cari uang ya bu?” Aku menawarkan diri untuk membantu ibu.
“Nanti Manda, ada saatnya kamu bisa membantu ibu, sekarang fokuslah pada pendidikanmu.” Ibu membelai tanganku.
“Baik bu, Manda tetap sekolah disini kan bu?”
“Maaf Manda, kamu harus ikut ibu ke Jakarta nak. Kawan ayahmu sudah mendaftarkan kamu disekolah tempat ibu bekerja. Kamu diberikan beasiswa selama sekolah disana.”
“Bagaimana dengan rumah ini bu?” Aku mencoba mencari alasan untuk tetap tinggal disini, di Malang tempat kelahiranku dan ibu.
“Rumah ini sudah ibu jual, tiga bulan yang lalu sebelum ayahmu tiada, beliau berpesan pada ibu untuk menjual rumah ini untuk biayamu kuliah.” Ibu menjelaskan dengan tatapan yang menerawang mengingat saat-saat bersama ayah, kemudian menitikkan air mata.
“Maafkan Manda bu, mungkin lebih baik manda tidak usah kuliah saja ya bu? Selepas lulus SMA Manda akan bantu ibu kerja.”
“Kamu boleh kerja, tapi tetap harus kuliah nak. Kamu tahu nak, dinegara kita ini jika kamu hanya megandalkan ijazah SMA mu saja, walaupun kamu memiliki kemampuan yang mumpuni, kamu tidak akan mendapat pekerjaan dan gaji yang sesuai.” Ibu mencoba untuk menjelaskan kemunkinan yang terjadi.
“Baik bu, Manda akan ikut apa kata ibu.” Aku menyerah untuk mempertahankan tetap tinggal disini.
“Berkemaslah nak, lusa kita akan berangkat ke Jakarta. Bawalah buku dan berkas-berkas pentingmu saja, serta baju-bajumu.”
“Bagaimana dengan perabotan rumah ini bu?”
“Akan kita tinggal disini, kawan ayahmu meminjamkan apartemennya untuk kita tinggali sementara.”
“Kawan ayah itu siapa bu?”
“Namanya om Adam dan tante Sofi, mereka adalah kawan ayahmu saat masih duduk dibangku SMA dan kuliah bersama, saat lulus kuliah ayahmu mendapatkan pekerjaan dimalang dan bertemu ibu di sini.” Ibu tersenyum, sepertinya mengingat kembali pertemuan mereka dulu.
“Apa mereka datang saat ayah meninggal kemarin bu?”
Ibu mengangguk pasti, “Mereka datang, bahkan putra mereka pun ikut menggotong keranda ayah saat di bawa menuju ke kuburan nak.” Aku mengingat-ingat kembali orang-orang yang datang saat ayahku dimakamkan, tetapi aku tidak juga mengingat mereka.
“Kamu pasti gak ingat mereka, karena kamu cuma menangis saja saat itu nak.” Ibu seperti memahami apa yang sedang aku pikirkan. Aku memang hanya bisa menangis saat kepergian ayahku, karena ayah adalah segalanya untukku. Ayah adalah sahabat terbaikku, rela mengantarkanku kemana saja. Ayah suka bercanda denganku, tak pernah memarahiku. Kehilangannya adalah kehilangan separuh hidupku.
Aku kembali mengingat bagaimana terpukulnya aku saat ayah tiada, airmataku kembali menetes.
“Jangan menangis, kalau kamu menangis nanti ayah ikut sedih.” Ibu mengusap punggungku lembut. “Berkemaslah sekarang, besok pagi ibu akan kesekolahmu untuk mengurus berkas kepindahanmu. Kamu boleh ikut untuk berpamitan pada teman-temanmu.”
“Iya bu, Manda ke kamar dulu bu.” Pamitku pada ibu.
Aku bergegas untuk berkemas seperti yang sudah ibu perintahkan. Aku mengeluarkan semua baju dari lemari dan menatanya di atas tempat tidur. Berkas-berkas aku kumpulkan dengan foto-foto kenanganku bersama ayah. Aku teringat jika kami tak memiliki koper untuk membawa baju-baju dan barang yang lain. Aku kembali keluar kamar untuk menemui ibu.
“Bu, Manda gak punya tas untuk membawa barang-barang Manda, apa pakai kardus saja bu?” Aku bertanya pada ibu.
“Eh iya belum beli koper ya, kalau gitu besok sepulang dari sekolah kita akan mampir beli koper ya nak.”
“Siap bu.” Aku berjalan kembali ke kamarku.
Merebahkan tubuhku dikasur, memikirkan bagaimana jika aku pindah ketempat baru, apakah teman-temanku yang baru bisa baik seperti teman-temanku disekolahku yang lama. Aku takut jika nantinya aku di bully.
‘Ayolah Manda, jangan berpikir terlalu jauh. Tugasmu hanyalah belajar, jangan perdulikan orang-orang yang tak menyukaimu, karena kamu hidup di atas kakimu sendiri. Jika mereka baik, maka balas dengan kebaikan. Jika mereka berbuat buruk, maka tinggalkan mereka, tak perlu membalas keburukan dengan hal yang buruk juga, hanya akan mengotori hati dan pikiranmu.’ Aku mencoba untuk memberikan kekuatan pada diriku sendiri.
Tanpa aku sadari, aku mulai tertidur dan memasuki alam bawah sadarku.
Aku bermimpi berada di sebuah pemakaman, aku sedang menangis tersedu, duduk dengan menundukkan kepalaku dan menangis. Aku tak tahu itu makam siapa karena tidak ada nama yang tertulis pada nisan nya. Tiba-tiba seseorang memegang pundakku dan memberikan sapu tissue padaku. Aku tak mengenalinya karena wajahnya terhalang sinar matahari yang menyilaukan, tetapi aku bisa melihat segaris senyum dibibirnya. Aku menerima tissue itu dan kembali menangis. Sosok itu duduk disisiku dan membelai punggungku. Tak ada kata, dia hanya menemaniku, dan ketika aku berdiri kemudian dia memelukku, tetapi kemudian aku terkejut dengan bunyi alarm dari ponselku. Aku bergegas terbangun dan mematikan alarmku.
Aku membantu ibu mencuci piring kotor, dan ibu memasak untuk sarapan kami. Setelah mencuci piring, aku menyapu dan kemudian bergegas untuk mandi, karena pukul 8 nanti kami akan ke sekolah.
Setelah selesai bersiap-siap, aku menunggu ibu di meja makan. Kami sarapan bersama,
“Sudah menyiapkan hati untuk berpamitan pada teman-temanmu nak?” Ibu membuka obrolan disela-sela menikmati sarapannya.
“Manda pasti nangis nanti bu.”
“Ya gak pa pa nangis, namanya juga manusia.” Jawab ibu sambil tersenyum. “Kalau ada waktu libur, kita akan berkunjung ke sini lagi.”
“Iya bu.” Berat rasanya berpisah dengan teman-teman yang sudah bertahun-tahun bersama. Teman-temanku di SMA kebanyakan dari temanku saat SMP, bahkan ada yang dari SD yang sama denganku.
Setelah selesai menghabiskan sarapan, aku mencuci piring bekas kami makan. Kemudian memakai sepatu sekolahku.
Ibu sudah menungguku di teras rumah, kami akan pergi menggunakan angkot karena ibu tak bisa mengendarai motor ayah, sedangkan aku belum diijinkan untuk berkendara karena usiaku yang belum 17 tahun dan belum memiliki SIM.
Kami berjalan ke ujung gang untuk menunggu angkot yang searah dengan sekolahku. Kesekolahku hanya perlu menaiki 1 angkot saja, jadi tidak perlu oper-oper angkot lagi. Jarak antara rumah dan sekolahku tidak begitu jauh, sekitar 15 menit saja jika tidak macet.
Bersambung..